
"Zara bangun, aku mohon Zara."
Bu apakah Zara memang sering seperti ini?
"Tidak Nak, Zara sehat-sehat saja, dulu pernah waktu kecil dia seperti ini saat dia meminta dibelikan boneka yang besar dan mahal, waktu itu kami belum punya uang, dan setelah itu kejadian ini tak pernah terulang lagi. Dan entah kenapa beberapa hari ini dia terlihat lesu dan murung. Dia juga sering menangis saat di kamarnya. Tapi Zara tak pernah jujur sama ibuk."
"Nak adakah hal buruk yang telah terjadi? Diantara kalian, bisakah kamu menjelaskan pada kami."
Apakah ini semua karena aku, apa Zara benar benar tak memiliki cinta sedikitpun untukku.
"Zara bangunlah, Zara aku Mert suamimu." Mert duduk paling dekat dengan Zara sambil menggosok gosok telapak Zara dengan tangannya, berharap ia bisa menyalurkan kehangatan ke tubuh Zara.
Zara masih sama matanya tetap menempel ketat antara kelopak atas dan bawah bibirnya mengatup rapat.
Ibu Mariam menangis tersedu dia ikut duduk di dekat Zara. Membisikkan kata kata di telinga Zara. " Bangun Nak, suamimu sangat mengkhawatirkan kamu. Kita semua disini menghawatirkan kamu.
Kata ibu mengamati wajah keluarga Mert yang terlihat ikut bingung. Sedangkan para tamu sudah beranjak pulang satu jam tadi usai melihat kondisi Zara.
Mereka ada yang prihatin bahkan ada yang curiga dengan pernikahan Zara.
Biasanya mempelai wanita saat ijab wajahnya akan berbinar-binar tapi tidak dengan Zara. kata mereka kepada temannya, sepanjang perjalanan pulang mereka sibuk mencari alasan Zara tak bahagia.
" Zara, baiklah, aku berjanji jika Zara bangun aku akan kabulkan semua keinginanmu Zara." Mert berbicara membeo, sambil mengelus rambut Zara. pria yang selalu bahagia sepanjang hidupnya kini mulai merasakan sedih, karena wanitanya sakit.
Seorang dokter muda yang kebetulan bertugas di kampung Zara sudah datang. Davit segera menemukan rumah Dokter tersebut setelah bertanya berkali-kali pada warga.
"Dokter, cepat periksa istriku. Aku tak mau dia kenapa napa, Mert lah yang paling gusar daripada yang lainnya."
"Mert sabar, aku tau kamu sangat sayang sama Zara, tapi tenangkan dirimu." Hibur Arsena pada adik sepupunya.
"Oma, Taukan Mert telah bersalah sama Zara, Mert ingin menebus semua kesalahan itu, apa Zara tak bahagia Oma." Mert memilih mendekat pada Oma dan bersandar pada pundak wanita tua itu.
" Sabar, semua butuh waktu." Oma mengelus punggung Mert memberi kekuatan pada cucunya.
"Ibu, maafkan menantumu, aku telah bersalah Mert kini meraih tangan mertuanya dan mencium dengan takzim. Mert mohon ampun pada ibu mertuanya berulang kali.
"Nak, kenapa kau terus minta maaf." Mert berlahan menggandeng mertuanya menuju kursi yang letaknya ada di ruang tengah. Pelan pelan ia menceritakan kronologi kejadian naas yang dialami istrinya.
"Putriku Zara, kenapa kau tak pernah jujur pada ibu, untuk membahagiakan hati kami kau bahkan harus menderita."
Mendengar cerita Mert, tangis Mariam tergugu, tak bergeming dari kursi. Hatinya pedih memikirkan nasip anaknya yang ternoda oleh majikannya.
"Aku janji, akan membuat Zara bahagia, Bu. Jika aku tak menepati janjiku, ibu bisa mengingatkanku dan lakukan yang ibu inginkan termasuk mengambil Zara dariku."
"Beri Mert kesempatan kedua Bu," iba Mert menangkupkan tangannya setidaknya Mert sudah mengakui semua kesalahannya pada orang tua Zara.
__ADS_1
"Ibu memaafkan, karena Zara sekarang sudah menjadi istrimu."
tapi ibu Mohon terima dia dengan segala kekurangannya, termasuk tidak mengungkit dengan kemiskinan kami, karena pernikahan ini kau sendiri yang memaksanya"
"Mert janji, Zara akan menjadi wanita satu satunya , Bu," ujar Mert dengan sorot mata tulus.
Mert dengan langkah gegas menghampiri Zara lagi, ketika Davit sudah datang bersama Dokter.
Dokter segera memeriksa Zara dengan seksama dimulai dari membuka kedua kelopak mata bergantian sampai memeriksa tensi dan detak jantung.
Dokter mengatakan kalau Zara sedang sok dan tekanan darah terlalu rendah.
"Dokter, tolong periksa lagi siapa tahu ada yang lainnya," ucap Mert dengan panik.
"Apa anda suaminya?"
" Betul."
" Anda sebaiknya ikut saya."
Dokter menjelaskan panjang lebar kondisi Zara. Dokter menjelaskan kepada Mert, harus mengutamakan kebahagiaan Zara.
"Yah aku janji, Zara akan dapatkan kebahagiaannya, aku akan mencurahi dia dengan kasih sayang hingga dia akan merasa bosan dengan cintaku." Mert berkata dengan mantap.
" Anda suami yang baik, Tuan," puji Dokter pada Mert.
Mert memandangi dengan jarak dekat. menyilangkan lengannya di dada
"Zara bangun, lihatlah Mert sangat cemas." Andini membelai rambut Asisten hebatnya. gadis yang bekerja dengan baik hampir tak pernah membuat kesalahan
"Kak Davit maafkan Zara, Kak Davit jangan benci Zara ... Eugh." Rancau Zara sambil memegangi kepalanya yang masih sakit. Zara mulai membuka mata.
"Davit?" Mariam terhenyak, bagaimana bisa putrinya justru memanggil nama sopirnya saat suaminya sedang menunggu di dekatnya.
Andini segera menatap Mert, seolah dia memang patut untuk disalahkan. Mert mendapat tatapan Nanar dari Andini ia membalas tatapan Andini dengan sayu seolah sedang meminta maaf.
"Davit, Zara mencarimu!" Mert terlihat berusaha menahan emosinya. Ia memanggil Davit yang berada di ruang tamu.
"Kenapa ini bisa terjadi, sebenarnya apa yang telah terjadi. Zara kenapa kau malah memanggil pria lain Nak, ini suamimu ada disini." Mariam lebih tak enak hati lagi ketika Mert memanggil Davit untuk Zara.
Zara sudah menyakiti hati Kak Davit, Buk. Zara harus minta maaf, Zara telah membuat Kak Davit sedih."
Mariam menarik nafasnya panjang, rasanya tak enak hati membiarkan Davit yang statusnya hanya asistent dalam keluarga itu mendekati putrinya yang sudah sah milik orang lain.
Davit menolak untuk menemui Zara. "Maaf Tuan, saya tidak mau terlibat dengan rumah tangga Anda." Davit menangkupkan tangannya ia malah pergi.
__ADS_1
Mert kembali menemui Zara di kamarnya.
Mert berusaha menahan kecewa di hati. Dia yakin semua pasti ada jalan keluarnya. Mert meraih gelas yang ada di atas nakas, memberikan kepada Zara dan membantunya meminum.
Zara mencecap air pemberian Mert sedikit, lalu menjauhkan gelas tersebut dengan mendorong tangan Mert.
"Tolong ambilkan makan, biar aku akan suapi istriku." Entah pada siapa perintah itu Mert tujukan. Tapi Sang ibu segera mengambilkan Zara nasi dan sayur tanpa sambal.
"Aku nggak lapar, Tuan."
"Tapi tetep harus makan." Mert bersikap sangat lembut, bahkan Mariam sendiri tak percaya menantunya bisa seperti itu dengan putrinya yang hanya orang biasa. Apalagi dengan ulah Zara baru saja.
Mert menerima piring dari ibu lalu mengaduk sedikit di bagian tepi, Mert mengambilnya sesendok. " Cobalah, setidaknya butiran nasi ini akan bersarang di dalam perut dan lambungmu tak kosong lagi."
Zara membuka mulutnya, mengunyah pelan pelan, hanya beberapa suap dia kembali menolak.
"Baiklah sebaiknya kita tinggalkan Zara dengan suaminya di kamar ini. Mereka pasti sangat lelah. Atau mungkin dia butuh waktu untuk bisa saling dekat. Inisiatif Arsena pada orang-orang yang mengerubuti mereka berdua.
Akhirnya Andini dan Arsena memilih kembali pulang. Semua keluarga berpamitan dan meninggalkan rumah Zara. Kecuali Mert, diabmasih belum bergeming dari kamar Zara.
Malam ini Mert dan Zara tidur di kamar yang sama. Kondisi Zara sudah pulih dengan cepat setelah meminum beberapa butir obat.
Mert yang lelah, dia segera merebahkan tubuhnya diranjang. Ia memakai separuh ranjang, dan menyisakan separuh untuk Zara.
Mert melihat Zara menggelar tikar disamping ranjang. Membuat Mert bertanya di dalam hatinya. Namun Mert mencoba tenang dan hanya melihat saja dulu.
Zara habis sakit sebaiknya tidurlah disini Mert menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Sudah lama saya mulai nyaman tidur di lantai , Tuan." Alasan Zara tak masuk akal.
"Oh, kalau begitu, boleh aku ikut tidur di bawah?"
"Jangan Tuan, nanti Tuan masuk angin."
"Tidak apa-apa kita masuk angin bersama." Mert menurunkan bantal bantal dan guling yang tadinya diatas ranjang.
"Tuan, Mert. Biarkan aku sendiri, beri aku waktu untuk melakukan kewajiban ku." Pinta Zara yang kehabisan akal menghindari Mert. ia berkata dengan wajah menunduk tak berani menatap Amert
Mert mengambil kembali guling dan bantal lalu menata di atas kasur. Sekarang giliran dia yang menguasai tempat tidur di lantai.
"Kamu tidurlah di ranjang aku akan tidur di lantai."
"Tuan ...."
__ADS_1
" Menurut saja, semua demi kebaikan dirimu sendiri." kata Mert lalu merebahkan dirinya di lantai dengan menggunakan telapak tangannya untuk bantal kepala.