
Brak!! Motor besar dari arah belakang dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak tubuh Andini. Alhasil dia hanya menyerempet mobil lain dan berhasil kabur
Secepat kilat Zara menarik lengan Andini membuat mereka berdua terjatuh. Andini yang tak tau apa-apa tentu tak mempersiapkan diri. Hingga dia membentur paving lebih keras daripada Zara.
Arsena yang melihat Andini terjatuh ia segera menjatuhkan ponselnya, entah kemana rimba nya ponsel mahal itu. Seseorang disana yang sedang menelepon pasti bingung, lawan bicaranya tiba-tiba berteriak tak jelas dan meninggalkan obrolan yang masih dalam kondisi tersambung.
"Andini!!"
"Andini," pekik Arsena dengan panik.
"Hai berhenti!! Jangan kabur Lo. Bareng*ek. berhenti."
Arsena segera berlari mengejar pria bersepeda motor. Namun ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar rintihan kesakitan dari Istrinya.
"Auhh sakit, ini sakit Zara." Andini memegangi bokongnya.
Arsena mendekati Andini, memeriksa kondisi tubuh luarnya, kaki tangan dan lainnya, sedikit merasa lega tidak ada luka di tubuh Andini, hanya pinggangnya yang terasa sakit.
"Sayang! sayang! enggak apa-apa kan? Mana yang sakit tunjukkan padaku." tanya Arsena dengan suara bergetar dan panik.
"Sakit banget pinggangku, semoga aku dan anak kita, baik baik saja." Andini menangis. Khawatir terjadi sesuatu dengan dirinya dan membuat Arsena kecewa.
Asena terlebih dulu meraih lengan Zahra. Membantu gadis itu berdiri.
Setelah Zara berdiri, ia segera membuka pintu depan. Arsena membopong tubuh Andini dan mendudukkan di jok mobil.
"Zara terima kasih kamu sudah menyelamatkan aku, kalau tidak ada kamu pasti pemuda tadi sudah menabrakku dan aku ...."
"Sudah tugas saya Nona melindungi Anda sebisa saya. Semoga Nona juga baik baik saja." Zara tak menghawatirkan dirinya sendiri, justru ia sangat menghawatirkan Andini.
"Kebetulan saja tadi saya menoleh ke belakang kalau tidak mungkin saya juga tidak akan tahu. Dan Kenapa pria tadi ingin menyakiti Nona, Nona orang yang baik Kenapa banyak sekali orang yang jahat pada Nona Andini."
Menggenggam tangan Zara sebagai wujud terima kasihnya yang sangat besar "Menurutmu aku baik Zara, tapi belum tentu aku baik juga buat orang lain," ujar Andini lirih.
__ADS_1
"Andini, Zara jika kalian sudah siap kita berangkat ke rumah sakit sekarang."
"Iya tuan."
Sepanjang perjalanan Arsena hanya diam. Dia sangat geram dengan pelaku yang memiliki rencana menabrak istrinya. Sepertinya dia harus turun tangan sendiri mencari keberadaan lily dan Devan. Jika tak segera ditemukan kedua orang itu akan selalu menjadi ancaman yang serius bagi Andini.
Arsena yakin pria pengendara sepeda itu tak punya nyali melakukan hal itu, kalau tidak mendapat imbalan yang sangat besar.
Arsena mulai menerka-nerka siapa pelakunya hanya ada empat orang yang dicurigai dan orang itu pasti pelaku sebenarnya, karena hanya mereka yang bisa melakukan apapun terhadap Andini.
Tanpa menunggu dijemput oleh brankar pasien, Arsena sudah membopong tubuh istrinya menuju ruang praktek Namira.
Namira sungguh terkejut melihat Arsena datang dengan tiba-tiba, tak biasanya pria itu datang tanpa menghubunginya lebih dulu, Namira sudah tahu pasti ada hal yang sangat mengkhawatirkan, apalagi kedatangannya dengan membawa Andini, wajahnya panik, rambutnya acak-acakan.
Mira! tolong periksa kondisi Andini Mira! Pria dengan baju basah oleh keringat setelah menaiki puluhan anak tangga karena kondisi lift sedang diperbaiki
"Apa yang telah terjadi? Apakah terjadi sesuatu dengan Andini? Bayi kalian? jangan-jangan, terjadi sesuatu dengan bayi kalian."
"Baiklah." Namira yang melihat Arsenal begitu panik, Namirah juga ikut panik.
Namira segera menpelkan stetoscope di dada Andini memeriksa tekanan darah dan detak jantungnya.
Jantung Andini berdetak begitu cepat. Andini sangat takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
"Tensi darah Andini naik drastis, ini tidak baik untuk kondisi ibu yang sedang hamil, seperti yang kubilang sebelumnya kondisi kehamilan anda ini sangat lemah jika terlalu sering terjadi seperti ini, Aku khawatir akan terjadi apa-apa dengan baik kamu Ars, sebaiknya jaga dengan betul calon anak kamu, jangan sampai calon ibu mengalami stress atau tekanan yang lainnya usahakan dia selalu dalam kondisi baik.
"Ya, Mira aku tahu belakangan ini Andini banyak menghadapi masalah dan ditambah kejadian tadi pasti dia sangat kaget," terang Arsena.
Arsena tak bisa tenang dia terus mengekor kemanapun Namira menggerakkan tubuhnya memeriksa Andini.
Namira terpaksa harus melakukan USG kembali, khawatir benturan tadi juga berakibat fatal pada janinnya.
Zara yang didekat andini terus saja memijit kaki Andini pelan. "Nona, berdoa ya semoga dedek kecilnya baik-baik saja."
__ADS_1
Aku yakin dia baik-baik saja, dia anakku yang kuat. Tak mungkin terjadi apa-apa dengannya." Andini tersenyum menguatkan hatinya sendiri.
Namira kembali mengoleskan krim dingin di perut Andini." Rasanya pasti dingin ya."
"Iya Dokter." Andini tersenyum kepada Namira. Namira baru menyadari kalau senyum Andini memang begitu manis, pantas saja Arsena jatuh cinta dan tak mau berpaling dengan yang lain.
"Dokter Andini alangkah lebih baiknya kalau di rumah saja dulu, bukankah sudah lama anda sangat menantikan kehadiran janin di rahim Anda ini," kata Namira yang sedang mencoba mendamaikan hatinya.
Dua gumpal daging sebesar genggaman bayi,sudah nampak di layar monitor, degupan jantung saling bersahutan.
Arsena yang berdiri dibelakang Namira, dengan melipat kedua tangannya. Seketika langsung menurunkan tangannya dan berjongkok di depan monitor. Arsena hendak bertanya. Namun, Namira lebih dulu menjelaskan.
"Itu suara detak jantung bayi mu, senang kan sekarang kamu bisa mendengarnya. Dia sangat sehat" Namira berkata sambil menyunggingkan senyum dari bibir tipisnya.
Arsena terharu tiba-tiba dia ingin menangis, ingin berteriak bahagia, Arsena tak mampu lagi menahan bulir kristal agar tak jatuh dari kedua kelopak matanya.
"Dia calon anakku, Andini dengar itu suara jantung anak kita, dia baik-baik saja di dalam sana, Andini." Arsena berlari memeluk Andini mengecup pipi dan bibirnya berulang kali.
Namira yang melihatnya terlihat malu dengan adegan mesra teman kuliahnya itu. Arsena merupakan calon ayah yang paling lebay yang pernah ia lihat, selama dirinya bekerja menjadi dokter Obgin belum ada calon papa sebahagia Arsena.
"Terima kasih Andini, kau sudah menjaga anak kita dengan baik"
"Zara terima kasih ya!"
"Tuan kenapa berterima kasih terus. Tadi kan sudah."
"Oh sudah ya? Maaf aku lupa." Kata Arsena yang kembali menoleh ke arah Andini.
Namira yang sedang menulis resep menepuk jidatnya sendiri. Pusing mendengar Arsena yang tak berhenti bicara sejak datang tadi.
*Happy reading
* Komen yang rame ya biar othor up lagi.
__ADS_1