
"Nona Andini mari aku antar ke kamar, itupun jika aku diizinkan masuk, "ujar Vanes, prihatin dengan kondisi Andini. Dia juga meminjamkan bolero yang sedang ia kenakan. Vanes melepasnya dari tubuhnya, ia gunakan untuk menutup punggung Andini yang terekpose karena bajunya robek.
"Maaf." Andini menatap dua netra Vanes lalu menggenggam jemarinya.
"Iya, nggak apa apa aku tahu. Mungkin aku yang terlalu berharap memiliki teman seperti anda, Nona." Vanes terlihat kecewa. Ucapannya baru saja membuat Andini tercengang. Menurut Andini Vanes terlalu memaksakan kehendak. Andini semakin yakin dengan kecurigaannya. Kalau Vanes itu Lili. jika Vanes masuk ke kamarnua Andini khawatir dia akan membuat kekacauan untuk rumah tangganya.
"Bukan seperti itu, tapi sudah sama-sama berkeluarga, kita bersahabat dan welcome tapi pasangan kita? Kita nggak tau."
Anda benar Nona, maaf jika aku terkesan emosional. Aku tipe wanita yang suka bersahabat." Sampai di depan pintu masuk kamar, Andini berhenti. Memberikan kembali bolero milik Vanes. "Terima kasih," ucapnya kemudian.
"Terima kasih, Anda sekali. Kalau nggak salah aku juga ada bolero di dalam." Andini menampilkan senyumnya. Vanes juga membalas senyum Andini.
"Aku sangat suka bertemam dengan siapapun. Tapi tidak dengan Arsena, dia sangat pemilih, sulit untuk percaya pada seseorang, apalagi orang itu pernah menyakiti hatinya. apakah lelaki memang seperti itu? suamimu Andrew sama seperti Arsena? Ngomong ngomong dimana dia kok tumben anda berkeliaran sendirian?" tanya Andini mulai menjadi detektif.
"Oh, Andrew, mendadak pulang ke kampung, ibunya sedang kurang enak badan. Dan acara nanti malam terpaksa harus diundur hingga beberapa hari, Dan aku tadi kebetulan cari angin segar saja, tidak taunya kota ketemu lagi," ujar Vanes menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Andini yang tinggal selangkah masuk ke pintu.
Andini mengangguk. "Sampai ketemu lagi, aku nanti juga akan jalan-jalan keliling hotel ini, jika keadaanku sudah membaik."
"ya, ajak suamimu juga. pasti akan jauh menyenangkan.
*****
Arsena, Ken, Gondrong dan Botak sudah berada di jalan menuju bangunan tua di tengah hutan, di samping rumah terdapat jurang yang lumayan dalam. Menurut laporan Ken, tempat itu sudah dijadikan persembunyian musuh besar Arsena.
Arsena menjadi ragu, jika memang mereka bersembunyi di Vila terpencil ini, kenapa tak ada jejak kaki atau sepatu, sedangkan jalan menuju rumah tua itu hanya jalan setapak. Mobil dan kendaraan tak akan bisa menjangkau.
Tidak, ini pasti ada yang salah, jika mereka seringkali keluar, pasti selain jejak kaki, bangunan tua itu terlihat sepi, tak menandakan itu sebuah sarang penjahat.
"Ken kau yakin?" Arsena mengernyitkan dahinya. Dia merasa ada yang janggal.
"Iya Tuan. Aku yakin."
"Ken, aku mau kau periksa tempat itu bersama teman teman, aku akan menunggu disini." perintah Arsena.
Tiba tiba wajah Ken gelisah, semakin menambah kecurigaan Arsena. "Tuan ...."
"Ken, sejak kapan kau menjadi Ken yang membantah seperti ini? Jika aku boleh bilang, aku mulai tak tertarik lagi dengan kinerja burukmu. Kau sudah membuat aku kecewa. pertama kau bekerja padaku, kau menuai kegagalan menjaga Lili dan Dev di dalam penjara kastil. Kau tau, nyawa istri dan anak anakku dalam bahaya. Jika kau tak mampu lagi urus surat pengunduran diri, sekarang juga," gertak Arsena. Namun Arsena tak bisa memecat Ken begitu saja, pria itu memiliki undang undang yang melindungi keberadaannya di perusahaan.
"Tidak Tuan, aku akan bekerja lebih baik lagi." Dev menunduk, tak berani sedikitpun mendongak, menatap mata elang Arsena yang sudah siap untuk memangsanya.
Ken pergi dengan langkah ringan, berusaha terlihat bekerja semaksimal mungkin di depan Arsena.
Arsena memilih kembali dan menunggu di mobil. Senyum smirk terlihat dibibirnya. "Mungkin Arsena Atmaja terlihat pria yang hanya berkutat dengan laptop dan bolpoin di ruang ber AC, terlalu bodoh untuk bisa membaca kejanggalan yang ada. Tapi sayang sekali, dia juga cerdik, mengalahkan dengan mudah adalah penghinaan untuk keluarga Atmaja.
*****
Usai mengunci pintu dari dalam, Andini segera menghubungi Arsena menjelaskan semua yang terjadi dengan dirinya, saat itu Arsena baru tahu kalau sebenarnya dia hanya berada dalam jebakan. Musuh memang semakin dekat.
"Ars, aku ingin mengatakan kalau ada pengkhianat bersamamu, berhati hatilah, Dev mengatakan seperti itu tadi."
__ADS_1
"Dev? Sayang, apa kamu betemu Dev?"
"Iya Ars, Dev sudah kembali."
"Apa dia menyakitimu."Arsena disana terdengar panik.
Andini bingung jika ia jujur Arsena pasti akan gegabah, sekarang saja saat meneleponnya Andini berusaha tenang, dia tak ingin terlihat ketakutan.
Mendengar berita mengejutkan dari istrinya, Arsena bergegas pergi meninggalkan Ken dan kawan kawan. dia mengemudi mobil bagaikan kesetanan, untung jalan yang ia lalui sangat sepi, hanya sesekali bertemu dengan petani menaiki sepeda sambil membawa rumput untuk ternaknya.
Satu jam setengah jarak tempuh yang dilalui dari Villa sampai Hotel Rosella. Arsena sangat khawatir terjadi apa apa dengan Andini. Pasalnya dia juga baru tahu kalau Dev ternyata selain buronan, dia juga pembunuh, Dev pernah membunuh pacarnya ketika dia tahu kenyataan kekasihnya selingkuh. Mungkin itu juga alasan Dev cenderung seiko terhadap wanita.
Andini meringkuk diatas ranjang sambil memeluk bantal, dia takut Dev akan mati. Bagaimana kalau Dev benar benar mati dan dia akan meringkuk di penjara.
-
-
Telepon Andini berdering, Andini terjengkit kaget, mungkin kejadian yang baru saja dialami tadi membuat ia mengalami depresi.
"Ha-hallo!"
"Sayang aku lupa nomor paswortnya, tolong bukakakan pintunya."
"Ars, kau baik baik saja," Andini segera berlari menuju pintu, dia bersyukur yang dikatakan Dev tidak terjadi. Dengan tergesa dia memencet nomor kode pintu. Saking gugupnya hingga berulang kali salah memasukkan kode paswortnya.
"Ars, kau baik baik saja? Tidak ada bom yang meledak seperti kata Dev? Dia pasti berbohong? Kau tak apa apa kan? Aku ingin lihat dadamu apa kau terluka. Tanganmu? Syukurlah tak ada luka." Andini memeriksa tubuh Arsena yang tak ada goresan luka walau seujung kuku. Tangannya halus, dadanya juga bersih, wajahnya tetap tampan.
"Sayang, lihat aku kenapa kau menunduk?" Giliran Arsena yang memeriksa dirinya, Andini memilih menunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Andini!!" Raut wajah Arsena berubah seketika, matanya melotot berbentuk lingkaran penuh, seakan hendak melompat keluar.
Ars, aku baik baik saja, aku bersyukur kau juga baik baik saja.
"Tidak ada yang baik Andini."
Ars, kamu baru pulang, sebaiknya cuci dulu tangan dan kakimu, aku akan menjelaskan setelah ini.
Arsena menggelengkan kepala. Tangannya mengepal keras. Apalagi dia melihat baju yang dia kenakan terdapat beberapa robekan.
Andini menarik Arsena masuk, segera menuangkan air ke dalam gelas, berharap Arsena akan segera meminum dan lebih tenang.
Dugaan Andini salah Arsena terlalu marah, segelas air tak bisa meredam amarahnya.
"Ars, minumlah."
"Dua kali Andini, dua kali pria itu berani menyentuh mu, kali ini aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Aku tak percaya siapapun lagi. Akan aku buat dia menderita sebelum kematiannya."
"Ars!" Panggil Andini lirih, ketika Arsena dikuasai api kemarahan yang meluap, Andini berusaha menjadi air yang mampu memadamkan bara.
__ADS_1
" Iya?" Arsena menarik dagu Andini, melihat di sudut bibirnya ada sedikit luka yang mengeluarkan darah. Pipinya kanan kiri terdapat memar, belum lagi pergelangan tangan dan lehernya. Arsena merasakan perih di ulu hatinya. Andini pasti sangat menderita dengan semua yang dilakukan Dev baru saja.
"Ars, aku sudah membalas Dev, aku menusuknya dengan gunting yang ada di nakas, bagaimana jika dia mati? aku pasti akan disebut pembunuh. Aku akan dipenjara, bagaimana dengan kamu dan anak anak."
" Jadi kamu melawan Dev?"
"iya, aku sudah melukainya tepat di perutnya, jika mengenai ginjalnya, sudah dipastikan Dev akan meninggal. Ars aku akan disebut pembunuh."
" Tenanglah sayang, tenang. Aku pastikan tak akan ada yang berani membawa istriku Dev sudah menerima ganjarannya, justru jika dia hidup, dia akan mendapat hukuman yang berat karena sudah berani melakukan perbuatan nista, pada istri orang. Kamu tahu?"
"Ya." Andini mengangguk.
" Makanya jangan takut. Ada aku yang akan melindungi dirimu, aku akan membelamu, melebihi nyawaku." Arsena memeluk Andini erat, mengecup keningnya sebentar.
Dengan tiba tiba Arsena mengangkat Andini ke sofa. Tentu Andini yang tak tahu rencana Arsena menjerit kaget.
" Ars turunkan! Jangan kebiasaan deh." Andini memukul lengan Arsena pelan.
"Diam disini, Nona. Jangan kemana mana." Usai menurunkan Andini di sofa, Arsena pergi meninggalkan Andini seorang diri, dia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil sesuatu.
Arsena melampiaskan amarahnya di kamar mandi, tanpa diketahui Andini. Arsena mengepalkan tangannya lalu memukulkan ke dinding dengan kuat.
"Ars bodoh, bodoh, kenapa kau begitu bodoh, kenapa kau biarkan wanita mu terluka. bukankah kau sudah berjanji akan menjadi orang yang akan selalu melindunginya. Kau sudah mengambil dia dari pria yang sangat mencintainya, dan dicintai. Dan apa yang kamu lakukan sekarang? kamu tak berguna Ars, "
Arsena lama sekali berada di kamar mandi berbicara sendiri untuk melampiaskan kebodohannya. Sedangkan Andini merasa aneh, jika Arsena mandi, kenapa tak ada suara air, jika sedang buang puff juga tak akan selama itu.
"Ars!!" Panggil Andini dari luar pintu.
"Iya Sayang, ada apa?" tanya Arsena.
"Masih lama!?" Tanya Andini lagi.
"Nggak sebentar lagi." Arsena segera membersihkan tangannya yang terluka. Buku buku jarinya terasa amat perih ketika tersentuh oleh air yang dingin.
" Suara apa tadi?" Tanya Andini lagi.
" Nggak Sayang, tenanglah di sofa, aku akan segera keluar."
Andini menurut, dia akhirnya duduk kembali di sofa, tempat saat Arsena meninggalkannya tadi.
Setelah beberapa menit, Arsena segera keluar dengan membawa handuk kecil dan air hangat di dalam ember, senyum hangat Arsena sudah menyambut Andini.
" Dokter Arsena akan merawat pasien Andini. Anda pasien, harus menurut padaku, Nona." Arsena sedang berkelakar. Membuat bibir Andini kembali menampilkan segaris senyum.
"Tuan Dokter, apa kau yakin bisa mengobati lukaku ini," tanya Andini yang ikut terlibat dalam permainan dokter-dokteran
" Tentu Nona, aku akan mengobatimu dengan sangat baik, dan kau harus berjanji akan memberiku imbalan yang besar."
"Tuan Dokter, aku tak memiliki imbalan yang besar, bagaimana kalau imbalannya aku beri kecupan di pipimu saja?"
__ADS_1
"Baiklah Nona. sekarang diamlah, aku akan mulai memeriksanya." Arsena menyipitkan satu matanya sambil tersenyum genit.
*happy reading.