Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 169. Istriku hamil muda.


__ADS_3

Dua pria dilanda galau itu kini bersulang. Walaupun yang ia minum itu hanya air putih saja. Malam ini sudah bisa di pastikan mereka sama-sama akan tidur di luar kamar.


"Mari bersulang, Mert." Kata Miko sambil membenturkan gelas miliknya dengan gelas di genggaman tangan Mert.


"Wanita memang susah dimengerti, giliran ada maunya aja minta di turuti, giliran kita yang ingin aja, ada saja alasannya," gerutu Miko.


"Yah begitulah wanita, mau menangnya sendiri, padahal yang kita minta itu cuma modal terlentang, dan menerima kenikmatan yang kita suguhkan," jawab Mert menimpali


"Hei hei hei pada ngomong apa' an kalian? Ngomongin istri kalian berdua ya?" Oma dari dalam langsung saja ikut campur


"E-enggak kok oma." Miko segera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dan menaruh gelasnya di meja. Kalau sudah ada Oma, pasti bukan sebuah pembelaan yang didapat, bisa-bisa Oma akan memberi pencerahan hingga sampai siang nanti.


"Mert, kalau nggak mau jujur Oma akan jewer kuping kamu, mau!?" Oma kesal karena kedua cucunya tak ada yang mau buka mulut.


"Apa sih Oma, main jewer kayak anak sekolah dasar saja. Mert sudah menikah Oma." ucap Mert sambil menjauhkan telinga nya dari tangan Oma.


"Iya nie, Oma. Dikira kita masih anak ingusan apa?" Protes Miko.


"Bagi Oma kalian akan selalu jadi anak ingusan. Kalian tetep cucu Oma yang masih kecil dan bandel."


"Ih, Oma bikin malu. Kita sudah besar dan punya istri juga. Iya kan Mert."


"Iya nih, Oma."


"Ayo sekarang ceritakan pada Oma apa masalah kalian berdua hingga wajah kalian jadi kucel begitu?" Oma mulai memasang wajah serius


"Dara, Oma dia nggak mau kasih Miko, anu."


"Anu apa'an sih? Makin nggak jelas ni anak." Oma tersenyum sambil mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud ucapan Miko Sedangkan Miko menggaruk tengkuknya yang mulai gatal.


"Anu, oma. Dara nggak mau dekat dengan Miko kayanya Miko bau. Padahal aku sudah mandi sebersih mungkin, dan tentu itu memalukan Oma. Miko yang perveck tapi bau ketek. Nggak banget deh."


"O ... Sejak kapan dia bilang kamu bau?"


"Baru hari ini Oma, dan Dara sampai muntah-muntah. Terus bagaimana Miko bisa indehoy kalau daranya alergi sama keringat Miko."


Oma menganggukkan kepalanya. Semoga saja dugaannya nggak salah. Sebagai wanita yang sudah terlalu banyak makan asam garam, tentu Oma sudah tau yang sedang dialami cucunya, wanita hamil muda memang kebanyakan memiliki ciri yang hampir sama. Seleranya tiba-tiba berubah haluan begitu juga dengan mood yang berubah setiap hari, bahkan setiap saat.


"Kalau kamu Mert? Apa yang terjadi dengan istrimu? Jangan bilang kamu melakukan kesalahan yang sama? Cucuku paling bodoh dan menyebalkan." Kali ini Oma benar-benar menjewer telinga Mert.


"Aku hanya melakukan kesalahan kecil Oma. Saat dikantor tadi, ada salah satu patner kerja wanita yang ingin mengabadikan moment saat kita bersama. Dia mengajak ku selfie. Katanya buat kenang kenangan, dan aku pun juga menyimpan, untuk menghargai kerja sama kita. Ternyata Zara malah marah. Dia mengusirku dari kamar. Biasanya dia mengerti penjelasanku. Tapi beberapa hari ini dia lebih sensitif. Aku harus bagaimana Oma?"


"Zara sedang cemburu, sebaiknya kamu minta maaf. Dan hapus saja foto itu. Beres kan?"


"Masalahnya, apa yang Oma katakan sudah aku lakukan. Tapi Zara masih tetap cemburu, dia malah menangis dan tetap mengusirku Oma."

__ADS_1


"Cucuku Mert, Zara rupanya sudah mulai sayang sama kamu."


"Yang lebih aneh nih, dia itu suka sekali dengan nasi pecel yang ada di warung depan gang. buat ngebujuk dia biar nggak marah lagi, aku beli'in. Malah dianya muntah muntah saat aku buka egitu aku buka itu nasi pecel."


"Untuk memastikan perubahan sikap istri kalian berdua, sebaiknya panggil saja Dr. Namira. Setelah usai praktek nanti suruh mampir kesini."Oma berkata bijaksana.


"Namira? Temannya Arsena waktu kuliah? Bukannya dia itu dokter kandungan Oma?" Mioo terperanjat.


"Iya? Kemungkinan istri kamu berdua sedang hamil."


"Hamiiiiiil ...." Miko dan Mert serempak. Mereka berdua saling berpandangan lalu mendorong kursi kebelakang dan berlari meninggalkan koridor.


"Daraaaaa ....!"


"Eh ada apa ini teriak-teriak. Kamu mau buat Excel dan Cello kaget dengan suara mu yang mirip petir itu." Rena terlihat geregetan dengan Miko yang bar bar.


"Ini juga. Kalian kesurupan hantu taman belakang ya!" Kini gantian Rena memarahi Mert yang tak kalah bar-bar dengan Miko.


"Andini, jantung Mama hampir kambuh, gara gara dua pria bertingkah bar- bar itu." Adu Rena pada Andini yang baru beberapa langkah menuruni anak tangga.


"Siapa yang bar- bar Ma?" Andini sudah tak melihat Miko dan Mert.


"Siapa lagi kalau bukan anak papamu yang satu lagi dan keponakannya."


"Entahlah, kesambet kali."


"Mama, ada ada saja, masa kesambet siang siang begini."


Andini segera mengambil bayinya dari gendongan Rena. Menciumi sebentar lalu membawanya ke kamar. Untuk sementara kamar mereka pindah dilantai satu. Untuk ruang kerja Arsena tetap di lantai dua. Karena Andini yang baru melahirkan tak mungkin harus naik turun berulang kali.


 


"Pergi ! Dasar tukang selingkuh. Pasti wanita itu selingkuhan kamu kan?"


"Sueeeer, aku berani disambar glederrrr, aku nggak selingkuh, lagian apa untungnya?"


Mert berusaha meredam amarah Zara, dan memeluknya. " Sayang, Cucu Oma yang pertama pasti akan membunuhku, jika aku selingkuh. Apa kamu nggak ingat waktu aku menodai kamu, gimana wajahku babak belur oleh sepupuku itu."


"Bekas hitamnya saja baru hilang. Masa mau lagi," kata Mert sedikit bercanda


"Bener Mas, kamu nggak selingkuh?"


"Enggak lah sayang." Mert menggelengkan kepalanya kuat. Tanda dia tak berbohong sedikitpun.


"Awas kalau selingkuh." Zara kini merebahkan kepalanya di dada Mert. Mert mengelus pundak Zara dengan sayang. Sambil mengecup puncak kepalanya yang memakai hijab.

__ADS_1


"Cie yang udah nggak marah. Sekarang nempel kayak perangko." Kata Arini yang baru pulang kuliah. Gadis usil itu melongokkan kepalanya ke dalam kamar Mert. Sebenarnya dia nggak ada niat mengintip. Tapi suara menggema yang tiba tiba hilang membuat Arini penasaran.


"Apa sih, Anak kecil pergi sana!" usir Mert.


"Iya, iya, pergi. Zara jangan mau di modusin sama Kak Mert ya, dia aslinya tu buaya buntung. Dia mantan playboy," kata Arini


"Mas!" Zara terlihat terpengaruh dengan kata kata Arini.


"Arini, bisa nggak, jangan bikin rusuh? Pergi sana! Panas ada kamu disini." Mert mengusir Arini dengan mendorong dorong tubuh Arini, lalu mengunci pintunya.


"Iya Zara, percayalah hanya sama aku saja.


Arini memang suka sekali jahil sama Mert, selain usia yang terpaut tak terlalu jauh. Saat bertemu mereka terlihat cocok seperti tokoh Tom dan Jerry.


"Arini itu berbohong sayang, kamu nggak percaya kan? Udah, pokoknya cemburu dan kawan kawannya lebih baik buang saja dari pada bikin kamu makin nggak tenang seperti ini. "


"Oh iya, nanti ada dokter Namira akan datang dia akan periksa Dara dan kamu sayang."


"Mending sekarang nggak usah mikir macem macem." Mert memeluk Zara sekali lagi.


Zara terlihat berfikir. Kalau Namira yang datang, apa itu artinya Mert curiga kalau Dara dan dirinya sedang hamil.


Zara segera duduk dan memeriksa kalender yang ada di ponselnya. Dia mengingat ingat hari terakhir saat menstruasi. Ternyata benar, seharusnya dua Minggu yang lalu dia kembali melewati menstruasi lagi. Tapi hingga hari ini tamu bulanan Zara belum datang.


Zara terlihat membeku di sisi ranjang. Menatap ponsel dengan bibir terukir seulas senyum.


"Mas!"


"Iya sayang." Mert ikut mendekat.


"Duduklah disini." Dara menepuk ranjang yang ada disampingnya.


Mert menurut, mereka menatap benda pipih bersama sama dengn istrinya.


"Mas, aku seharusnya sudah dua Minggu yang lalu mendapatkan tamu bulanan, tapi sampai sekarang tamu itu belum juga datang. Jadi ..."


"Sayang apa itu artinya kau mengandung bayi kita? Aku akan punya bayi?


"Yeiiiii aku akan punya bayi !! Zara sudah hamil aku akan jadi Abi ...." Mert menggendong Zara berputar putar didalam kamar. Mert kembali bertingkah bar-bar.


"Sttt, Mas ini belum pasti, kita belum ada bukti," ucap Zara malu malu.


"Sayang, buktinya sudah jelas, kau terlambat mendapatkan tamu bulanan."


Mert sudah terlanjur bahagia. Dia kembali mengangkat tubuh Zara, menggendong memutarnya hingga beberapa putaran. Mert amat bahagia, jalinan cintanya pada Zara kini semakin kuat dan kokoh. Dirahim Zara ternyata telah tumbuh benih Cinta Mert dan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2