
"Arini! Arini! Apa yang terjadi? " Andini menghampiri Arini dengan tergopoh gopoh.
" Kak Davit! Kak Davit meninggal Mbak, aku bermimpi kak Davit sudah meninggal. Dia pergi untuk selama-lamanya." Arini berbicara dengan tempo cepat hingga Andini tak begitu jelas dengan yang diucapkan. Nafasnya juga terengah engah.
"Stttt, tenang Arini, tidak akan terjadi apa-apa dengan davit. Kamu hanya bermimpi. Ingat Arini kamu hanya bermimpi." Andini memegang kedua bahu Arini. Membuat gadis itu sadar kalau yang dia alami barusan sebatas bunga tidur . Andini segera mengambilkan segelas air mineral yang dituang dari botol besar di atas nakas.
"Kak, Arini ingin melihat kondisi kak Davit sekarang. Operasinya pasti sudah selesai," rengek Arini setelah menghabiskan segelas air dan ritme nafasnya pelan pelan mulai normal kembali.
Baiklah, kita ke ruangan Davit. Kita jenguk dia sekarang." Andini membawa tongkat tempat selang infus sambil membimbing Arini turun dari ranjang. Untung saat Arini tidur tadi dia sempatkan untuk memberi ASI pada Excel dan Cello.
Arini dan Andini berjalan menuju ruang operasi Davit. Rupanya operasi baru saja selesai beberapa menit lalu. beberapa perawat mendorong brankar Davit menuju ruang rawat. Sedangkan Vanya dan Vano baru saja keluar menyelesaikan kewajibannya pada perawat lain.
Vanya dan Vano sudah selesai dari ruang ganti. Sekarang hanya baju kerja dan jas putih yang melekat ditubuhnya.
"Vanya!" panggil Andini pada sahabat nya.
"Andini aku kangen banget sama kamu. Mentang-mentang sudah jadi istri Dirut, sekarang lupa sama aku. Teman sewaktu masih ingusan."
Nggak mungkin lupa Vanya. Cuma akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku harus jaga dua bayi laki laki ku," curhat Andini.
"Hebat, hebat banget pokoknya. Sekali cetak langsung dua. Benar-benar ya suami kamu pria yang hebat dalam segala hal."
" Ah, apaan sih, Arsena kamu puji melulu, kalau ada disini pasti besar kepala dia."
"Saranku sih, mending cetak lagi, mumpung masih sama-sama masih muda. Produksi sebanyak-banyaknya.
" Vanya ada ada aja deh. Emang kamu kira aku mesin? Kalau bisa sih aku dua anak cukup, tapi nggak tau Arsena sih, kayaknya dia pengen nambah lagi, pengen punya baby cewek juga dia. Oh iya, kamu sama Vano kapan? Aku tunggu undangan dari kalian berdua."
Vanya dan Vano saling bertukar pandang dan melempar senyum. "Sepertinya tak akan lama lagi," Kata Vano tanpa ragu.
" Siiplah, lebih capat lebih baik. Oh iya, aku tadi kesini pengen lihat kondisi pasien Davit."
" Silahkan, dia baru saja dipindahkan di ruang rawat Bougenville," Vanya mempersilahkan Andini dan Arini mengunjungi Davit.
Arini membuka pintu ruang rawat yang ditempati Davit. Rupanya Arsena lebih dulu di dalam. Dia sedang menanti Davit siuman, dan meminta maaf atas nama Arini. Karena Arini yang sudah memberi petaka pada dirinya.
"Tuan, maafkan aku telah sangat merepotkan." Davit merasa tak pantas mendapat perhatian orang besar seperti Arsena.
" Harusnya aku yang berterimakasih telah menyelamatkan adikku. Ketampananmu harus hilang untuk sementara waktu, tapi tenang luka lebam itu akan cepat sembuh karena aku minta obat terbaik yang tidak meninggalkan bekas. Baiklah aku keluar dulu, semoga kau cepat sembuh."
" Terima kasih, Tuan. Anda sudah bersedia meluangkan waktunya, untuk saya," ujar Davit dengan suaranya yang tertahan.
__ADS_1
Arsena berjalan keluar ruangan, tak sengaja mereka berpas-pasan dengan Arini dan Andini yang sama-sama memegang handle pintu.
"Sayangku rupanya kau juga perhatian sekali sama Davit?"
" Tidak, Ars. Aku mengantar Arini, dia sejak tadi ingin melihat kondisi Davit."
"Baiklah, kita biarkan Arini meminta maaf sama Davit. Kita berdua pergi saja Dari sini." Ajak Arsena.
Andini menurut, dia menaruh tongkat infus milik Arini di dekat Davit dan menarik satu kursi untuk memudahkan Arini duduk. Mereka berdua lalu pergi, memberi waktu Arini untuk meminta maaf pada Davit.
Sedangkan Andini pergi bersama Arsena mencari keberadaan Excel dan Cello yang sehari ini kurang kasih sayang dari papa dan mamanya.
Bayi mungil itu tak terasa sudah berusia empat puluh hari. Dia sudah bisa menebar senyum untuk orang yang didekatnya. Wajah tampan Arsena sudah tercetak jelas pada diri mereka. Walaupun tidak kembar identik tapi kediuanya mirip sang papah.
Yah gen dari Arsena lebih banyak terlihat daripada gen dari Andini. Hal itu tentu membuat Arsena sangat bangga.
******
"Kak Davit, syukurlah kakak sudah siuman. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu." Arini berkata dengan malu-malu
" Khawatir? Sama saya? Anda sangat berlebihan Nona. Saya tak pantas mendapat perhatian sebesar itu." Davit ingin bergerak, tetapi tubuhnya terlalu ringkih.
Arini tersenyum, dia menyeka air matanya yang terus merembes tak mau berhenti.
"Kak Davit. Arini senang kondisi kakak tak seburuk yang Arini pikirkan. Arini tadi bermimpi ..."
Emang nona pikir kondisi saya seperti apa? Mimpi itu pasti buruk sekali, hingga mata Anda sembab. Jangan-jangan anda mulai jatuh cinta sama saya," canda Davit.
Arini mencubit pinggang Davit, membuat sang empu memekik kesakitan. " Ampun sakit Nona. Tidakkah kau kasihan melihatku yang sudah sekarat ini."
"Biarin, biar kalau bicara nggak asal ceplos saja. Masih sakit sudah banyak gaya." Arini mengerucutkan bibirnya.
Saat mereka sedang asyik berbincang. Dua orang perawat datang mengantar rangsum untuk pasien. Satu orang mendorong kereta dorong untuk pasien dan satunya mendapat bagian mengambil dan menaruh diatas nakas.
"Nona, tolong kakaknya dibantu untuk segera makan,usai menjalani operasi perutnya pasti sudah lapar, karena sebelumnya telah puasa."
"Iya, makasi Sus." Arini mengangguk dengan gayanya yang polos.
"Kak Davit, ini rangsumnya sudah datang silahkan dimakan." Arini mengambil dari tangan suster lalu menyodorkan ke arah Davit.
" Iya, taruh disitu dulu, aku makan nanti saja," ucap Davit dengan tenang.
__ADS_1
"Tapi, kata perawat tadi, kak Davit sejak kemaren belum makan."
" Nanti saja, Nona." Davit menghembuskan nafasnya pelan.
Mengertilah Nona, bagaimana aku bisa makan. Jika bergerak saja tubuhku sakit semua.
" Kak Davit! Kau harus makan sekarang." Mulai kesal dan sedikit berteriak.
"Iya Nona, tolong panggilkan suster dulu, baru nanti aku makan semua rangsumnya." ujar Davit meminta tolong.
Arini segera memencet tombol yang ada di sebelah Davit. Tak lama seorang suster wanita datang.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Em ada, tolong suapin saya makan. Karena saya terluka sangat parah, dan saya sudah yatim piatu, sanak keluarga saya ada di kampung." Terang Davit panjang lebar.
"Baiklah Tuan." Suster tak keberatan. Dengan senang hati dia segera meraih rangsum yang ada diatas nakas. Tentu dia juga sering melayani banyak pasien sebelumnya. Tapi kali ini dia mendapat pasien yang istimewa. Muda, tampan, tentu itu sebuah keberuntungan.
Arini semakin kesal melihat Davit disuapi bubur oleh perawat. Padahal dia sudah sejak tadi ada di sebelahnya. Harusnya tadi minta tolong pada nya. Dia pasti akan melakukannya dengan senang hati.
Arini kesal melihat Davit mengunyah pelan setiap suap nasi dari tangan perawat. entah kenapa hatinya menjadi sakit. seolah di depannya itu kekasih yang sedang bermesraan dengan pacarnya
"Suster, anda bisa tinggalkan kami berdua, sepertinya aku bisa membantu kak Davit untuk makan."
" Tapi Nona? Anda juga terlihat sedang sakit." Suster keberatan melihat selang infus yang ada ditangan Arini.
"Oh, ini. Sebentar lagi dokter akan mencabutnya, karena saya sudah sehat. Saya juga bisa suapin dia sendiri. Anda tentu masih memiliki banyak pekerjaan lainnya."
"Nona, biar suster saja yang melakukannya." Pinta Davit. Dia tak mungkin memerintahkan Nona mudanya untuk melayani seorang sopir semacam dirinya.
"Suster!" Arini membulatkan matanya.
"Baik Nona." Suster pun paham, Dia segera pergi meninggalkan ruangan Davit.
"Nona kenapa jutek? Tadi disuruh makan, giliran mau makan, susternya malah disuruh pergi. Saya jadi bingung. Gerutu Davit. Sambil sesekali mengangkat kepalanya mencari posisi tidur paling enak.
'Kenapa mimpi sama nyata begitu berbeda, dalam dunia mimpi tadi Kak Davit bilang suka sama aku. Tapi kenapa di dunia nyata dia terlihat cuek. Dan kenapa juga aku berharap kak Davit benar-benar mencintaiku.'
Arini melipat kedua bibirnya ke dalam. Otaknya terus saja berputar putar memikirkan Davit yang sangat berbeda ketika di alam mimpi dan nyata.
"Nona, kenapa bengong?" Tegur Davit. Pria itu sejak tadi ternyata memperhatikan Arini yang pikirannya melayang entah kemana.
__ADS_1
"A-a-ku yang akan melanjutkan pekerjaan suster tadi," kata Arini sedikit gugup.
*happy reading.