Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 147. Zara kenapa?


__ADS_3

Ibu Mariam segera mengulurkan tangan pada pak penghulu yang baru datang, setelah mempersilahkan penghulu duduk ia pun duduk kembali di tempat semula.


Pak penghulu memandang kedua mempelai dengan bergantian. Saudara Zara apakah anda sudah siap menikah dengan saudara, Siapa? .... Saya lupa namanya."


Pak penghulu menggaruk tengkuknya, terlihat lucu membuat Mert jadi ikut tersenyum disaat jantungnya sudah bertalu talu ingin meloncat dari sarangnya.


"Mert, Pak penghulu. Amert nama lengkapnya." ujar Oma yang gemas karena pak penghulu lupa nama cucunya.


"Iya, saudara Amert?"


"Insyaallah, saya siap pak." Zara berusaha menentramkan dirinya. Mungkin ini memang takdir, jodohnya Amert seorang anak pengusaha.


Tuan Amert, apakah anda sudah siap lahir batin? Menjadikan saudara Zara sebagai istri anda?


"Siap pak." Jawab Mert yakin.


"Baiklah ijab akan kita mulai sekarang." Penghulu mempersilahkan Bapak Ali untuk menjabat tangan Mert yang sudah terulur.


Aku nikahkan dan kawinkan Amert bin Ahmed Atmaja, dengan pinanganmu, putriku Azara vianita nugraheni dengan mas kawin mobil dan emas seratus gram dibayar tunai


Saya terima nikah dan kawinnya Zara vianita nugraheni bin Ali dengan mas kawin seperti tersebut, tunai.


"Gimana saksi sah?"


" Sah."


"Alhamdulilah." Mert mengucap syukur pada Rabbnya, ia meraupkan kedua telapak tangannya ke wajah.


"Tuan Mert, Nona Zara sekarang sudah sah menjadi istri anda dan apapun masalah dalam rumah tangga hendaknya diselesaikan secara kekeluargaan.


"Baik pak penghulu."


Setelah menyampaikan wejangan yang bermanfaat untuk kedua mempelai, pak penghulu mohon pamit, karena masih banyak lagi calon pengantin yang menunggu untuk di kawinkan.

__ADS_1


"Zara, ini cincin pernikahan kita ." Mert menyusupkan satu cincin berlian warna putih yang sangat cantik.


Keluarga Zara membulatkan matanya ketika Mert melingkarkan cincin mahal itu, mas kawin yang lumayan besar nilainya juga membuat mereka harus membuka mulutnya membentuk o besar karena tercengang.


"Usai menyusupkan cincin cantik berwarna putih ke tangan Zara, Mert menarik lengan Zara dan mengecupnya. Lalu mencium keningnya. Davit tak kuasa melihat pemandangan memilukan seperti ini. Pandangannya selalu menunduk ke bawah menahan air matanya keluar, Dalam hati Davit ikut bahagia, jika Zara bahagia. Ia sadar tak bisa memberikan kebahagiaan materi seperti yang diberikan Mert padanya.


Arsena turut bahagia Zara sudah menikah, dan Mert sudah menunaikan tanggung jawab yang semestinya. " Sayang syukurlah, Mert sudah resmi menjadi istri Zara. Arsena yang terbawa suasana dia memeluk istrinya dan mengecup jari-jari Andini yang sejak tadi di genggamannya.


Dara yang melihat Arsena begitu mesra membuat dia juga menginginkan kemesraan yang sama pada suaminya. Dara ikut meraih jemari suaminya dan menautkan. Miko yang fokus pada acara sakral Mert membuat ia terganggu.


"Ada apa, Litlle."


"Aku terharu dengan mereka. Aku jadi pengen mengulang pernikahan lagi, Kak."


"Miko segera mendaratkan kecupannya di kening Dara. Nanti akan kita rayakan ketika universary ke satu," janji Miko pada Dara.


Karena acara ijab selesai kini tinggal acara selanjutnya yaitu acara temu manten Zara dan Mert akan dipertemukan di sebuah pelaminan. Mert yang bukan asli penduduk Indonesia dia sedikit kikuk dengan rangkaian adat pernikahan di keluarga Zara sering kali dia tersenyum bingung, bahkan terlihat lucu.


Acara kembang mayang dimulai, pranata cara memberikan bunga untuk Mert dan satu untuk Zara mereka berdua melempar bunga itu pada tamu undangan. Jika yang mendapatkan bunga itu masih lajang dipercaya akan segera menyusul menjadi pengantin.


"Horeee aku dapat bunga." Arini ternyata berhasil menangkap bunga dari Mert.


"Kak Davit juga dapat?" Netra Arini berbinar.


"Wah kalian jangan-jangan jodoh." Canda beberapa orang yang sedang menjadi penonton.


"Jodoh, tidaaakkk" ... Arini dan Davit sama sama berteriak, menjatuhkan bunganya ke lantai.


Mana mungkin saya akan berjodoh dengan Kak Davit, aku sudah punya kekasih, dan dia sangat tampan. Walau kak Davit sebenarnya juga tampan.


Davit juga terkejut beberapa orang bilang Mereka bisa saja berjodoh. Mana mungkin saya akan menikahi cewek rese macam dia."


Kalian kenapa membuang bunganya ayo ambil. Jangan dibuang. Dibawa pulang juga nggak apa-apa." Ujar Andini Menggoda Davit dan Arini.

__ADS_1


"Ti-tidak mau." davit dan Arini bersamaan menggelengkan kepalanya.


"Hey, ini cuma mitos, mana mungkin kalian akan menikah beneran, lagian Davit ilfeel lihat Arini." Canda Arsena membuat Arini geram dan mencubit lengan kakaknya kuat-kuat.


Andini yang tau adik iparnya ngambek nya sedang tak main main ia segera merengkuh pundaknya dan mengajaknya duduk sambil menikmati acara selanjutnya. Seperti menginjak telur, dan rangkaian lainnya.


Mert dan Zara kini duduk di pelaminan, mereka berdua terlihat begitu serasi Mert yang tampan mendapat istri Zara yang cantik dan memiliki wajah kalem.


Usai acara kacar kucur, yang bermakna pemberian nafkah dari sang istri untuk suami, kini acara yang terakhir adalah minum air kelapa muda berdua dalam satu butir yang sama, memiliki arti susah, senang akan mereka jalani bersama.


Mert paling bahagia dalam moment ini, sepanjang pelaksanaan ritual adat, Mert selalu tersenyum dan matanya berbinar binar. Zara hanya sesekali saja tersenyum. Itupun sudah membuat Mert sangat senang.


 


Menjelang sore acara baru selesai acara terakhir adalah mempelai masuk ke kamar yang akan dijadikan kamar mereka berdua nantinya.


Zara berjalan pelan dengan Mert menggandengnya.


Awalnya Mert mengira Zara berjalan pelan karena gaun yang ia belikan mungkin terlalu berat. Namun tidak, ternyata kondisi Zara sedang drop dara pingsan tepat saat acara sudah selesai.


"Zaraaa!" Davit berlari ke depan saat melihat tubuh Zara lunglai hampir menyentuh lantai. Namun ia berhenti di tengah-tengah para tamu ketika dia menyadari tubuh Zara ada dipangkuan Mert.


Davit panik, ia ingin segera mengetahui apakah kondisinya baik baik saja. Namun, hal itu bukan lagi urusannya. Davit kembali duduk di kursi kosong yang ada didekatnya. Dia hanya berdoa dalam hati dengan wajahnya yang cemas.


Sedangkan Mert penuh cinta dan kekhawatiran membawa Zara masuk ke kamarnya. Kamar sederhana yang sudah dihias dengan bunga bunga indah. Teman sekolah Zara yang membantu melakukan itu semua.


"Zara bangun! Tolong Ambilkan minum untuk istriku." Mert panik melihat Zara memejamkan matanya.


Ibu Mariam segera membawakan segelas air putih untuk putrinya. Ibu Mariam terlihat menangis terisak isak membuat riasan di wajahnya menjadi rusak.


"Zara! Aku mohon buka mata sayang." Mert memeluk tubuh Zara dan menciumi wajahnya. Titik air mata Mert bahkan ada yang menetes di wajah Zara. Membuat wajah Zara sedikit berkedut.


Davit ikut berdesak desakan dengan tamu lainnya, demi ingin melihat Zara.

__ADS_1


Mert segera memberi perintah supaya lekas memanggil dokter.


"Davit panggilkan dokter, dimanapun kau temui dokter, bawa kesini sekarang! Cepat!"


__ADS_2