
Malam semakin larut. Mansion telah sepi. Arini di kamarnya masih belum tidur. Nathan masih belum puas bertemu sebentar tadi, dia masih ingin melihat Arini melalui benda pipih miliknya.
Davit malam ini tak bisa tidur, dia begitu gelisah dengan pertemuan Arini dan Nathan. Davit takut Arini akan menyukai pria yang baru kembali pada kehidupannya itu.
Davit mengurut keningnya yang mulai pusing. Sebelum kantuk semakin menyerang lebih dalam lagi, Davit meraih handponenya yang menancap pada kabel charger.
Davit mencoba menghubungi Sang Nona yang menurut pemikirannya pasti belum tidur. Karena lampu di kamarnya masih menyala. Davit bisa tahu dari jendela kaca yang masih terlihat terang.
(Maaf nomor yang anda hubungi sedang dalam panggilan lain) Operator yang menjawabnya.
"Pasti Nona sedang ditelepon oleh Nathan, keterlaluan sekali pria itu. Padahal Nona Arini seharusnya sudah tidur," geram Davit.
Davit yang kesal membanting ponselnya di sofa, tadi rencananya ingin membanting dilantai, tapi dia berfikir realistis. Jika ponselnya pecah atau rusak bagaimana dia akan menghubungi Arini besok. belum lagi Arsena.
"Nona, tadinya aku berfikir akan rela kalau anda bersama pria yang lebih mapan, tampan dariku, tapi kenyataannya aku tak bisa, aku cemburu, aku sudah jatuh cinta, rupanya aku benar-benar cinta padamu, Nona," lirih Davit sambil berjalan mondar mandir di ruang tamu.
Davit duduk sebentar, meneguk air minum di depannya hingga tandas. Akhirnya dia menemukan sebuah cara untuk menghentikan Nathan mendekati Arini.
Davit segera berjalan keluar mes, menghampiri jendela kamar Arini. Mengetuk daun jendela dengan pelan-pelan. " Non, Non buka sebentar jendelanya."
Arini yang duduk bersila diatas ranjang,memeluk boneka masih asyik telepon dengan Nathan, dia segera menghentikan obrolannya ketika telinga yang satunya mendengar orang memanggil dengan suara pelan dan terus mengetuk jendela.
Siapa, sih? Kenapa ketuk ketuk jendela malam malam.
"Siapa?!" Arini turun sambil mendekati jendela. Mendekatkan telinganya lebih dekat, memastikan kalau dirinya tak salah dengar.
"Ini aku, Davit, Nona."
Mengetahui Davit yang mengetuk jendela, Arini bergegas membukanya. Pria itu sudah berdiri di depan jendela yang dilindungi oleh besi teralis, sambil mebawa payung di salah satu tangannya.
" Apa yang kakak lakukan? Kakak ngapain? nggak takut digigit ular?" Arini berkata demikian karena di bawah jendela itu ada taman bunga dengan daun yang lebat.
"Nona, aku tidak takut digigit apapun. Ular pasti akan lagi terbirit birit jika ada aku."
Kak Davit bicara apa? Seperti seorang pawang ular saja. Kalau kepergok dia pasti akan menggigit juga."
Hallo!
Hallo!
Pria diseberang sana terlihat kesal.
Clik! panggilan diakhiri oleh Nathan. Nathan geram dengan Davit yang menurut pendengarannya telah berani mengunjungi Arini lewat jendela.
"Tenang Nona aku kesini cuma sebentar. Aku cuma pengen ...." Davit menggantung kata katanya. Apa iya dia harus bilang kalau pengen mengganggu obrolan dengan Nathan.
" Pengen apa, Kak?" Arini mendekati jendela, tangannya menggenggam teralis yang saat ini menjadi pemisah dirinya dan Davit.
"Pengen Nona cepat tidur, biar besok pagi nggak telat kalau mau ngampus. Ini hampir tengah malam lho." Davit memperlihatkan penunjuk waktu di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kak Davit tau dari mana Arini belum tidur." Arini belum puas bertanya. Dia malah senang Davit perhatian.
"Sudahlah, Nona. Sekarang tidurlah. Nggak usah teleponan sampai malam ya? Nanti kantung mata Nona hitam. Mau cepat tua?" Davit ikut memegang teralis besi dengan satu tangannya. Tangan satunya memegangi payung.
"Iya, siap Boss." Arini kembali tersenyum menggemaskan.
"Nona, kau selain cantik juga lucu."
"Benarkah menurut Kakak aku cantik?." Arini makin bahagia.
" Tentu aku tak berbohong. Nona sangat cantik." Imbuh Davit.
Davit mengulurkan tangannya melalui sela sela teralis, ingin menyentuh pipi Arini.
Arini seolah bisa membaca keinginan Davit. dia memajukan tubuhnya ingin merasakan sentuhan lembut jemari Davit.
Tangan kekar Davit menyentuhnya penuh cinta, Arini memejamkan mata, menggenggam tangan Davit agar lebih lama merasakan sentuhannya, gadis itu tak mau Davit melepaskan begitu cepat. "Kak ... Tinggallah sebentar lagi," lirih Arini.
"Tidurlah, sekarang sudah larut, Masih ada esok yang akan mempertemukan kita lagi," ujar Davit mohon pamit.
Arini mengangguk. Sebenarnya dia ingin Davit menemaninya sebentar lagi, tapi Davit tentu tak akan setuju. Pria itu begitu khawatir akan kesehatannya" Baiklah aku akan tidur cepat, Kak Davit juga ya."
Dibalas anggukan oleh Davit. Arini menutup jendela beserta tirai nya, setelah bayangan Davit kembali pulang. Arini sangat bahagia diperhatikan sedemikian rupa oleh Davit. Setidaknya dia tahu kalau Davit perhatian.
Arini merebahkan diri di kasur, bibirnya terus saja tersenyum simpul, netranya menatap pada langit langit kamar. 'Kak Davit selamat malam,' batinnya lalu memeluk guling panjang dan memiringkan tubuhnya.
Esok hari
"Selamat pagi Tuan," sapa Davit pada Arsena.
" Pagi," jawabnya singkat.
Davit sudah tau alasannya kenapa Arsena menjadi pendiam. Semenjak Andini melahirkan dia puasa sendirian. Sedangkan Miko dan Mert dia nampak bahagia selalu. Rambut mereka basah setiap pagi menandakan malam mereka penuh kehangatan. Sedangkan Arsena tak bisa merasakan kehangatan itu, Andini terus menolak karena alasan belum genap enampuluh hari.
" Vit kita berangkat sekarang!" Perintah Arsena.
" Baik tuan ...." Davit membukakan pintu untuk Arsena dan menutupnya kembali. Pria itu mengedarkan pandangannya ke halaman Mansion. Namun Davit tak menemukan sosok menggemaskan yang belakangan ini telah mengacaukan pikirannya.
"Davit, cepat sedikit, aku bisa telat. Aku ada janji sama clien pagi sekali. Jadi aku ingin kita sampai sebelum jam kantor mulai," ujar Arsena mengangkat sedikit lengan kemejanya mengamati Arloji mewah yang tersemat di pergelangan tangannya.
"Tuan, apa Nona Arini tidak ke kampus bersama kita?"
"Makhluk lelet itu yang kamu maksud. Kita tinggalkan saja. Lama lama makin malas tu anak, bangun siang melulu," gerutu Arsena.
'Nona kenapa bisa terlambat juga sih, semalam kan sudah aku ingetin agar tidur cepat.'
Davit dengan langkah berat menuju kemudi. Pagi yang diharapkan tak seindah impiannya.
Davit akhirnya mengantar Arsena ke kantor tanpa Arini ada di sampingnya. Sampai di kantor Arsena, buru-buru keluar mobil. Davit menenteng tas kerjanya dan mengekor di belakang Arsena.
__ADS_1
Davit menyempatkan diri bermain handpone, mengetik satu pesan untuk Arini.
"Nona, apa kau sudah bangun."
" Ini baru bangun, Kak Davit tolong kembali pulang, jemput aku."
" Siap Nona,"
" Agak siang nggak papa, Dosen jam pertama dan kedua berhalangan hadir."
"Oke,Nona."
"Nona"
"Ya."
" Tidak jadi, Selamat mandi dan berdandan, aku segera menjemput," sambil senyum senyum sendiri baca pesan singkat dari Arini.
"Davit!" panggil Arsena
"Iya Tuan." Davit terkejut, hingga handpone ditangannya hampir terjatuh.
" Kenapa kau senyum senyum sendiri, belajar gila ya?"
"Tuan, kaya nggak pernah muda aja."
"Muda pernah, tapi gila jangan sampe." ujar Arsena dengan ketus. Saat Arsena lagi badmood ternyata cetusnya memang hampir sama dengan Arini.
Arsena dan Davit sudah sampai di ruang kerja Arsena, Davit segera meletakkan tas kerja Arsena di meja, tepat di depan tempat duduknya.
Setelah tugas pagi ini selesai Davit segera izin keluar.
"Tuan, Nona Arini meminta untuk dijemput."
" Iya, silahkan." Arsena mengizinkan Davit pergi dengan isyarat mengangkat satu tangannya.
Davit kembali meluncur menuju mansion, ternyata Arini sudah menunggunya dengan baju rapi layaknya anak kuliahan. Senyumnya mengembang kala melihat Davit datang.
Tanpa menunggu lama Arini segera menghampiri Davit dan masuk mobil tanpa menunggu Davit turun.
Kak aku pengen kita jalan jalan sebentar sebelum mata kuliah dimulai.
"Kemana?" Davit menoleh sesaat. Sebelum kembali menyalakan mesin mobilnya.
" Pokoknya ke suatu tempat yang akan membuat kita berdua bahagia. Dan aku mau kak Davit akan mengingat hari ini menjadi hari yang sangat special," ucap Arini dengan mata berbinar binar. Terlihat sekali dia sangat bahagia.
*Happy Reading
* Teman teman, bagi hadiah dan vote nya juga ya.
__ADS_1