Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 207. Taktik Licik.


__ADS_3

"Maaf Nona aku harus segera pergi." Ken pergi dengan jantung yang berdegup kencang.


Lili, menahan jaket Ken ketika pria itu sudah melangkah pergi. "Disinilah sebentar Ken. Kau bisa temani aku malam ini, aku takut selalu sendiri Ken." Rengek Lili.


"Aku harus pergi sekarang." Ken menghentikan langkahnya. Pria berusia tiga puluh tahun itu akhirnya iba dengan Lili yang terdengar memohon.


"Tidak! Kau harus tetap disini," Lili memaksa, nada suaranya memelas.


Ken kembali membalikkan tubuhnya, kini menempelkan wajahnya di jeruji. " Apa yang anda inginkan Nona? Aku harus menemui kawan-kawan, dia sudah menungguku."


"Biarkan dia menunggu. Kenapa kalau dia harus menunggu." Lili menangkupkan telapak tangannya pada dagu Ken. Membuat wajah pria itu mendongak maju.


"Ken aku mulai mencintaimu." Lirih Lili dengan mata terpejam, Lili menempelkan bibirnya ke bibir Ken yang masih berada dalam kekuasaannya.


Lili awalnya mengecup bibir Ken dengan segala keahliannya kemudian kecupan itu berubah menjadi ciuman yang sangat liar. Dua insan itu mulai menikmati sentuhan bibir satu sama lain.


Hati Ken yang selama ini laksana rumput tumbuh di lahan gersang , kini seakan mendapati hujan. Pria yang tak pernah ingin jatuh cinta sepanjang hidupnya itu, akhirnya ditaklukkan oleh cinta semu dari Lili.


Tangan Lili masih menahan tubuh Ken dengan kuat. Percumbuan mereka berlalu hingga lama. Mereka mengakhiri ketika bibir terasa sama sama perih.


Bodyguard tampan itu mulai goyah, antara setia pada majikan, atau berkhianat. Yang jelas sekarang dalam kebimbangan.


"Ken lepaskan aku, dan kita pergi dari sini." Lili membisikkan kata kata itu tepat ditelinga Ken. Jemarinya menelusuri Dada pria tinggi besar berewok, pemilik bulu dada lebat itu.


Lili tak berhenti merayu Ken. Sebelum misinya berhasil dia tak ingin terus mendekam di penjara bawah tanah yang entah kapan pria itu akan mengasihani dan membebaskan dirinya, sedangkan diluar sana pria yang ia nantikan sedang menikmati indahnya dunia, mereguk surga dunia, indahnya menjadi pengantin baru.


'Ken aku tahu kamu juga mencintaiku, kamu beruntung sekali aku juga mencintaimu. Selain Arsena kamulah pria yang singgah di hatiku. Hanya Kamu Ken."


"Benarkah? Kamu mencintaiku, Nona?" Suara Ken terus saja menuntut tanggung jawab atas perlakuan Lili padanya.


"Ken, kau tak percaya padaku?" Lili meraih jemari Ken lalu menggenggamnya dengan erat, Lili lalu menatap ke arah gembok besar yang menggantung di rantai yang melilit jeruji besi.


"Buka Ken aku akan membuktikan padamu. Jika aku tak main main dengan kata kataku." Lili tersenyum manis untuk Ken.


Ken dalam keraguan yang amat dalam. Hatinya terus saja berperang melawan antara kesetiaan pada atasan dan sebuah gairah cinta.


Ken akhirnya memutuskan pilihan terbaik baginya, dia tak bisa lagi menolak pesona Lili.

__ADS_1


Melihat Ken sudah masuk perangkap, Lili melepaskan genggaman tangan Ken, lalu berjalan menuju pintu jeruji sambil terus menatap Ken. Ken serasa terhipnotis dia tak bisa menolak. Akal sehatnya sudah goyah oleh rayuan Lili.


Ken membuka pintu gembok dengan ragu, lili secepat kilat segera meraih tengkuk Ken dan mencium bibirnya. Meyakinkan Ken jika dia tidak sedang berbohong.


Diam diam Lili juga mengagumi tubuh Ken yang berotot dan kekar, andaikan Ken memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada perkerjaannya sekarang di mata dunia, dia pasti akan bersedia menjadi wanitanya. Sayang sekali, pria miskin tak pernah ia inginkan sepanjang hidupnya.


Pintu telah terbuka, Lili menarik tubuh Ken dengan tak sabar, tubuh keduanya terjatuh tepat di atas ranjang, posisi Lili di bawah tertindih oleh tubuh Ken.


Ken yang sudah dikendalikan oleh hawa nafsu yang membuncah dia telah gelap Mata, Lili sudah menariknya ke dalam lembah yang hina.


Sebagai pria normal Ken tentu tak menolak, saat wanita di depannya terus saja menggoda, Lili dengan bringas melepas baju Ken. Sedangkan Ken sibuk mencumbu bibir dan mengabsen setiap inci wajahnya.


Melihat Lili tak keberatan dengan Ken yang terus mencumbuinya, Ken makin berani, hasrat yang bergelora tak lagi dapat dibendung. Ciuman Ken kini tak sebatas di wajah, pria itu mulai menelusuri setiap lekuk tubuh yang putih dan bersih bak kapas. Tubuh indah yang belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya.


Ken kehilangan rasa takutnya pada Arsena dan lupa siapa yang harus ia lindungi saat ini, berpihak dengan siapakah dia sekarang, cinta semu dari lili membutakan matanya.


Lenguhan panjang di balik jeruji sayup sayup mulai terdengar, dua pasangan haram itu terus saja berlomba ingin memuaskan satu sama lain. Ken yang sudah lama tak merasakan belaian wanita, dia sangat terpuaskan malam ini. Rupanya tubuh Lili selain hangat dia juga sudah pandai


"Akhhhh ... Suara Ken terdengar menggema dalam sunyinya malam. Ranjang dengan kasur tipis itu basah berlumuran peluh yang tak berhenti menetes. Lampu temaram, dan laba laba yang menggantung di langit langit menjadi saksi percintaan mereka di malam itu.


Sedangkan kawan kawannya yang menjaga gerbang depan, masih sibuk bermain catur dan minum sedikit anggur agar dingin yang mencekam memeluk kastil sedikit teratasi oleh efek minuman beralkohol itu.


"Bro dimana Ken?" Tanya botak pada gondrong. Hanya mereka berdua yang ada di tempat.


"Entahlah, mungkin dia mengantarkan makanan pada wanita itu."


"Mengantarkan makanan apa ketiduran? Sejak sore tadi dia belum keluar juga."


"Sudahlah, abaikan saja dia. Ken terlihat tertarik pada wanita itu. Mungkin Ken akan menjadikan bini wanita ular itu saat bebas nanti," seloroh gondrong.


Bukan hanya Ken saja yang tertarik dengan kemolekan wanita itu, gue juga mau. Tapi apakah dia mau sama gue?"


"Sama Elo? Kalau melihat dari tampilanmu yang botak gini dia nggak akan tertarik, sepertinya kamu harus tumbuhin rambut dulu biar botak itu nggak bikin ilfeel." Gondrong mengelus kepala Si Botak yang bagian puncak kepalanya tak mau tumbuh rambut hingga selebar telapak tangan.


"Kalau Kamu? Botak tanya balik."


"Aku sebenarnya juga mau sih, tapi aku takut dia sudah sering main sama Ken. Aku akan cari calon istri aja, yang bener-bener bisa jadi istri," Gondrong terlihat mulai serius dengan permainan catur didepannya, sambil sesekali menyesap rokok yang dia apit dengan dua jari tangannya.

__ADS_1


"Tumben pemikiran Lo benar, biasanya juga konselet melulu. Habis kejedot pintu ya?"


"Biar tampilan gue preman begini, jangan kira ya otak gue ikutan geser terus, usia sudah nggak muda lagi Bro, dah waktunya mikirin masa depan."


"Lagak Lo, Ndrong. Kemaren waktu lihat istri Big bos aja demen, Lo Sampek nggak bisa tahan liur Lo tuk berhenti menetes."


"Khilaf gue, kalau wanita itu Nona Andini, gue emang nggak kuat goda'an, habisnya dia sudah anggun dan cantik pula.


Obrolan ngalor-ngidul itu berlangsung sepanjang malam hingga menjelang pagi. Selama itu juga Ken belum juga keluar.


Hingga keesokan paginya Ken baru kembali berkumpul di markas, terlihat dengan rambutnya sudah basah dan wajahnya terlihat segar bugar.


Ken menghampiri gondrong dan botak yang sedang sarapan sambil menyesap rokoknya.


"Semalam dimana Lo? Gue cari sampai kutup utara nggak ketemu?" Dusta gondrong.


"Sorry semalam gue kurang enak badan, tadinya sih mau gabung sama kalian, tapi main catur kan cuma dua orang. Mending gue tidur aja lagi." Ken berbohong juga.


"Tidur apa cari kehangatan?" Botak menimpali sambil melempar kulit pisang ke dada Ken yang belum memakai baju, Ken cuma memakai celana kolor saja, memamerkan roti sobeknya yang semakin hari semakin menggoda saja.


Ken terdiam sesaat, nggak menyangka rupanya teman-temannya sudah curiga dengan hubungan gelapnya dan Lili. Jika tak hati-hati dengan apa yang dilakukan bisa saja dia akan memergoki dirinya saat berdua.


"Lo jangan jadi penghianat Ken, kalau masih mau bekerja dan hidup aman. Mau kerja dimana lagi yang bisa dapat gaji besar dan dapat hidup enak, selain dengan bos kita sekarang." Nasehat Botak sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Jangan khawatir, aku nggak akan lakukan semua itu," ujar Ken meyakinkan kawan kawannya.


"Baguslah, Gue berharap kita akan tetap setia pada bos Arsena." botak menganggukkan kepalanya mendengar penuturan dari gondrong.


Ken lebih banyak diam mendengarkan obrolan dua kawannya. Dan saat itu juga dia menyadari kalau dirinya benar benar sudah berkhianat dengan persahabatan mereka dan juga majikannya.


Ken tak mau semua itu terbongkar, dia ingat kalau setiap sudut penjara itu ada alat pintar yang bisa merekam aktifitasnya. Ken segera mencari kesempatan untuk merusak semua alat yang bisa mengakses rekaman CCTV tersebut dengan menghapus data yang tersimpan dan merusak beberapa kabel penghubung. Dengan langkah mudah seperti itu semua rahasia aman.


Lili yang merasakan tubuhnya sangat lelah dia segera mandi, memakai baju yang dibelikan oleh Ken kemaren. Lili sebenarnya tak sudi memakai baju murahan itu, tapi keadaan yang memaksa, terpaksa lili memilih salah satu dari tiga blus yang tergeletak di depannya.


"Gila banget, tenaga pria itu sudah mirip kuda Nil saja," gerutu Lili sambil meregangkan otot ototnya yang pegal. Lili mematut dirinya di depan cermin kecil yang menempel di dinding.


Dia tersenyum akhirnya Ken sudah masuk dalam perangkapnya, langkah menuju kebebasan semakin dekat, tinggal satu langkah lagi Ken pasti akan membantu menunjukkan jalan keluar kastil yang terdiri dari beberapa lorong yang menyesatkan ini.

__ADS_1


__ADS_2