
"Tentu dia sangat sehat, dia bayi yang paling kuat. Setelah Dokter mengvonis. Kandungan Mbak Andini lemah. Tapi apa nyatanya? Mbak Andini bisa mempertahankan bayinya hingga sekarang sudah menginjak tujuh bulan." Cerita Zara begitu mengagungkan Andini. Seolah Andini adalah sosok wanita terhebat yang ia temui di dunia ini setelah ibunya.
"Kau ter osebsi sekali dengannya." Mert menggeser tubuhnya lagi. Dan kini semakin mendekat.
Kepala Mert sudah menempel di bahu Zara. Dengan tetap memperbincangkan Andini, ternyata Zara begitu bahagia saat cerita soal Andini. Dan dia tak sadar suaminya bisa mengambil keuntungan banyak
"Sayang Mbak Andinimu sudah akan memiliki bayi, pasti mereka akan lebih bahagia lagi. Hidupnya yang sudah sempurna, akan semakin sempurna."
"Semoga dia selalu bahagia, dia orang baik." ucap Zara. Masih memainkan ponselnya.
Mert menarik ponsel Zara yang ada di genggamnya. Ia menaruh diatas nakas di sisi ranjang. Lalu kembali memeluk tubuh Zara.
"Kalau Mbak Andinimu lebih bahagia setelah hamil, aku juga akan sama." ujar Mert mengeratkan pelukannya. Bibirnya mulai menyentuh leher Zara dan mengecupnya.
" Aku juga bahagia kalau istriku mau memberiku bayi." Kata Mert lagi.
Leher jenjang Zara terlihat putih dan bersih apalagi sinar matahari tak pernah menyentuhnya di bagian tertutup itu.
"Tuan ...." Zara menjauhkan lehernya dari jangkauan Mert. Zara sudah memiliki firasat kalau suaminya tak akan melepaskannya malam ini.
"Sayang .... Aku sudah lama menunggu. Jangan siksa aku lagi, aku sudah cukup menderita setiap malamnya." Mert semakin getol merayu Zara, sambil sesekali mengendus leher Zara dan menghirup aroma wangi khas tubuhnya.
Mert menyapu pundak dan leher Zara dengan bibirnya, nafasnya semakin terasa panas menerpa bulu roma Zara.
Zara memejamkan mata, melipat kedua bibirnya, keringat dingin mengalir deras dari pori pori, Zara terlihat ketakutan.
Melihat ekspresi Zara begitu tegang membuat Mert menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa?" Suara Mert terdengar serak.
"Tuan, apakah rasanya akan sakit sekali seperti waktu itu ...."
"Tentu tidak, sayang. Kamu takut?" Tanya Mert sambil membelai rambut Zara.
"Hu'um. Bagaimana kalau sakit seperti waktu itu, atau jangan-jangan hari ini akan lebih sakit." Zara semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar lebih hebat daripada tadi, telapak tangannya dingin dan basah.
Mert memeluk Zara menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. Terbersit rasa bersalah yang amat besar diwajahnya. Karena kesalahan Mert, Zara jadi memiliki trauma seperti ini.
" Kemaren itu yang paling sakit, karena pertama kalinya. Kalau yang kedua mungkin beda, biar nggak penasaran kita coba aja ya," hibur Mert masih di tahap modus.
Mert turun dari ranjang sekalian melepas kaosnya dan menaruh di keranjang. Kini tinggal celana yang menempel di tubuhnya. Tak lupa Mert menyalakan musik paling romantis berjudul All night yang dinyanyikan oleh Beyonce. Mert sengaja melakukan semuanya supaya Zara lebih relaks.
Mert juga mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu night lamp. Sejenak kamar Mert menjadi temaram, dilengkapi dengan alunan music nan romantis.
Mert kembali diposisi semula, duduk mensejajari tubuh Zara dan mengelus rambutnya yang lurus dan hitam. dan Sepertinya Zara mulai terpengaruh bujuk rayu Mert, ia membiarkan Mert mengecup pundak dan lehernya lagi.
Mert menyesap leher putih istrinya hingga beberapa stempel tanda kepemilikan terlihat di leher dan pundak atas Zara. Tangan yang tadinya diam dipangkuan kini mulai menyusup di balik baju tidur Zara.
Zara berusaha keras melupakan bayangan pemberontakannya malam itu, dia percaya pada suaminya kalau tak akan semenyakitkan yang pernah terjadi.
__ADS_1
Tangan Mert mulai berkelana di balik baju atasan Zara, memberi sentuhan lembut secara bergantian di bukit bukit yang tinggi menjulang.
Zara memejamkan matanya, terlihat dia mulai merasakan sesuatu yang aneh ditubuhnya. Tubuhnya seakan menikmati sentuhan Mert dan serasa semakin melayang. Ketika Mert mulai menyusuri setiap inci tubuhnya dengan jemarinya. Menyapu leher dan wajahnya dengan bibir casualnya.
Mert mulai menyatukan bibirnya dengan bibir milik Zara. Zara mulai kehilangan kendali, dia membuka bibirnya dan menerima sensasi yang diberikan oleh Mert, bahkan Zara mulai membalas pagutan yang terus menari di rongga hangatnya.
Lidah Zara mulai lelah, bibirnya terasa lebih tebal dan memerah, pipi dan lehernya basah.
Sentuhan Mert semakin memabukkan tangannya terus bergerilya kemanapun yang ia suka. Tangan yang satunya membimbing tubuh Zara yang semula bersandar, agar terlentang dengan sempurna.
Mert melepas pagutannya, memberi waktu agar Zara bisa mengambil nafas dan merilekskan tubuhnya, begitu juga dirinya sendiri. Penyatuan bibir yang lama membuat nafas keduanya seperti habis lari maraton.
Mert menjauhkan wajahnya sesaat, menyibak Rambut Zara yang menutupi wajah cantiknya. Senyum terukir dari bibir keduanya. Tatapan mata Zara kini terlihat sayu. Seakan dia sudah merelakan semuanya.
"Zara ...! Apa kau sudah lebih relax?"
Dibalas anggukan oleh Zara."Iya tuan ...."
Musik terus saja mengalun merdu dari sudut kamar, hingga berputar berulang kali.
Mert tak patah semangat, ia siap menaklukkan junior yang sudah lama menyiksa dirinya siang dan malam minta sebuah pembebasan.
Mert mulai membuka satu persatu baju yang melekat di tubih Zara. Hingga menyisakan kain segitiga dan kaca mata kuda warna merah jambu.
Zara malu ia menutupi tubuh sensitifnya dengan telapak tangannya, Mert menyingkirkan tangan Zara dan mulai mengungkung tubuh kecil mungil dibanding tubuh kekarnya itu.
Mert kembali memberi sentuhan lembut dari atas hingga bawah, meremas mengulum dan sesekali memberi gigitan kecil di titik titik sensitif.
Mert dengan sangat hati melakukan penyatuan yang pertama kali dilakukan dengan istri sahnya.
Perjuangan keras Mert akhirnya membuahkan hasil, Zara bisa menikmati sentuhan dan sensasi nikmat yang di curahkan oleh suaminya.
Air mata keluar dari kedua sudut mata Zara, ada rasa sakit dan haru bercampur menjadi satu. Mert mengusap lelehan airmata Zara penuh cinta.
Satu jam berlalu, penyatuan dua insan itu terus berlalu, bulir kristal mulai berlomba keluar membasahi tubuh. Mert merasakan penyatuan kali ini terasa begitu berbeda. Ada rasa tenang dan bahagia.
Melihat Zara yang tergolek lemah karena telah berhasil melakukan pelepasan pertamanya. Membuat Mert juga ingin mengakhiri semuanya. Mert segera melepaskan ribuan bibit bibit kecebong yang siap bertempur di dalam rahim Zara.
Bersama dengan keluarnya ribuan kecebong, hilanglah keperkasaan Mert untuk sejenak. Mert terjatuh menindih tubuh mungil Zara, membuat Zara menggeliat menahan beratnya tubuh Mert. Mert mengangkat kepalanya, menghujani wajah Zara dengan puluhan kali kecupan. "Terima kasih, Sayang."
Zara mengangguk sambil tersenyum, setelah itu dia tertidur dengan pulas, tulang belulangnya terasa seperti dilolosi dari kulitnya. Mert menarik selimut, menutupi tubuh Zara yang sudah pergi ke alam mimpi lebih dulu..
Penyakit insomnia dan depresi ringan yang selalu menghantui Zara, kini sirna. Zara tak lagi ketakutan saat Mert menyentuhnya. Mereka bahkan mengulangi beberapa kali penyatuan dalam satu malam yang panjang. Hingga paginya Mert terpaksa terlambat ke kantor dan Zara tidak ikut sarapan bersama dengan keluarga karena kelelahan.
Arsena dan Andini sudah berada di ruang makan, mereka duduk bersama beberapa keluarga saja, yang lainnya masih sibuk di kamar masing masing. Semoga pagi ini tak ada lagi drama yang lebih menggelikan selain menangkap kupu-kupu dan mencari katak di empang.
Jam delapan nanti Arsena akan ada acara peresmian pembukaan cabang perusahan yang ada di Sidoarjo. pagi ini ia hendak pamit kepada Andini dan lainnya, supaya tetap stay di rumah saja.
__ADS_1
"Sayang, jika mau kemana mana ajak Zara, dan ingat hanya di halaman mansion."
"Ya Tuhan, Kak. Kalau di halaman doank, sendiri juga berani. Lagian ini siang bolong. Mbak Andini akan baik baik saja, Pokoknya Arini pengen ajak mbak Andini ke mall."
"Mau kan Mbak? Arini pengen beli kado, Mbak Andini paling jago memilihnya." Arini kini memohon pada Andini.
Komentar Arini mendapat tatapan tajam dari Arsena, sebelum Andini sempat membalasnya. "Berani keluar tanpa izin. Sudah kupastikan bukan hanya kartu ATM yang aku blacklist, tapi semua fasilitas kemewahan, termasuk ponsel," tegasnya.
"Ih, kak Arsena nyebelin. Lagian mbak Andini juga ingin menghirup udara tengah kota sana, udah seperti kelinci aja, cuma boleh muter rumah." Arini memanyunkan bibirnya. Makanya ngidam mbak Andini juga aneh. Bisa bisa anaknya nanti jadi kudet.
Andini dan Oma, tersenyum melihat perdebatan kakak adik yang tak pernah berakhir setiap bertemu itu.
"Andini, ingat pesanku, dirumah aja." Arsena akhirnya juga menjatuhkan ancamannya pada Andini.
"Iya, Suamiku. Tapi calon anak kita pengen jalan jalan sama tantenya." Jawab Andini singkat.
" Astaga kalian berdua benar benar ya. Aku yakin itu bukan ngidam lagi kan, Sayang? Itu pasti kerja sama kalian berdua yang sengaja buat aku kerja nggak tenang! Iya kan?"
Pagi hari Arsena sudah pusing dengan orang tersayangnya, rasa sayang yang begitu besar membuat dia menjadi over protektif.
"Berangkat dulu! pagi-pagi sudah bikin kesel aja." Arsena mengulurkan tangannya sambil menggerutu, Andini menciumnya dengan lembut. Lalu Arsena mencium pipi Andini dua duanya. Tak lupa berpamitan pada si buah hati yang ada diperut. " Papa kerja dulu Sayang. bilang papa ya, kalau sampe mama berani aneh-aneh.
"Ars berangkat dulu, Oma." Arsena kini memeluk dan mencium Oma.
"Hati hati, Papa Ars yang ganteng."
"Siap Oma." Arsena tersenyum pada Oma.
"Ingat Arini, jangan sekali kali mempengaruhi Andini dengan ide gila mu." Arsena memelototi Arini dengan tatapan tak main main. Membuat nyali Andini yang berencana jalan-jalan bersama Arini menjadi ciut.
"Ars! " Andini memanggil Arsena yang baru saja selesai berpamitan.
"Apalagi Ndin?" Arsena membalikkan tubuhnya.
"Kan udah di cium tadi. Masih kurang?"
"Bukan itu." Andini menatap tubuh suaminya yang nampak lucu. Ia terlihat menahan tawanya.
" Ada apa Sih." Arsena nampak bingung, melihat lawan bicaranya senyum senyum nggak jelas.
"Celana." Akhirnya Andini memberi tahu.
"Astaga." Arsena menepuk jidatnya, rupanya dia berangkat ke kantor tanpa memakai celana kerja. Arsena hanya memakai celana pendek dan Hem saja.
Arsena segera berlari ke kamar menahan malu, efek menjadi pemarah ternyata bisa menjadi pikun juga.
"Andini, Andini lucu ya, Ars!" Oma menggelengkan kepalanya.
" Iya, Oma. Kalau hidungnya nggak nempel pasti bakal ketinggalan juga," ujar Andini masih menahan tawanya. Hingga perutnya terasa nyeri.
__ADS_1
*happy reading.