
Arsena menuju pintu lift, ia ingin keluar kantor untuk mengunjungi Andini di jam istirahat, ia yakin Andini pasti juga sedang istirahat siang.
"Kemana, Pak Ars." Sapa Vina yang ber pas-pasan di lift.
Kebetulan Vina sudah selesai makan siang dan ia berniat hendak kembali ke ruangannya lebih awal.
"Emm Vin, aku akan keluar. Aku akan ke RS sebelah, kamu tolong nanti lembur, Galang juga, soalnya banyak sekali pekerjaan yang harus selesai dalam minggu ini."
"Oke, Pak." Jawab sekretaris seksi yang masih single itu. Dia terlihat suka dengan Arsena, namun keinginannya hanya sebatas impian, ia tak pernah punya keberanian menunjukkan isi hatinya, karena resikonya adalah tetap bekerja atau dipecat dari kantor.
Hanya hitungan menit Arsena sudah sampai di halaman kantor, melihat Arsena keluar, Doni segera menghampiri mobil pribadinya.
"Antarkan saya ke sebelah." Doni mengangguk, segera membukakan pintu belakang. Sedangkan security berlari membuka gerbang.
Mobil Arsena melewati security, pria yang pernah menghina Andini waktu itu, menganggukkan kepalanya hormat untuk Sang Dirut perusahaan.
Karena jaraknya hanya lima puluh langkah, mobil Arsena kini sudah memasuki parkiran RS. Arsena bergegas keluar mobil, ia langsung menuju ruangan dokter Andini lewat pintu pengunjung pasien.
Arsena segera mengetuk ruangan yang di depan pintu terdapat nama, Dr. Andini Javarani.
Tok! tok! tok!
"Terkunci," desisnya pelan.
Arsena mulai resah, ia berfikir sejenak. Mengamati pintu yang terkunci. Masih berfikir Andini ada di dalamnya, istri tercinta akan keluar membukakan pintu untuknya.
"Ars, cari siapa?" Sosok wanita yang dia kenal keluar dari ruangan lain, tepatnya berhadapan dengan ruangan Andini.
"Mira, apa kau lihat, Andini? "
"Andini, dokter baru itu. Yang pernah bekerja di rumahmu kan?"
"Dia bisa menjadi dokter pasti karena bantuanmu, dan kamu tau, dia bekerja sangat tidak kompeten. hari ini sudah dijadwalkan dia akan melakukan tindakan operasi untuk beberapa pasien. Tapi dia malah menghilang tanpa kabar," kata Namira melipat tangannya di atas perut, berjalan mendekati Arsena dengan wajah kurang suka. Menyudutkan Andini, seakan Andini adalah dokter yang sangat buruk.
"Jadi, maksud kamu Andini hari ini tidak hadir?"
"Iyah, Andini jadi perbincangan para dokter lainnya, karena dia masih baru sudah lalai dengan nyawa manusia. Untung ada Dr.Vano yang menghandle semuanya."
"Cukup Namira, jangan kau salahkan Andini lagi, dia pasti sedang dalam masalah. Pagi tadi dia berangkat dari rumah, bahkan dia meninggalkan sarapan pagi demi bisa datang tepat waktu." Arsena kini gelisah, memikirkan dimana Andini nya saat ini.
__ADS_1
Arsena berlari keluar menuju tempat para dokter melakukan ceklok hadir. Arsena meminta pegawai yang berjaga untuk mengecek apakah Andini benar-benar tidak melakukan ceklok hadir sejak pagi tadi.
"Maaf Tuan, Dokter Andini memang hari ini tidak melakukan ceklok. Mungkin dia sedang berhalangan hadir," terang pegawai itu.
"Coba ulangi sekali lagi, lakukan lebih teliti." Perintah Arsena lagi.
Pemuda yang sudah setahun bekerja itu dengan teliti memeriksa nama-nama dokter yang hadir hari ini di layar laptopnya. Hasilnya tetap sama. Nama Andini untuk hari ini tak hadir.
Arsena mulai punya firasat buruk, kekhawatiran pada Andini mulai memenuhi rongga kepalanya.
"Menemui Miko, Iyah! Andini pasti menemui Miko. Semalam dia mengatakan padaku kalau ingin membujuk Miko agar mau bekerja lagi di kantor." Arsena berniat kerumah Miko namun sebelum pilihan itu ia putuskan Arsena memikirkan kemungkinan lain yang dilakukan Andini.
Arsena mendekati mobil, ia menyandarkan bobot tubuhnya di salah satu sisinya, mencoba menghubungi beberapa orang terdekat Andini, ia berharap Andini akan baik-baik saja, sampai disini ia masih berfikir positif, berharap Andini sedang ke rumah temannya atau sedang bersama mengunjungi ibunya.
Kalaupun Arsena menemukan Andini bersama Miko Arsena berjanji tak akan marah. Arsena sangat panik siang ini.
"Pak Doni. Kita coba ke rumah Miko, sekarang juga, siapa tau Andini ada disana."
"Tapi Den, saya tak yakin kalau ada di sana, bukannya Aden sendiri yang membuat jadwal akan kesana jam empat sore bersama Nona Andini. Apa iya, Nona Andini datang kesana sendirian."
"Em,, Bapak benar, aku ingin memastikan saja, semoga dugaanku salah. Tapi Andini dan Miko sebelumnya ia telah memiliki hubungan lebih dari sekedar adik dan kakak. Sudah sepantasnya aku mencurigai dia diam-diam bertemu di belakangku."
"Maaf, Bapak benar, semoga aku yang salah." Arsena masuk ke dalam mobil ia memilih duduk di jok belakang."Jalan sekarang."
Di perjalanan, Arsena kembali menghubungi beberapa orang-orangnya agar segera mencari Andini. Menyusuri setiap tempat yang mungkin di datangi oleh Andini. Melakukan setiap pengecekan di setiap camera yang terpasang di sepanjang jalan.
Arsena juga menelepon Dara, menanyakan apakah Andini pulang ke rumahnya, kemungkinan itu walaupun kecil, Arsena tetap melakukannya. Arsena lupa memikirkan kepanikan orang rumah saat mengetahui Andini ternyata sedang dalam pencarian.
Arsena sudah sampai di depan apartement Miko, ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat yang dulu ia bersumpah tak akan mendatanginya.
Arsena segera naik lift dan mengetuk pintu apartement Miko.
Mita dengan cepat membukakan pintu. Mita terperanjat yang datang adalah anak madunya
" Arsena." Mita segera menutup kembali pintunya, namun Arsena menahan dengan lengannya.
"Jangan tutup pintunya, aku akan membawa Andini pulang," kata Arsena dengan nada suara tinggi.
"Andini?Apa maksud kamu? Apa yang terjadi dengan dia?" Mita melepaskan pintunya, melihat Arsena panik dan mencari Andini. Wanita itu pasti sedang tak baik saja.
__ADS_1
"Andini? Kenapa kau mencarinya disini? Sudah jelas kau suaminya?!"
"Sudahlah, acting anda sudah basi, biarkan aku masuk dan membawa istriku pulang." Arsena masuk tanpa menunggu persetujuan ia memeriksa setiap kamar, dan setiap ruangan yang ada.
Miko yang sedang bersantai di kamarnya, ia terkejut Arsena tiba-tiba melakukan penyisiran.
Miko naik pitam, rumahnya di obrik-abrik oleh Arsena, ia terhina.
Miko segera meraih kerah Arsena begitu mendapati Arsena panik hingga mencari Andini di setiap sudut rumahnya.
"Andini keluarlah, Aku tau kamu disini!" Teriak Arsena. Sedangkan Doni juga sibuk mencari Andini di sudut lainnya.
Arsena tak melihat tanda tanda ada Andini ataupun jejak yang menunjukkan Andini datang kesini.
"Hey ... Pria tak berguna, sedikit saya ada yang terluka dengan Andini. Sudah pasti aku akan meremukkan semua tulang belulangmu." Miko menatap dengan tatapan elang, sisi baik dan lembut yang pernah hadir hilang seketika.
"Lepaskan." Arsena menepis tangan Miko. Aku sedang tak ingin berkelahi, aku sedang mencari Andini ku, semoga dia sedang baik baik saja" Kata Arsena sambil berlalu pergi.
Miko mengejar Arsena dan mendorong, mendorong hingga tubuhnya menyentuh dinding kamar.
Miko memukul rahang Arsena sekuat nya, rahang Arsena terasa perih, dari sudut bibirnya keluar darah. Arsena tak membalas. Dia tak ingin bertengkar lagi. Dia hanya fokus dengan pencarian Andini.
Ponsel Arsena berdering. Arsena segera mengangkat teleponnya. "Apa sudah ditemukan jejak Andini?"
"Sudah Tuan, saya kirim video rekamannya sekarang."
"Baik, kirimkan sekarang juga," Arsena menunggu rekaman terkirim dengan tak sabar, matanya terus saja melotot ke arah ponselnya hingga tanpa berkedip. Sedangkan Miko merapatkan tubuhnya didekat Arsena. Untuk sementara ia melupakan ego masing masing demi menemukan Andini.
Arsena dan Miko segera mengetahui kalau Andini dibawa paksa oleh ketiga preman. Walaupun mereka memakai teropong, ciri-ciri lelaki yang membawa Andini sudah tak asing lagi bagi Miko.
Miko mengenali mereka semua, bahkan Miko mengenali semua preman dari kelas kakap hingga kelas teri di daerahnya.
"Siapkan helicopter segera, karena aku tahu Andini sekarang dibawa kemana." Perintah Miko pada Arsena. "Aku tau siapa pelakunya."
Arsena setuju, ia segera menelepon pilot handal yang kebetulan lagi free jadwal terbang.
Arsena dan Miko bergegas menuju pinggiran Kota, helikopter yang akan mengantarkan mereka ke pulau sudah stanby di tanah lapang yang rencananya akan didirikan sebuah perumahan.
"Andini, aku akan datang!" Teriak Arsena saat helicopter mulai terbang meninggalkan kota.
__ADS_1