Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 176. Cantik sekali.


__ADS_3

"Sini biar aku bersihkan sendiri." Davit mengambil kapas dari tangan Arini, senyum tipis terukir dari bibirnya.


"Auh ... " Tetap terasa sakit walau Davit sudah sangat pelan.


"Makanya jangan keras kepala, dibantuin nggak mau sih."


Melihat tertawa Arini yang sangat lepas, tidak jutek lagi, membuat Davit kembali terpana. Tanpa sengaja dia menghentikan aktifitasnya hanya untuk melihat Arini.


Sesungguhnya dia sangat cantik dan manis, jutek dan ketus bukanlah sifat aslinya. Buktinya aku sekarang melihat senyumnya yang imut bagaikan peri.


Sadar dilihat Davit demikian dalam, Arini segera berhenti tersenyum. " Kak Davit, woi ...." Arini melambaikan tangannya di depan wajah tampan Davit.


"Eh ... Oh ... Maaf aku tadi ..." Davit gelagapan.


Arini kembali tersenyum. "Kalau bukan Mbak Andini yang meminta tadi aku juga nggak kesini. Karena lukanya sudah bersih, aku sekarang ke kamar dulu kak Davit."


"Iya, Makasi sudah sudi kesini." Davit mengangguk sambil membersihkan kapas bekas. Arini melenggang keluar kamar dengan langkah cepat.


"Kak Davit?" Arini berhenti di ambang pintu.


" Iya, apa lagi?" Davit mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Arini.


"Terimakasih."


"Untuk apa?"


" Untuk tadi, sudah boleh pinjam uangnya. Sekarang aku belum bisa kembalikan."


" Santai aja, nggak usah dipikirin," ujar Davit senyum kembali terukir. Davit juga terlihat salah tingkah.


" Aku pergi."


"Iya,"


Davit segera duduk kembali, dia berulang kali memijat pelipisnya sendiri. 'Bodoh Davit, kau pria paling bodoh, payah. Bisa bisanya kamu tak bisa mengendalikan jantungmu. Kamu harus tau diri Davit, kamu hanya sopir! sopir !sopir! Ingat kamu hanya sopir pribadi disini. Kamu tak bisa menjadikan Arini sebagai pelampiasan sakit hatimu pada Zara.


Tidak ini bukan pelampiasan, Arini sama sekali tak bersalah, jantungku terpacu sangat kuat saat aku didekatnya dan rasa ini mlebihi yang pernah aku rasakan. Tidak, aku harus bisa memendam perasaan ini, aku harus tau diri. Aku dan Nona Arini. Kita bagaikan langit dan bumi.


Apa kau mau mati konyol karena dibunuh oleh kakaknya, tugasmu menjaga, bukan untuk mencintai.'


Davit kini merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang empuknya. pikirannya masih terus melayang layang terbayang oleh gadis imut itu. Sahabat Miko sekaligus mantan sopir Miko itu mencoba memejamkan matanya.


Dia berharap ketika bangun nanti dia tak lagi mengingat kejadian baru saja. Tidak lagi mengingat perasaannya yang selalu salah sasaran.


Setelah lama bergelut dengan perasaannya. Davit akhirnya tidur dengan pulas. Saat tidurpun bibirnya terlihat tersenyum simpul.


****

__ADS_1


Arini kini memakai gaun mahal yang tadi dibeli. Gaun warna biru itu sangat pas ditubuhnya. Gadis berusia 19 tahun itu mematut dirinya di cermin, sesekali memutar tubuhnya.


"Cucu Oma mau kemana? Kok cantik begini?" Oma melihat dari atas hingga bawah. Malam ini Arini memang terlihat begitu cantik, walau hanya dengan dandanan yang natural,


"Oma kan cantik, jadi cucunya juga pasti cantik Donk." Arini menjewer kedua pipi Oma yang mulai keriput dengan gemas. Lalu menciumnya. "


"Mau kemana?" tanya Oma lagi, tak puas jika Arini tak menjawabnya.


"Ke acara teman Oma, diundang kalau nggak datang kan nggak enak Oma."


"Lihat penampilan kamu yang wow begini, pasti yang punya acara orangnya special dihati nieh," celetuk Oma lagi.


"Oma tau saja." Arini senyum senyum sendiri.


"Pesan Oma, jaga diri, belajar yang semangat, pacaran boleh asal menambah semangat belajar kita, misalnya nie. Pacar kita itu pinter, kita kan jadi malu kalau tetep saja bodoh. Nah otomatis kita akan rajin belajar dengan sendirinya, karena malu terlihat bodoh di depan orang yang kita sayangi."


"Oma benar juga. Ya udah Arini pamit Oma."


" Iya, jangan lupa minta antar sama Davit. Oma nggak kasih izin kalau sendiri.


" Siap Oma." Arini merogoh ponselnya dari dalam handbag yang melingkar anggun di lengannya.


Arini segera menghubungi Davit.


"Kak Davit kita berangkat sekarang."


" Ih kak Davit bagaimana sih, kan sudah kubilang aku ada acara di rumah teman. Kak Davit nyebelin banget sih." Arini kembali kesal dan ketus pada Davit.


" Ih segitunya kalau mau ketemu pacar, ini saya sudah panasin mobilnya di depan garasi. Saya sudah siap sejak tiga puluh menit lalu. Nona"


"Kan, makin nyebelin. Pake acara bohong segala." Arini segera keluar rumah, Davit sudah menyambut dengan senyum manisnya. membukakan pintu mobil untuk tuan putri cantik yang semakin hari semakin membuatnya terpesona.


Setelah Arini masuk, Davit membantu memakaikan sealt belt. Arini memundurkan punggungnya hingga menempel ketat pada sandaran kursi. Meskipun demikian jarak Davit dan Arini tetaplah sangat dekat. Parfum yang Arini pakai hari ini begitu harum, hingga wanginya tercium oleh hidung David.


Arini juga bisa merasakan hangatnya embusan nafas Davit menerpa wajah ayunya. Nafas dengan Aroma mint mampu membuat Arini termangu sesaat.


"Non, apa kita berangkat sekarang."


"Eh ... i ... iya."


Arini merapikan gaunnya agar tak terjepit oleh pintu. Davit segera menutup dengan hati hati.


Mereka berdua segera berangkat menuju tempat tinggal Willy. Tanpa disadari oleh mereka berdua, hari ini Davit juga memakai hem yang warnanya hampir senada dengan baju yang dipakai Arini.


"Kak Davit ..."


"Iya, Non."

__ADS_1


"Nanti kak Davit tunggu diluar saja ya. Aku nggak mau Willy nanti marah sama kakak. Dan kalian bertengkar lagi. Lukanya kan baru sembuh masa di tambah lagi."


"Nona mau melindungi saya?"


" Bukan, bukan itu yang aku maksud. Aku cuma nggak mau Willy melukai kamu lagi, aku nggak mau nanti dia dalam masalah karena sudah melukai seorang sopir, tentu aku hanya ingin melindungi pacar saya dari hal buruk itu.


Davit tertawa sumbang." Kalau begitu biarkan aku menjaga Nona di dalam. Terluka atau tidaknya diriku. Anda jangan khawatir. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa. Lagian jika pacar non benar benar terhormat dan hebat, harusnya dia bisa menjaga imagenya di depan orang banyak, malam istimewa masa mau dihancurkan sendiri.


Arini diam, mana mungkin dia bisa melarang Davit. Sopir yang ditugasi kakaknya menjadi bodyguard sekaligus itu.


Lokasi pesta ternyata diadakan di taman, halaman rumah Willy memang luas. Ada penjaga di depan gerbang yang meminta bukti undangan yang pernah di kirim. jika tak memiliki sebuah undangan tentu tak diizinkan masuk.


"Ini undangannya cuma satu, kenapa yang masuk harus dua orang?" Tanya security pada Arini. Tatapannya sebentar menatap Arini sebentar menatap Davit yang terlihat serasi.


"Saya pengawalnya Kak. Dia Nona yang setiap hembusan nafasnya harus saya lindungi."


" Tapi maaf, kata majikan saya, yang boleh masuk hanyalah pemegang undangan saja." Security kekeuh tak mengijinkan Davit ikut masuk.


"Baiklah, aku tunggu diluar saja. Nona jaga diri di dalam."


" Jangan berlebihan, aku bukan anak kecil. Kamu ternyata lebih cerewet daripada Kak Arsena," celetuk Arini sambil tersenyum.


Arini masuk sendirian, Securiti menatap Davit dengan tatapan menghina. Mungkin dalam hatinya dia sedang menertawakan Davit yang mau jadi sok jagoan.


Davit tak mau kalah, dia menarik baju security tadi, " terluka sedikitpun Nona saya, karena kau membiarkan aku menunggu disini. Sudah kupastikan bukan hanya kulitmu yang hancur tulang-belulangmu akan remuk." Ancam Davit dengan geram. Sekuriti itu tak mengira pria setampan Davit nyali yang besar juga.


"Itu perintah dari majikan saya. Saya hanya bekerja disini." ucapnya tak segarang tadi. Beberapa tamu undangan yang baru datang tertarik dengan pertengkaran Davit dan security itu. Namun, ada pula beberapa tamu yang memilih acuh.


Willy menatap Davit dari dalam dengan puas, dia sudah berhasil merendahkan sopir itu di depan orang orang. Sedikit dendamnya sudah terbalas. Namun masih ada pembalasan yang lebih setimpal daripada baru saja.


Tak lama Willy menelepon beberapa cecunguk, untuk segera datang. Dia ingin Davit habis hari ini, Davit akan menjadi ancaman terbesarnya. Karena pria itu sudah memergoki dia saat berama Rossa. Willy juga melihat Davit begitu melindungi Arini, melebihi seorang majikan dan bawahan. Pria seiko itu curiga Davit memiliki perasaan lebih pada Arini.


"Kau pancing dia supaya pergi dari sini. Aku tak mau dia mengganggu kesenanganku hari ini." Perintahnya lewat benda pipih itu.


"Siap Bos. Asal jangan lupa sama kita saja, kau mendapatkan gadis itu seutuhnya dan kami dapat bayaran," jawab pria diseberang sana.


" Tenang saja, aku tak hanya akan mendapat istri secantik bidadari, tapi aku akan menjadi milyader. Kau boleh meminta apapun dariku. termasuk bayaran yang setimpal," ucap Willy saat telepon dengan begundal tak tau diri itu.


Sebelum panggilan telepon berakhir, para manusia iblis itu tertawa pongah, rencananya sudah berjalan mulus di depan mata. Jika Davit adalah rintangan. Sebentar lagi pria itu pasti akan kalah. Kemaren dia menang tiga lawan satu. Apa dia akan mampu untuk menang jika lima lawan satu.


"Willy, rupanya kau disini, aku mencarimu tadi." Arini muncul dari arah belakang, memergoki Willy yang sengaja telepon dengan sembunyi di balik pos ronda


" Sayang, maaf aku masih menelepon teman kita yang lainnya. Kau! Kau cantik sekali hari ini !"


Mata Willy berbinar, Arini memang sangat cantik dari semua gadis yang sudah datang di acara ini. Kulitnya yang putih halus, bibirnya yang merah, dan senyumnya manis. pria normal yang melihatnya pasti jantungnya akan berdetak cepat, hatinya bergetar memuji keindahan kaum hawa satu ini.


*happy reading.

__ADS_1


__ADS_2