Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 219. Sakit apa?"


__ADS_3

"Tuan, Nona Lili berhasil kabur lagi." ujar Davit saat mereka usai membahas hal yang bikin Davit senam jantung.


" Wanita itu benar-benar ingin menantang ku, lambat laun aku pasti akan menemukan dia, selama ini aku masih berharap dia bisa berubah. Tapi bukannya memanfaatkan kesempatan dengan baik, malah semakin keterlaluan.


"Anda masih cinta?" Davit menatap Arsena, penasaran dengan


"Apa yang kau tanyakan? Tentu tidak. Cintaku seratus persen sudah kuberikan untuk istriku. Hanya dia dan anak anakku yang berhak memiliki cintaku."


" Nona pantas mendapatkannya, dia setia," ujar Davit bingung, ingin memuji Andini seperti apa. Takutnya malah membuat Arsena yang pencemburu berat menjadi salah paham.


" Jangan berani berani memuji dia di depanku, hanya aku yang berhak memberinya pujian, pada wanita terhebat kursi."


" Mengerti, Tuan." Davit mengunci bibirnya rapat. Dimata calon kakak iparnya dia tak akan pernah benar dan menang.


Mereka berdua diam sejenak lalu kembali mengangkat gelas masing masing lalu meminum isinya. Mengabaikan taxi yang lewat silih berganti.


____


"Tuan, dia diselamatkan oleh Ken. Ken sudah benar benar memihak wanita itu." Akhirnya Davit memulai bicara terlebih dulu.


Aku tau posisinya, dia cinta buta. Aku salut Ken bisa mencintai wanita yang menghabiskan malamnya dengan banyak pria. Andaikan Lili berhenti dengan Ken saja, dan tak mengusik wanitaku. Aku akan melepaskan dia." Arsena melihat ponselnya, waktu menunjukkan semakin sore. Sambil sesekali menatap foto sang istri yang ada dilayar ponselnya.


"Kita kembali ke hotel, Mereka nanti akan menunggu." Arsena berdiri hendak membayar minumnya, tetapi Davit lebih dulu mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribuan lalu menyerahkan pada pelayan cave.


Arsena hanya bisa tersenyum. Setidaknya dia tahu Davit pria baik dan loyal.


"Ambil saja kembaliannya."David tersenyum pada pelayan.


Pelayan membalas senyum ramah David " Terima kasih Tuan, Semoga hari anda akan selalu menyenangkan."


Mereka berdua akhirnya menghentikan satu taksi yang menuju ke hotel. Arsena dan David segera masuk lewat pintu yang berbeda.


Andini sudah berulang kali menghubungi suaminya, Ponsel Arsena terus saja berdering. Arsena segera menarik "Iya sayang ada apa?" Arsena tiba tiba jadi melempem kala bicara dengan Andini. Ketegasan dan aura menakutkan sirna dalam sekejap.


"Kok lama? Aku tentu menghawatirkan mu Ars." Suara dari seberang terdengar kesal.


"Khawatir apa udah kangen?" Arsena berusaha bercanda.


Dia yakin wanita diseberang sana pasti sedang mberengut kesal. " Anak anak membutuhkan papahnya, Ars. Beberapa hari lalu kau sudah jauh dengan nya."

__ADS_1


"Iya, ini sedang di jalan sama Davit. Sabar dikit napa. Yang kangen pasti mamahnya." Arsena menggoda.


Taxi berhenti di lampu merah, Arsena menoleh kesamping berharap ada pemandangan baru yang ia temukan di pulau paling ujung negara Indonesia ini.


Tiba tiba mobil hitam dengan kaca terbuka berhenti tepat di sebelahnya.


Sebuah kebetulan yang jarang terjadi itu kini ia alami, Arsena melihat sosok tubuh yang ia kenal. Arsena kali ini tak mungkin salah lihat mobil dengan kaca terbuka menampilkan sosok yang familiar.


Lili berada di kursi penumpang mobil itu bersama seorang pria.


"Sopir, tolong ikuti mobil hitam yang ada di sebelah kita," perintah Arsena kemudian.


"Baik tuan," sopir taxi mengangguk patuh.


Davit ikut penasaran siapa yang dilihat oleh tuannya baru saja, Davit menatap mobil hitam yang dimaksutd Arsena tadi.


Rupanya wanita cantik itu Vanes alias Lili yang ditemani oleh Ken yang menjadi pengemudi


"Tuan Itu Liliana, wanita yang anda cari?"


" Kamu benar kita ikuti kemana dia pergi."


Arsena dan Davit mengurungkan niatnya yang ingin langsung ke hotel dia beralih haluan, membuntuti mobil yang kini ada di depannya.


"Tuan, apa anda mencurigai sesuatu?"


" Iya, kita ikuti saja dulu. Siapa yang sakit."


Pak tolong jaga jarak dia mau keluar mobil, jangan sampai di mencurigai kalau kita sedang mengikuti mereka.


Ken yang mengemudikan mobil rupanya turun lebih dulu, dia membuka pintu penumpang dan membantu Lili turun. Lili terlihat terus memegangi perutnya.


"Tuan, ternyata Lili sakit. Apa yang terjadi dengan wanita itu. Apa kita tangkap dia sekarang?" Tanya Davit sambil terus menatap satu titik, ke arah Ken dan Lili.


Terlihat dua orang perawat datang dengan mendorong brankar, Lili segera naik keatas brankar dibantu oleh Ken, membetulkan kaki dan baju yang ia pakai.


"Tidak, kita ikuti saja dulu. Sangat tidak manusiawi jika kita menangkap musuh dalam keadaan tak berdaya seperti ini."


"Anda benar Tuan, sepertinya kurang menyenangkan jika musuh kita terkam saat tak berdaya, kebahagiaan tersendiri ketika musuh berhasil kita taklukkan saat dia sedang melawan dengan buas."

__ADS_1


Lili dibawa ke ruang UGD terlebih dahulu. Dia terlihat merintih kesakitan, ada bekas darah yang keluar hingga mengering di sela sela pahanya.


'Apakah Lili sakit serius? Dia terlihat sangat kesakitan, apa dia keguguran, tapi dengan siapa dia hamil, bayi mereka juga masih kecil.' monolog Arsena saat mengintip Lili dari jendela kaca yang terpasang di sebelah pintu masuk.


"Tuan, apa kita akan mengikuti dia sampai malam atau kita pulang dulu?" Bisik Davit yang mulai gelisah karena sudah mendengar telepon dari Andini tadi.


"Pulanglah dulu, aku akan ikuti mereka. Bersihkan lukamu dan mintalah Arini untuk mengobati." Perintah Arsena. Davit menurut. Dia meninggalkan Arsena yang sedang melakukan penyamaran. Memakai topi hitam dan masker penutup hidung dan mulut. Jika tak dilihat dengan jarak dekat, penyamaran Arsena akan sulit dikenali.


Di ruang UGD sayup sayup terdengar dua insan sedang berbicara.


"Ken, pergi! Tinggalkan aku sendiri, aku tak butuh kau, yang dihatimu hanya menyimpan cinta untuk majikan lama mu itu."


"Lili, lagi sakit saja kenapa kau masih keras kepala, jika aku tak menyelamatkanmu tadi, mungkin kau juga akan tertangkap oleh davit. Apa kamu sudah siap menerima segala konsekuensinya?


"Jack akan selalu bersamaku, dia akan membantuku, tak seperti kamu. Aku memiliki ragamu tapi kesetiaan mu hanya untuk keluarga Atmaja.


"Kau tak akan pernah mengerti Lili, bagaimana dia sangat baik padaku, membesarkan aku seperti putranya sendiri. Kau harusnya bersyukur aku ada bersamamu. Kalau bukan Rara membutuhkan kamu, aku akan membawanya pergi sangat jauh.


"Bawa pergi, kau hanya akan dituduh penculik. Kau hanya ayah biologis, tapi bukan ayah dimata hukum."


"Oleh karena itu Lili, aku ingin kita menikah. Kita bina rumah tangga kita, kita pergi dari sini." Ken terus saja membujuk Lili.


"Menikah denganmu? Makan apa Ken? Mau makan batu? Bahkan sekarang kau sudah pengangguran."


Ken hanya mendesah frustasi. Sulit sekali membujuk Lili, sepertinya mata dan hati wanita itu sudah tertutup terlalu tebal. Hingga dia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Ditengah obrolan serius Ken dan Lili. Ada seorang dokter pria tiba- tiba masuk dengan ditemani seorang perawat.


Ditangan perawat wanita itu ada berbagai alat medis yang akan digunakan untuk memeriksa Lili.


"Apa anda suaminya?" Tanya dokter bertubuh tinggi keturunan bule itu


"Masih calon suami, Dok,"


"Oh, anda sepasang kekasih. Tuan saya minta tolong anda keluar, biarkan kami bekerja dan tolong selesaikan biaya administrasi. Pasien harus segera mendapat penanganan."


" Dokter kira kira sakit apa dia?" Tanya Ken langsung pada intinya.


" Dugaan sementara bisa jadi salah, maaf aku tak bisa menyimpulkan suatu penyakit tanpa pemeriksaan terlebih dahulu," ujar Dokter sambil menutup ruang operasi setelah Ken keluar.

__ADS_1


*happy reading.


*pagi cayang semua, emak udah rajin update, jangan lupa kasih hadiah buat emak berupa like Komen bawel dan vote ya.


__ADS_2