Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 34. Layani aku dengan baik.


__ADS_3

Arsena baru saja selesai mandi rambutnya masih basah, berulang kali ia mengibaskan agar kandungan air berkurang, sesekali ia menempelkan handuk dan mengusap usap.


Tiba-tiba ide konyolnya datang.


"Andini, tolong keringkan rambutku."


"Tapi Ars, bukannya kamu baru saja menyuruhku untuk membersihkan kamar ." Kata Andini yang mulai kelelahan.


"Nanti saja, setelah mengeringkan rambutku," kata Arsena tak mau dibantah. Pria itu menyodorkan hair dryer pada Andini lalu duduk di kursi kecil yang ada di depan cermin.


Andini menghentikan aktifitasnya melipat selimut, ia berjalan pelan menghampiri Arsena dan mulai melakukan apa yang diperintahnya. Menyentuh tiap helai rambut dengan sisir kecil. Kemudian menyalakan hair dryer.


Sentuhan Andini begitu lembut dirasakan Arsena, ia sangat nyaman dengan Andini yang lihai memainkan hair dryer diatas kepalanya.


"Kamu pernah kerja di salon."


"Tidak, cuma dulu pernah bantu bantu sebentar di salon tante," jawab Andini sambil terus memberi pelayanan terbaiknya untuk Arsena hingga selesai.


Arsena mengamati Andini dari cermin di depannya, sedangkan yang diperhatikan tak menyadari kalau sedang ada yang memperhatikan secara diam-diam.


"Lama lama, kalau kuperhatikan kau lumayan juga."


"Sudah kering, Ars." Andini mengakhiri aktifitasnya pada rambut Arsena. Meletakkan hair dryer di atas meja.


Sedangkan Arsena segera berdiri dari duduknya dan memakai baju ganti yang disiapkan oleh Andini.


"ada apa, Bi?" Arsena bertanya lebih dahulu ketika bayangan Bibi Uma masih di depan pintu.


"Tamu Den, sepertinya teman kantor."


"Suruh tunggu sebentar."


"Baik, Den." bibi beranjak pergi.


"Lanjutkan pekerjaanmu, Aku ke lantai bawah, ada galang. Kamu jangan turun karena Galang tak tau kalau kita menikah." ucap Arsena sambil mengenakan kaos dan celana boxer.


Andini hanya bisa mengangguk setuju. Sambil membelakangi Arsena. Ia tak mau matanya ternoda karena mengamati bulu bulu halus yang tumbuh di dada pria itu.


Selesai memakai baju Arsena segera turun, Galang sudah menyambutnya dengan senyuman, ketika Arsena masih menapaki tangga.


"Ars, ini berkas yang tadi ketinggalan di kantor, kamu harus menandatangani secepatnya, karena besok semuanya harus sudah ditangan, Dirut utama kita."


"Ok," Arsena membaca sebentar lalu menerima pulpen yang disodorkan oleh Galang.


"Gara-gara aku pulang cepat kamu jadi repot gini."


"Nggak apa-apa. Selain kamu calon Dirut kita juga sohib, sepertinya aku juga harus mulai membiasakan diri untuk menghormati kamu sebagai atasanku?"


"Kamu berlebihan sekali Bro, di luar kantor kita akan tetap menjadi sahabat, jangan terlalu formal begini."


Pria itu segera menandatangani berkas yang dibawa oleh Galang.


Setelah semua beres Galang membawa berkasnya kembali pulang.


Namun, sebelum beranjak pergi Galang ingin menanyakan sesuatu.


"Bro, aku ingin bertanya sesuatu, apakah kau sedang menyembunyikan wanita?"


"Maksudmu ?"mengernyitkan dahinya, Arsena memasang ekspresi kaget.


"Ayolah Bro, jangan berbohong santai saja. karyawan kantor sudah tau semua, gosip itu aku dengar dari mereka." Gilang tersenyum menggoda. Sambil menepuk pundak Arsena beberapa kali.


"Bro, kukira kau setia, tapi kau playboy juga, ternyata, ayolah jujur padaku siapa dia. apakah kau mencintai dua wanita?"


"Lang pulanglah sekarang, aku akan menghajar mu jika kau bicara lagi."


"Santai Bro, katakan saja, apa dia tinggal disini juga?" Galang sudah beranjak tapi masih belum puas menggoda Arsena.


"Hey detektif amatir, jangan sok tau!!!" Arsena mulai gelisah.


"Aku tau karena kita sahabat, dan aku juga tau arena ada sandal cewek di depan."


"Pergi !!!" Arsena mengangkat astbak dari atas meja.


"Baik aku pergi." Galang lari terbirit-birit seperti kucing. "Lanjutkan Bro, kau akan bahagia jika sudah memiliki wanita, lihatlah diriku sekarang, hariku sangat indah bagai surga."


Arsena masih memasang wajah kesal. memelototi Galang hingga pria itu menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


****


Sedangkan dilantai atas Andini mulai kelelahan dengan aktifitasnya seharian ini.


Banyak sekali keinginan Arsena yang minta di kabulkan, bahkan Andini merasa pria itu sedang menghukumnya.


Kepala Andini mulai terasa pusing saat ia sedang menata buku-buku di rak, buku yang tadinya berantakan itu kini sudah terlihat berjajar sangat rapi.


"Apa aku hari ini terlalu capek, kenapa tiba-tiba kepalaku terasa pening sekali." Gumam Andini lirih sambil mendudukkan diri di tepian ranjang.


Andini berinisiatif untuk tidur sebentar saja di ranjang Arsena, setelah baikan nanti dia akan melanjutkan aktifitasnya lagi dan pergi.


Beberapa kali Andini terbatuk dan tubuhnya mulai terasa lebih hangat dari suhu normal, akhirnya ia tak sengaja tertidur di ranjang big size nan empuk itu.


 


Setelah kepergian Galang, Arsena masuk ke ruang makan, ia mengamati banyak masakan yang tersedia di meja. Makanan yang tersedia begitu beraneka ragam. Arsena bingung memilih menu apa saja yang akan ia cicipi sore ini. Tiba tiba ia teringat pada nenek Andini di kampung.


Kasian keluarga itu, ia sangat kekurangan. Andaikan jarak kita dekat aku pasti meminta Doni untuk mengirim makanan setiap hari ke rumahnya.


Arsena kini mencari keberadaan handpone di sekelilingnya, namun tak menemukan. Setelah berfikir sesaat, ia teringat ternyata telah meninggalkan benda pipih itu di kamar.


Arsena kembali naik ke lantai dua, Dia menemukan handpone nya di atas meja. Tempat Andini mengeringkan rambutnya tadi.


Arsena segera menelepon Doni agar segera mengirimkan sejumlah uang kepada keluarga Andini dan aneka macam sembako dalam jumlah banyak. Tak lupa satu buah kulkas dan TV 29 inchi untuk mengganti TV buluk yang ada di rumahnya.


Begitu mendapat perintah dari Arsena,Doni tak menunggu hingga besok, ia segera berangkat sekarang juga menuju grosir sembako dan elektronik, tak perduli hari mulai petang. Menurut Doni jika semua barang dikirim saat malam, semua akan semakin bagus karena tak banyak tetangga yang melihat.


Selesai menghubungi Doni, Arsena segera mentransfer uang 50 juta kepada Doni supaya mulai belanja detik ini juga.


Arsena juga memeriksa pengeluaran yang dilakukan Andini. Ternyata selama dia memegang uang Andini sama sekali tak membelanjakan kartu ATM miliknya.


Arsena heran kenapa ada wanita yang tak suka belanja seperti Andini, seharuskan ia bisa mengambil uang yang dianggap gajinya untuk berdandan dan membeli baju-baju bagus.


Selesai melakukan pengecekan pada keuangan pribadinya, Arsena mulai lelah dan mengantuk. Ia sudah tak sabar ingin tidur.


Arsena kembali ke kamar setelah meminum banyak air sebelum tidur. Ia ingin memulai tidurnya ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam


Arsena terkejut diatas ranjangnya ada Andini yang sedang pulas.


"Kenapa dia tidur disini? Apa dia sengaja ingin menggodaku," batin Arsena.


Arsena menyibak anak rambut Andini yang menutupi sebagian wajahnya. tiba- tiba ada sebuah keinginan untuk mengecup kening Andini pelan. Dia yakin melakukan tanpa dasar cinta, Namun Arsena tak bisa menahan walau hanya sekedar ingin mencium saja.


Arsena mendekatkan bibirnya hingga menempel di kening Andini.


"Cuuup ..."


Secepat kilat, Arsena segera menarik bibirnya dan menjauhkan kepalanya dari wajah Andini.


Kenapa? kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku? Aku malah bertindak ceroboh seperti pencuri.


Arsena menarik selimut di bawah kaki Andini dan menyelimutinya, Arsena bisa merasakan tubuh Andini terasa lebih dingin dari tubuh normal manusia sehat.


Arsena beranjak pergi, ia tak mau melakukan hal konyol lagi, Arsena khawatir jika terus didekat Andini ia akan khilaf. Walaupun Andini sudah sah menjadi istrinya, Namun sudah jelas ia telah mengambil keputusan akan menceraikannya setelah semuanya selesai.


Arsena memilih tidur di sofa, ia membiarkan Andini mengambil alih ranjangnya semalam ini, lagian ia tak enak hati mengganggu tidurnya yang baru sebentar.


Baru saja menempelkan kepala di pinggiran sofa, Arsena mendengar suara rintihan.


Arsena menajamkan pendengarannya ternyata suara itu berasal dari Andini yang sedang tidur.


Arsena kembali mendekati Andini dan menyentuh keningnya. Ternyata keningnya terasa semakin panas. Tapi Andini menggigil, mengigau, kedinginan.


"Apa yang terjadi Andini?" Bisik Arsena di telinganya.


"Dingin, Ars."


"Apa kamu sakit? Biar aku panggilkan dokter."


"Tidak perlu, aku akan sembuh setelah minum obat."


Namun Arsena tak menghiraukan Andini yang tak mau dipanggilkan dokter. Ia segera mengambil handponenya dan menghubungi Namira.


"Mira, apa kau bisa kerumahku sekarang?"


Tanya Ars, pada Mira di telepon

__ADS_1


"Siapa yang sakit Ars?"


"Mm, yang sakit Andini."


Oh, Asisten rumah tangga itu, Bagaimana kondisinya?


"Dia demam, tadi habis kehujanan. Kamu kesini cepat."


"Akan aku usahakan Ars, tapi ini sudah larut dan aku belum pulang dari RS, kalau kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, aku akan memeriksanya esok, pagi-pagi sekali aku akan datang."


"Kalau bisa usahakan malam ini." Pinta Arsena dengan nada kecewa.


"Ok, ok. Aku usahakan" Dokter Namira mulai mencurigai kalau Arsena mulai jatuh cinta sama ART nya. Kepanikan Arsena setiap kali ada hubungannya dengan Andini, membuat Namira yakin dengan pemikirannya.


Akhirnya Arsena menutup teleponnya. Ia memandangi Andini dari kejauhan. Rasanya menyesal tadi sudah membuatnya bekerja, sekarang malah ia sendiri yang direpotkan.


Arsena mengambilkan Andini obat dan membukakan satu tablet untuk pereda demam.


"Ambillah obat ini, biar aku ambilkan airnya."Arsena menyodorkan tablet obat kepada Andini, ia mengambilkan satu gelas kosong dan menuangkan air kedalamnya separuh. Lalu mengulurkan pada Andini.


Andini menerima air pemberian Arsena dan meneguk satu tablet pil. Arsena memastikan Andini benar-benar meneguknya.


"Tidurlah disini."


Tidak Ars, ini kamar kamu, aku akan ke kamarku sendiri. Andini menurunkan kedua kakinya hendak turun.


"Andini !! Bisa nggak sih kamu jangan keras kepala!! Suara Arsena sudah naik dua oktaf. Andini ciut nyali terpaksa ia mengangkat kakinya lagi lalu membaringkan tubuhnya.


Melihat Andini menuruti kata katanya, Arsena lega. Sedangkan dia mengalah memilih tidur di sofa. Sebelum tidur Arsena masih sibuk bermain dengan ponselnya. Sambil sesekali melihat ke arah TV yang masih menyala.


Andini yang pura pura tidur, dengan mata setengah terpejam, memperhatikan suami tampannya lekat-lekat. walaupun ia sedingin balok es dari kutup Utara, ternyata ia masih punya sisi baik juga setelah mengenalnya lebih jauh.


Ars, terima kasih telah menghawatirkan ku seperti sekarang ini, saat kita berpisah nanti, pasti tak mudah melupakanmu, aku akan mengenang mu, kenangan kita saat bersama pasti akan menjadi lukisan berwarna di sejarah kehidupanku.


*****


Pukul 00:00


_____


Andini kembali merintih, Arsena yang baru saja tidur ayam, sontak langsung membuka matanya lagi. Arsena menyentuh kening Andini ia merasakan telapaknya kini menjadi dingin, padahal satu jam lalu tubuhnya hangat.


"Andini !... Andini !.. Apa kamu baik baik saja." kata Arsena didekat telinga Andini, suaranya setengah berbisik.


Andini tak menjawab, ia hanya menggigil dan terus merintih.


Arsena bingung harus melakukan apa, minum obat sudah, diajak kerumah sakit Andini menolak, Namira juga tak kunjung datang.


"Akhh .... Sial. Kenapa semua jadi seperti ini." Arsena meremas kepalanya.


 


Drrrr drrrrr drrrr


"Siapa lagi telp malam-malam." Gerutu Arsena melihat ponsel Andini bergetar.


Arsena melihat beberapa notif pesan telah masuk, mungkin karena sang pemilik tak menjawab si pengirim pesan berinisiatif meneleponnya.


Di layar ponsel tertera nama Miko.


Miko, ngapain lagi ni anak? Telp malam- malam, belum puas apa tadi siang habis ketemuan.


Arsena merasa terganggu dengan panggilan Miko, ia akhirnya menekan tombol merah yang artinya 'tolak' berharap pria di seberang sana tau rasa, kalau panggilannya tak diinginkan.


Arsena tersenyum penuh kemenangan. "Mampus Lo, emang enak kalau di tolak, salah siapa suka sama bini orang"


Arsena memilih mematikan ponsel Andini. Ia sangat senang berhasil mengerjai Miko. Membayangkan Miko pasti sekarang sangat kesal karena Andini menolak panggilannya. Arsena kini menunjukkan senyum smirk penuh kepuasan.


Arsena menaruh handpone nya sendiri dan milik Andini di atas nakas. Setelah itu ia menutup tirai jendela yang setiap malam memberi keindahan dengan kerlap kerlip pemandangan lampu kota.


Arsena mengecilkan suhu AC, mematikan lampu utama, lalu menyalakan night lamp. Dia sudah terbiasa tidur dalam cahaya remang, jika lampu dibiarkan menyala akan susah memulai tidurnya.


Arsena memilih tidur di sebelah Andini, toh ini bukan yang pertama kalinya. Kalau ia bangun lebih awal pasti Andini tak akan mengetahui.


Ndin, maaf jika aku berbohong akan tidur di sofa, tubuhku akan sakit semua jika aku memaksa melakukannya. Batin Arsena.


Arsena melingkarkan lengannya di pinggang Andini. Hal yang tak pernah diduga. Entah sadar entah tidak Andini membalas memeluknya. Hingga posisi mereka saat ini saling berhadapan dan saling memeluk.

__ADS_1


kata-kata galang terus saja terngiang di telinga Arsena. Benarkah menikah itu nikmatnya setara hidup di surga, kenapa selama ini aku tak melihat surga itu.


Galang pasti ngaco, suka asal bicara saja.


__ADS_2