
Liliana
Semenjak pulang dari cave tempo hari, Lili sangat terpukul. Arsena pasti tak bisa lagi membendung hasratnya. Siapa yang menjadi pelampiasan? Tentu Andini istrinya.
"Semua ini karena Andini, arsena berpaling darinya, Liliana tak akan membiarkan Andini mengambil Arsena, jika dirinya tak bisa, maka orang lain juga tak akan pernah bisa.
Lili menarik seprei kasurnya, menusuk nusuk dengan pisau hingga busanya berhamburan keluar.
"Akhhh !!" Pekik Lili sekeras mungkin.
Lili seperti orang gila, selesai mengobrak abrikkan kasurnya dan berteriak tak jelas, ia memecahkan kaca dengan kursi kayu. Pecahannya berhamburan ke lantai. Kamar Lili mendadak seperti kapal pecah. barang-barang berharganya ikut berhamburan.
Bruk!
Lili menjatuhkan bobot tubuhnya di atas lantai, kakinya lemas. Semua mimpi yang sudah dirangkai indah bertahun tahun, selangkah lagi akan menjadi sebuah kenyataan, harus kandas.
"Bodoh ... Kau adalah wanita terbodoh, pantas saja Arsena pergi !" Ejek Devan. Ia tak ingin Lili terluka sedalam itu. Ia hanya ingin melihat adik kesayangannya bahagia.
"Pergi!" Lili kembali meraih pisau yang tergeletak di lantai dan melempar ke arah Devan. Devan dengan sigap menghindari serangan Lili, hingga pisau itu melesat cepat menembus jendela. pisau itu melayang ke udara dan terjatuh di halaman.
"Pergi! Kau kakak tak berguna! Harusnya kau menjadi kakakku yang berguna, jika malam itu berhasil menjadikan Andini milikmu seutuhnya." Lili mendorong dada kakaknya hingga mundur beberapa langkah. "Tapi apa yang terjadi kau pecundang lemah! Kau selalu menganggap dirimu adalah pria Casanova yang hebat tapi lihatlah dirimu! Kau biarkan adikmu menangisi pria nya diambil wanita lain."
"Cukup ! Aku akan menuruti keinginanmu." Devan tak tega melihat Lili terus menangis, hinaan yang terus keluar dari mulut adiknya membuat ia merasa menjadi kakak yang gagal.
"Apa yang kau inginkan !" Tantang Devan, fikiran pria itu sudah buntu, ia tak tega lagi dengan Adiknya yang terus menangis.
"Andini! Aku ingin Andini dalam kehancuran! Hingga dia tak berani lagi mendekati Arsena, hingga ia pergi sendiri dari sisi Arsena untuk selamanya." Tangan Lili mencengkeram keras. Ia merebahkan kepalanya di dada Devan.
"Lili, kau tau pria yang kau cintai itu telah memutuskan kerja sama dengan perusahaan kita, dan kakak sebentar lagi pasti akan bangkrut." ujar Devan lirih, namun Lili di dekapannya masih bisa mendengar jelas.
"Itu karena Andini kak, itu Karena Andini telah menghasut Arsena. Andini pasti sudah mengadukan semuanya." Jika kakak berhasil menjauhkan Andini dari Arsena, aku akan kembali mendapatkan cintanya dengan mudah. Termasuk semua miliknya, seluruh harta Atmaja akan pindah ke tangan kita.
Devan menarik nafasnya dalam, memikirkan cara apa yang akan ia tempuh. Akhirnya sebuah rencana licik muncul dikepalanya.
Devan segera menelepon Si Gondrong, penjahat kelas kakap. Menjelaskan panjang lebar tentang misi yang harus ia kerjakan. Apalagi Devan menyebut angka sangat besar sebagai imbalannya.
Tanpa mengulur waktu gondrong segera menerima tawaran menggiurkan itu. Ia menghubungi kawan-kawannya. Sangat jarang ada pekerjaan mudah dengan imbalan fantastis seperti hari ini. menangkap seorang wanita dalam keadaan hidup-hidup.
Hingga gondrong dan kawan kawan melakukan satu hari pengintaian, Akhirnya kesempatan emas di dapat saat Andini turun dari ojol sendirian.
ia sedang berada di jalan yang lumayan padat kendaraan, Andini menoleh ke kanan dan kiri sebelum kembali melangkahkan kaki. Terlihat ingin menyebrang melalui zebra cross. Namun ketiga pria itu segera membekap mulut Andini tanpa memberi kesempatan berteriak, tubuh Andini lunglai seketika.
******
__ADS_1
Usai makan dan minum Andini kembali di ikat dengan kuat.
"Awas kalau kabur, akan gue pastikan siksaan Lo akan lebih berat dari semua ini. "
Andini berusaha bersikap seperti orang lemah, memperlihatkan sisi takut dengan sebuah gertakan, dia memilih diam dan memelas seperti orang yang terlihat pasrah. Membuat pria-pria itu percaya wanita selemah Andini tak akan mungkin bisa kabur darinya.
Andini yang merasa lebih bertenaga, sekarang sedang pura pura tidur, penjaga itu percaya kalau Andini sudah tertidur karena kekenyangan, membuat penjagaan mereka juga lengah.
Ketiga pria itu tidur lelap, Andini segera beraksi, ia berusaha menarik ikatan yang sudah dilonggarkan tadi menggunakan giginya.
Sret! Satu ikatan di tangan kiri Andini berhasil terlepas dengan gigi Andini. Rencananya berjalan mulus. Andini berhasil membuka semua ikatan.
Dengan pelan-pelan dan hati-hati Andini berjalan keluar bangunan tua, Andini berhasil melewati mereka berdua.
Sampai di halaman, Andini melihat pagarnya sangat tinggi dan diujung pagar dilindungi oleh pecahan kaca, dan gerbangnya telah terkunci dengan gembok besar.
Andini tetap berusaha memanjat pagar itu dengan sangat hati-hati. Sudah berusaha agar kaca itu tak menyentuh tubuhnya. Namun, usaha Andini gagal, kakinya kini berdarah dan lengannya tergores saat ia meloncat turun. Darah yang keluar dari goresan kaca masih bisa diabaikan.
Andini segera berlari dengan sekuat tenaga, berusaha mencari manusia lain yang mungkin bisa menolongnya di pulau menakutkan itu.
Andini tak menemui siapapun, ia terus berlari menjauh sekuat tenaga yang ia punya, hingga ia sampai di atas bukit. Andini berharap saat ada helicopter lewat diatasnya dia akan berteriak meminta tolong.
Andini melepas jas putihnya, lalu mengikatkan pada batang kayu kering yang panjang Andini menggunakan jas itu untuk bendera isyarat kalau dirinya butuh bantuan.
Andini menemukan ramuan obat yang dicari. Ia segera menumbuknya diatas batu, segera membalurkan pada luka panjang hasil geresan di lengan dan kakinya. Darah berhasil berhenti. Andini segera mengikat kakinya dengan sapu tangan yang di temukan di sakunya. untuk lengannya Andini memilih mengabaikan, karena tak terlalu dalam.
Andini duduk dibawah batang pohon, diantara akar pohon besar yang menyembul membuat dirinya sejenak merasa aman. Andini beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya.
******
Terdengar suara helicopter sedang melintasi puncak bukit. Andini segera beranjak dari duduknya dan melambaikan bendera yang sudah ia buat dari jasnya tadi.
Helicopter mengetahui keberadaannya, Andini merasa bantuan telah datang. Ada perasaan lega terasa di rongga dadanya.
Perasaan lega itu kini sirna, setelah mengetahui makluk yang turun adalah sepasang kakak adik yang mengincar dirinya.
Andini kembali dilanda panik, ia segera berlari. Namun kondisinya yang terluka membuat lari Andini seperti semut kecil di hadapan Devan.
Andini berhasil diraih kembali oleh lengan kekar yang pernah mencoba menodainya.
"Lepaskan aku, kenapa kalian keji sekali denganku?" Andini berusaha bersuara walaupun terasa tercekat di tenggorokan.
Devan tersenyum Devil. " Kami keji, tidak Andini, justru aku datang akan membuat sebuah penawaran yang menarik, aku ingin membahagiakanmu dengan menjadi istriku, dan biarkan Arsena menjadi suami adikku yang cantik itu" kata Devan sambil menunjuk keberadaan Lili yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, kalian memang tidak waras, kenapa kalian berfikir bisa memaksakan cinta seperti itu."
"Andini ! Jaga bicaramu. Jangan pernah mengajari aku soal mencintai. "Lili menampar pipi Andini sekuat tenaga, pipi Andini seketika memerah. Andini jatuh tersungkur hingga mencium rumput hijau.
Andini memegangi pipinya yang terasa panas, Lili berjongkok dan kembali ingin menampar Andini, namun kali ini tamparan Lili berhasil ditepis oleh Andini.
"Berani, kau." Lili makin geram dengan Andini, beraninya terang-terangan melawan meski sedang tersudut sekalipun.
"Lili, cukup! Semakin kau menyakitinya. Arsena akan semakin menjauhi dirimu, dia tak suka wanita kasar seperti itu." Cegah Devan.
"Aku punya cara lain, dan bisa dipastikan Arsena akan jijik menyentuh tubuh istrinya." Dewan membisikkan rencana yang menurutnya briliant di telinga Lili.
"Kau berdua binatang, apa yang akan kau lakukan?" Andini tak mendengar percakapan kakak adik itu, firasatnya dia akan berbuat amat buruk untuk dirinya.
Andini kembali berlari dengan kaki sedikit pincang. tangannya memegangi lengan satunya berharap sakitnya akan sedikit reda.
Sungguh malang, ketiga pria yang tadi tertidur pulas sudah mengepung dari depan.
"Nona manis mau lari kemana? Sudahlah Nona, menyerah saja. Tawaran tuan kami tidaklah buruk. Kau cukup menjadi istrinya saja."
"Lepaskan saya, aku mohon. Jika kau bersedia, aku berjanji tak akan melaporkan kalian ke polisi." Mohon Andini dengan lelehan Air mata.
"Ha ... ha ... ha ... Kami tidak takut dengan polisi Nona, tahanan sudah menjadi rumah kami." Kata pria-pria itu dengan wajah mengejek.
Tunggu apa lagi, cepat pindahkan Andini ke kastil. Aku tak sabar melanjutkan rencana cemerlang kakakku." Perintah Lili dengan senyum di wajahnya.
Dengan segenap tenaga, Andini mencoba meronta. Mereka kuwalahan dan Akhirnya Devan menyuntikkan racun tulang ke tubuh Andini. Andini seketika lemas. Ia tak lagi memiliki kekuatan untuk memberontak, hanya Air mata yang tak pernah surut dari kedua matanya. Andini bisa melihat semua perlakuan keji mereka. Namun, tak bisa melawan lagi. Andini kini pasrah dengan kehendak Tuhan.
Mereka semua naik halicopter menuju kastil tua, hanya sekitar 20 menit keberadaan kastil sudah terlihat.
Sampai di kastil, mereka semua turun dengan cepat. Andini di gendong oleh Devan di pundaknya, tiga pria menjadi pengawal dibelakangnya.
Andini segera di bawa masuk, tangan dan kakinya di ikat di sebuah ranjang besar dengan seprei warna putih. Andini hanya bisa meneteskan air matanya.
Derdo'a adalah kekuatan terbesarnya saat ini. Berharap ada sebuah keajaiban, Arsena bisa menemukan dirinya dalam keadaan belum mati.
*Happy Reading.
*Sahabat tercinta jangan lupa tekan (Vote) biar karya ini bisa terus dilanjutkan di sini. Terima kasih
__ADS_1