
Anita kini sudah hidup dengan bahagia, dia memiliki penthouse seharga lima miliar dan mulai merintis karir dengan membuka salon kecantikan di kota, serta beberapa anak cabang. Semua karena bantuan pangeran Turki.
Mengetahui Amert dan Zara datang, Anita ingin segera bertemu dengan Amert dan Mesha. Lelaki tampan yang membuat benih bersemayam di rahimnya itu sering kali membuat Anita rindu.
Hati Anita berubah, andaikan dia bukan seorang suami dari wanita lain pasti dia akan meminta untuk menikahinya.
Namun, pemuda itu terlanjur menganggapnya Adik, dan surat perjanjian itu sudah tertulis dengan jelas.
Cintanya pada Arsena telah terkikis oleh rasa yang mulai tumbuh untuk Amert. Dan cintanya pada Amert tak mungkin bisa ia gapai lagi. Akhirnya Anita memilih untuk menikmati kesendiriannya saja.
Anita berdandan sangat cantik, dia memakai lipstik merah merona dan baju berwarna marun serta high heel yang tinggi. Setelah berulang kali mematut dirinya di cermin dan penampilannya sudah cukup memesona, Anita segera keluar dari salon miliknya dan meluncur ke mansion.
Sampai di mansion Anita dengan sedikit sungkan menyalami keluarga Atmaja. Mama Rena tetap memperlakukan anak sahabatnya dengan baik.
"Anita, lama tak dengar kabar darimu, kau makin cantik dan sukses aja."
"Makasi Tan," dapat pujian Anita tersenyum. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru yang sedang mulai menikmati hidangan syukuran.
Amert dan Zara menyalami Anita, Andini dan Arsena belum sempat, dia masih berbicara dengan kolega yang lain, hanya pandangan mereka sempat bertemu dan saling mengangguk senyum.
Dokter Mark juga datang kesana pasti Andini yang mengundangnya, dia terlihat datang sendiri, Arsena tersenyum menatap kehadiran Mark. Pria yang sering kali membuatnya geram karena terlalu akrab dengan Andini itu.
Terbersit sebuah ide di benak Arsena yang belum diketahui oleh semua orang.
"Datang sendiri saja Nit, mana pacar kamu?" Amert berbasa-basi dengan Anita, sedangkan Zara hanya tersenyum melihat wanita di depannya. Walau terbesit sedikit cemburu, tapi dia percaya cinta suaminya hanya untuknya saja.
"Pacar? Dia nggak ikut, masih bersembunyi di kolong ranjang hehehe."
"Emang laba-laba?" Celetuk Amert
Anita menatap Zara yang sejak tadi memilih menjadi pendengar saja. "Anak anak ada bersama pengasuhnya jika kamu rindu sama Meysa, kamu bisa menemuinya." Zara Akhirnya membuka suara.
"Zara makasi ya, sudah diizinkan menemui putrimu." Anita menggapai lengan Zara yang menggantung."aku yakin bersamamu Meysa akan menjadi sosok yang lebih baik daripada diriku. Aku ibu yang payah Zara."
"Sudahlah, yang berlalu anggap saja sebagai pembelajaran, kebelakang semoga tak akan terulang." Zara menjatuhkan sebelah lengannya di pundak Anita. Anita kembali menggenggamnya.
Anita segera menghampiri putrinya yang sedang belajar berjalan diapit pengasuhnya itu, putrinya dan Furqon tumbuh besar bersama dalam kebahagiaan. Zara sama sekali tak pernah membedakan kasih sayangnya begitu juga Amert.
"Bi, anda boleh pergi, biarkan aku yang menjaga anak-anak."
__ADS_1
"Tapi Nona, ini tugas saya, saya tak bisa meninggalkan begitu saja." Pengasuh itu tak mau gegabah. Meninggalkan anak majikannya, selain ada Meysa dan Furqon di tempat bermain itu juga ada Exel, Cello, Qiara, dan juga
"Ok, izinkan aku menggendongnya dan bermain main sebentar, kau bisa mengawasi diriku dari dekat." Kata Anita sambil membungkukkan wajahnya mendekati Meysa."
Meysa yang merasa asing dengan kehadiran Anita dia segera bersembunyi di belakang Furqon, bocah kecil itu terlihat begitu menggemaskan, sayangnya wajah cantik dirinya tak menurun sama sekali, hanya wajah Amert yang mendominasi.
Exel dan Cello menghampirinya dan bertanya "Tate siapa? Kok aku nggak kenal"
"Hai, kita belum kenalan ya? Mungkin saat Tante bertemu kalian, kalian masih terlalu kecil, jadi kalian lupa. Tante adalah teman orang tua kalian, ayo kenalan sama Tante." Anita mengulurkan telapak tangannya. "Panggilnya Tante Anita?"
"Tante Anita. Saya Exel dan ini adik saya Cello, kami saudala kembal." Anak-anak membuat barisan seperti kereta dimulai dari Excel menjadi masinisnya.
Meysa berada di urutan paling belakang, dan dia terlihat tak nyaman karena Anita menatap dirinya lebih lama dibandingkan yang lain.
"Anita, jika dia besar nanti dia juga berhak tau siapa ibu kandungnya. Kamu bisa memeluknya, sepuas dirimu," ujar Zara.
"Jangan Zara, aku tidak mau dia sedih, jika dia tau aku ibunya, dia akan bertanya tanya dan mencari tahu tentang kesalahan masa lalu yang aku lakukan."
Zara hanya tersenyum. Dia senang Anita sudah banyak berubah. Hati kecilnya bertanya apakah karena bimbingan Amert.
"Aku tak mau dia tahu kalau memiliki ibu memalukan seperti aku, dia akan lebih bahagia jika kau ibu satu satunya." Mohon Anita pada Zara.
"Anita, kau sudah lama?" Andini memanggil Anita dari arah belakang. Zara dan Anita menoleh bersamaan.
"Anita ada yang ingin kenalan."
"Aku? Siapa." Anita menunjuk dirinya, lalu mengedarkan pandangan menatap kerumunan orang.
"Ada, Ayolah, dia temanku dan teman Arsena juga."
"Berasa special aku hari ini." Anita memuji dirinya sendiri.
Andini duduk di dekat Arsena, di sebelah Arsena yang satu lagi ada Mark. Si Dokter jomblo yang diam-diam suka dengan Andini.
Secara tidak langsung Dokter yang telah berperan penting untuk kesembuhan bagi Atsena itu menjadi musuh bebuyutannya.
"Hai, Ars!"
"Duduklah Nit. Apa kabar?" Arsena menyandarkan pinggangnya dengan kursi sambil memangku kaki.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat, aku baik dan sehat." Anita menarik satu kursi mendekati meja.
Empat orang itu kini memutari satu meja, posisi Anita bersebelahan dengan Dokter Mark.
Pelayan membawakan makanan untuk empat orang yang kini tengah berbicara seputar pekerjaan. Pembicaraan mereka terasa garing dan tak jelas arahnya.
"Yang, tiba tiba perutku sangat sakit." Arsena mengeluh ketika satu mangkok mie ayam special buatan bibi tandas di perut.
"Kok bisa sih? Bukannya kamu paling suka mie buatan bibi."
"Entahlah, antarkan aku ke kamar, perutku sakit." Arsena meremas perutnya, bibirnya dilipat ke dalam seperti sedang menahan.
"Oke, aku antarkan ke dalam." Andini segera berdiri dan menggamit lengan suaminya.
Sampai di kamar Arsena malah mengunci pintu dan berjalan seperti biasa, tak ada tanda tanda kalau dia sedang sakit atau apapun lainnya.
"Ars, jadi kamu hanya pura pura?" Andini menatap Arsena dengan mata lebar.
"Menurutmu?" Pria itu malah merentangkan diri lalu menarik Andini hingga terjatuh di atas tubuhnya. Arsena dengan sigap melingkarkan lengannya. "Aku ingin menyatukan Anita dengan Mark, biar tak mengganggu istriku lagi."
"Mark kau bilang mengganggu?" Andini yang berada di atas tubuh Arsena mengecup bibir merah pria yang tak lagi merokok itu.
"Ahh, istriku berani sekali."
"Arsena membalik tubuh Andini."
"Jangan macam-macam, ada bayimu."Andini mengingatkan suaminya.
"Aku hanya mau satu macam sebenarnya." Arsena memeluk Andini. Andini melepas paksa pelukan Arsena dan bangkit.
"Aku keluar, tamu datang untuk kita kau malah seperti ini." Andini merapikan gamisnya.
Saat di ruang tamu, Arsena menahan lengan Andini. "Ada apa lagi, Bie?"
Kita duduk di dekat Amert dan Zara, biarkan Anita dan dokter Mark ngobrol berdua, siapa tahu nanti dia akan cocok dan mereka akan menikah.
Andini hanya menarik nafas panjang, tak percaya suaminya begitu antusias menjodohkan Dokter Mark dengan Anita karena sebuah rasa insecure.
__ADS_1