
Miko melihat wajah Dara , gadis itu terlihat murung.
"Hei, kenapa sedih? Lagian aku baru menciummu, Dara."
"Tapi itu ciuman pertama Dara, kakak tau Dara telah menjaganya sejak balita sampai sekarang. Tapi seenaknya kak Miko mengambilnya tanpa permisi. Sekarang semua sudah hilang, sudah terlambat, apa kak Miko bisa mengembalikan?"
"Jawab kak apa kak Miko bisa mengembalikan?
"Aku sekarang suamimu , Dara, aku berhak semuanya." Miko menenangkan Dara, memeluknya erat, lalu tangannya membelai rambut Dara yang lembut.
Namun hal itu tak membuat Dara luluh, justru isakan tangisnya semakin menjadi jadi.
Tapi kak Miko, belum mencintai Dara, dihati kak Miko masih ada Kak Andini seorang.
"Siapa bilang? Dihati kakak sekarang hanya ada Dara, Wanita itu Dara."
"Kak Miko pasti bohong, karena tak mau dituntut oleh Dara soal kasus pencurian tadi, kan? jawab kak?"
Miko ingin tertawa namun sebisa mungkin ditahan, mana ada mencium istri sendiri disebut pencuri.
Bener bener konyol banget hidup gue, baru saja gue cium udah kayak habis gue apain aja, bagaimana kalau bener-bener gue apa apain pasti makin runyam urusan. Gara gara ini sih, rese banget." Miko meremas kesal, miliknya yang mulai menegang kembali.
"Auh sakit juga, gue pukul."
Miko tak percaya didunia ini ada gadis selugu Dara, seumur hidupnya tak pernah berciuman. Beda dengan dirinya, entah sudah berapa banyak wanita clup yang pernah tidur dengannya. Miko bisa mendapatkan beberapa wanita dengan mudah dalam semalam. Pertemuan dengan Andini merubah pribadi Miko, lelaki yang bebas menjadi lelaki yang lebih waras.
Miko memegang kedua lengan Dara, memaksa untuk menghadap ke arahnya, tatapannya mulai teduh, Miko ingin menjelaskan pada Dara kalau cintanya dengan Andini itu cinta yang salah. Andini tak pernah mencintainya.
"Andini masalalu aku, Dara. Dan cinta itu selamanya tak akan terbalas, mulai sekarang aku akan membuka hati untukmu, mencintaimu sebesar yang aku bisa, apakah kamu mau membantu aku? Hubungan kita harus sedikit dipaksa untuk saling mencintai, kita tidak bisa seperti ini terus, Dara. Hanya diam ditempat, tidak akan ada kemajuan.
"Maksud, Kakak?"
"Mulai hari ini biarkan aku memberikan perhatianku untukmu, dan jangan pernah tolak aku lagi, saat ingin menyentuhmu."
"Tapi kakak tak akan pernah tinggalkan, Dara?" Tanya Dara polos.
Miko menggeleng pelan, "tidak akan."
Miko kembali memeluk Dara, gadis itu meringkuk dalam dekapan Miko.
----------
Tok! tok! tok!
"Kak Andini sudah datang. Kakak berbaringlah, kak Andini akan segera memeriksa Kakak."
"Kamu memanggilnya?" Tanya Miko agak terkejut.
"Iya, maafkan aku kak, aku khawatir dengan kondisi kakak."
"Baiklah, biarkan Andini masuk."
"Dara segera membukakan pintu untuk Andini."
"Dara, kamu baik baik aja." Wanita muda memakai seragam dokter itu segera melenggangkan kakinya menginjak ruang tamu rumah Miko. Begitu mendapati Dara yang membukakan pintu, Andini segera memeluk adiknya dengan penuh kehangatan.
Asisten sekaligus, mata mata dari Arsena tak pernah ketinggalan. Zara ikut dibelakang Andini membawakan tas berisi alat yang dibutuhkan saat memeriksa pasien.
"Iya Kak, Dara baik saja, kak Miko sedang kurang enak badan, suhu tubuhnya tiba-tiba panas.
"Baiklah kita akan periksa kak Mikonya. Sebaiknya Dara, segera antarkan kakak kesana."
Tiga wanita muda itu segera menuju kamar Miko. Miko yang mendengar suara derap langkah kaki ia segera memposisikan dirinya dengan posisi paling enak, Miko menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang dengan beberapa tumpukan bantal di punggungnya.
"Kak Mikonya bandel Kak, dia nggak mau makan." Curhat Dara pada Andini.
__ADS_1
"Harusnya kamu bisa melakukan tugas ini dengan baik Dara, ini tugas Istri."
Andini dan Zara sudah masuk ke kamar Miko. kamar yang tak asing bagi Andini. sementara Dara menyiapkan minum untuk kakaknya sebentar.
"Zara coba kamu periksa tensinya!"
"Baik, Dok."
"Dara duduklah disampingku, jangan jauh jauh." Miko meminta Dara selalu ada didekatnya. begitu mendapati Dara paling terakhir masuk ke kamarnya.
Dara segera naik ke atas ranjang, duduk di sisi Miko yang satunya sedangkan, Zara yang ada disisi yang satunya mulai memeriksa detak jantung Miko dan tekanan darahnya.
"Berapa tensinya?"
"Semua normal Dok. Mendengar keluhan pasien dengan panas dingin yang tak stabil, sudah bisa dipastikan kalau tuan Miko sedang mengalami gejala tukak lambung.
"Tu kan, Kak. Benar kena gejala sakit lambung, Kakak bandel sih, coba aja nurut sama Dara, pasti kakak akan baik-baik saja." Dara kesal sama Miko. Karena ulahnya sendiri Dara juga mendapat Omelan dari Andini.
"Maaf, maaf. Setelah ini Kakak pasti akan nurut." Miko mencubit hidung Dara dengan gemas. Membuat Andini dan Zara malu menyaksikan adegan romantis itu.
Miko meraih jemari Dara dan menggenggamnya. "Maaf, habis waktu itu aku sudah usahakan pulang cepat, pengen makan bareng sama istri, taunya kamu malah berduaan dengan cowok lain." Ujar Miko sambil mengecup punggung tangan Dara.
"Apakah yang dikatakan Miko itu benar Dara?"
"Benar, Kak. Tapi sumpah, cowok itu yang mau di dekat Dara? Dara nggak ada rencana makan siang bersama dengan Adit."
Andini mencoba mengingat ingat. "Adit, cowok yang itu lagi."
"Kamu kenal siapa dia, Ndin." Miko terhenyak.
"Oh, nggak juga, cuma waktu itu dia datang di pesta pernikahan kalian, dan buat kamu Miko, kamu harus waspada sama dia, soalnya dia lagi ngebet banget pengen dapetin Dara."
"Kakak !" Dara berteriak, ingin Andini menghentikan omong kosongnya.
"Dara, kalau begitu kakak pamit dulu, jaga kondisi suami kamu, dan jangan lupa ingatkan suami agar meminum obatnya sampai habis."
Andini meninggalkan segepok obat di atas nakas. Banyaknya obat di depannya membuat perut Miko seketika mual.
Miko sudah bosan mengkonsumsi obat setiap hari. Obat untuk luka di kepalanya baru saja habis kini dia harus minum lagi obat untuk sakit lambung.
------
"Kak, Dara mau ke dapur dulu."
"Ngapain?"
"Mencuci piring, sekalian buatkan puding buat, Kak Miko"
"Udah disini saja, hari ini bibi akan Datang."
"Kakak lupa ya? Bibi sedang sakit, dia nggak bisa datang."
"Setelah Miko mengijinkan, Dara segera beranjak dari ranjang menuju dapur.
Sambil mencuci piring Dara melamun. Dia teringat kata-kata Miko barusan, benarkah Miko ingin mencintainya dengan tulus? Benarkah Miko secepat itu melupakan Kakaknya? Saat ada Andini tadi ia begitu romantis, mungkinkah itu tulus? atau hanya sengaja ingin membuat Kakaknya cemburu.
Yeah mungkin Miko benar-benar sudah sadar, Andini tak mungkin lagi berpaling dari suaminya. Mereka sudah saling cinta, daripada menjadi pungguk. Lebih baik membina mahligainya sendiri. Mungkin dia mulai lelah menunggu cinta yang tak kunjung mendapat balas.
"Dara mencuci piring sambil melamun? Sedang mikirin aku ya?." Miko mengeratkan tangannya ke pinggang Dara. Gadis itu awalnya risih Miko memeluknya dari belakang. Namun Dara berusaha menerima setiap kehangatan yang diberikan suaminya.
"Kak ... Jangan gini ah, geli."
Benarkah, seperti ini Geli, Miko semakin mengeratkan dekapannya. Tubuhnya yang lebih tinggi membuat punggungnya sedikit membungkuk. Miko menciumi rambut Dara yang selalu wangi. Suhu tubuh Miko sudah turun setelah meminum obat dari Andini. Sepertinya Andini memang dokter berbakat yang patut di acungin jempol.
Miko membalikkan tubuh Dara dan menangkupkan telapaknya pada dagu Dara, membuat wajah imut dengan pipi cabi itu terlihat jelas di depannya.
__ADS_1
"Kakak ngapain kesini?"
"Kakak nyusul kamu, habis mencuci piring berapa sih, lama banget?"
"Banyak kak, lihat ini." Dara menunjukkan dua piring, dua sendok dan dua gelas yang sudah tengkurap dibelakangnya
"Oh, cuma itu." Miko mengernyitkan dahinya lalu tersenyum.
"Pasti tadi cuma alesan ingin ke dapur, sengaja lama-lama, mau menghindari hukuman yang tadi kan." Miko mengingatkan soal hukuman pada Dara.
"Kak, jangan seperti ini, malu kalau dilihat orang." Dara merasa geli, karena Miko menggelitiki pinggang dan perutnya.
"Siapa yang melihat? David? Besok hari Minggu, jadi dia sudah pulang sore ini." Kata Miko sambil menempelkan tubuhnya dengan ketat pada tubuh Dara gadis itu tak bisa menghindar kecuali pasrah, berdiam dalam kekuasaan suami. Posisi seperti ini sungguh membuat tubuh Dara panas dingin.
Dara menatap wajah tampan suaminya, jantungnya mulai berdegup kencang, ada sebuah kekaguman yang muncul di benaknya, memiliki suami tampan seperti dirinya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku tampan ya?" Miko tersenyum seakan dia bisa tahu isi hati Dara.
Kata hati Dara yang terbaca oleh Miko membuat wajahnya bersemu merah.
"Kakak memang tampan, tapi sayang ...."
"Kenapa?" Miko ingin tahu.
"Kakak galak,"
"Kakak galak!" Dara mendorong tubuh Miko sekuatnya dan kabur, dalam kesempatan ini Dara segera lari ke ruang tengah.
Hubungan yang semakin hari semakin dekat dengan Miko, membuat Dara semakin takut, Miko akan meminta haknya dalam waktu dekat.
Dara belum siap hamil, tapi di sisi lain ada Mama Mita menginginkan cucu. Bagaimana jika mama tau diantara mereka berdua belum ada hubungan apapun.
Dara mulai menyapu lantai yang masih mengkilat, ia bingung harus melakukan kegiatan apa untuk membuang kejenuhan. tiba-tiba Miko merebut sapu dari tangan Dara.
"Kak, berikan nggak?"
" Nggak." Miko membuang sapu di sudut ruangan.
"Nggak akan, kamu istriku, bukan pembantu, jadi berhenti melakukan hal seperti ini, aku masih mampu menggaji sepuluh pembantu sekaligus kalau aku mau."
"Tapi Dara ingin melakukan pekerjaan itu, Kak."
"Benarkah? Bukankah kau sedang ingin menghindariku." Miko mengangkat tubuh Dara lalu membawanya ke ranjang.
"Kaaaak! lepasin! Dara nggak mau."
Dara meronta kakinya bergerak naik turun dengan cepat membuat Miko sedikit kwalahan.
"Bruk..." Tubuh Dara mendarat di atas ranjang.
Dara berusaha bangkit, namun Miko menahan lengannya membuat tubuh Dara kembali terhempas diatas kasur empuk nan besar itu.
"Masih berani lari?"
"Aku menyerah kak, oke-oke aku terima hukuman yang akan kakak berikan!"
Kamar besar itu, sesaat sudah dipenuhi oleh suara canda dan gelak tawa dari Miko dan Dara.
"Kamu serius."
" Iya asalkan kakak berhenti menggelitik Dara seperti ini."
" Katakan saja, hukumannya apa, Kak." Dara bertanya dengan polosnya.
" Nggak sabar banget sih." Miko mengecup kening Dara dan menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga Dara.
__ADS_1