Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 141. Dalam Dilema (Zara)


__ADS_3

" Kak Davit, menjawab cinta seseorang itu tak semudah membalikkan sebuah buku menuju halaman berikutnya, jika Kakak ingin berharap Zara menjawab secepatnya. Maaf, tak bisa. Masih banyak yang akan menjadi pertimbangan." Zara berbalik, dia hendak pergi meninggalkan Davit sendirian.


Davit meraih pergelangan tangan Zara. "Zara"


Zara berhenti lalu membalikkan badan. Menatap wajah oval dan alis tebal serta pemilik sorot mata teduh itu.


Davit menarik dagu Zara. Mimik Zara mendongak ke atas, bibirnya yang merah muda terlihat begitu jelas di depan Davit. "Apakah tuan Mert mengganggumu? Dia pemuda yang kaya, jangan terperdaya olehnya."


"Tidak, Kak Davit. Tuan Mert pemuda sangat baik." Bibir merah itu bergetar menjawab sebuah tanya dari Davit.


Cara penyampaian Zara yang begitu lembut membuat ulu hati Davit serasa di remas. Dia seperti tak memiliki celah untuk memenangkan perlombaan ini.


Ya ... Mengharapkan cinta Zara ternyata seperti mengikuti sebuah lomba, berharap menjadi pemenang dengan mengharapkan satu lawannya akan kalah dan menyerah.


"Zara, putuskan sekarang, pilih aku atau Mert?"


"Kak Davit, Zara tidak tau apa yang harus Zara katakan pada kalian berdua, jujur Zara berat memutuskan semua ini."


"Zara, tataplah mataku, dan lihatlah ketulusanku." Davit berusaha meyakinkan Zara.


"Kak Davit, biar tidak ada yang tersakiti diantara kalian berdua, Zara memutuskan untuk tidak memilih siapapun diantara kalian. Maaf." Zara menangkupkan tangannya.


Kamu bimbang Zara. Artinya kamu juga mencintaiku. Aku akan memperjuangkan dirimu.


Setelah kepergian Zara, Davit juga pergi. Davit masih selalu berharap dan berusaha sebelum Zara berkata, tidak.


 


Zara kembali dari taman belakang melewati dapur. Mert melihat Zara dari pintu kamarnya yang sengaja ia buka, karena AC di kamarnya sedang mati fungsi.


Gadis itu melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa. Tanpa sadar kalau ada dua bola mata sedang memperhatikan langkahnya yang sedikit tergesa.


"Zara dari mana?" Tanya Mert yang sudah berdiri diambang pintu kamar, tubuhnya bersandar pada daun pintu. Sedangkan Zara dari dapur melewati dirinya.


"Dari taman belakang." ujar Zara


"Ngapain?"


"Ada keperluan dengan kak Davit." ungkap Zara jujur. Lalu masuk kamar mandi mencuci tangan dan kakinya.


"Sibuk nggak?" Tanya Mert lagi saat melihat Zara keluar kamar mandi.


" Tinggal mengantarkan yogurd, dan susu untuk Nona Andini." Zara menata makanan di atas nampan.


" Habis ini, bisa nggak aku minta tolong." Tanya Mert, penuh harap.


"Minta tolong? Kalau saya bisa melakukannya, saya tidak keberatan, Tuan Mert." ujar Zara, melewati Mert begitu saja sambil, tangannya tegang takut susu di tangannya akan tumpah.

__ADS_1


" Pasti bisa. Buatkan aku secangkir kopi ya! Nanti antarkan ke kamarku."


" Baik, Tuan" Zara membalikkan tubuhnya hendak mengambil yogurd dan segera mengantarkan pada Andini. Nyonya manja yang tak terpisahkan dengan suaminya semenjak hamil itu.


"Zara, sehabis mengantarkan pada Nona Andini, buatkan kopi latte dan tolong antarkan ke kamar. Nggak keberatan kan aku minta tolong."


"Tentu tidak tuan," Gadis itu melenggang pergi, dan bayangan hilang di belokan. Saat Zara melewatinya Mert tersenyum manis sekali. Walau tak menoleh Zara masih bisa melihat senyum itu.


Mert semakin hari semakin mengagumi sosok Zara. Gadis berhijab dengan pakaian simple. Pemilik mata hazel dan bulu mata lentik itu terus saja mampu membuat dirinya terpaku saat di dekatnya.


Zara sudah sampai dilantai atas. Ia melihat Andini dan suaminya sedang bermanja. Duduk di sofa panjang sambil menikmati acara di sebuah stasiun TV. Kepala Andini berada di pangkuan Arsena. Arsena tengah bersantai, tangannya membelai rambut istrinya dan lengan satunya menopang dagunya.


Selamat sore, Tuan, Nona, ini susu khusus penguat kandungan yang yang sudah saya tambahkan sari buah di dalamnya beserta yogurd.


"Terima kasih Zara."


Zara menaruh di depan Andini tanpa mengurangi kesopanannya. Memundurkan tubuhnya lalu pergi.


Arsena dan Andini masih diposisi yang sama kedatangan Zara tak mengusik kemesraannya sedikitpun.


Zara kembali menuju dapur, membuatkan Mert kopi latte reguesnya sepuluh menit yang lalu. Aroma kopi menguar dari dapur. Zara menghirup aromanya yang menenangkan. Tanpa membuang waktu lagi Zara mengantarkan kopi latte pesanan Mert.


"Tuan ini pesanan Anda." Zara berdiri mematung di depan pintu.


"Zara masuklah." Mert menoleh ke arah pintu menatap kehadiran Zara.


"Baru saja aku memberimu ijin, masuklah."


Zara menurut dia masuk ke kamar Mert dan menaruh kopi di meja kecil sebelah ranjang. Rupanya Mert sedang sibuk mengerjakan tugas kantor.


Zara pekerjaanku banyak sekali, tapi aku mengantuk, Boleh aku minta temani sebentar. Ada kamu disini pasti kantukku akan hilang.


"Tapi tuan."


"Nggak apa-apa, lagian pintu itu terbuka." Mert seakan tau apa yang sedang dipikirkan Zara. Wanita dan pria berada di kamar yang sama, akan ada mahluk ketiga yang sangat senang.


Mert menarik satu kursi, ia letakkan tepat disebelahnya Zara akhirnya duduk disebelah Mert. Disela kesibukan Mert ada banyak pertanyaan yang ia tanyakan tentang pengalaman hidup Zara .


Pria itu tak lagi mengantuk dia bisa mengerjakan tugas kantor sedikit lebih cepat karena ada wanita yang ia sayangi telah setia menemani duduk di sebelahnya.


Mert memeriksa ulang data perusahaan yang masuk hari ini. Kesibukannya di kantor luar biasa setelah Miko melaksanakan bulan madu yang kabarnya baru akan pulang hari ini.


Zara, bagaimana kalau aku melamar pada orang tua kamu bulan depan.


" Dilamar?" Wajah Zara terlihat terkejut, dia tidak menyangka Mert akan segila ini dalam mengungkapkan perasaannya. To the point.


"Tidak mungkin Tuan Mert, kita berbeda kasta."

__ADS_1


"Kenapa? Ada larangan? Jika memang kau berfikir kita berbeda, Aku sudah menghapus perbedaan diantara kita.


Mert berkata sambil meraih gelas dan sesekali meneguk kopi late buatan Zara.


Wajah Zara terlihat gundah, kursi yang ia duduki berubah menjadi tak senyaman tadi.


Zara lumayan lama berada di kamar Mert . Mereka hanya ngobrol, sesekali sambil tertawa. Zara baru tau kalau pria itu suka bercanda. Namun setelah Mert berkata ingin melamar, rasanya itu bukan lelucon Mert lagi.


"Tuan, izinkan saya pergi, pekerjaan Anda juga sudah selesai." Zara ijin keluar.


"Maaf jika aku terlalu buru-buru, anggap saja aku tadi tak mengatakan apa-apa." Mert berusaha meralat kata katanya, khawatir Zara akan semakin menjauhinya.


"Baiklah Zara, terima kasih sudah ada buat aku." Mert mengeluarkan senjata Ampuhnya. Senyum yang manis.


"Permisi, Tuan." Zara berdiri.


Ketika hendak melangkahkan kaki keluar, mungkin gugup atau entah bagaimana gamis Zara tersangkut oleh kaki kursi.


Mert dengan sigap meraih lengan Zara dan menarik tubuh ramping itu dalam dekapannya. "Jangan bergerak, biar aku angkat kursinya, jika memaksa gamis ini akan robek.'


Zara terdiam, tubuhnya kaku, jantungnya berdetak melebihi kecepatan genderang ditabuh hendak mulai perang.


"Zara aku tau saat denganku kau gelisah, kau merasakan sesuatu yang sama denganku. Tapi kamu malu mengakuinya."


"Merasakan sesuatu? Tidak. Aku baik baik saja, Tuan." Zara melangkahkan kakinya mundur.


"Masih saja berbohong, aku tau kau juga nyaman dekat denganku."


"Tuan Mert, saya harus segera pergi."Zara meninggalkan Mert sendiri. Dia berlari menuju kamarnya yang berjarak satu kamar dengan Mert. Di tengah ada kamar Oma, dan kamar Zara berada di paling ujung belakang.


Zara segera mengunci pintu kamarnya. Duduk memeluk lututnya di sisi ranjang. Kejadian tadi sangat mendebarkan. Ini pertama kalinya ia berjarak sedekat itu dengan pria, bahkan aroma mint dari embusan nafas tuan Mert sempat ia rasakan.


"Tuan Mert, jantungku ingin copot saat dekat dengannya, apakah ini pertanda perasaanku lebih condong kepadanya?"


"Tidak, Kak Davit sangat baik, aku tidak bisa menyakiti perasaannya, aku tak mau bahagia sendiri diatas penderitaannya, aku tak boleh egois."


 


Hari mulai petang, senja sudah hilang berganti bintang. Bulan purnama terlihat begitu besar sudah nampak dari timur. Cahayanya menelusup di sela-sela dedauann.


Davit berada di gazebo belakang, Tempat yang akhir akhir ini menjadi favoritnya bertemu dengan Zara.


Pria itu sedang sendirian, sibuk menata sesuatu, entah kejutan apa yang akan ia berikan hari ini pada Zara.


Usai menyelesaikan semuanya, pria itu terlihat merogoh sakunya, meraih benda pintar keluaran tahun lalu. Walaupun sudah ketinggalan zaman tapi Davit pandai merawatnya hingga tampilannya masih tetap kinclong.


Bip bip bip

__ADS_1


Suara getar ponsel di atas meja rias, mengagetkan Zara yang hanyut dalam buaian kebimbangan.


__ADS_2