
"Vit apakah dia salah satu wanitamu juga?" Tanya Arsena dengan urat leher menonjol dan rahang mengeras. Matanya seperti mata elang yang siap menerkam.
"Tuan! Tak mungkin aku melakukan hal itu. Sayangku pada Arini melebihi cintaku pada diriku sendiri." Davit gugup, walaupun dia tahu majikannya tengah salah paham.
"Lalu, wanita ini?"
"Dia Salsa, Sahabat Arini. Aku sebenarnya ingin mencari hadiah untuk calon istriku, dan tuan tahu sendiri aku belum lama mengenal apa saja yang disukai oleh Arini, Jadi aku minta tolong Salsa."
"Salsa boleh aku tanya sesuatu? Arsena kini menatap Salsa yang terlihat pucat "Apa benar yang dikatakan Davit?"
"Salsa mengangguk."
"Apa kau sudah menikah? Tanya Arsena lagi. "Dan apa kau tahu kalau Davit akan menikah? Kenapa kau hanya pergi berdua saja."
"Kami sebenarnya tidak pergi bersama, Tuan, tapi kami kebetulan bertemu disini dan Kak David ini meminta tolong untuk dipilihkan hadiah yang cocok untuk Salsa. Dan saya sendiri sepertinya juga ingin memberikan hadiah untuk pernikahan Arini dan Kak Davit nanti.
" Ouh, bagus kalau begitu. Teruntuk kamu David, Aku tak mau ada gosip beredar di luaran sana kalau kau bersama seorang wanita lain."
" Maaf, tadi murni karena ketidaksengajaan. Dan aku lihat Salsa seperti sedang kurang enak badan. Jadi aku lakukan semuanya karena murni rasa kemanusiaan."
"Hubby, kenapa kamu jadi diktator begini, biarkan David bertemu dengan teman-temannya, asalkan dia cintanya cuma sama Arini." Andini berkata dengan suaminya dengan bahasa yang lembut dan menyenangkan, terbukti ucapan Andini mudah sekali dipahami oleh Arsena.
Vit kalau begitu kami duluan ya, aku sama kakak ipar kamu mau belikan Excel dan Cello mainan, sepertinya dia tadi memilih mainan yang ada di disana,";ujar Andini sambil menunjuk sebuah tempat yang berisik khusus mainan anak-anak. tak lupa dia juga menarik lengan Arsena.
"Cello yuk kita ambil mainan kesukaanmu tadi." Andini berkata dengan balitanya yang kelihatan semangat sekali.
"Daddy Arsena, Cello lagi semangat nie." ujar Andini menunjukkan ekpresi wajah putra kedua pada suaminya.
"Cello minta gendong Deddy apa mommy"
"Mommy aja."
Excel yang ada di gendongan Arsena juga menyahut. " Excel mau cama Daddy aja."
" Daddi jahat sama mom, "ujar Cello yang ingat kejadian pagi tadi saat Arsena mencium Andini dengan paksa.
" Daddy nggak jahat sama mommy kan?" Tanya Excel yang lancar berbicara melebihi usianya.
"Tentu tidak sayang, Daddy sangat sayang sama mommy."
Arsena mencubit pipi Cello yang siap melindungi mommy nya setiap saat. " Sama kalian berdua juga. Kalian berdua anak Daddy yang hebat."
"Jangan pegang Cello."
__ADS_1
"Hubby, tau sendiri kan gimana otak anak-anak merekam kejadian tadi, dia kira kamu sedang menyiksa aku."
" Menyiksa? enak aja, itu tadi nafkah batin, kecupan sayang." Arsena masih terus menggoda Andini, hingga mereka sampai di tempat mainan.
_____
"Kak Davit yakin akan masuk di keluarga yang tak ada kebebasan di dalamnya?"
" Apapun yang terjadi, cintaku pada Arini amatlah besar, Aturan di keluarga Atmaja hanya berlaku buat mereka yang bersalah." Davit berkata seraya mengulurkan tisu pada Salsa.
Salsa menerimanya dan tersenyum. "Kak Davit adakah satu lagi pria seperti kakak."
"Salsa, yang seperti aku cuma satu, yang lebih dari aku banyak."
"Tapi Kak, aku nggak yakin ada pria yang mau denganku yang sudah tak memiliki mahkota lagi, beruntung Kakak bisa menjaga Arini sampai hari pernikahan."
"Kok jadi cerita sedih begini sih. Sal, tolong bantu pilih kalung mana yang kita kira akan di sukai Arini."
"Sepertinya Arini suka yang simpel deh Kak." Salsa menunjuk salah satu kalung yang ada di etalase.
" Yang ini ya," Davit ikut menunjuk hingga jarinya hampir bersentuhan dengan Salsa. Davit segera menarik kembali lengannya. Salsa pun menyadarinya.
"Iya, Arini tipe gadis simpel, walaupun dari keluarga kaya dia tak suka menonjolkan kekayaannya, kadang aku sampai iri sama dia."
"Jadi aku beruntung banget dong dapatin cinta dia."
"Maksud kamu?"
"Sebaiknya kita duduk Kak, biar ngobrolnya enakan dikit."
"Iya, boleh." Salsa dan Davit kemudian duduk di sebuah cafe di dekat pusat perbelanjaan.
Kebetulan keluarga kecil Arsena sudah lebih dulu tiba di sana. "Hai Vit, ternyata lo ke sini juga udah dapat hadiahnya?" Tanya Andini yang melihat kedatangan David lebih dahulu.
"Sudah Nona, cuma tinggal urusan konsumsi, masih bingung kira kira restaurant mana yang masakannya cocok untuk tamu Papa Johan nanti " jawab Davit sambil duduk di sebelah Andini, sedangkan Arsena izin ke toilet. Salsa hanya diam mematung tak ikut campur.
"Penganten baru sibuk banget rupanya, urus ini dan itu sendirian. Urusan konsumsi bagaimana kalau serahkan pada ibu Ana saja." Andini promosikan masakan ibunya.
"Oh iya, bener, restauran punya ibu Ana kan nggak kalah dengan yang bintang lima. Karyawannya juga banyak jadi bisa sediain banyak menu untuk tamu nanti." Davit langsung girang, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menghembuskan nafasnya lega. " Kok aku sampai lupa kalau ibu Nona Andini pemilik restoran terkenal di kota ini."
Andini ikut tersenyum. " Makanya apa apa itu di obrolin, dipikir sendiri aja, bisa-bisa mendadak rambutmu berwarna putih nanti.
"Hai Cello, nggak tidur? Ini om beli'in dua banteng. Satu untuk Excel satu untuk Cello."
__ADS_1
"Wah makasih om Davit." Andini mengucapkan terima kasih pada Davit.
"Maci om," Cello menerima dengan senang hati dia langsung memeluk boneka banteng pemberian dari David, dan membuang biscuit yang ada ditangannya.
"Makaci om." Excel juga sama.
" Hadiahnya kan sudah, sekarang cium pipi om Davit donk." Davit mendekatkan pipinya ke Excel. Anak pertama Arsena menyentuhkan bibirnya yang sengaja dimonyongkan ke pipi David
"Ayo Cello sekarang gantian yang cium pipi om."
"Cello Ndak mau, Om davit minta cium cama Daddy. Kalena Daddy suka cium mommy."
"Cello!"
"Cello ndak bohong mommy."
Arsena yang baru keluar dari kamar mandi hanya mendesah pelan melihat putranya sudah bisa merangkai kalimat walau terputus dan pelan pelan.
" Tapi Om mau Cello yang cium, yang dapat hadiah dari om Davit kan Cello."
Cello akhirnya menurut dia memilih mencium pipi Davit yang sebelah kiri, karena yang kanan sudah dicium oleh Excel.
" Vit apa kamu nanti akan antar Salsa pulang"
"Enggak kok Nona, saya sudah pesan ojol tadi. Dan sepertinya aku harus pulang sekarang sebelum hari makin gelap. Salsa memilih pilang lebih dulu, dia tak mau mengganggu Davit lebih banyak lagi setelah pria itu membantu menjebloskan Nathan ke dalam Sel.
_______
Sedangkan Arini di rumah sedang fighting baju pengantin yang dipesan Davit langsung dari mama Mita. Mama Mita memberi potongan harga discount sangat banyak kepada Davit. Gaun yang seharusnya seharga ratusan juta, tetapi untuk Davit Mama Mita hanya mengambil dua puluh lima juta saja, sekedar untuk beli bahan lagi.
"Rena, menurutmu gimana bajunya?" Tanya Mama Mita pada madunya.
" Menurutku sudah pas, Mit. Arini cantik banget pake baju putih tulang buatan dirimu itu." Rena turut berkomentar.
" Davit keren ya milihnya." ujar Rena lagi.
" Iya, Arini pasti akan nyaman dengan dia selain dia kan jadi pelindung Arini, pemikiran David juga dewasa," jawab Mita.
"Iya, semoga saja kita nggak salah pilih mantu, ya. Ketiga anak kita akan bahagia dengan suami dan istri masing masing." Senyum mengembang dari kedua bibir istri Johan.
_
_
__ADS_1
"Omaaa!!"
" Excel Cello. Kalian sudah pulang?" Rena segera berdiri dari duduknya menyongsong kedatangan cucunya. " Mana oleh oleh buat Oma, tadi beli apa aja nie."