
"Dara, berapa usiamu," tanya Miko pelan. Bahkan getaran bibir Miko saat bertanya tak terlihat oleh keluarganya. Miko bertanya pada Dara tanpa menoleh.
"Delapan belas tahun, Kak." Dara menjawab pelan pula, dengan wajah tertunduk. Gadis memakai gaun selutut warna hijau navi itu nampak malu dengan Miko.
Sebuah senyum terukir di bibir Miko. " Ini namanya kegilaan, dia pasti baru lulus SMA. Dan gadis ini menerima menikah denganku,"
" Mama masuk sebentar ya." Mama Mita masuk ke kamar, ia mengambil sesuatu dari dalam kamar sebentar, lalu keluar lagi dengan sebuah paper bag di tangannya.
Andini lebih banyak diam, semua yang terjadi didepannya saat ini, dia tak tahu sama sekali sebelumnya, dia juga tak yakin Dara melakukannya atas kemauannya sendiri, gadis itu pernah punya cita cita ingin jadi dokter gigi yang hebat, kenapa mendadak setuju menikah.
Disisi lain Andini juga bingung dengan apa yang akan dikatakan pada sahabatnya, Vanya jelas- jelas sudah tertarik pada Miko lebih dulu. Vanya menyukai Miko sejak pertama kali bertemu di halaman universitas waktu itu.
Belum lagi Miko, pria itu terlihat tak tertarik dengan Dara. Trauma dan khawatir berlebihan masih terus menghantui perasaan Andini.
"Dara ikut kakak sebentar, ada yang pengen Kak Andini bicarakan, penting."
"Andini jangan lama-lama ya. Bawa calon menantu mama" Teriak Mita.
Andini menoleh sejenak sambil tersenyum "Sebentar saja, Ma."
Andini meraih pergelangan tangan Dara dan membawanya menjauh dari orang-orang. Andini membawa Dara ke dapur.
Sampai di dapur Andini melepas cekalan tangannya. "Dara? Apa kamu sudah pikirkan semua ini? Kamu setuju menikahi Miko? Apa kamu tau semua konsekuensinya,jika kamu menikah muda" ujar Andini setengah berbisik.
Dara melipat bibirnya kedalam, serius mendengarkan kata-kata kakaknya, biar Andini tak khawatir akhirnya dara menjelaskan pada Andini. "Kenapa kak? Kakak juga dijodohkan, dan kakak bahagia, bukan?"
"Dara, kamu itu belum tau bagaimana orang hidup berumah tangga. Banyak hal yang akan terjadi di dalamnya, bukan cuma bersenang-senang saja," khawatir Andini.
"Dara sudah memikirkan semua ini dengan masak-masak Kak, kalau Dara akan tetap kuliah walau sudah menikah. Namun, Dara ingin menjadi anak yang berbakti."
Andini kini mengerti, setelah mendengar apa yang dikatakan Dara. Kalau dia tak berdaya menolak, karena ibu yang meminta.
-------
"Andini, setelah menipuku, sekarang kau mempengaruhi calon istriku, apa yang kau inginkan?" Miko tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu dapur. Memandangi Andini dan dara bergantian.
"Bukan seperti itu Miko, aku hanya ingin katakan pada dia, ini terlalu cepat untuk mengambil keputusan."
"Aku dan Dara. Mungkin, kita berjodoh." Kata Miko sengaja, ingin membuat Andini cemburu.
"Setelah mengikuti jalan pikiran yang kuyakini benar, ternyata semua hanya menipu diriku sendiri. Sepertinya aku juga ingin mulai memberi kepercayaan orang lain memasuki hidupku. Biarkan aku jalani yang menjadi takdir dan bagianku."
"Dara." Miko mengulurkan tangannya pada Dara.
Dara melihat Miko sekilas, lalu mengalihkan pandangannya karena malu,
Pria itu mengangguk. Seolah memberi kode pada Dara, agar jangan meragukan.
__ADS_1
Dara menyambut tangan Miko. Mereka berdua kembali ke depan, meninggalkan Andini sendiri di dapur
Tidak, Miko melakukan semua itu bukan karena dia menginginkan Dara, dia pasti ingin melampiaskan semua kecewanya atas diriku pada Dara. Jika pernikahan ini terjadi adikku adalah orang satu satunya paling dirugikan disini.
Andini termenung di dapur sendiri. Dia masih belum percaya kalau Miko benar-benar bisa menerima Dara apa adanya.
"Dara duduklah, Nak. ibu punya hadiah untukmu. Pakai gaun ini di hari pertunangan kalian ya, Miko nanti juga akan mendapatkan baju dengan warna yang sama."
"Makasih, Tante," ucap Dara.
Mita menyerahkan ke pangkuan Dara. Dara menerima baju yang sudah terlipat rapi di dalam paperbag.
Mita terkejut dengan apa yang didengarnya, ia segera mengelus rambut calon menantunya penuh kasih. "Apa? kalian berdua ini sebentar lagi akan menikah Kenapa masih panggil tante, panggil kita mama dan papa."
"Makasih, Ma." Dara meralat ucapannya.
--------
"Andini di mana? Kok lama, belum balik,"tanya Mita.
"Biar Aku susul," kata Arsena sambil berdiri dari duduknya.
Arsena berjalan ke belakang melewati setiap kamar dan ruangan apartemen Miko menuju dapur. Ia menemukan Andini berdiri, menyandarkan tubuhnya pada dapur cantik.
"Kamu ngapain kok malah di sini sendirian? Kita pulang yuk!"
Andini mengangkat nampan, dia mulai membawanya ke depan dengan wajah kurang semangat.
"Hei, kenapa wajahmu ...? Habis nangis ya?"
"Emang kelihatan kalau aku habis nangis?"
"Ya iyalah, kelihatan, mata kamu bengkak begitu"
Andini menyeka air matanya dengan tisu yang diambilkan Arsena, sekalian menyusut ingusnya yang tak mau berhenti.
"Kenapa? kamu nggak suka Dara menikah dengan Miko? Atau, apa benar selama ini kamu menyukai Miko?" Arsena kini yang khawatir kalau Andini tidak bisa mengikhlaskan Miko untuk Dara.
"Enggak Ars, sungguh bukan itu masalahnya nya, aku hanya kasihan sama Dara. Bagaimana kalau dalam pernikahan Dara nanti, dia tidak bahagia."
"Do'akan aja yang terbaik, semoga saja Miko nanti memperlakukan Dara, selembut aku memperlakukan istriku."
"Apa? apa yang ku dengar ini benar? Ayo Tuan, ulangi lagi kata-katamu." Andini mencubit pinggang Arsena membuat ia memekik kesakitan.
Hingga Andini yang sempat sedih ia juga ikut tertawa. Tertawa terhenti saat nampan di tangan mulai goyang, teh-teh diatasnya hampir saja tumpah.
"Kau adalah tuan kejam yang pernah aku temui di dunia ini."
__ADS_1
"Terserahlah, katakan tentangku yang paling buruk sekalian, asalkan kamu bisa tersenyum seperti sekarang ini."
Andini dan Arsena kembali ke depan. Andini, Menyuguhkan teh satu persatu di depan mama dan papa. lalu membiarkan yang lainnya mengambil sendiri di Nampan.
"Pa, Ma, diminum tehnya!"
"Makasi, Ndin." Kata Johan. Mita juga berterima kasih.
Andini duduk bersama mereka lagi, Dan Arsena segera menyusul di sebelahnya.
Arsena segera mengutarakan maksud hatinya. "Pa, Ma, sepertinya Andini dan Arsena mau pulang, kita pamit sekarang sekalian. Soalnya Arsena sudah lama meninggalkan tanggung jawab kantor. Kondisi Miko juga sudah membaik, Jika menunggu Miko ingat semuanya sepertinya waktu itu masih lama. Arsena akan sering berkunjung kesini bersama Andini."
"Baiklah, papa dan mama nggak bisa juga terus menahan kamu disini." Johan mengiklaskan Andini dan Arsena pulang. Mereka mengantar Andini dan Arsena sampai depan lift. Kecuali Miko yang tinggal di ruang tamu sendirian.
"Dara ikut pulang bareng kakak sekalian, Ma!"
"Ah ... Dara. Padahal Mama masih pengen ngobrol banyak sama kamu."
"Besok aja Ma, Dara akan kesini lagi, sekarang Dara pulang dulu. Ibu pasti menunggu."
"Okey. Anak baik, Hati hati di jalan." Mita mengecup puncak kepala Dara. Dara mencium punggung tangan Mita dan Johan bergantian.
Setelah Andini keluar rumahnya, Miko segera berjalan ke kamar, ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Sepertinya, tak ada hal yang seru bagi Miko selain saat bersama kakak iparnya itu. Miko melihat galeri di ponselnya. Ia yakin pasti ada foto Andini di dalamnya. Penasaran dengan sosok Andini belum juga hilang dari otaknya.
Miko melihat koleksi foto di ponselnya satu persatu.
"Mana foto Andini? Masa aku nggak punya?" Miko heran dari atas hingga bawah yang ada cuma foto Dara.
"Apa benar kata Mama, kalau aku sangat menyukai gadis kecil ini? Jika mama bohong, tak mungkin aku menyimpan begitu banyak fotonya di galeri pribadiku seperti ini?"
-------
"Sayang? Lihatin foto Dara ya? Kamu kapan mau menikahi dia?"
"Apa Ma? Menikah?" Miko menggeser tubuhnya , Mita duduk di sebelah Miko.
"Iya menikahi Dara, kamu sangat suka sama dia. Lihat kamu bahkan punya koleksi fotonya banyak banget, dari bangun tidur hingga tidur lagi."
'Kalau memang Miko dan Dara sudah saling mencintai sebelumnya, sebaiknya Mama atur saja semuanya. Siapa tau setelah menikahi Dara, Miko bisa ingat semuanya."
"Lagian bagi Miko ingat atau tidak, dengan masalalu Miko, semua itu sudah tak penting lagi."
Miko meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Lalu menarik selimutnya hingga perut. Miko mencoba menerima semua kenyataan yang kini ada di depan matanya.
" Nikahkan saja aku dengan, Dara. Ma." ujar Miko sambil menatap langit-langit kamar.
" Baiklah Miko, Mama dan Papa akan segera atur acara pernikahan kamu secepatnya.
__ADS_1
* Happy Reading.