Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 111. Bumbu Cinta.


__ADS_3

Miko dan Dara mohon pamit pada keluarga. Mereka memeluk Oma dan lainnya yang berkumpul di ruang keluarga saat itu. Mita terlihat amat bahagia, Rena yang selalu melihat semua manusia dari sisi buruknya hanya tersenyum palsu.


"Miko berangkat sekarang Oma, pesawatnya berangkat satu jam lagi." Miko berkata sambil melihat arloji yang melingkar di tangannya. Meraih jas dari tangan Bi Um dengan tergesa-gesa.


"Hati-hati Miko," kata Oma sambil memukul pelan pundak cucu keduanya dengan rasa sayang.


"Jangan lama-lama disana, Oma akan kangen. Segera kabari kami kalau sudah sampai."


"Iya Oma, tolong kabarkan pada Mert, selama aku pergi honeymoon, aku menyerahkan tanggung jawab perusahaan di tangannya."


"Akan Oma sampaikan."Miko melambaikan tangan. Sementara Oma dan keluarga ikut mengantar sampai halaman.


"Rupanya Mert benar-benar serius ingin tinggal disini. Buktinya dia bekerja dengan baik di kantor Miko. Ars, apa kamu keberatan? Tinggal dengan sepupu kamu di rumah yang besar ini?" Ujar Oma pada Arsena.


"Tentu tidak Oma, aku senang jika Mert mau tinggal disini," jawab Arsena sambil menatap mobil Miko yang bergerak menjauh dari kediaman Arsena Atmaja.


"Oh, iya Oma. Aku mau buatkan nasi goreng buat Andini, dari tanganku sendiri, apa Oma bisa bantu meracik bumbunya." Tanya Arsena saat dirinya dan Oma kembali masuk ke dalam.


"Wah Oma salut sama kamu Ars, seumur hidup nggak pernah pegang peralatan dapur dan hari ini kamu mau masak buat istrimu." Oma memandang Arsena takjub.


"Iya, Oma. Selama Andini hamil aku ingin jadi orang paling istimewa untuknya dan calon anakku. Dia pasti akan sedih jika aku tak peduli dengan kondisinya, sedangkan dirahimnya ada dua anakku yang membuatnya lemah. Andai bisa, aku rela menggantikan posisinya mual dan muntah setiap saat." Terang Arsena saat berjalan menggandeng Oma ke dapur.


"Itu nggak mungkin Ars, kehamilan itu, yang merasakan hanya wanita, jadi gejalanya ya dialami si calon ibu."


"Kadang aku sudah tak sabar melihat dia lahir ke dunia ini, Oma. Bisa memeluknya dan mencium wajahnya membayangkan dia akan menangis saat diapersnya basah, dan aku menggantinya. Seru ya Oma."


"Kamu memang hebat Ars, Oma suka cara kamu memperlakukan istri dan calon anakmu, ini namanya pria sejati, tapi ingat saat anakmu lahir, kamu akan lelah dan kurang tidur." Jelas wanita tua yang diwajahnya masih menyisakan tanda-tanda kecantikan dimasa mudanya.


Oma terharu dengan pengakuan cucunya. Awalnya Oma tak yakin Arsena bisa melupakan wanita yang dulu sangat dicintai lebih dari segalanya. Tapi nyatanya sekarang Andini adalah sang pemilik hati cucu kesayangannya.


Arsena mulai mengambil beberapa bumbu dapur dan mengupasnya, dia tak menggunakan bumbu instan, menurutnya racikan sendiri akan lebih alami dan mantap.


Mata Arsena perih saat mengupas bawang merah. "Oma perih banget."


Oma melihatnya hanya tertawa terkekeh. Ya jelas perih, itu bawang merah. Sudahlah biar Bibi saja yang melakukannya, kalau kamu yang bikin nanti rasanya nggak akan enak.


Bi Um yang sejak tadi sibuk mencuci piring, mendengar namanya disebut ia segera mendekati tuan mudanya. "Benar kata Oma, Tuan. Biar saya saja yang buatkan." Bi Um mendekat.


Arsena bersikeras menolak tawaran Bibi. "Tidak Bi, aku ingin buat sendiri, Bibi lanjutkan pekerjaan yang lain saja."


"Baiklah kalau tuan tak mau dibantu." Bi Um kini pergi dan membiarkan Arsena membuat nasi goreng sendiri. Oma disebelahnya hanya melihat saja ala chef yang sedang mengamati yuniornya .


Rena mengambil minum di kulkas, sekilas tatapan matanya tertuju pada putranya yang uprek di dapur.


"Tukang selingkuh saja dimanjain, Mama jadi ragu Ars, itu bayimu atau bukan." Kata Rena menghampiri Arsena.


Mendengar ucapan Mama Arsena yang sedang menumis bumbu segera mematikan kompor. Tubuhnya sekerika terasa kaku, seperti Ada aliran listrik yang menyengat.


"Maksud Mama apa? Bilang Andini selingkuh." Tanya Arsena.

__ADS_1


"Jadi dia tak bilang, oh iya dia mana berani bilang, pasti takut diceraikan oleh mu" Mama Rena mendekati Arsena memasang wajah kasian untuk putra semata wayangnya.


"Istri kamu kepergok Dara berduaan saja sama Miko di taman belakang. Jika adiknya saja cemburu dan menangis, pasti dia kepergok sedang melakukan Dosa. Ars, Andini ada main sama Miko dibelakang kamu." Rena menatap putranya dengan rasa iba.


"Oma jangan diam aja dong. Jelaskan pada Arsena kalau Dara tadi sudah memergoki Andini dan Miko berdua'an"


"Rena sudah cukup! Kamu jangan, pengaruhi Arsena. Lagian aku percaya kalau Andini tidak ngapa ngapain sama Miko," kata Oma menegaskan ucapannya.


"Oma, Oma, Andini dan Miko itu pernah punya masalalu yang indah, jadi sangat mungkin dong mereka masih memendam perasaan satu sama lain. Oma sibuk diluar negeri, Oma tak tahu masalahnya seperti apa." Rena mencoba menghasut Oma juga.


"Tapi aku tak buta Rena, Andini itu tau mana yang baik dan tidak, aku tak akan meragukan karakter dia, jadi dia tidak mungkin melakukan hal tercela itu, ini pasti salah paham."


"Ini ni Oma, kalau sudah suka sama orang, dimatanya selalu terlihat benar saja, Oma nggak mau terima kenyataan." Rena berkata lalu pergi sambil membawa teko dan gelas ke kamar


Arsena segera kembali ke kamar, meminta kejelasan dari Andini tentang tuduhan Mama.


Andini tak ada lagi di ranjang seperti tadi. Dia terlihat masih menangis di balkon sambil menatap ke arah jalanan mengamati mobil Miko yang semakin lama kian menjauh dan akhirnya hilang ditengah banyaknya rayap aspal.


"Sedang apa kamu disini?" Air muka Arsena sudah berubah, tak semanis biasa ucapan Rena sedikit banyak sudah mempengaruhi otaknya.


" Kecewa karena kekasihmu pergi bulan madu? Hingga kau selalu Mandang ke arah jalanan"


"Ars, apa yang kamu katakan?" Kekasih? Apa maksud kamu? Mana nasi gorengnya? Aku sudah mengunggu sejak tadi." Andini berjalan mendekati Arsena setelah mengusap air matanya.


Andini kecewa kenapa saat pergi honeymoon Dara bahkan tak pamit dengan dirinya. Kakak kandung yang mencintainya setulus hati sejak masih kecil.


Namun, yang dipikirkan Andini dan Arsena berbeda, lelaki itu mengira Andini masih mencintai Miko, dia berfikir Miko masih mengisi relung hati Andini yang paling dalam.


"Tentu pria mana yang tidak cemburu melihat istrinya selingkuh. Seisi rumah ini sudah tau, dan aku terlihat seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa"


"Selingkuh? Dengan siapa Ars?"


"Dengan siapa? Lelucon apa ini? Maling dimana mana itu nggak ada yang ngaku Ndin, sama kayak kamu, sudah ketahuan selingkuh masih saja pura-pura, atau jangan jangan anak itu ...."


"Cukup Ars, aku tak sanggup lagi mendengar tuduhan kamu, jangan teruskan kata katamu lagi, jika kau tak lagi percaya padaku, maka kau bisa cari kebenarannya. Banyak bicara hanya akan membuat penyesalanku nanti makin dalam." Andini berusaha tegar. Dia tau Arsena pasti dalam pengaruh orang lain. Andini ingin Arsena belajar untuk jadi diri sendiri dan tidak lagi gegabah.


"Jika terbukti aku selingkuh aku siap dengan konsekuensi yang kamu berikan. Aku tak mau suamiku terus berada dalam bayangan orang ketiga, yang selalu ikut campur dalam hubungan kita."


"Kemana Ndin?" Tanya Arsena, ketika Andini pergi dari hadapan Arsena.


"Aku ingin tenangkan diri, aku lagi malas seatap dengan pria pencemburu. Yang terlebih lagi percaya dengan omongan orang tanpa bukti."


"Lalu kenapa kau menangis, kau menangis untuk siapa?"


"Untuk diriku sendiri, aku menangisi suami yang tak pernah percaya dengan ketulusan istri."


Andini masuk kamar, Arsena mengejarnya. Arsena dengan cekatan lebih dulu mengambil tas yang akan di ambil Andini. Tangan Andini hanya mendapat angin kosong.


"Kembalikan tasku!"

__ADS_1


Tidak akan.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu kemana mana."


"Aku akan pergi,"


"Tidak akan ku izinkan."


" Biarkan aku pergi, dan kamu tetaplah dengan keyakinan untuk menuduhku." Andini akhirnya memaksa pergi tanpa membawa apa-apa ditangannya. Hanya ponsel yang ia masukkan di saku.


"Andini mau kemana!?" Arsena berteriak mengejar Andini. Namun Andini berjalan lebih cepat menuruni tangga. Andini juga tak percaya, dirinya bisa sangat kuat hari ini.


"Andini mau pergi dulu, Oma." Andini mencium tangan Oma dan keluar rumah.


"Tapi kamu menangis? Apa Arsena memarahi kamu sayang?" Oma mengejar Andini sampai taman.


"Tidak Oma, Andini mungkin yang salah, Andini akan menenangkan diri beberapa hari."


"Tapi kamu mau kemana, Ndin?"


"Oma tenang aja ya!"


"Jangan pergi Andini, Arsena pasti akan segera menyadari kesalahannya."


"Maaf Oma, Arsena butuh waktu untuk sendiri, begitu juga dengan Andini." Andini melepas genggaman tangan Oma. Wanita itu segera menghampiri ojol yang sudah stanby sejak dua menit yang lalu.


Hari ini Andini memutuskan untuk tinggal di kontrakannya yang dulu. Dia sudah bayar kontrakan itu selama setahun dan masa yang ditentukan belum habis. Sepertinya tinggal sementara di perumahan itu akan membuat Arsena menyadari kesalahannya.


Baru sampai di kontrakan, Oma sudah menelepon berulang kali. Sambil berjalan ke kamar mandi menahan mual , Andini mengangkat telepon dari Oma.


"Oma, maaf, Andini baru saja sampai."


"Tapi kamu baik- baik saja kan, Ndin?"


"Baik Oma, Andini enggak pergi jauh. Kita masih dekat Oma. Maaf, Andini membuat Oma khawatir."


"Gimana si kembar? Apa dia rewel"


" Dia baik-baik saja. Oma."


Andini menutup panggilannya setelah puas berbicara dengan oma, ia ingin segera istirahat


saja. Rasanya hati dan pikirannya sangat lelah.


Andini merebahkan diri di ranjang satu-satunya yang ada di kontrakan. Ranjang yang menjadi pertemuan cinta pertama mereka. Serta saksi bisu ketika Arsena meminta haknya pertama kali, mereguk manisnya surga dunia.


Bekas noda merah di seprei yang sengaja ia abadikan masih tercetak jelas.Kenangan indah itu kembali terlintas di benak Andini.


Arsena waktu itu masih dalam kondisi sadar, tetapi dalam pengaruh obat peran*sang. Mulai menyentuh setiap inci tubuh Andini dengan agresif.

__ADS_1


"Ars, sakit sekali rasanya. Tega kau bilang aku selingkuh, dan anak yang ku kandung ini bukan darah daging mu hiks hiks hiks."


*Happy reading.


__ADS_2