Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 258. Bukan mimpi.


__ADS_3

Mentari pagi bersinar dengan elok, orang orang di kediaman Atmaja terlihat sangat sibuk. terutama para asisten wanita. Bi um sibuk membuat gurami goreng plus sambal kesukaan Arsena, sedangkan Oma regues semur jengkol.


Arsena dan Andini turun menuju ruang keluarga paling awal dibandingkan anggota keluarga yang lain. Si kembar juga sudah mandi keduanya terlihat tampan, dan menggemaskan.


Excel dan Cello terlihat sudah duduk menunggu sarapan didepannya sudah ada piring kosong dan segelas susu.


"Bibi lama cekali cih. Cello dah lapal ini."


"Hu'um padahal kita mau belangkat kelja." Sungut Excel.


Arsena dan Andini hanya tersenyum sambil membawakan roti bakar isi selai dan menaruh pada piring masing masing.


" Selamat pagi Tuan Muda, Excel dan Cello. Sarapan sudah siap dan silahkan sarapan. Oh iya katanya mau kerja? Emang apa pekerjaan Tuan Muda?" Tanya Andini pada anak anaknya sambil membagi roti bakar pada piring masing masing sesuai regues.


"Hihihi Mommy, kelja apa ya? Sama seperti Daddy pokoknya." Excel tertawa memamerkan dua gigi kecilnya.


"Kalau Cello mau kelja jadi doktel aja, Bial sama sepelti mommy, suka kasih obat olang yang tatit," ujar Cello tak mau kalah.


Andini memeluk kedua putranya. "Mommy yakin kalian berdua anak yang pinter dan mommy yakin kalian akan jadi anak mommy yang hebat." Andini mengecup kedua pipi gembil anaknya.


Arsena ikut duduk di sebelah anak anaknya yang mulai makan roti bakar mentega.


"Yang lain mana ini tumben pada tenang dikamar masing masing, memangnya nggak kerja apa." Arsena baru datang tapi sudah ngedumel.


"Gaji maunya tinggi tapi kerja pada malas." Gerutu Arsena, sambil jarinya mengetuk ketuk meja.


"Galak banget sih," Andini mencium pipi suaminya nya lalu duduk di sampingnya.


Tak lama duduk, Arsena dan Andini mendengar langkah kaki mama Rena, rupanya dia juga keluar kamar. "Selamat pagi Excello."


"Pagi Oma," kedua cucunya menjawab serempak. "Excello" adalah panggilan untuk kedua cucunya sekalian. senyum dari kedua pipinya terlihat tulus. Syukur Rena sudah berubah ketika mereka masih belum lahir. Jadi yang diketahui cucunya neneknya adalah orang yang sangat baik padanya.


"Ars, gimana urusan perusahaan?" Tanya Mama sambil mengambil teh yang sudah disediakan, lalu duduk di sebelah cucunya.


" Stabil, Ma. Cuma bahan baku yang kita gunakan naik, jadi mau tidak mau kita harus menaikkan harga jual."


Mama terlihat mengangguk, masalah naik turunnya harga menurut Mama wajar saja dihadapi oleh pengusaha manapun."


"Ya, artinya tak ada masalah kan?"


"Benar Ma."


"Wah pengantin baru kesiangan ini. Kira kira mereka sudah belah semangka belum ya." Miko datang langsung fokus pencariannya pada Davit, tak sadar diri kalau dirinya juga sedang terlambat.


"Emang belum, atau sudah, ada untungnya buat kamu?" Arsena menyahut cepat.


"Ya ikut senang saja," Miko menyadari kalau dia salah bicara, atau dia seharusnya tak usah bicara saat ada Arsena yang selalu sensi padanya.


Bi, um rupanya sudah selesai membuat sarapan. Ratna dan Mama Ratih ikut membantu usai memandikan Excel dan Cello.


Tuan, ini kopi special yang anda minta tadi. Ratna sengaja menyenggol bahu Arsena dengan tubuhnya saat menaruh kopi di depannya. Tanpa merasa bersalah, dia malah tersenyum genit.


Arsena menatapnya kesal, melihat senyumnya saja membuat selera minum kopi jadi hilang seketika.

__ADS_1


"Yang, tolong bikinkan kopi lagi."


"Nah itu yang dikasih Ratna, belum diminum?"


" Berikan pada Davit, aku ingin buatan kamu yang spesial, jangan lupa pake susu, kalau ada susu cap Nona Andini."


"Genit kebangetan." Andini mencubit bahu suaminya.


Arsena mengecup pipinya. "Please mommy. I Love you"


Mama Rena tak sengaja melihat. "Ars, kebiasaan kamu ya, ini di ruang makan lho, ada Miko ada yang lain. Excello juga. kau mau anak anak dewasa sebelum waktunya.


"Anak anak kalian sarapan sambil bermain ditemani Tante Ratna ya," perintah Rena.


"Oce Oma." mendengar kata bermain, Excello langsung menghambur dan mengacak acak mainannya, tak jarang mereka selisih pendapat dan berakhir menangis.


"Andini beranjak dari duduknya, dia membuatkan kopi seperti yang di inginkan Arsena, saat dia melewati kamar Arini tiba-tiba Davit keluar sudah berseragam kantor.


Andini hanya tersenyum dan berkata seperlunya saja saat melihat Davit sudah rapi, dia tak mau berbasa-basi karena memang bingung mau ngomong apa.


" Mbak." Sapa Davit.


"Iya, gabung sana sama yang laen," ujar Andini sambil berlalu ke dapur.


Davit menurut, dia berjalan menghampiri Mama dan yang lain dengan perasaan canggung luar biasa.


"Pagi semuanya."


Arsena hanya melirik sekilas dan tersenyum sedikit, bukan tak suka dengan Davit tapi itu memang gayanya.


Davit sekali lagi hanya senyum sambil menganggukkan kepala. Dia menghormati keluarga barunya.


"Iya Ma, pegawai baru harus rajin."


"Bener Tu, apalagi sekarang harus nafkahin istri, iya Kan Vit." Miko membela.


"Iya, kakak pertama yang menjadi CEO aja nggak pernah telat." puji Davit.


"Siapa yang nggak pernah telat?" Miko langsung menyambar. Melirik ke arah Arsena yang tenang saja mendapat pujian dari Davit.


" Kalau kamu mau telat ya nggak apa apa, tapi jangan salahkan aku kalau gaji kamu masuknya juga telat. Emang mau?" Ujar Arsena sambil meneguk air putih di depannya. melirik sekilas ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.


Davit juga mengambil air putih dan meneguknya, rasanya seperti mimpi dia kini duduk satu meja makan bersama keluarga yang selama ini menjadi tuannya. Kini sebisa mungkin dia tak bersikap konyol atau kampungan di depan keluarga barunya.


Saat hening sejenak Tuan dari Turki juga keluar, dia membawa istri kesayangannya keluar. Davit melihat sendiri Amer memapah istrinya dan menggandengnya layaknya anak balita yang belajar berjalan.


Davit bersyukur Zara yang pernah ada dihatinya mendapat pendamping yang tepat.


Zara terlihat sangat payah, kalau menurut perhitungan dokter, harusnya dia sudah melahirkan hari ini. Oleh karena itu Amert izin libur kekantor.


"Amert selamat kamu sebentar lagi akan menjadi ayah." Davit terlihat bersimpati pada Zara yang sering kali mengerutkan keningnya, seperti yang dilihat tadi dia memang tak nyaman dengan kondisi tubuhnya.


"Iya, Makasi Davit. Semoga kamu cepat nyusul. Arini akan segera hamil.

__ADS_1


"Iya, semoga saja." Davit menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Oh ya gimana malam pertama kamu Vit? Sudah goal apa belum?" Oma dari arah belakang, begitu datang langsung ikut bicara.


"Oh iya, Vit gimana sukses belum?" Miko ikut penasaran.


Davit diam tak menjawab, sepertinya Davit sengaja untuk merahasiakan apa yang terjadi semalam, selain itu bukan sebuah lelucon, Davit merasa tabu untuk membicarakannya.


"Aku yakin Davit semalam sudah berhasil, ya aku melihat sesuatu." Dara berkata dengan hati bahagia. Davit telah berhasil melewati malam sakralnya.


Dara, darimana kamu tahu, jangan bilang kamu ngintip. Kamu sedang hamil, bisa bisanya kamu mengajarkan hal buruk itu pada anakmu yang masih di kandungan."


Oma, Oma salah paham, mana mungkin Dara ngintip, lagian apa yang mau diintip, cicak? Kamar Arini itu dindingnya berlapis Oma.


"Kalau nggak bagaimana kamu se yakin itu? Davit saja belum berbicara apa apa pada kami."


"Ya, aku tahu dari leher Davit, Oma."


"Leher?" Semua mata serentak melihat ke arah leher Davit.


Sedangkan Davit sontak langsung meraba lehernya, separah itukah, hingga Dara sampai bisa melihatnya dengan jelas, pantas saja saat mandi tadi Davit merasakan ada rasa perih di sekitar tempat itu.


"Sudahlah Vit, walaupun kamu diam kita sudah tau kok kalau semalam kamu sudah berhasil kikuk kikuk," canda Dara.


"Dara, kamu apaan sih? Wajar dong Davit sama Arini sudah melakukannya, semalam kan malam pertama mereka, timpal Rena tak ingin membuat Davit malu.


Davit hanya bisa mengulum senyum. Payah dengan kelakuan Dara yang bar bar, benar benar berhasil membuatnya mati kutu.


Zara dan Amert memilih tak ikut campur dia hanya sesekali saja tersenyum mendengar obrolan orang-orang di depannya.


"Davit ayo dimakan? Kamu nggak sarapan?" tanya Mama.


"Davit nggak biasa sarapan terlalu pagi, Ma. Tapi Davit mau ambilkan sarapan untuk Arini, soalnya dia tadi bilang sudah lapar."


"Oh, iya silahkan, sekalian buat kamu, nggak baik lho ke kantor nggak sarapan dulu." Mama ikut menata lauk ke piring Davit hingga penuh dan satu tangannya lagi membawa nasi.


"Mama benar Vit, kamu harus sarapan setiap pagi, setelah datang kan kita nggak tau kesibukan apa yang sudah menunggu." Amert akhirnya ikut berbicara.


"Iya Ma. Davit akan mencobanya membiasakan sarapan pagi."


"Gitu donk Vit, nurut aja sama mertua." Andini menimpali.


"Iya Mbak."


"Yang aku berangkat dulu." Arsena ikut pamit, dia ada keperluan penting, jadi harus pagi sekali sudah berada di kantor.


"Oh iya Vit, kamu jagain Arini dulu, nanti biar aku yang handle pekerjaan kamu."


"Tapi Kak, aku nggak apa apa kerja hari ini?"


"Jangan dulu, mending kamu temani Arini, dia butuh kamu, dan sepertinya kamu juga belum buka hadiah dari kita kan."


"Arsen benar Vit dan lakukan saja keinginannya." ujar Mama.

__ADS_1


"Benar Vit, dialah maha benar di rumah ini. kita harus patuh pada tuan Raja." Miko mengajak bercanda.


*yuk bagi Vote juga buat emak. biar rajin update.


__ADS_2