Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 49. Bimbang


__ADS_3

Bip! Bip! Bip!


"Andini tunggu disini sebentar, aku angkat telepon dulu."


Dibalas anggukan oleh Andini. Saat Arsena pergi, Andini baru memulai membuka cangkang lobster dan mengambil dagingnya seperti yang dilakukan Arsena.


Jujur. Sejak tadi Andini sebenarnya suka lihat cara Arsena makan, melihat ia makan dengan lahap membuat perutnya ikut kenyang. Tapi sayang satu porsi lobster di depannya berharga ratusan ribu itu kalau di diamkan begitu saja.


-


"Nona, Anda dapat kue spesial ini dari suami anda."


Andini masih dalam mode bingung. " Mbak pasti salah antar. Suami saya nggak mungkin membelikan itu untuk saya."


Andini ragu, mana mungkin Arsena bisa seromantis itu. Membelikan cake mini yang dihias mirip kue ulang tahun. Dan diatasnya tersemat cincin berlian yang sangat cantik dengan mata terbuat dari mutiara asli berwarna putih.


"Benar Mbak, pria yang memesannya adalah pria yang duduk di depan anda tadi."


"Baiklah Mbak, aku terima kuenya." Andini akhirnya menerima kue dari tangan waiters, ia memilih mengalah daripada berdebat. Lagian pelayan itu tak mungkin salah memberikan pesanan.


Andini mendiamkan kue itu, ia ingin menanyakan pada Arsena. Apa maksud semuanya. Kue, Cincin, Andini tak bisa menerima semuanya.


Arsena sudah kembali dari menghubungi seseorang yang dimaksud. Dia tak kaget lagi kalau kue pesanannya sudah datang.


Melihat Andini yang tak senang dengan idenya membuat Arsena harus bekerja lebih keras lagi.


"Ini apa maksudnya?" Tanya Andini tiba-tiba. Menunjuk kue didepannya.


"Ini untuk Istriku, semoga saja pas di jarinya Soalnya aku belum pernah lihat seberapa besar jari yang dimiliki." Kata Arsena, dengan hati hati. ia meraih cincin itu dan mengamati lekat, memastikan kalau tak ada cacat sedikitpun.


Arsena meraih tangan Andini Ingin menyematkan sendiri di tangan mungil wanitanya. Hatinya bahagia, bibirnya tak berhenti tersenyum. Namun tidak dengan Andini.


"Ini apa? apa maksud semua ini, Ars?"


"Kaulah Istriku, ini untukmu, Andini."


"Kau tak sedang mengerjai ku kan?" Kata Andini penuh tatapan tak percaya.


"Apa aku terlihat sedang ingin mengerjai? Aku serius." Arsena mulai mengerti, kalau Andini tak lagi menaruh kepercayaan padanya sedikitpun.


"Maaf aku tak bisa menerimanya, Ars." Andini lagi-lagi menolak. "Tapi kamu tenang saja. Cake ini nanti pasti akan aku makan."


"Ndin?" semburat kecewa terlihat memenuhi wajah Arsena.


"Maaf, aku belum bisa menerimanya, dan aku ingin bebas, tanpa terikat oleh apapun dan siapapun."


"Apa kamu seperti ini karena aku memiliki wanita lain? kamu harus tau, aku dan Lili, Mungkin sebentar lagi kami berakhir?"


"Bukan itu masalahnya, aku belum siap saja, dan tak ada alasan lagi."


"Maaf aku harus segera pulang." Andini mengambil handbag yang ada di depannya. Dan pergi. Arsena mengamati punggung Andini yang semakin menjauhinya.


Andini aku tau, setelah semua yang kulakukan padamu, tak mungkin akan mudah menerimaku lagi. Atau kamu memang benar benar ingin pergi dariku, menginginkan kita bercerai karena ternyata Miko lebih baik bagimu. Dia lebih peka dalam segala hal mengenai dirimu.


"Tidak, sekarang aku suaminya, aku yang harusnya bisa memiliki hatinya."


Arsena segera menuju kasir membayar semua makan siangnya hari ini.


"Andini tunggu, aku akan antar kamu" teriak Arsena, buru buru sekali menuju mobilnya. Segera membuka pintu dan tancap gas menuju Andini yang masih menunggu di jalan raya. Andaikan Angkutan umum sudah lewat mungkin Andini sudah raib di angkut oleh mikrolet dan sejenisnya.


"Masuk."Arsena membukakan pintu layaknya pengawal setia.


"Aku akan jalan saja, biar lebih sehat."


Andini menurut, karena Arsena membukakan pintu depan, akhirnya ia memilih duduk di depan.


Andini duduk tanpa banyak bicara, ia malah memainkan ponselnya.


"Ndin."


"Aku ngerasa, kamu kok malah seperti jaga jarak sama aku, apa aku memang nggak pantas untuk dapat kesempatan kedua?"


"Jaga jarak gimana? Dari dulu jarak kita memang jauh Ars, kamu ingat kan pernah bilang. Jadi pembantu kamu saja, kamu masih mikir ulang, Sekarang aku lebih tau diri, Ars."


"Masih inget aja, waktu itu aku nggak serius, aku belum kenal aja sama kamu."


"Dulu dan sekarang tak ada yang berubah, semua masih sama, kita tak saling mengenal."


"Iya, kita belum kenalan, Andini kenalin, Aku Arsena Atmaja. Kamu mau nggak mulai sekarang jadi pacar aku? Kata Arsena berkelakar, namun tetap hati hati berbicara, entah kenapa sekarang dunia telah terbalik, sekarang Arsena yang nyaman saat bersama Andini.


Andini tersenyum. Tak percaya Arsena bisa bicara seperti itu di depannya. Jika melihat dia seperti sekarang ini, pasti tak ada orang yang percaya kalau dia punya sisi buruk pemarah dan arogansi tinggi.

__ADS_1


Arsena kembali menoleh, berharap Andini menjawabnya. Namun wanita itu hanya menganggapnya angin lalu, masih seperti semula bermain dengan gawainya sesekali mengamati jalanan di depannya yang mulai macet karena waktunya para karyawan dan buruh pabrik pulang.


"Aku nanti boleh mampir, nggak?"


"Maaf, aku nanti banyak urusan, aku harus belanja untuk kebutuhan sehari hari, masak mandi dan ...."


"Andini tolong jangan seperti ini, kenapa disaat aku ingin kita lebih dekat, kamu menghindariku."


"Jawabannya hanya satu Ars, tetap sama, aku butuh waktu ... Sudah kujelaskan di awal, aku tidak ingin suami kaya raya, aku ingin pria yang bisa menerima aku apa adanya dan dia juga menyayangiku."


Mobil silver milik Arsena segera belok ke kontrakan Andini. Arsena menghentikan tepat di depannya. Namun ia tak memasuki halaman.


Arsena menuruti Andini, dia tak akan mampir seperti yang diinginkan Andini. "Andini jika kamu ingin seperti yang kamu inginkan, aku akan berusaha, beri aku waktu."


Andini segera turun setelah Arsena membantu membuka sabuk pengamannya. Setelah memastikan Andini turun dengan sempurna Arsena menutup lagi lalu melambaikan tangan.


Andini membalas melambaikan tangan untuk Arsena.


"Aku pulang, telepon aku jika butuh sesuatu, aku akan datang."


Dibalas anggukan oleh Andini. " Iya, tenang saja, tak perlu mengkhawatirkan aku."


******


Setelah Arsena pergi, Andini segera masuk rumah. Ia menaruh tas di nakas lalu duduk. Andini teringat dengan Miko yang akan pergi. Apakah kepergian Miko ada hubungannya dengan sikap baik Arsena di akhir ini?


Andini jadi bingung, sekarang dihatinya malah tumbuh rasa yang aneh, apakah dia mulai takut kehilangan Miko. Miko yang selalu ada untuknya.


Andini mencoba menghubungi Miko.


"Miko, please angkat teleponnya."


Maaf, Nomor yang anda hubungi sedang diluar jangkauan. suara operator dari gawai Miko.


"Miko, kemana kamu." Andini menjatuhkan ponselnya dipangkuan. Firasatnya tak salah, Miko telah sengaja menjauhinya.


Andini terduduk di tepian ranjang. Memeluk benda pipih itu dengan erat. Kepergian Miko yang tiba-tiba, menciptakan luka tersendiri di lubuk hatinya.


Setelah dua jam Andini mencoba menghubunginya lagi.


"Iya Hallo .... Miko apakah ini kamu?"


"Miko kamu dimana? .... Jawab Miko sekarang kamu dimana!" Andini panik.


"Jangan pedulikan aku, Girl, pedulikan dirimu sendiri aku senang melihat kamu bahagia dengan kakakku." Suara Miko terdengar amat payah, dia pasti sedang mabuk berat.


"Miko hentikan Miko, please jangan ulangi kebiasaan bodohmu itu."


"Tidak Girl, hanya dengan ini aku bisa melupakanmu hanya, dengan ini aku bisa tertawa lagi ... ha ... ha ..."


"Tut !"


Andini mematikan ponselnya. Andini bingung dengan apa yang harus dilakukan. Bagaimana kalau Miko lepas control, bagaimana kalau Miko over dosis. Andini mondar mandir di kamar. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari Miko ketika hari mulai malam.


Andini yakin Miko pasti sedang di Apartmentnya, kalau tak ada mungkin dia ada di club tempat ia biasa nongkrong dengan teman-temannya dulu.


Andini mencoba mencari Miko di clup. Ia memilih mencari di clup lebih dulu karena memang jaraknya lebih dekat di banding apartemennya.


Andini sudah sampai di parkiran clup, Dia melihat parkiran sangat penuh, hingga sulit mengenali kendaraan milik Miko, Andini menunjukkan foto Miko pada petugas parkir.


"Pak, apakah Bapak tadi melihat foto pria ini masuk ke dalam?"


"Maaf Nona, pengunjung hari ini ramai sekali. Aku tak bisa mengingat satu per satu. Biar jelas Nona bisa mencarinya ke dalam"


"Oh, terima kasih, Pak." Kata Andini ragu-ragu. Dibalas anggukan oleh security.


Andini mencari Miko ke dalam. Mengamati setiap pria yang sedang mabok, merancau dengan sesuka hatinya, ada yang sedang bercumbu rayu dengan wanita yang bukan istrinya. Andini benci tempat seperti ini.


Semenjak kejadian yang menimpanya. Ia masih trauma dengan gemerlap dunia malam, namun demi Miko ia melakukan semuanya.


"Miko!"


"Hai Nona .... Wow kau cantik sekali Nona. Sini jangan malu-malu duduklah dipangkuan ku " kata pria yang mirip Miko jika dilihat dari belakang. pria itu menepuk pangkuannya berulang kali.


Andini memilih berdamai. Ia berkata dengan sopan "Ma'af, saya salah orang."


"Sudahlah Nona jangan malu malu." Pria mabok itu memaksa Andini untuk duduk di pangkuannya. Andini berusaha melepaskan diri darinya. Karena ia mabok berat, Andini bisa dengan mudah berlari.


Andini berlari keluar clup, Miko sepertinya tak ada di tempat itu. Andini berharap Miko ada di apartemennya.


Andini segera menghentikan taxi ke apartement Miko. Andini sudah hafal nomor apartementnya. Membuat Andini lebih cepat tiba di tempat itu.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Tidak dikunci," gumam Andini sendiri.


"Miko apa yang kamu lakukan Miko?" Andini terbelalak melihat Miko duduk dilantai dengan kepalanya ia sandarkan di pinggir Sofa. Ada banyak botol minuman keras berserakan di sekitarnya dan ponselnya juga tergeletak di lantai.


"Girl, kenapa kau datang, Girl."


" Sudahlah Girl, biarkan aku sendiri, pergilah Girl. Kamu harus bahagia." Miko mendorong Andini Agar menjauh, namun tubuhnya sudah lemah karena terlalu banyak minuman yang sudah ia teguk.


"Miko, jangan lakukan semua ini, Miko."


"Miko, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tak seperti ini lagi."


"Sudahlah Girl, tinggalkan aku sendiri." Miko kekeuh ingin Andini pergi saja. Melihat Andini didekatnya ia semakin terluka. Melihat wanita yang dicintai namun tak bisa untuk dimiliki.


Andini keluar apartement, Miko. Ia berinisiatif untuk menghubungi Mama Mita.


Mama Mita yang bermalam di butik, ia segera menuju apartement putranya.


 


"Andini apa yang terjadi dengan Miko? Kenapa kamu menangis sayang?"


"Mama Miko, Ma." Suara Andini terbata.


Mama Mita dan Andini segera masuk beriringan setengah berlari menghampiri Miko.


"Miko .... Kenapa kamu seperti ini lagi." Mita Menangisi putranya. Ia tahu pasti Miko sedang patah hati lagi.


Mita dengan susah payah membantu Miko duduk di sofa. Andini yang melihatnya segera turut membantu.


"Miko, tolong jangan buat mama bersedih dengan seperti ini, Sayang. Kau anak Mama satu satunya, mama bisa mati jika kau seperti ini terus."


melihat Mama Mita menangis, Andini juga turut meneteskan air matanya.


Mita sekilas melihat arlojinya.


"Andini, pulanglah, sebelum malam semakin larut." Pinta Mita kepada Andini.


"Tapi, Ma."


"Sudahlah, jangan khawatirkan Miko, dia sudah ada, Mama."


"Baiklah, Andini pulang, Ma."


"Iya, Nak. Hati-hati!"


Andini dengan berat hati melangkahkan kakinya keluar Apartement. Saat di depan pintu ia menoleh sekilas ke arah Miko dan Mama Mita. Ada rasa sedih yang amat dalam ia rasakan. Miko seperti ini karena salahnya, andaikan saja ia tak pernah membiarkan Miko mendekatinya, tentu semua tak akan terjadi.


 


Arsena sudah sampai di rumah, wajahnya lesu tak bersemangat. Ia memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Lalu masuk kembali ke rumah besar miliknya. Bi Um yang tau tuannya sudah pulang, ia segera menyiapkan aneka kesukaannya yang biasa dihidangkan oleh Andini. Namun sayang rasa tetap tak bisa bohong. Andini sepertinya sudah memiliki bakat memasak sejak lahir.


"Kenapa wajahmu kucel begitu, Ars?" Sapa Johan yang semalam menginap di rumahnya.


Arsena berhenti diruang tamu. Duduk di sebelah Papa, ia sedang memikirkan Andini yang lebih memilih tinggal di kontrakan minimalisnya daripada bersamanya.


"Lagi bete aja, Pa"


" Pasti karena Andini?" Tebak Johan.


"Ars, kalau papa jadi kamu, papa akan kejar terus tanpa kasih kendor." Kata Johan sok tau.


"Masalahnya Andini terlanjur benci Pa, Arsena sudah menorehkan luka terlalu dalam di hatinya." Kata Arsena sambil melepas jasnya dan menaruh di pinggiran sofa.


"Hmm ... Anak papa belum berjuang sudah patah hati. Kejar! Luluhkan hatinya!" Kata Johan semangat, tangannya mengepal keatas. Tak lupa senyumnya menghiasi bibir tuanya, beberapa helai kumisnya ternyata sudah berubah warna.


"Anak papa harus gentle donk, Raih cintanya Dokter Andini. Ingat dia sekarang dokter, Dia cerdas, cantik, pasti akan banyak pasien jatuh hati pada Dia."


Arsena mendengarkan saja ocehan Johan, hanya sesekali ia menarik nafas dalam-dalam. Tarikan nafasnya adalah bukti ia membenarkan ucapan Papa.


*Happy reading.


*jangan lupa kasih semangat dengan


Like


Komen


Vote

__ADS_1


__ADS_2