
(Dua hari telah berlalu)
Andini pagi ini begitu cantik, ia memakai kebaya berwarna kuning keemasan dan jarik masih dengan warna senada, rambut diikat dan dipasang sanggul kecil dibelakang. Jas hitam kedodoran dan Toga melekat ditubuhnya menambah keanggunan wanita pemilik gelar baru S1, di Universitas Kedokteran terkenal di kota Surabaya Central.
Selesai penyerahan ijasah dan ucapan selamat dari Rektor. Andini segera turun dan kembali duduk bersama teman yang lainnya. serangkaian acara perpisahan menjadi penutup perjumpaan mereka, tangis dan haru sesama sahabat tak terelakkan lagi.
Andini Vanya dan teman yang lainnya saling berpelukan. mereka berjanji persahabatan akan selamanya terjalin meskipun sudah berpisah dan sama-sama menikah.
Penyerahan ijasah sudah selesai, Andini segera keluar gedung, ketika Miko mengirimkan pesan untuknya, andini berjalan ke arah parkir, tiba tiba Miko datang menghampiri.
"Selamat atas keberhasilannya, Dokter Andini" Miko memberi ucapan atas prestasi Andini, tak henti-hentinya pria itu tersenyum simpul, mengagumi wanita di depannya. Demi prestasi Andini dan keberhasilan saat ini ia rela menikah dengan lelaki angkuh yang tak pernah menganggapnya istri
"Girl selamat, semoga kamu akan menjadi dokter bedah yang hebat dan dapat mengemban amanah untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan."
Andini mengangguk"Terima kasih Miko," Andini terharu, ia menitikkan Air matanya.
Miko menarik tubuh Andini ke dalam pelukannya. "Girl, aku bahagia bisa di dekatmu seperti ini, aku tak ingin kita jauh dua hari saja aku di Paris tak bertemu denganmu, aku begitu rindu"
"Miko..." Andini melepas dekapan Miko yang begitu erat dan hangat, ia menjauh mundur beberapa langkah, Andini tak ingin Miko terus memupuk perasaan cintanya yang salah.
Andini tak bisa memberi satupun janji untuk Miko, ia masih sadar betul, yang terjadi besok belum tentu seperti yang diinginkan.
"Miko, aku ini istri Arsena, kamu tak bisa mencintaiku?"
"Kenapa tak bisa Andini? dia tak mencintaimu, dia menginginkan wanita lain. Dia tak akan menganggapku ada."
"Aku tau Miko, tapi ini tak benar. Aku mengharapkan Arsena suatu saat akan berubah melihat ketulusanku."
"Baiklah Girl, terserah kamu, aku juga tak memaksa kau harus menerimaku di hatimu, yang penting kau tau, aku akan selalu menunggu, kapanpun kamu datang aku akan menerima kehadiranmu. bersamamu seperti ini aku bahagia sekali, Ndin." pria itu berkata dengan sorot mata yang tak biasa.
Andini dan Miko saling menatap, Miko kembali melempar seulas senyum. Andini membalas senyum Miko dengan kaku.
"Masuk lagi yuk." Ajak Andini mengalihkan perhatian Miko yang sudah mulai mengharapkan sesuatu yang tak bisa ia janjikan.
"Okey." Miko setuju.
"Mari kita foto buat kenang-kenangan." pinta Andini.
Miko yang berpakaian rapi ala seorang direktur meraih jemari Andini dan menggandengnya masuk ke dalam. Karena hari ini harusnya ia di kantor. Namun mengingat Andini wisuda ia mengambil izin beberapa jam untuk keluar.
Miko tak tega jika melihat Andini sendirian, sedangkan kawan yang lain mengajak suami, orang tua, juga adik maupun kakaknya.
Mereka berdua selalu berdekatan, yang tak tau pasti mengira suami istri atau sepasang kekasih yang saling mencintai.
Andini dan Miko menunggu giliran foto buat kenangan itu, teman-teman juga banyak yang mengambil gambar mereka berdua termasuk Vanya.
*******
Dari luar parkiran kampus ada sebuah mobil Lamborghini milik seseorang, Pria yang pernah menolak ketika Andini mengajaknya hadir di acara wisudanya hari ini.
Pria itu hampir tak berkedip, menatap tajam kearah dua orang yang terlihat bahagia itu. Sejak satu jam yang lalu.
Arsena hanya bisa menahan diri untuk tak mendatangi mereka, alangkah malunya jika itu dilakukan. Arsena memilih kembali masuk ke mobil dan membanting pintunya kencang.
"Sial, sial, dia lagi!"
Arsena mengumpat, memaki hingga kepalanya terasa pusing sendirian, Arsena meremas rambutnya, emosi, kecewa bercampur menjadi satu.
Arsena kini melajukan mobilnya kembali ke kantor. Keinginannya untuk menemani Andini kalah cepat dengan Miko.
Arsena tak rela jika Miko seharian akan berduaan dengan Andini. Arsena memutar otak, sambil duduk berputar di kursi goyangnya, mencari cara bagaimana Miko akan menjauhi Andini untuk hari ini.
"Klik ..." Arsena menggesek jari telunjuk dan jempolnya. Ia menemukan sebuah Ide briliant.
Arsena memencet tombol yang tersambung keruangan Vina. "Vina, tolong atur skejul meeting dengan klien, hubungi pak Miko agar hadir di pertemuan penting itu, dan katakan aku tak bisa hadir karena sedang kurang enak badan."
"Baik pak." Vina mengangguk setuju diruang kerjanya, siap sedia melaporkan keinginan anak bos pertama, dan siap menyampaikan amanah pada anak bos kedua.
Arsena segera berkemas dan pulang. Ia ingin rencananya hari ini berhasil. Miko dan Andini tak boleh selalu bersama.
Sampai di rumah ia segera tiduran di ranjang big size miliknya dan menangkupkan dua lapis selimut sekaligus diatas tubuhnya.
__ADS_1
Arsena juga sengaja meminum dua butir pil dosis tinggi dalam sekali teguk, agar tubuhnya menghangat karena over dosis.
Arsena yang pulang lebih awal mengundang tanya para asisten yang bekerja di rumahnya. Namun mereka lebih baik menyimpan tanda tanya itu daripada bertanya pada majikan, yang punya hati sedingin kulkas itu.
Sedangkan Miko yang menikmati makan siang dengan Andini di kedai kampus, ia sangat terganggu dengan getar ponselnya yang berbunyi terus menerus tak mau berhenti.
"Angkat saja, siapa tahu penting." Kata Andini. Melihat Miko mengabaikan benda pipih nya.
"Baiklah, aku angkat, ini karena kamu yang memintanya, girl"
"Hallo ...."
"Hallo Pak Miko, hari ini Pak Arsena sakit, ia mendadak izin pulang," Jelas Vina.
"Apa urusannya denganku?" Jawab Miko santai, merasa tak ada urusan.
"Meeting di Bee cafetaria satu jam lagi, Pak Miko harus menggantikan sekarang."
"Batalkan saja aku sedang ada kepentingan lain."
Miko hendak menutup teleponnya namun di seberang sana suara Vina masih terdengar lagi.
"Tidak bisa pak, klien kita kali ini orang yang sangat disegani atasan kita, mereka bersahabat sangat baik dengan pemilik perusahaan ini. Pak Johan, papa anda."
"Apa tak bisa diwakilkan oleh, Galang?"
"Maaf, tidak bisa pak."
"Baiklah, aku akan menghadiri."
Miko menutup panggilan Vina.
"Andini sepertinya hari ini aku harus kembali ke kantor, maaf kalau aku tak bisa lama menemanimu." Miko menatap Andini seakan ia belum rela jika harus pergi.
"Pergilah Miko, aku juga akan segera pulang, acara wisuda hari ini, juga sudah selesai." Andini mengizinkan Miko pergi. Dia juga beranjak dari tempatnya.
Andini mengkhawatirkan Arsena yang sakit seperti yang dibilang Vina tadi. Andini belum pernah melihat pria itu sakit sebelumnya. Dan ini sangat mendadak, pagi tadi masih terlihat sehat-sehat saja, kenapa sekarang sakit.
Andini dan Miko berpisah di parkiran, Miko dengan berat hati pergi lebih dulu. Sedangkan Andini mencari motornya di deretan parkiran yang padat, akhirnya ia menemukan motornya berada di tempat paling ujung tertutup oleh banyak kendaraan.
Sampai di rumah Andini tidak memarkir motornya dengan benar, ia segera masuk ke dalam menuju lantai atas.
Pak Karman segera menata motor Andini di parkiran bersebelahan dengan mobil Arsena.
Andini mendapati Arsena yang sedang memakai selimut berlapis semakin meyakinkan Andini kalau dia sedang sakit.
Arsena merintih pelan agar actingnya semakin sukses. "hmmm ... hmmm ... hmmm ..."
"Ars ....!"
Andini segera mendekat dan menyentuh kening Arsena. " Hangat ...."
"Dia benar benar sakit."
"Ars, apa tak sebaiknya kerumah sakit saja, badan kamu panas."
"Tidak perlu Andini, aku hanya ingin kamu yang merawat ku."
"Aku tidak bisa, Ars."
"Kenapa berbohong, kamu itu calon Dokter."
"Siapa yang bilang?"
"Jujur saja Andini, kenapa tak bilang kalau kamu mengambil fakultas kedokteran?"
"Apa kamu pernah bertanya, Tuan Ars? Aku masih calon, bukan dokter, aku belum memiliki alat yang digunakan untuk memeriksa pasien. Dan aku wajib membawa kamu kerumah sakit, agar segera diketahui penyebab yang membuat sakit mendadak seperti ini."
Arsena kekeuh menggelengkan kepala.Tiba tiba ia menarik Andini ke pelukannya. "Aku mau kamu yang menjagaku. Temani aku disini saja."
Andini dan Arsena kini berada dalam satu selimut. Pria itu mendekap erat tubuh Andini. Andini yang tak nyaman dengan perlakuan Arsena mencoba meronta. Hubungan mereka tak sedekat ini, dan Andini tak mau melibatkan perasaan yang akan berat untuk di tinggalkan, ketika akan pergi nanti.
__ADS_1
"Diam Andini, kalau kamu terus bergerak aku akan mencium dirimu." Arsena memperingatkan.
"Ars, kamu sedang sakit, aku harus siapkan bubur dan minuman hangat untuk meringankan sakit ditubuhmu ini."
"Tak perlu, cukup disini dan temani aku, aku akan lebih cepat baikan." Kata Arsena lagi. Semakin mengeratkan pelukannya.
Andini merasa tak nyaman seperti ini, Arsena begitu erat memeluknya, hingga susah bernapas. " Baiklah aku akan segera kembali, biarkan aku memberi perintah pada bibi supaya membuatkan bubur untukmu.
"Tak perlu."
Andini akhirnya menyerah.
Arsena dalam hati tertawa girang, akhirnya Andini dan Miko tak bersama lagi, ia tak akan mengizinkan Miko selalu berusaha mendekati Andini, ia tak rela melepaskan apapun yang sudah menjadi miliknya menjadi milik Miko.
Arsena tak mau mengulangi kejadian yang pernah terjadi pada mamanya. harus melepaskan miliknya dimiliki oleh orang lain. Apapun alasannya.
Andini diam tak bergerak dalam selimut Arsena. Bahkan kini ia mulai kepanasan karena Arsena mematikan AC nya. Agar actingnya semakin meyakinkan kalau sedang demam. orang demam tak akan menyalakan AC di kamarnya.
" Ars, aku ingin turun sebentar aku harus mandi dan ganti baju.
"Tidak, tak mandi pun kamu masih wangi," Jawab Arsena dengan mata terpejam.
"Tapi Ars, aku juga harus ganti baju, lihat aku masih memakai kebaya. Ini tak nyaman."
"Ada syaratnya."
"Syarat? Kenapa harus pake syarat?"
"Berikan ciuman pertamamu dengan ikhlas untukku. Cium aku dengan lembut!"
"Apa .... !! Tidak aku tidak akan melakukan itu, kamu tau aku tak pernah berciuman, dan hanya suami seumur hidupku yang yang boleh mendapatkan ciuman pertamaku." Kata Andini menutup wajahnya dengan selimut.
Andini menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Menutup bibirnya yang masih terdapat lipstik bekas make over oleh perias di kampus tadi.
Andini, kamu ternyata lama lama cantik juga, dan sebentar lagi kamu akan jadi dokter muda, pasti akan banyak pria yang naksir sama kamu.
Arsena mulai meregangkan pelukannya, ia lengah, dengan cekatan Andini segera melepas tangan Arsena yang melingkar ditubuhnya. Dan dia segera turun.
"Andiniiii !!" Arsena yang nyaman memeluk Andini, masih tak rela Andini pergi.
"Maaf Ars, aku akan kembali setelah mandi dan memasak untukmu."
Andini keluar, dia jadi heran dengan perubahan Arsena sejak pulang kantor tadi. Andini berfikir mungkin ia suka berubah manja ketika sakit. atau dia memang lagi kesepian.
Arsena sikapmu sekarang berubah, tapi aku tau kau seperti ini karena Lili tak ada didekatmu, Ketika dia pulang nanti kau pasti akan kembali padanya, dan hanya dia yang terlihat olehmu.
"Andini ... Kenapa lama sekali !"
"Aku sudah datang Ars, tak perlu teriak, dan ini makanan untukmu."
"Suapin!" Kata Arsena, masih berbaring di ranjangnya.
"Maaf Ars, aku ada urusan lain dibelakang. Kamu bisa makan sendiri. Apa kamu mau disuapin Bi Uma? Dia sama denganku Asisten rumah tangga " Andini bercanda. Sekaligus mengingatkan Arsena akan ucapannya dulu ke Andini.
"Andini kau berani menolakku?" Arsena masih ingat semua, ia tak senang Andini berucap demikian, baginya dulu sudah berlalu, sekarang adalah hari yang baru, dan semua orang bisa berubah.
"Aku tidak menolak, tapi sangat baik makan sendiri selagi masih bisa." Andini menyerahkan sepiring bubur ayam hangat dengan tambahan kerupuk diatasnya.
"Baiklah aku akan makan sendiri tapi sebagai gantinya kamu harus menemani ku mandi."
"Apa---"
"Jangan menolak lagi Andini, aku bisa memaksamu."
"Baiklah, aku memilih menyuapi makan bubur saja." Andini segera merebut mangkuk berisi bubur ayam dan mengaduk pelan lalu menyendok satu sendok penuh. "Ayo, buka mulutnya yang lebar."
"Auummm," Arsena langsung saja menelan bubur halus yang baru masuk ke mulutnya. Ia makan dengan rakus karena memang tak sakit, satu mangkuk saja tak cukup untuknya, hingga Andini mengambilkan lagi, ia menghabiskan dua mangkuk bubur ayam, penuh.
Saat Andini menyuapkan bubur ke mulut Arsena, pria itu sesekali memperhatikan Andini yang banyak berubah. Kulit Andini semakin putih dan wajahnya halus tanpa satupun jerawat yang tumbuh di pipinya. Bibirnya merah muda tak terlalu kecil, namun sangat indah.
Diam-diam Arsena berfantasi liar membayangkan mengecup bibir yang bergerak gerak didekatnya itu.
__ADS_1
"Andini kamu kenapa tak mau dicium olehku? apa kamu sudah pernah melakukannya dengan pria lain."
"Apakah kau sudah memberikan ciuman pertamamu untuk Miko?"