
Lili menelepon pria misterius itu supaya segera pulang dari luar negeri dan menolongnya. Tentu dengan caranya yang seperti biasa, sedikit menggoda dan merayu untuk bisa mendapatkan sebuah bantuan.
"Baiklah, aku akan pulang untukmu sayang." ujar pria dari seberang. Pria yang diam diam mencintainya waktu kuliah, sayangnya Arsena lebih dulu mendapatkan hati Lili, jadi pria itu memilih untuk mengalah.
"Bagus, aku akan menunggu kedatanganmu" panggilan berakhir dan Lili segera mengendap masuk kembali ke dalam kamar dan tidur.
Arsena adalah milikku, dan aku tak akan biarkan Andini bahagia memiliki yang seharusnya menjadi milikku, tapi dimana dia menyembunyikan Andini. Aku harus menemukan dia secepatnya.
Sambil berfikir, Lili mengotak Atik ponselnya. Dia berharap akan menemukan sebuah ide briliant setelah bermain dengan benda pintarnya sebentar.
"Wah ada konser penyanyi Hollywood di Indonesia. Keren sekali," lirih Lili ketika sebuah postingan dari akun Instagram dari kawannya lewat di sebuah berandanya.
Andaikan aku masih bersama Arsena seperti dulu, karierku pasti bisa mencapai puncak, aku pasti sudah terkenal, Arsena bisa memberiku banyak kemewahan dan dukungan materi yang membuat karirku akan melejit. Gara-gara Andini sialan itu semua berantakan. Andini kenapa tak mati saja kau dengan racun tikus waktu itu." Lili meremas bantal yang ada disebelahnya.
"Wow dia mengajak wanita itu berduet, oh beruntung sekali wanita itu," pekik Lili kemudian, sambil senyum senyum mengamati ponselnya kini dia merubah posisinya yang tadi duduk sekarang rebahan disebelah Rara.
"Andini!? Benarkah dia Andini?"
"Sialan itu lagii!"
" Kenapa harus dia, kenapa dia selalu bahagia, kenapa dia selalu membuatku merasakan sakit hati ini. Mungkin jika Andini pergi untuk selamanya aku baru bisa bahagia."
"Ini pulau Weh. Oh jadi Arsena menyembunyikan Andini di pulau itu, sial bagaimana aku bisa tak tahu, segitu sayangnya kamu sama Andini Ars, hingga kau buat dia jauh dari jangkauanku." Lili yang mulai kehilangan akal sehatnya terus berbicara sendiri seperti orang gila.
Ken mengerjabkan matanya mendengar gumam lirih dari Lili. "Kau belum tidur? Tidurlah. Besok kita akan pergi dari sini, kita butuh energi yang banyak untuk pergi yang jauh."
" Pergi? Aku tak akan pergi sebelum semua masalah ini selesai. Pergilah sendiri jika kau mau."
" Sudahlah, turuti saja aku, kita lebih baik selamatkan diri daripada melawan, kau akan menyesal," ujar Ken masih mengantuk. Dia meregangkan otot ototnya yang kaku karena tidur disebuah sofa yang sudah usang dan bantat.
"Kau lupa disini siapa yang harus dituruti? Aku atau kamu?" Lili emosi. Dia terlihat mulai jengah berbicara dengan Ken. "Ingat, Rara akan bersamaku sebelum kau berhasil menyekap Arsena hidup hidup.
Hanya embusan nafas kasar dari Ken yang terdengar. Ken melihat jam berbentuk persegi kecil yang bertengger di atas lemari yang terbuat dari kayu jati. Masih menunjukkan pukul tiga. Sepertinya dia ingin menambah tidurnya satu jam lagi.
Ken benar benar pulas lagi. Sedangkan Lili yang tak bisa tidur mencoba menghubungi kakaknya. Semakin banyak yang akan membantunya akan semakin baik, " Hallo Kak?"
"Iya, apa kau baik baik saja."
__ADS_1
" Aku sudah lebih baik. Bagaimana denganmu."
" Aku tak begitu baik, Arsena belum bisa aku tahlukkan, Kak. Bahkan dia berhasil menjebakku."
" Lili Penyamaran kita sudah diketahui, kita harus segera pergi. Kita tak bisa melawan untuk saat ini, Arsena sangat kuat dari segi apapun."
" Sampai kapan Kak? Kamu dan Ken sama saja tak berguna. Kapan kita buat Arsena menangis dan berlutut di depanku? Kapan?! Dengan Andini saja kau kalah. Harusnya kau sudah berhasil menghancurkan kehormatannya, supaya dia tak berani lagi menampakkan wajah jeleknya itu. Tapi apa? Cemen kau mending pakai rok saja_"
'Lili, jaga kata katamu, inikah balasanku padaku? Mana rasa terimakasihmu? Jangan jangan kau sudah gila. Karena terosebsi sama Arsena." Dev yang ada di ruang perawatan terlihat duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada bantal yang sudah ditata bertumpuk tinggi oleh perawat.
Seorang perawat datang mengantarkan makanan. " Terima kasih." ujar Devan. Perawat itu lalu pergi.
"Ya aku gila, aku akan bunuh wanita yang kau cintai itu, lagipula apa hebatnya Andini hingga kau sampai jatuh cinta. Kenapa semua pria cinta dia, Arsen, Miko, kamu. Semua sudah buta sama Andini."
"Aku sudah melupakan kalau aku cinta dengannya, demi membantumu, tapi apa yang aku dapatkan, kau tak pernah punya rasa terima kasih." Devan pun mulai jengah dengan Lili yang keras kepala.
Lili mematikan panggilannya tanpa permisi membuat Devan makin kesal dengan adiknya itu. Devan sudah capek selalu mendapat masalah besar.
*****
Lili menyerahkan Rara yang lagi lucu lucunya kepada pelayan dan memerintahkan untuk bersembunyi dari Ken. Pelayan patuh dengan perintah Lili.
Lili yang berhari hari usahanya menuai kegagalan ingin sekali dia bersenang senang ke pulau, menemui pria masalalunya itu sekaligus mencari Andini. Rasanya membiarkan istri mantannya itu bebas bersenang senang adalah masalah terbesar dalam hidupnya.
Lili berangkat disaat hari masih pagi buta, pesawat akan berangkat tepat pukul lima jadi pukul empat dia mengantar Rara kepada pelayan dan setengah lima langsung menuju bandara. Sebelum pergi tadi dia sempat meninggalkan secarik kertas pada Ken.
Jangan temui aku sebelum kau berhasil memenuhi keinginanku. Aku hanya ingin bersenang senang sebentar.
Ken yang baru saja bangun segera membolakan matanya ketika Lili dan bayinya sudah tak ada. "Sialan, dia pergi tanpa membangunkan aku. Kemana dia bawa anakku."
Ken bangkit dari sofa yang menjadi tempat tidurnya semalam, mencoba memeriksa kamar mandi dan halaman. Sepi.
Ken menemukan secarik kertas, dia segera membaca. Ken meremas kertas dan membuangnya ke tong sampah.
Ken bertanya pada tetangga sebelah yang baru bangun terlihat dari rambutnya yang acak acakan dan masih memakai daster gombrong.
"Nona apa kau melihat wanita muda berambut pirang dengan panjang sebahu? Menggendong seorang bayi?"
__ADS_1
"Tidak Tuan."
"Oh tidak ya?" Wajah Ken langsung pias mendengar penuturan tetangga semalamnya itu.
"Sialan aku tertipu lagi dengannya, kemana dia pergi membawa anakku."
Ken akhirnya pergi meninggalkan penginapan, pagi itu juga. Sungguh hidup seakan mempermainkan dirinya. Mengejar cinta yang tak pasti, kehilangan orang yang ia sayangi. Keluarga Atmaja adalah kesayangannya.
Ken membuka galeri ponselnya. Membuka album kenangan foto Arsena dan dirinya yang terlihat sebaya, bahkan mirip dengan adik kakak, semua itu tinggallah masalalu. Dia sudah tak mungkin menerimanya lagi.
Kemudian Ken menggeser album yang satunya, Rara, bayi mungil itu adalah darah dagingnya dia harus melakukan keinginan Lili demi bisa bersamanya.
"Argggh." Ken melempar ponselnya. Baru kali ini dia merasa seperti seorang yang tak berguna.
Kebanggaan keluarga Atmaja pada dirinya pasti sekarang sudah berubah dengan kekecewaan yang amat besar. Tuan Johan yang selalu membanggakan dirinya, menganggap seperti putranya sendiri pasti tak akan sudi mwmaafkannya.
*****
Lili sudah tiba di Pulau Weh, begitu bertemu dengan Jack di bandara dia segera menghambur ke pelukannya. Tadinya Jack terkejut dengan Wajah Lili berbeda dengan yang dulu. Tapi setelah Lili menjelaskan dia akhirnya memahami.
"Tidak apa apa Baby kamu tambah cantik dengan wajah barumu ini," ujar Jack begitu bertemu dengan wanita masalalunya itu, Pria itu langsung saja memeluk tubuh sintal Lili dan mengecup bibir merahnya yang merah merekah.
Ciuman mereka terlepas beberapa detik kemudian, setelah Lili kehabisan nafas." Maaf aku terlalu bernafsu. Kau bahkan semakin cantik."
"Tentu aku cantik, aku merawat tubuhku ini dengan mengeluarkan banyak sekali uang, Jack " Lili melingkarkan lengan di tengkuk pria itu, dan Jack merengkuh pinggang Lili.
"Ada yang sangat pentingkah? kau ingin aku datang? Kau sangat rindu padaku setelah putus dengan kekasihmu yang milyader itu." Jack semakin mengeratkan pelukannya. berusaha mengecup bibir Lili berulang kali. Jack terlihat sangat buas.
"Rupanya kau selalu mengawasimu, jangan jangan kau kirimkan mata mata untukku."
"Tidak separah itu, aku cuma sesekali saja mengikuti perkembangan bisnis kekasihmu itu, aku melihat istrinya yang sangat cantik saat universary beberapa hari yang lalu. Media massa sedang sibuk membicarakan dia."
Lili spontan langsung mendorong tubuh Jack. Mengerucutkan bibir dan memalingkan wajahnya.
"Hey, tapi bagiku kau lah yang paling cantik, dia tak ada apa apanya denganmu." Jack merayunya dengan intens membuat Lili kembali tersenyum. Lalu mereka berdua menghentikan sebuah taxi dan pergi bersama menuju hotel untuk segera beristirahat.
*happy reading.
__ADS_1