
"Huff huff huff." Zara berusaha menetralkan nafasnya setelah bayi yang begitu di dambakan terlahir sempurna ke bumi.
Mert yang sejak tadi disampingnya kini memeluknya dengan erat, rasa yang ia berikan saat ini untuk sang istri cukup untuk mewakili betapa besar rasa terimakasihnya.
"My only Love. Love you, love you, love you," Amert mengecup pipi kening dan hidung Zara.
Sedangkan pandangan Zara fokus pada luka luka Amert. " Maaf Mas. Luka ini aku yang bikin."
"Luka ini tak ada Artinya, lihatlah bayi kita, dia sangat tampan, Mama pasti akan senang sekali melihat cucu pertamanya." Amert melihat bayinya dengan perasaan bangga hingga tanpa berkedip mengamati dengan penuh cinta saat masih berada di gendongan perawat.
"Tuan bayinya kami bersihkan dulu setelah itu Anda baru boleh azani." Seorang perawat membawa bayi Amert pergi keluar ruangan.
"Iya Suster, Makasi Ya." Zara berbicara dengan suara masih lemah.
Amert menatap Zara dengan senyum bahagianya. "Sayang setelah bayi kita lahir, itu artinya tak lama lagi aku harus pulang ke Turki, Rasanya memang sudah cukup aku belajar mengelola perusahaan milik keluarga Atmaja, sudah waktunya aku membesarkan perusahaan Papa yang ada disana. Apa istriku mau ikut? Kalau boleh memilih, aku ingin mengajak keluarga kecilku untuk tinggal disana."
"Aku, tentu akan ikut suamiku, bagaimana bisa aku dan anak-anak nanti jauh darimu, Mas." Zara membelai luka luka ditubuh Amert. bahkan di lengan kekarnya ada bekas gigitan gigi kelincinya.
Amert bahagia, Zara rupanya bersedia ikut dengannya di negara Turki, tempat papa nya dilahirkan dan dibesarkan.
"Thanks wife. Les't create our happy family."
"Iya, dengan senang hati suamiku."
Ketika bayi mungil itu sudah bersih, Mert segera menggendongnya, disaat yang sama Andini dan Mama Rena datang dengan wajah bahagia.
Selamat Amert, Zara. Sekarang sudah menjadi ayah dan bunda. Pasti bahagia banget donk.
"Selalu bersyukur dengan nikmatNya. Telah memberi sesuatu yang sangat indah untuk menambah warna dalam hidupku dan Mas Amert nanti.
"Tapi mengingat hari itu semakin dekat, kenapa aku jadi sedih ya." Andini mengusap air matanya dia sudah tau kalau tak lama setelah kelahiran anaknya, dia akan kembali ke Turki. Rencana ini sudah lama diperbincangkan. Tadinya ingin kesana setelah menikah, tetapi Zara sudah mengandung lebih dulu. Dan Amert tak mau mengambil resiko sekecil apapun untuk calon buah hatinya. Itu alasan yang membuat dia tinggal sangat lama disini. Kalau Oma terserah dia tinggal dimanapun, dia berhak menentukan pilihannya sendiri di hari tuanya.
Mert mengadzani bayinya di dekat Zara, suara Mert begitu merdu saat dia melantunkan seruan yang sempurna itu. Disaksikan oleh Andini dan perawat yang mengantar si kecil tadi.
Zara merasakan dunianya sangat indah, memiliki suami yang sangat mencintainya, dianugerahi seorang putra yang rupawan. Harapan dia ingin selalu ada disisi suaminya dalam suka maupun duka hingga nanti mereka akan menua bersama, walaupun dia harus meninggalkan tempat kelahirannya sendiri.
Ahmed dan Hana sudah tiba di hospital, dia sengaja ingin memberi surprize kedatangannya untuk Amert dan menantu yang selama ini hanya dilihatnya lewat layar pipih.
Tok! tok!
"Siapakah yang datang?" Andini sambil senyum senyum berjalan mendekati pintu, karena hanya Andini yang tau akan berita membahagiakan ini.
"Surprize!" Pekik Andini saat membuka pintu.
"Umi, Abi!" Amert dan Zara menjerit kaget.
__ADS_1
Kenapa tak pernah bilang, bukankah Umi bilang Abi lagi sibuk sibuknya mengerjakan projek baru. Kenapa kalian justru sekarang berada di sini. Ini benar-benar surprise buat Amert dan Zara.
Zara yang masih terbaring lemah diatas ranjang pasien dia menggeser tidurnya hingga posisinya sekarang menjadi setengah duduk. Dia tersenyum bahagia melihat kedua orang yang amat dia rindukan datang.
Ahmed dan Hana segera menghampiri Zara yang jemarinya sedang mencari jilbabnya. "Sayang ini?" Mama Mengambilkan jilbab Zara. Dia sudah tahu keelokan paras Zara ketika baru datang tadi.
Hana senang dengan menantu yang diberikan Amert untuknya. Wanita yang kini sudah berusia setengah abad itu tak hentinya bibirnya mengukir senyum di depan menantunya. Hana juga tak segan memeluk menantu hebatnya dengan penuh cinta, sedangkan Ahmed mengambil alih menggendong cucunya dari tangan Amert.
Zara senang keluarga Amert ternyata begitu welcome dengan kedatangannya, dia sempat khawatir soal status akan dipertimbangkan seperti Andini dahulu. Ternyata semua itu tak berlaku pada dirinya.
"Umi, Abi, karena kalian baru datang, pasti lelah dan lapar, sebaiknya istirahat, dan kita makan dulu bersama pemilik hospital ini.
"Em pemilik hospital siapa dia?" Hana penasaran.
Amert menunjuk Andini dengan bangga. "Dokter muda Andini."
"Woooow ini Andini istri Arsena? Benar benar dokter muda yang perveck. Tidak salah kalau Arsena memberi hadiah untukmu hospital ini, kau sangat berharga." ujar Hana.
" Menurutku, Putra Atmaja itu sudah cinta mati pada Mbak Andini Abi, Umi, bukan hanya hospital ini, nyawa saja kalau istrinya yang minta pasti akan diberikan.
"Well, no problem. Kita para pria memang harus tergila gila dengan istri kita sendiri. Wanita yang rela menghabiskan sisa umurnya di samping kita." ujar Abi yang lagi lagi membuat Amert dan Zara bahagia, Andini hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala setuju.
_
Oek! oek! Amert kecil mulai haus dia harus segera mendapatkan Asi dari Bunda Zara. Andini membantu Amert junior untuk mendapatkan asupan kolostrum dari Sang bunda.
Arsena sengaja menjadikan atap tertingginya untuk ruang keluarga, dan terbukti ide itu sangat briliant, dia menikahi seorang Dokter, dan dia bisa setiap saat mengunjungi istrinya dan beristirahat di penthouse tanpa ada gangguan.
___
Dara sudah terbangun dari tidurnya, saat membuka mata, Miko sudah ada didekatnya, menyambut hangat dengan senyum yang sangat manis.
"Selamat pagi sayangku." Pelukan hangat kembali Dara dapatkan.
"Maaf aku ketiduran." Dara memang sempat mengantuk akut saat dokter menyuntikkan obat penghilang rasa sakit untuk separuh tubuhnya tadi. Hingga dia tak tahu dengan apa yang terjadi.
"Mau lihat putri kita?"
"Putri? Jadi anak kita cewek?" Dara langsung saja bersemangat mendengar anaknya lahir perempuan.
"Iya dia cantik sepertimu. Istriku." Miko mengecup kening dara dan merapikan rambutnya yang kucel.
Dara bahagia ternyata anaknya perempuan.Walaupun Dara pernah berharap ingin memiliki anak pertamanya dengan jenis kelamin laki laki. Sepertinya bayi perempuan juga sangat dia inginkan. Dia tahu Miko sangat ingin bayi perempuan, walaupun dia selalu berkata laki-laki atau perempuan sama saja, tapi Dara bisa tahu kalau Miko cenderung lebih suka bayi perempuan, karena saat hamil Miko selalu mencari daftar nama-nama bayi perempuan sebagai inspirasi untuk memberi nama bayinya kelak.
"Kamu kecewa?" Mik.
__ADS_1
"Tidak sayang, aku senang, aku sangat bahagia malahan, aku selamat, bayiku sehat, suamiku bahagia." Dara mengungkapkan ekspresi bahagianya dengan memeluk tubuh Miko yang berdiri di dekatnya.
"Hum aku tahu ... kamu pasti berharap dia laki laki, kita akan buat lagi bayi laki-laki nanti." Miko membalas memeluk erat istrinya.
"Apa yang kau katakan, jahitan di perutku saja masih basah, dan sudah memikirkan bayi lagi? Keterlaluan" Gerutu Dara. "Emang bikin bayi semudah bikin adonan kue apa." Imbuhnya lagi. tak lupa sebuah cubitan mendarat di pinggangnya.
"Habis pengen punya yang lucu kayak gini banyak, Mam," kata Miko manja.
Saat mereka sedang bercanda ringan, Mama Mita yang membawa Berliana Mida Atmaja di gendongannya berjalan mendekati Dara. Dia memberikan bayinya pada Dara untuk memberi ASI pertamanya.
"Miko, kok kecil begini sih, kamu nggak rajin ya." Protes Mama saat melihat ujung Nen Dara begitu mungil.
" Rajin Kok,Ma." Miko ikut mendekat.
"Loh biasanya nggak gitu Ma, kok sekarang berubah jadi makin besar, ujungnya jadi nggak kelihatan," ujar Miko polos.
"Kak Miko. Sana pergi, jangan ikutan, Dara malu." Dara menutupi dua bukit yang kini terlihat makin besar dan kencang. jujur Dara malu dengan perubahan itu.
"Tadi kan Mama tanya, Sayang. Ya aku memastikan kebenaranya saja." Miko menempelkan dagunya di pundak Zara. Mengamati buah hatinya yang mulai belajar menghisap, walau terlihat sangat kesulitan, tapi Mida terlihat bisa melakukannya.
"Horeeew !! Mida sudah bisa nen sama mommy, tapi itu punya Daddy sayang. Aduh Daddy jadi nggak punya lagi sekarang." Miko menggoda putrinya.
"Halah! dasar Daddy lebay." Mama mengacak rambut Miko dari belakang. "Masih lama kamu yang memilikinya daripada Mida. Mida cuma kontrak dua tahun aja. Itupun juga masih menjadi milik kamu kalau dia tertidur." Mama ikut berbicara.
Dara hanya bisa geleng kepala, rupanya Mama dan anak sama saja. Kalau berbicara kadang suka los.
Tak lama Mida tertidur pulas di pangkuan Dara. Dara membelai lembut wajah putri kecilnya. Tak menyangka dua tahun berumah tangga sudah di karuniai seorang anak.
"Kak Miko!"
"Hum."
"Jika usai melahirkan biasanya wanita akan gendut, jelek, kira kira masih sayang nggak sama Dara?"
"Masih sayang, emang kenapa?"
"Nggak, cuma tanya aja."
"Masih sayang kok, tenang aja, Kak Miko akan selalu ada buat kalian berdua, maksutnya Kakak nggak akan selingkuh, akan setia sampai tua."
Cup! Miko mengecup pipi Dara.
"Makasi ya Kak."
"Iya, sama-sama. aku juga Makasi sudah bersedia menjadi ibu dari anak anakku, maaf aku belum bisa belikan kamu materi seperti Kak Arsena ke Mbak Andini.
__ADS_1
"Nggak Kak, Dara seperti sekarang ini saja, sudah bahagia. Dara nggak mau apa apa lagi."
Miko tersenyum, terharu dengan tulusnya cinta Dara, Miko memang belum pernah cerita tentang mansion yang pernah ia tempati bersama Andini waktu pergi dari Arsena. tapi sepertinya ini saatnya untuk memberitahu kalau mereka tak lama lagi akan tinggal di mansion itu. Walau tak sebesar Mansion tempat tinggal Arsena, tetapi fasilitas di dalamnya bisa di bilang sudah setara.