
"Lili katakan dengan jujur, apa hubungan yang kau miliki dengan pria bernama Jack itu?"
"Teman Ken, kamu kenapa sekarang berubah jadi ingin tahu semua urusanku," ujar Lili arogan.
Teman yang seperti apa? Teman tidur? Jangan jangan kamu pergi dariku saat pagi buta ingin menemui dia di pulau Weh? Demi tidur dengannya?"
"Bukan urusanmu Ken, menyelesaikan satu pekerjaan saja tak mampu sejak dulu. Kenapa kau berharap bisa memiliki aku."
"Kamu memang licik Lili, kamu telah membuat aku terjebak bujuk rayumu, tapi kau tak pernah cukup dengan satu pria. Dimana Rara anakku!? bocah kecil itu juga kau jadikan korban ambisi yang mendarah daging di tubuh mu itu"
Lili hanya tersenyum mengejek, merendahkan Ken." Cari aja sendiri, dan ambil putrimu itu. Kau tak bisa diandalkan lagi."
"Sekarang apa yang bisa kamu perbuat untukku jika aku hanya mencintaimu? Kita saja sudah sama-sama di dalam tahanan Arsena, Ken! Mungkin kita akan membusuk disini berdua untuk selamanya."
"Jadi benar seratus persen kamu dan Jack ada hubungan?" Ken mempertajam pertanyaannya lagi. Mungkin jawaban Lili yang terakhir akan memutuskan kemana Ken akan melangkah selanjutnya. Dia yakin Arsena akan memaafkan kesalahannya jika dia akan meminta maaf dengan benar.
" Kamu pikir sendiri, apa ada pria yang mau melakukan pekerjaan berat tanpa pamrih? Apalagi resikonya nyawa harus melayang? Bukankah kau membantuku waktu itu kau juga meminta imbalan?"
Ken menggelengkan kepala, hatinya merasa sakit membayangkan Lily dicumbu oleh pria lain. "Jadi benar? Benar kamu tidur dengan pria ituuu!" bentak Ken yang masih tak percaya.
" Lili hanya diam membisu, dia tak bisa mengelak lagi karena Ken terus mendesaknya, berbohong juga rasanya tak mungkin karena Ken bukan pria bodoh yang tak bisa membaca gelagatnya.
Ken yang dilanda emosi dia memukul mukulkan borgol pada tiang besi tangannya mulai berdarah. Hatinya hancur. Wanita yang diperjuangkan ternyata bukan manusia. Melainkan dia adalah satu satunya makhluk di bumi yang tak pernah menghargai sebuah ketulusan cinta.
"Gue ngesel, gue nyesel banget sudah bikin hidup gue seperti ini, gue hancur." Ken dirundung nestapa, dia duduk sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya sesekali memeluk lututnya.
"Sekarang baru nyesel, kemaren kemana aja Elo?" ucap gondrong yang mendengar ucapan Ken.
" Gon gue belum terlambat kan? Gue nyesel." Suara Ken terdengar lirih dan dalam.
"Gon, bisa kan lo bantu gue?" ucap Ken kemudian.
" Bantu apaan? Jangan-jangan lo mau kabur lagi? Mencari banyak alasan."
"Nggak Gon, gue nggak akan kabur, gue cuma butuh bantuan sama elo buat nyari anak gue, gue pengen dia nggak akan lagi bertemu atau ditemukan lagi oleh ibunya yang sudah gila ini." Ken melirik Lili yang senyum senyum sendiri.
" Serius kamu mau ngerawat anak itu? Elo yakin dia adalah anak elo?"
" Gue yakin Rara anak gue, karena waktu itu emang cuma gue yang bersama Lili, nggak ada pria lain." ucap Ken sungguh sungguh pada kedua mantan bawahannya itu.
Gondrong akhirnya menhubungi Arsena yang sedang duduk santai di sofa bersama Andini. Gondrong tak ingin mengganggu majikannya. Dia hanya bicara seperlunya saja. Apapun yang akan dia lakukan harus mendapat izin terlebih dahulu. Termasuk dengan menceritakan keinginan Ken baru saja.
"Bos, Ken meminta satu permintaan, dia bersedia di hukum apapun asal dia bisa bertemu putrinya. Dia ingin putrinya mendapat perlakuan yang layak, dan merasakan kasih sayang dari Ken."
" Ya cari putri Ken sekarang juga." Perintah Arsena dari seberang.
" Baiklah Tuan." Gondrong sudah mendapat izin dari Arsena untuk pergi dari Markas dan membawa Rara kembali. sedangkan botak tetap stanby di tempat.
" Bawa padaku, jika kamu sudah menemukan anak itu aku akan menjaganya. Dia masih kecil tak pantas ikut merasakan kesalahan orang tuanya."
"Baik tuan, aku akan antarkan pada Anda setelah menemukan anak itu."
Gondrong segera mencari Rara ke tepat yang tak jauh dari penginapan Ken malam itu, dan benar saja Gondrong menemukan rumah pengasuh untuk Rara.
Pengasuh itu sangat terkejut mendapati Ken datang kerumah dan langsung meminta anak itu.
" Jangan takut, Tuanku akan mengambil anak itu dari anda dan akan merawatnya dengan baik."
" Bagaimana saya bisa percaya? Bagaimana kalau anda penculik." Pengasuh itu belum percaya.
" Percayalah tuanku tak berbohong." Ujar gondrong berusaha meyakinkan.
" Baiklah, jika membawanya memang keinginan Ayah sang bayi, aku izinkan kau membawa Rara. Tapi syaratnya aku ikut mengantarkannya sampai rumah Tuan anda.
__ADS_1
"Baik silahkan." pengasuh itu berjalan di belakang Gondrong, lalu ikut masuk mobil lewat pintu belakang dan duduk di tempat penumpang.
Gondrong membawa pengasuh dan Rara ke rumah Arsena terlebih dahulu. Dia tak mau melakukan kesalahan sedikitpun. Bocah kecil menggemaskan itu terlihat senyum manis saat melihat Gondrong.
"Hei cantik kamu memang mirip sekali dengan Ken, Om yakin sekarang kamu adalah anak Ken."
Saat gondrong berbicara dengan bayi itu, Rara nampak senyum bahagia. Membuat gondrong jadi terhibur juga. " Hei kamu senang ya kok senyum-senyum."
" Dia memang anak yang cantik dan lucu Tuan. Tidak seperti ibunya yang jutek dan ketus. Aku terkadang kasian lihat bayi kecil ini selalu di bentak saat menangis oleh Nona Lili."
"Dia emang nggak waras Bi. Dia wanita yang aneh. Dicintai setulus hati tak mau, tapi mengejar pria yang beristri dan sangat mencintai istrinya."
" Itu membuat saya heran, harusnya dia sayang dengan putrinya yang cantik ini dan Mencintai Tuan Ken yang ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. "
Tak terasa gondrong mengemudikan mobil pelan-pelan kini sudah sampai di mansion.
Andini dan Arsena sudah menyambut kedatangan Rara di teras depan, dekat air mancur.
Andini tak sabar menggendong Rara yang pernah dia lihat sekali itu.
Rara yang cantik mampu memikat hati Andini untuk menyayangi seperti anaknya sendiri.
"Rara kamu cantik sekali, kamu adalah Ken kecil yang menggemaskan," puji Andini. Membuat Arsena yang tadi mengacuhkan kini ikut menatap bayi yang berpindah ke dekapan Andini.
"Semoga bayi itu bahagia berada di tangan orang baik seperti anda, Nona."
"Andini tersenyum, semoga dia betah tinggal disini bersama anak anakku. Oh iya Bibi apakah sudah mendapat gaji dari Lili selama mengasuh anak ini?"
" Sebenarnya saya belum dikasih gaji Sama sekali, tapi saya ikhlas, saya kasian Nona Lihat bayi itu selalu dimarahi ibunya tiap kali revel. Dan nona lili tak segan memukulnya jika dia tak mau diam."
" Benarkah dia sesadis itu" Andini geleng kepala. Rara sekarang kamu ikut Tante ya, nanti Tante nggak akan galak sama Rara." Andini menciumi Rara yang senyum senyum. Dia terlihat bahagia. Bayi mungil seusia Cello itu bisa merasakan kalau dia sedang tak lagi dalam bahaya.
"Nona, sekarang saya permisi, saya sudah lega Rara ada ditangan orang yang tepat." Pengasuh itu pun membalikkan tubuhnya hendak pergi.
"Bi tunggu." Andini menghentikan langkahnya setelah dia melihat Arsena mengambil sesuatu untuk pengasuh Rara.
"Terima kasih Tuan," ujar pengasuh itu dengan wajah bahagia.
Andini sekarang menaruh bayi kecil itu ke ranjang, karena Rara belum memiliki bok bayi seperti Excel dan Cello. Ketiga bayi itu sekarang ada dalam satu ruangan dan mereka nampak seperti bayi kembar tiga namun tidak identik. Karena walau kembar tapi memiliki rupa yang berbeda.
"Ars, kamu sangat ingin bayi perempuan, sekarang kita sudah memilikinya," kata Andini. Sambil menatap Rara yang memiliki beberapa memar dipahanya akibat kelakuan Lili yang hobi mencubitnya.
"Iya, tapi dia tetap milik Ken, aku tentu ingin anakku sendiri yang lahir dari rahimmu bukan sayang, bukan dari Lili." Arsena memeluk Andini dari belakang. Sambil menatap ketiga bayi yang bergerak aktif.
"Besok pagi Ken sudah bisa bertemu dan memeluk anaknya. Selama ini Lili selalu melarang Ken untuk menyentuhnya."
" Iya, pria bodoh itu akan mendapat sedikit kebahagiaan."
" Ars, apa kau masih menyayangi Ken? Menganggap saudara? bukankah saudara itu saling memaafkan?"
"Tidak lagi." Arsena melepas pelukannya.
" Kamu pasti berbohong," desak Andini.
" Tidak."
"Kamu berbohong Arseeeeen! Semenjak Ken tak bersamamu kamu sering murung."
" Iya aku murung karena Ken berubah, bisa bisanya dia berkhianat."
" Sudah ku bilang, Ken juga manusia, dia punya cinta, cinta yang besar terkadang akan membuat orang lupa, Ars. Mata hati akan tertutup Aku yakin Ken sekarang sedang dalam kesedihan yang besar. Ternyata wanita yang ingin dia rubah jalan hidupnya agar lebih baik, malah membawanya dalam sebuah kesulitan seperti yang ia hadapi."
" Entahlah, aku belum percaya dengan Ken. Tapi aku rasa Ken memang masih memiliki sisi baik. Dia seorang penembak yang handal. Jika dia mau waktu itu, dia bisa menembak tubuhku tapi kenapa dia hanya menembak ban mobilku saja."
__ADS_1
Arsena menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya kasar. Tak ada Ken bersamanya memang serasa ada yang kurang.
*****
Malam sudah berganti dengan pagi, Arsena pagi ini harusnya sudah kembali ke kantor bekerja seperti biasa. Tetapi karena ada pekerjaan lain terpaksa Miko dan Mert yang menghandle untuk sementara waktu.
Miko dan Mert terlihat sudah rapi, para istri mereka berlomba memakaikan dasi. Dara memakaikan dasi warna hitam di kemeja Miko yang Abu-abu. Sedangkan Zara memakaikan dasi hitam di kemeja Mert yang berwarna biru.
"Bolos lagi kak?" Tanya Miko, usai Dara merapikan kerahnya. mereka semua berkumpul di ruang tamu. Aroma ruang tamu mendadak jadi harum karena pria maskulin semuanya sudah selesai mandi.
"Ya ... Ini terakhir, besok aku akan bekerja seperti biasa." ujar Arsena singkat.
" Baguslah, itu artinya masalah rumit itu akan segera berakhir," ucap Miko.
"Little, aku berangkat dulu."
"Hati hati, Kak." balas Dara.
Miko membungkukkan tubuhnya. Mengelus perut Dara yang sudah sangat besar dengan tubuhnya yang mungil. Terlihat sangat lucu. "Sayang Daddy mau berangkat dulu, baik baik di rumah sama Mommy ya?"
"Iya Daddy cari uang yang banyak ya Dad, kerja yang benar, jangan cari yang lainnya. Langsung pulang ya Dad," jawab Dara mewakili anaknya.
"Miko tersenyum, yang lainnya apa itu Little? Kamu nggak percaya aku?"
" Siapa tahu kakak, nggak sayang lagi sama aku gara aku sudah buncit dan jelek. Biasanya kalau yang di rumah nggak cantik lagi kan suka lirik yang di luar sana, yang lebih cantik," seloroh Dara sambil tersenyum malu-malu disaksikan oleh seluruh anggota keluarga.
"Dara ikut aja. Biar tahu Kakak Miko disana kerja apa cari cewek lain." ujar Arini menimpali Dara yang kadang suka cemburuan.
" Little bagaimanapun bentuk tubuhmu, mau bulat mau kek gimana, kakak sayangnya cuma sama kamu. udah nggak usah mikir macem macem. Jaga calon bayi kita dengan baik aja, dan lahirin dia untukku." Miko mengecup kening istrinya.
Kembali mengelus perut istrinya. "Cepat lahir baby, Daddy sudah nggak sabar ingin lihat kamu."
"Sweet! Sekali kak Miko ini." Timpal Zara yang sedang menemani Mert sarapan.
"Aku juga bisa Sweet kok sayang, bahkan lebih dari Miko."
"Kapan!" Zara nyengir.
"Ya selanjutnya kita lihat kemesraan Tuan Muda Amert dari Turki. Dan Nona Zara," canda Arini.
Mendengar suara Arini yang memekakkan telinga membuat anggota keluarga yang ada di meja makan sontak langsung menoleh. Tak sabar ingin melihat ungkapan cinta Mert pada Zara.
"Ayo Kak ... Tunjukkan keromantisan mu lebih dari Kak Miko."
" Aaaa aku malu." Zara menutup wajahnya sebentar. "Mert memang tak romantis saat di depan kalian semua, tapi dia sangat romantis saat kami sedang berdua." Puji Zara pada suaminya.
"Terima kasih sayangku," Mert meremas jemari Zara lalu mengecup keningnya sesaat.
"Wooow kalian berdua romantis banget." Arini tepuk tangan. Diikuti Oma dan keluarga yang lainnya.
"Tinggal Tuan rumah kita, dia pasti yang paling romantis diantara kalian semua."Oma ikut berbicara.
"Tidak! jujur aku tak seromantis kalian semua," Arsena tiba tiba gugup.
"Ah Kak Arsen nggak seru."
Benar, Arini. Kakak nggak romantis. Tapi aku akan berusaha membuat istriku selalu tersenyum hingga tak ada air mata lagi di pipinya. Andiniku adalah hidupku dan anak anak kami adalah buah cinta kami. Selama dia tersenyum bahagia selama itu, aku merasakan kebahagiaan yang tak ternilai. Iya kan sayang?" Arsena menarik lengan Andini membuat Andini duduk di pangkuannya.
"Cieeeee, Kak Arsena romantis juga, Oma dari ketiga pangeran tampan ini siapa yang pantas mendapat hadiah?"
"Hadiah apa? Oma tak punya hadiah. Hadiahnya dari istri masing masing saja ya."
" Bukan Oma yang harus kasih kita hadiah tapi kita yang akan kasih hadiah pada Oma." ujar Miko yang mendekati Oma dan memeluknya dari belakang sedangkan Mert duduk di samping kanan dan Arsena di samping kiri. Ketiga pangeran itu mememluk Oma dengan rasa sayang. Mita dan Rena memeluk Johan dari sisi yang berbeda
__ADS_1
"Pa sebentar lagi mereka akan kembali ke rumah masing masing, kita pasti akan merindukan saat bersama seperti ini.
"Iya Ma, kita pasti akan sangat kangen bocah yang dulu masih suka manja sama kita, sekarang sebentar lagi mereka akan menjadi Daddy dan papah masing-masing anaknya."