
"Bagaimana aku bisa hamil, sedangkan aku sudah divonis dokter Namira akan mandul, Oma. Apakah jika Oma tau hal ini Oma akan tetap menyayangiku seperti ini." Kata Andini dalam hati.
"Bagaimana Andini? Apa sudah enakan?" Oma bahkan membantu memijat tengkuk Andini.
" Sudah mending, Oma. " Andini berusaha membuat Oma tak panik. Andini kembali mencuci muka, Oma melepas tangannya dari tengkuk Andini.
"Kita kembali ke meja makan lagi, kamu harus makan banyak, sayang. Apalagi kalau hamil beneran? Kamu harus makan, kasian bayi yang ada di perut," kata Oma panjang lebar.
"Maaf Oma, takut nanti mual lagi, dan nggak enak sama yang lain, pasti selera makannya jadi terganggu." Andini berusaha meyakinkan Oma.
"Baiklah, nanti biar makanannya diantar ke kamar saja. Sekarang biar Oma yang antar kamu ke kamar." Oma masih bersikeras ingin menemani Andini.
"Tidak Oma, Oma harus lanjutkan makan dulu, Oma pasti sangat rindu dengan mereka."
"Kamu ini Ndin, selain cantik ternyata juga pengertian. Oma juga pengen lihat ruangan apa saja yang ada dilantai atas." Bujuk Oma.
Oma menggamit lengan Andini, walau diusianya yang sudah tak muda lagi, tetapi kondisi Oma sangat sehat. Sisa sisa kecantikannya masih melekat erat di tubuhnya.
Terpaksa Andini menuruti kemauan Oma yang menawarkan diri mengantarnya.
Zara yang melihat Andini pergi lebih dulu ia segera menyusul Andini dan ikut mengekor dibelakangnya Zara terlihat panik. " Nona apa yang telah terjadi?
"Zara, aku baik baik saja." Kata Andini singkat. Andini tak ingin orang lain melihat kepanikan Zara yang berlebihan.
Andini nenek dan Zara sudah tiba di kamar. Andini duduk di sebuah sisi ranjang. Zara segera menarik selimut hingga sebatas perut sedangkan Oma juga duduk di tepian ranjang.
Oma melihat sekeliling ruang. "Sejak tadi kenapa aku tak melihat foto pernikahan kalian?"
"Foto pernikahan, ada nek. Andini menyimpannya di kamar sebelah." bohong Andini. Andini bingung, bagaimana kalau nenek meminta untuk melihat foto. Sedangkan Arsena sama sekali tak ada di dalam kenangan itu.
"Baiklah, nenek akan melihat foto pernikahan kalian besok." Nenek mencubit dagu Andini, Nenek mengharapkan Andini benar-benar hamil. " Nenek akan menunggu kabar baiknya.
"Zara, tolong siapkan makan malam Nona, aku akan kembali ke bawah bersama yang lainnya." Nenek memberi perintah pada Zara dan ia juga turun bersama Zara menuju tempat orang orang berkumpul.
Zara segera mengambilkan makan malam untuk Andini dengan cekatan. Tak sampai lima menit gadis muda itu sudah kembali dengan sepiring nasi dan aneka lauk yang berada di mangkuk-mangkuk secara terpisah.
"Nona ini aku bawakan juga kebab Turki. Anda sudah lama ingin memakannya." ujar Zara mengambil kebab ke dalam piring dan memberikan untuk Andini.
Andini menerima kebab itu dari tangan Zara. "Zara terima kasih."
Sudah kewajiban saya, Nona, melayani Anda sepenuh hati. Jangan selalu mengucap terima kasih.
Hidung Andini mulai mencium aroma makanan itu, dan Andini kembali ingin muntah. Andini segera berlari ke wastafel. Memuntahkan sisa sisa yang ada, hingga perut Andini terasa makin melilit.
"Nona sebaiknya lakukan tes urin malam ini juga, aku semakin yakin kalau anda sedang berbadan dua."
"Benar Zara, jika aku sakit suhu tubuhku pasti akan naik, tapi aku tak merasakan semua itu."
Zara segera meminta pak Doni untuk mengantarkan ke apotek terdekat, disana Zara membeli aneka jenis alat test kehamilan dari yang bentuk kecil hingga yang kotak.
__ADS_1
Sudah mendapatkan barang yang dicari Zara segera kembali pulang. Keluar masuk Zara tak diketahui oleh siapapun, Zara tadi lewat lift yang langsung menuju garasi.
Dengan langkah tergesa, Zara segera menyerahkan alat test kehamilan pada Andini.
Andini menerima kantong plastik yang disodorkan oleh Zara. Andini juga meminta Zara untuk membukakan resleting belakang. Karena ia ingin ganti kostum dengan baju tidur yang lebih nyaman.
Selesai dengan acara ganti baju. Andini segera masuk ke kamar mandi. Zara yang ikut tak sabar ingi menerima kabar baik itu, hingga menunggu Andini di depan kamar mandi.
Sebelum melakukan test, Andini berdoa dalam hati, ia berharap harapannya yang sudah terlanjur melambung tinggi menjadi kenyataan. Andini segera menaruh air urine di dalam wadah. Mencelupkan alat yang baru saja di beli Zara satu persatu.
Alat test kehamilan itu segera bekerja dengan akurat, Andini melihat dua garis merah itu bermunculan hampir bersama'an. Tubuh Andini bergetar hebat melihat semuanya.
Aku benar-benar hamil. Tuhan, terima kasih. Aku berterima kasih padamu Tuhan. Aku masih diberi kepercayaan untuk mengandung bayi di rahimku.
Andini memundurkan tubuhnya menempel pada dinding. Bahagia bercampur haru membuat kaki Andini tiba tiba lemas. Andini ingin ambruk saja, untung ada dinding kokoh yang menopang tubuhnya.
"Zara! Zara!"
"Iya Nona, Zara ada disini. Bagaimana hasilnya, Nona? Apakah nona hamil atau tidak?"
"Lihat ini Zara, aku hamil."
"Nona Anda benar-benar hamil." Zara dan Andini berpelukan.Zara tak bisa menahan bahagianya.
"Nona, Tuan Arsena harus tau kabar gembira ini. Kita tak boleh menundanya lagi."
"Tentu Zara, dia pasti senang aku telah hamil putranya." Andini mengelus perutnya yang datar. Zara segera merapikan alat test dan menyimpannya di laci.
Andaikan di luar, sedang tak banyak keluarga yang berkumpul, Andini pasti sudah berlari memeluk suaminya dari belakang dan mengatakan kalau dirinya telah hamil.
"Nona apakah aku harus menelepon tuan Arsena sekarang. Biar dia kesini."
"Jangan Zara, kehamilan ini sangat special. Aku ingin kebahagiaan ini tersampaikan dengan cara special pula.
"Baiklah, kalau itu yang Nona inginkan, tapi anda tentu tak bisa menyembunyikan semua ini dari Oma. Oma bahkan sudah tau segalanya, sebelum anda sendiri yakin kalau anda memang hamil," jelas Zara. Gadis itu juga ikut senang bukan kepalang. Zara sangat tulus, ia bahkan menganggap Andini lebih dari seorang kakak. Karena memang dia anak tunggal.
"Oma! Aku akan memberi tahu Oma bersama dengan Arsena, besok sepertinya waktu yang tepat." Mata Andini berbinar binar, bibirnya tak berhenti membentuk lengkungan senyum.
Andini terus saja mengelus perutnya yang rata. Rasanya ia sudah tak sabar menunggu memberitahu hingga besok pagi. Hari ini waktu seakan berputar lambat.
Andini duduk di ranjang menyandarkan tubuhnya. Calon ibu itu tak lagi memikirkan soal makan. Zara beberapa kali mengingatkan. Jawabannya sama, dia hanya ingin makan jika Arsena sudah menyusulnya ke kamar, atau besok pagi saja.
Hatinya terlampau senang, hingga entah jam berapa Andini sudah tertidur pulas.
Tok tok tok! "Arsena mengetuk pintu."
"Tuan! Nona baru saja tidur."
"Bagaimana keadaannya, Zara?"
__ADS_1
"Baik tuan?"
"Lalu bagaimana dia bisa mual seperti tadi?"
"Besok, Tuan akan tahu dari Nona Andini, saya tak berani." kata Zara sambil tersenyum.
"Baiklah tinggalkan kami."
Arsena mengisyaratkan agar Zara keluar. Zara mengangguk patuh. "Baik Tuan."
Arsena mengunci pintu. Lalu mendekati sang istri yang sedang menunggunya hingga ketiduran.
"Kau bahkan tak makan sama sekali," gumam Arsena saat melirik diatas nakas, piring-piring berisi hidangan masih belum ada yang tersentuh.
Ada sesal dihatinya kenapa tadi dia tak segera datang saja saat usai makan, pasti wanitanya tak akan menderita seperti ini.
"Ndin, apa kau menungguku?" Arsena mengecup kening wanita yang duduk bersandar hingga tertidur.
Merasakan keningnya terasa dingin oleh bibir suaminya Andini segera mengerjabkan matanya.
"Ars ... Kenapa sudah kesini? Apa semua orang sudah pulang?"
"Mereka tak ada yang pulang, Andini. Selama nenek disini mereka semua akan tinggal disini." Kata Arsena menjelaskan ketidaktahuan Andini.
"Benarkah Ars?" Andini sangat bahagia. Dibalas anggukan kepala oleh Arsena.
"Apa tak ingin makan?"
"Sepertinya besok pagi saja, lagi pula ini sudah malam." Andini menoleh ke arah makanan yang mulai dingin.
"Ndin, sedikit saja, kamu tak boleh melewatkan makan satu kali pun selama aku masih ada."
"Baiklah." Andini menurut, dia memikirkan adanya makluk kecil yang mulai tumbuh diperutnya.
Arsena penuh kasih, penuh cinta dan ketulusan menyuapi sang istri dengan jarinya.
Andini pun menerima suapan dari suami dengan hati amat bahagia. Sesekali dia menggenggam tangan Arsena yang sebelah lagi.
"Aku kenapa seperti pengantin baru ya?"
"Emang pengantin baru kita ngapain, tak ada yang spesial, Ars. Saat kita baru menikah, kau bahkan mengurungku di gudang belakang?" Andini menggoda Arsena.
"Maafkan aku sayang, kedepan aku berjanji hanya ingin membuatmu bahagia saja," kata Arsena sambil tak berhenti menyuapi nasi ke bibir sang istri.
"Semoga kata-kata itu bukanlah dusta," ujar Andini sambil memberi isyarat kalau dirinya sudah kenyang.
Andini merasa aneh, kenapa dia sama sekali tak mual, atau ada tanda ingin muntah saat yang masuk ke perut nya itu dari tangan sang calon Papa. Tapi kenapa saat dia makan sendiri perutnya tak mau menerima makanan apapun.
__ADS_1
Akankah ini hukuman untuk Arsena. Atau sebuah bukti kalau bayi diperutnya sangat menyayangi Sang Papa.