
"Mau Mas, sekarang apa? Kalau semua sudah tak ada yang ingin dibicarakan lagi mending sekarang pulanglah," ujar Ana yang mulai jengah dengan kehadiran Antoni.
" Sebentar saja, Ana." Tangan Antoni mulai meraih apapun yang bisa diraih. Dan akhirnya ia menemukan kemoceng. "Aku bantu beres-beres ya?"
"Tidak perlu, Mas." Tolak Ana. Tak ada sedikitpun rasa ingin bekerja sama di hatinya. Ana lebih suka kalau Antoni pulang dan tak pernah berjumpa selamanya.
Antoni tetap keras kepala, kini dia mulai merapatkan kursi-kursi, Ana mulai menyapu lantai dan membakarnya di tong sampah. Aktifitas mereka diselingi dengan obrolan yang berhubungan dengan kedatangan Antoni hari ini.
"Ana, dulu sampai sekarang kenapa belum menikah? Kamu masih muda dan cantik, Apa artinya kamu masih mencintaiku?" Tanya Antoni penuh percaya diri.
Ayo jawab, iya, Ana. Aku akan kembali untukmu.
"Aku tidak kepikiran ke arah situ, Mas. Aku hanya punya tujuan melihat anak-anak bisa sekolah dan bahagia. Menikah membuat saya berfikir berulang kali, anak saya masih sekolah dua-duanya dia masih harus banyak mengeluarkan biaya. Jika ayahnya sendiri saja menelantarkan mereka, apa masih ada ayah tiri yang berhati malaikat rela membiayai dua anak orang sekaligus." ujar Ana dengan bibir tersenyum namun hati perih. Ana mulai memperlihatkan sisi rapuhnya yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Ketika mengingat masa itu.
"Apalagi wanita yang akan menjadi istrinya adalah pesakitan seperti saya." Bibirnya tersenyum tipis.
"Ana, maafkan aku, aku bukan bermaksud menelantarkan anak-anak. Semenjak berpisah darimu usahaku memang berbeda, pemasukan merosot drastis. Penjualan furniture tak seramai dulu."
Ah, itu pasti alasan saja. Kamu terlalu memanjakan istri barumu, membelikan perhiasan mahal dan barang branded, mana ada sisa di setiap bulannya. Penghasilan toko pasti habis di tangan istrimu.
"Setidaknya kamu kalau kangen dia, bisa mengunjungi walau sebulan sekali, tapi sudahlah, yang penting mereka sekarang sudah dewasa, mereka tak lagi menangis saat di ejek teman temannya tak punya papa. Aku salut sama mereka berdua Andini dan Andara putriku. Mereka kini memang hanya menjadi putriku." Ana menyeka air matanya.
"Ana, aku sungguh minta maaf. Ijinkan aku membahagiakanmu, untuk menebus semua salahku selama ini."
"Maaf Mas, aku sudah bahagia. Kebahagiaan itu sudah datang, aku tak perlu mencarinya lagi," ujar Ana apa adanya dan to the point.
Antoni tak goyah sedikitpun oleh penolakan Ana. Sudah jauh hari ia memikirkan semua yang terjadi hari ini, ketika ia melihat Ana berjalan di depan pasar bersama Dara dengan belanjaan yang sangat banyak.
Tiba-tiba ia teringat akan dosa masalalunya, telah menceraikan istri saat kondisinya sedang sakit keras. Setidaknya disisa umurnya ia ingin menebus semua kesalahan dulu. Dengan kembali menikahi Ana dan menjadikan dia istimewa. Setulus itukah Antoni? Atau dia memang tak rela jika ana menikahi pria lain karena dia sekarang semakin hari terlihat semakin cantik. Ana sejak dulu tubuhnya memang tak mudah berubah. Dia tetap stay di bobot tubuh lima puluh enam.
__ADS_1
Harapan Antoni layu sebelum bersemi begitu melihat ada pria lain naik mobil mewah berhenti di depan depot. Antoni tak tau kapan datang mobil itu suaranya amat halus. Yang ia tahu hanyalah, jika harga mobil pria itu dibandingkan dengan mobilnya maka perbandingan yang tepat adalah satu banding tiga puluh.
"Asalamualaikum."
"Waalaikum salam." Ana dan Antoni menoleh serempak. Melihat orang yang baru datang, Ana segera menyeka air matanya.
"Aa Doni, tumben, malam datangnya? Apa ada pesan dari Andini?"
"Enggak Neng, Tadi Aa mampir aja sepulang kerja, barang kali ada yang perlu dibantu." Doni tersenyum ramah pada Antoni. Antoni membalas senyumnya dengan terpaksa.
"Oh, iya kalian bisa kenalan dulu." Ini papanya Andini"
"Mas, Aa Doni ini orang yang sudah sangat baik dengan aku dan anak-anak. Dia yang telah jaga aku selama berobat di luar negeri."
Doni mengulurkan tangannya, "sepertinya pernah kenalan tapi entah dimana? Ya udah nggak ada salahnya kita kenalan lagi. Saya, Doni"
"Mas." ucap Ana.
"Eh, ya, saya Antoni. Papa Andini dan Dara."
Cling!
Sebuah pesan masuk pada ponselnya.
"Maaf saya lihat pesan dulu." ucap Doni sambil melihat mereka berdua bergantian.
.
__ADS_1
"Em, Neng. Besok akan ada dua asisten yang mulai membantu bekerja, jadi Eneng jangan kaget kalau besok ada dia datang. Menantu sudah melihat perkembangan depot ini, dia tak mau mertuanya lelah."
"Em, Aa. Tolong dibilangin sama menantu saya, Tolong jangan terlalu khawatirkan kami terus. Sudah tak kurang kurang dia membantu saya seperti ini."
Doni mengangguk sambil tersenyum. "Akan Aa sampaikan nanti. Kalau begitu saya permisi pulang dulu."
"Mas, mari kita pulang, tak baik bertamu terlalu malam." Ajak Doni. Dua pria itu kembali berjabat tangan.Dan kali ini Doni bisa merasakan ada aura cemburu sudah merasuki jiwa Antoni. Terasa dari cara dia membalas uluran tangannya. Dia menggenggam terlalu kuat. Hingga otot tangan Doni yang sudah keras pun bisa merasakan.
Ana mengantar kepergian sosok pria bertubuh tinggi tegap itu hingga sampai depan.
Doni pria yang menghabiskan usia mudanya untuk keluarga Atmaja, hingga usianya kini bisa dibilang tak muda lagi. Namun sisa ketampanannya belum pudar sama sekali. Hidup di sekitar orang kaya membuat aura awet muda melekat ditubuhnya. Usia Doni lebih muda tiga tahun dari Ana. Doni suka dengan kebebasan, dia pernah terluka oleh wanita yang dicintai karena dia pemuda miskin, trauma dengan mantan, Doni menjadi sulit jatuh cinta, Doni menilai semua wanita pasti sifatnya tak jauh beda.
Hingga ia memilih tak ingin terikat dengan wanita manapun. Jika kesepian dia cukup pergi ke suatu tempat hiburan mengeluarkan sedikit uang dan berkencan dengan salah satu wanita semalaman, semua urusan beres. Namun, setelah melihat Ana, prinsip hidup yang sudah ia taati, terpaksa harus ia ingkari. Rupanya Ana adalah wanita kedua yang kembali menggetarkan hatinya.
Doni mulai kembali percaya pada Bumi, kalau di tubuhnya masih ada makluk surga yang bisa tulus mencintai pasangannya.
"Mas, sebaiknya kamu juga pulang, aku akan segera mengunci pagarnya." Kata Ana yang melihat Antoni masih terlihat enggan pulang.
"An, apakah kamu suka pria itu?"
"Aku menyukai siapapun yang baik Mas, lagian kenapa harus membenci orang yang tak punya salah ke kita?"
"An, bukan itu maksudku. Kamu pasti memiliki perasaan lebih ke dia?"
"Sudah An, jangan pura pura lagi."
"Perasaan lebih bagaimana? Jelas saya dan Aa Doni itu nggak ada yang istimewa. Lagian Mas juga sudah tak ada hubungan dengan saya lagi, kenapa mas mendadak ingin tau dan sok perhatian dengan pribadi saya?"
Ana kini berjalan keluar dan Antoni mengikutinya dengan cepat dari belakang. "Bukan itu An, aku takut kamu akan salah memilih pendamping."
__ADS_1
"Mas bisa simpan saja rasa empati, peduli itu untuk orang lain, aku tak membutuhkan." Ana membukakan pintu pagar lebar untuk Antoni. Setelah Antoni melangkah hingga ke luar pagar Ana langsung menguncinya dengan cepat.
Kenapa Ana tetap bisa bersikap tegar saat berpisah denganku, aku rasanya tak percaya, bukankah Ana dulu sangat mencintaiku. Kukira akan sangat mudah merayu dan kembali dengannya.