
Andini dan Arsena melihat Mark dan Anita dari jendela, yang menjadi pemisah antara ruang tamu dan halaman yang dijadikan tempat perjamuan tamu.
"Ah Mereka terlihat seperti ABG, ini sangat menyebalkan." Arsena mengepalkan tangannya dan memukulkan pada telapak yang satunya.
Andini tersenyum melihat suaminya yang konyol. "Tumben baik banget ingin menjodohkan orang, segitu besarkah ketakutan seorang Arsena atmaja pemilik perusahaan terbesar di kota ini."
"Sttt" arsena mengecup kilat bibir Andini saat dia melihat Mark berinisiatif mengajak Anita berdansa.
Di dekat air mancur ada beberapa wanita dan suaminya sedang berdansa Anita dan Mark bergabung. "Nah gitu dong gerak cepat." Arsena tersenyum lalu keluar sambil menggandeng lengan istri.
"Nona, ternyata yang Tuan Arsena katakan memang benar, anda sangat cantik."
"Arsena sering bilang tentangku pada anda," tanya Anita yang tak percaya kalau Arsena rupanya membicarakan dirinya.
"Dia hanya bilang kalau memiliki teman seorang wanita yang masih single, dan cantik." kata Mark jujur. Arsena sengaja berkata baik pada Anita demi membuat Mark tertarik.
Anita mengangguk, sambil terus menggerakkan tubuhnya lembut, sesuai musik romansa yang sedang mengalun merdu. Tangan Anita melingkar di tengkuk Mark, sedangkan Mark memeluk pinggang Anita.
"Anda sangat cantik, Nona."
"Anda pasti berbohong." Anita tersenyum.
Mark juga tersenyum. "Nona apakah aku bisa meminta nomor ponsel anda?"
"Boleh, aku hanya akan mengucapkan satu kali kau harus mengingatnya Dokter." Anita lalu mengucapkan nomor ponselnya yang memiliki angka cantik membuat Mark mengingat dengan mudah.
Mark mengucap ulang nomor ponsel yang diucapkan oleh Anita, tak ada satupun nomor yang keliru.
"Bagus, Tuan Mark anda mengingat dengan sangat baik."
Sebelum lupa Mark segera meraih ponsel yang ada di saku celana. Dia mencatat nomor Anita sebelum ingatannya mengabur.
Arsena melihat keakraban Anita dan Mark. Dia terus saja tersenyum melihat dua orang yang terlihat makin akrab sepanjang acara pesta itu.
"Nona apakah anda masih single?"
"Ya, aku masih single, hati ini seringkali jatuh cinta, sayangnya pada orang yang salah. Pria yang aku cintai sudah ada yang memiliki."
"Kita punya kisah yang sama, wanita yang kucintai sudah bersuami, dan tentu itu salah." Mark mengingat Andini saat membicarakan tentang wanita yang ada dihatinya. Dan itu adalah rahasia Mark.
Mark bertanya," oh iya anda diantar sopir?"
"Tidak aku mengemudi sendiri." Kata Anita.
Pupus harapan Mark yang ingin mengantarkan Anita. Raut kecewa terlihat di wajahnya.
Anita bisa melihat kekecewaan di hati Mark. Anita juga mulai merasa Mark ingin mendekati dirinya. Namun Anita berfikir. Rasa tak percaya diri mulai menghantui, apakah Mark bisa menerima wanita yang memiliki masa lalu kelam seperti dirinya.
__ADS_1
Acara pesta pun selesai, sebelum pulang Anita mencari keberadaan Meysa yang tidur di kamar bayi bersama anak-anak yang lainnya. Dia mendekati Meysa dan menciumnya berulang kali pada pipi gembilnya, tangannya pun tak luput dari kecupannya.
" Maafkan Mama Nak, Mama terlalu pengecut mengakui kalau kau anak kandung Mama, mama takut kamu akan malu menjadi anak mama yang tak memiliki suami. Bunda Zara dan Ayah Amert adalah orang tua yang sempurna buat kamu. Ayah Amert akan menyayangimu karena dia ayah biologis yang baik.
"Anita sudah larut malam, apa kamu nggak menginap saja?" Tanya Andini dan Zara yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Terima kasih Ndin, aku akan pulang saja. Pagi sekali aku ada pertemuan dengan klien."
Wanita itu segera meraih hand bag yang ada di dekatnya lalu berpamitan.
Zara dan Amert melambaikan tangan pada Anita hubungan mereka lebih baik karena adanya Meysa. Andini dan Arsena juga turut mengantarkan.
Tak lama setelah Anita pulang Mark juga pamit, rupanya penasaran Mark pada Anita makin menjadi. Pria itu sekarang sudah mengemudikan mobilnya di belakang Anita dengan jarak beberapa meter. Mark ingin tahu tempat tinggal wanita yang direkomendasikan Arsena untuk jadi kekasihnya itu.
Di Tengah jalan mobil Anita melambat, lalu berhenti setelah berhasil menepi. Mark masih ingin melihat apa yang akan dilakukan wanita itu dengan menjaga jarak mobilnya. Mark sengaja menepikan mobilnya agak jauh supaya Anita tak melihat keberadaannya.
Anita keluar dari mobil dan membuka bagian depan mobilnya. Mencoba memeriksa hal yang sama sekali tak diketahui seluk beluknya.
Dua pemuda tampan tiba-tiba datang dan menawarkan pertolongan pada Anita. Anita menerima tawaran dua pemuda itu dengan ramah, tanpa merasa curiga. Satu pemuda sibuk memeriksa bagian mesin dan aki. Sedangkan pemuda yang satu sibuk menelisik lekuk tubuh Anita yang menggoda.
"Nona ini sudah sangat larut, wanita secantik anda kenapa masih berkeliaran, apakah anda tak takut jika kucing-kucing jantan menggoda Anda." ujar salah satu pemuda sambil tersenyum mesum.
"Maaf, jika anda ingin membantu, lakukan saja, tapi jika ingin mengganggu saya mohon anda pergi dari sini."
"Nona, anda sangat galak, aku suka sekali gadis galak seperti anda." Pemuda itu berani menjawil dagu Anita.
"Jaga tangan anda, anda tak sopan, Tuan."Anita menepis tangan pemuda yang sejak tadi bersikap kurang ajar.
"Nona, jangan galak-galak, saya tahu wanita seperti anda pasti sedang kesepian, kalau nggak ... kenapa malam malam begini dandan cantik dan berkeliaran, iya nggak bro." ujar pria yang sejak tadi mengganggu, mempengaruhi kawannya.
"Yo'i ayolah Nona, kita bersenang senang, setelah itu aku berjanji akan membetulkan mobil anda ini, kalau rusak ringan begini tak perlu lah memanggil montir segala." Pria yang sejak tadi sibuk mengutak atik mobil Anita
"Pergi kalian!!" Anita mulai bengis.
Anita segera mendorong dua tubuh dempal yang mulai mengganggunya.
"Wooo hohooo, tenaganya kuat sekali bro, pasti dia akan sangat liar ketika kita ajak bercinta"
"Pergi, atau aku akan teriak, Tolooooong."
Anita berharap, pemilik mobil hitam bersembunyi di bawah bayangan pohon, yang berjarak dua puluh meter itu akan keluar menolong dirinya.
"Tolooooong!"
"Bagi Mark ini saat yang tepat untuk menolong Anita, firasatnya ternyata tak salah membuntuti dirinya tadi."
Dokter Mark akhirnya memilih turun dari mobil dan menutup pintu kasar, dengan langkah cepat segera menuju keberadaan Anita yang tengah dalam ketakutan.
__ADS_1
Mark menghajar dua pria itu hingga babak belur, walau dia sempat terkena pukulan beberapa kali. Pukulan dua preman itu tak ada artinya dengan bogem balasan yang diberikan Mark.
Kedua preman lari terbirit birit setelah terjerembab ke tanah bergantian.
Mark berkacak pinggang melihat dua preman itu menjauh dan bersembunyi di dalam lorong-lorong pertokoan.
Anita segera mendekati Mark dan berucap. "Terimakasih Tuan Mark."
"Sama-sama, wanita secantik dirimu tidak aman berkeliaran sendiri, apalagi ini hampir dinihari." Mark melihat Arlojinya, jarum jam menunjukkan waktu hampir pukul satu pagi.
"Ikutlah bersamaku, aku akan antar sampai apartment."
Dibalas anggukan oleh Anita. "Baiklah."
Anita menurut. Mark mengantar Anita lebih dulu ke apartemen. Siapa sangka apartemen Anita dan Mark ternyata satu gedung. Hanya saja Anita berada di puncak bangunan sedangkan Mark berada di lantai lima.
Mark berhenti si depan pintu masuk apartemen Anita, pria itu tak percaya Anita adalah penghuni bangunan termahal di gedung ini.
"Nona, tadinya aku ingin mengucapkan sesuatu, tapi melihat anda adalah wanita muda yang sukses, aku jadi ragu. alau anda menerima diriku."
"Apa maksud anda Tuan Mark." Anita membalikkan badan sambil tersenyum.
"Anda menempati penthouse di apartemen ini, anda pasti wanita dengan karir sukses, apa anda bersedia menerima laki-laki yang hanya bermodal cinta seperti saya ini?"
"Ini bukan saya yang beli, ini dibelikan ayah dari anak saya."
"Jadi anda sudah menikah?" Mark terkejut.
"Kami tidak menikah, dia sudah beristri, semua yang terjadi akibat dari kebodohan saya. Hehehe yang mungkin akan menjadi sebuah pertimbangan untuk laki laki yang akan meminang saya nantinya. Tapi yang jelas saya sudah jujur kalau saja adalah wanita yang sangat buruk dimasa lalu."
Mark hanya menganggukkan kepala tanpa berkomentar.
"Jika anda ingin melabuhkan hati pada saya, anda harus berpikir seribu kali, anda bisa menilai seperti apa saya. Wanita yang memiliki anak dari seorang pria yang bukan suaminya." Anita menceritakan yang sesungguhnya.
"Nona semua orang punya masa lalu, dan jika anda sudah tau itu salah, saya yakin anda tak akan mengulanginya lagi. Dan itu akan lebih baik, daripada tak pernah melakukan dan ingin mencobanya." Mark memberi pengertian.
"Nona, bisakah mulai sekarang kita mencoba hubungan yang lebih serius, dan kita sama-sama membuat masa lalu sebagai sebuah pelajaran? Dan itu akan membuat kita akan melangkah dengan hati hati."
"Tuan Mark, anda pertimbangkan lagi niat Anda."
"Tidak Nona, saya yakin dengan hati saya. Kalau saya suka dengan Anda. Apa salahnya kita mencoba saling melengkapi di usia yang sudah pantas membina mahligai ini."
Anita mengangguk. "Sudah malam. Anda bisa pulang. Besok kita akan bertemu lagi."
"Terima kasih kesempatannya, Nona."
"Sama sama Dokter Mark."
__ADS_1