Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 16. Jangan sedih Girl, aku ada untukmu.


__ADS_3

Selesai berbicara dengan Liliana di telepon, Arsena segera mandi dan membersihkan tubuhnya.


Hasrat yang semula sudah berkumpul segera sirna ketika mendengar suara manja Lili. Bahkan Arsena merasa bersalah kekhilafannya baru saja pasti akan menyakiti hati kekasihnya.


Arsena kini sudah ganti dengan kaos t-shirt dan celana santai. Karena malam ini ia memang tak ada rencana keluar rumah. Jadi Dia mengizinkan Lili bermain kerumahnya.


Apa yang sedang terjadi dengan Andini? Arsena tak tahu. Bahkan ia tak ambil pusing memikirkan tentang Andini.


"Tok ... tok ... tok ...." Suara pintu diketuk.


Arsena segera membukanya, ia penasaran siapa yang datang.


"Eh Baby ... Ayo masuk " Arsena senang sekali ternyata yang datang kekasihnya, gadis itu kemudian menyuruh Devan memarkirkan mobilnya, ternyata Lili datang bersama dengan kakaknya.


"Sayang, kangen sama kamu, ," ucap Lili manja.


"Aku juga?" jawab Arsena kemudian Lili merebahkan kepalanya di dada kekasihnya. "Duduk dulu yuk."


"Ars, kenalkan ini kakak gue, dia baru pulang dari luar negeri." kata Lili mengenalkan kakaknya.


"Arsena .... " ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Devan ...." Pria jangkung dengan rahang tegas dan tatapan tajam itu pun menjabat tangan Arsena.


Mereka bertiga beranjak masuk, tangan Lili terus saja bergelayut manja di lengan Arsena. Mereka duduk di sofa sambil terus berdekatan layaknya orang kasmaran. Sedangkan Devan ikut senang melihat kemesraan adiknya.


Seorang kakak hanya bisa mendukung hubungan Adiknya ketika mereka telah saling mencintai.


"Sayang minum donk, aku haus nie" keluh Lili. "Kakak mau minum apa?" Tanyanya pada Devan.


"Terserah yang penting hangat!" ujar Devan sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.


"Iya, sebentar ya biar bibi yang buatkan "Arsena lalu berdiri, melepaskan genggaman tangan Lili


"Bi Um ! minum tiga ya!" ucap Sena saat melihat Bibi sedang menyetrika baju.


"Baik Den." Bibi segera ke dapur, mulai membuatkan lemon tea kesukaan Lili dan dua cangkir kopi untuk para pria pebisnis itu.


Setelah memberi perintah pada Bibi, Arsena duduk kembali di sebelah Lili, sambil melempar senyum ramah ke arah kakaknya. Sebenarnya Arsena juga risi Lili terlalu lengket meski di depan kakaknya sendiri


"Sayang, tapi aku pengen yang buatin minum itu pembantu baru kamu, dimana dia? kenapa aku nggak melihatnya sejak tadi?" Tanya Lili sambil celingukan mengabsen seluruh ruang tamu.


"Oh ... Dia lagi di kamar, udah biarin aja sayang di kamarnya. Dia lagi istirahat," Kata Arsena sedikit beralasan.


"Istirahat, enak sekali dia! Nggak mau, aku pengen dia yang bikin minum untukku, Yang. Aku pengen tau pembantu baru kamu itu, katanya masih muda ya?" Sungut Liliana


"Emang kenapa kalau dia muda?"


"Aku takut kamu suka dia?"


Mendengar kata kata Lili, Arsena tertawa geli. Rasanya tak mungkin saja ia menyukai Andini walau statusnya sah sebagai istri. Sedangkan dihatinya saat ini hanya ada Lili.


-


"Bik ... " Panggil Arsena lagi. "Em, panggil Andini, suruh dia aja yang buat minum."


"Nggak apa-apa biar bibi yang buat Den, biarkan Non Andini Istirahat." Sanggah Bibi.


"Bi, berani ngelawan?" Gadis memakai gaun pendek dan hig hells itu melotot ke arah Bibi.


bibi kemudian menuruti keinginannya.


Ya Tuhan, kasian Non Andini, dia itu polos, kalem, kalau sampai tau Den Sena punya kekasih pasti sedih, nggak kaya si ulat bulu itu, kecentilan. Sebenarnya Den Sena itu kok bisa betah pacaran sama cewek seperti itu, wajahnya cantik tapi ketulusan hatinya masih dipertanyakan.


Bibi sudah sampai di kamar Andini. Bibi mengetuk pintu berulang kali. Tapi Andini masih enggan menjawab. Andini khawatir yang datang adalah Arsena. Walaupun statusnya sudah menikah tapi Andini tak mau ternoda oleh suaminya yang tak mencintainya sama sekali.


"Non Andini keluar! ini Bibi ..." Panggil bibi dari luar.


Bibi


"Iya !" sahutnya dari dalam, setelah tau yang memanggil bibi, Andini segera bangkit dari duduknya kemudian membukakan pintu.


Bibi sudah berdiri di depan pintu, wajahnya nampak sendu. Apalagi setelah melihat bola mata Andini yang memerah dan sembab


"Dipanggil Den Sena, Non," kata bibi.


"Tolong katakan pada dia, aku tak ingin bertemu Bi," mohon Andini dengan wajah mengiba.

__ADS_1


"Tapi Non ... Bibi bilang apa pada Den Ars? Tadi sebenarnya Non Liliana minta dibuatin minuman sama Non Andini" kata bibi dengan wajah bingung. Sebenarnya ada perasaan tak tega berujar demikian.


Lili, pasti itu Kekasih Ars , yang datang.


"Ya udah Andini turun Bi." Andini keluar dari kamar kemudian berjalan mengikuti Bik Um.


"Maaf ya Non, kalau Bibi memaksa." Bibi tak henti terus meminta maaf. Sambil berjalan di belakang Andini.


"Nggak apa apa Bi, bibi disini kan bekerja. jadi nggak bisa menolak."


"Non Andini emang baik, pantes saja tuan Johan memilih Non, untuk jadi bidadari Den Sena."


"Terima kasih Bi." Andini masih sempat tersipu walau kondisinya sudah demikian menyedihkan.


Bibi sudah menyiapkan minumannya di dapur. Andini tinggal mengambil dan mengantarkan kepada tamunya.


Andini segera keluar menghampiri Liliana dan Arsena yang duduk berdempetan di sofa.


Andini berjalan mendekati tiga manusia yang bersaman memandangi kehadirannya itu, ia menyuguhkan minuman di depannya secara bergantian.


Selesai menyuguhkan minuman Andini ingin segera pergi, melihat pemandangan di depannya yang sepertinya sengaja membuat hatinya mencelos. Belum lagi tatapan Devan yang tak berkedip ke arahnya.


Kalau memang sedang tak ada perasaan apa-apa seharusnya Andini bisa bersikap tenang saja, nyatanya Andini sakit melihat dua orang duduk berdempetan itu. Seorang istri tentu akan sakit hati melihat wanita lain selalu bergelayut manja di lengan suaminya.


Lili memang cantik, tapi kenapa tatapannya sinis sekali kepadaku


"Oh, jadi ini yang namanya Andini?"ujarnya, Liliana mulai menelisik penampilan Andini dari atas hingga ujung kaki.


"Ha ... ha ... ha ... Yang, kamu benar, kenapa aku harus khawatir dengan pembantu semacam dia," Lili tersenyum sinis.


Ia mulai menghina Andini dan mencibir penampilannya. Namun hatinya sesungguhnya tak demikian. Ia mulai takut, seukuran ART Andini terlalu cantik menurut Lili.


" Lihat penampilannya kampungan sekali," lirih Lili dusta.


Andini malam ini kembali kenyang dengan cacian Liliana. Karena jengkel yang sudah memuncak akhirnya Andini sengaja menyenggol lemon tea hingga tumpah ke baju Liliana.


"Upss ... Maaf?" Ucap Andini sambil bibirnya tersenyum penuh kemenangan.


"Aaars panas ..."


" Tidak !" Kata Andini berbohong.


"Bohong, tadi dia sengaja, lihat bajuku basah, Yang." Rengek Lili lagi. Sambil mengipas pahanya yang terkena percikan minuman hangat.


"Sudah sudah kok malah ribut sih, Andini lain kali kamu hati hati ya?" Kata Devan sambil meraih lengan Andini, berharap Andini duduk di sebelahnya.


"Iya, maaf." Andini menarik tangannya dari sentuhan pria asing itu.


"Duduklah sebentar manis, tuanmu nggak akan marah kok. Nggak apa-apa kan Ars, dia temani aku sebentar. Masa aku jadi obat nyamuk kalian." ujar Devan pada Arsena. Devan mulai tertarik melihat Andini yang begitu manis.


"Tapi dia sedang sibuk di dalam, iya kan Andini?" Kata Sena keberatan.


"Benar Andini?" Devan tak percaya.


"Iya, Tuan."


Andini mengangguk.


"Andini masuk. Selesaikan pekerjaanmu." Perintah Arsena.


" Iya, Tuan, Terima kasih sudah diizinkan masuk." Andini segera pergi tubuhnya segera menghilang dari balik pintu.


Andini kembali naik ke atas tapi kali ini ia tidak langsung ke kamar. Ia duduk di depan meja rias sambil memandangi pantulan dirinya dari cermin.


"Kenapa aku merasakan sakit dia dekat wanita lain, aku terlalu cepat menyukai Arsena, bukankah aku tau dia tak pernah mencintaiku. Gadis itu kekasihnya mereka saling mencintai. Aku benci dengan perasaanku ini." Desah Andini lirih. Sambil menghembuskan nafas panjang.


"Andini keterlaluan kamu." Tiba tiba suara dari arah belakang terdengar dengan nada marah.


"Keterlaluan bagaimana Ars. Kamu lihat sendiri, kekasihmu itu menghinaku." Ujar Andini.


"Menghina? Bukannya semua yang dikatakan itu benar."


"Oh, iya kalian berdua kan sama, suka menghina orang, Cocok banget," ucap Andini dengan geram


Kini Andini ingin segera pergi dari hadapan pria paling menyebalkan yang pernah ia temui di dunia ini. Dengan mata berkaca kaca menahan tangis.


Andini jangan gunakan perasaanmu, kamu tahu kan, pernikahan ini demi apa? kalau dia tidak suka sama kamu, bukannya ini menguntungkan. Jika tujuanmu tercapai kamu bisa pergi." Kata batin Andini mulai mempengaruhi jiwanya.

__ADS_1


Andini membalikkan tubuhnya melangkahkan kaki pergi. Mungkin mencari udara segar diluar akan menghilangkan kegundahannya di malam ini.


"Kemana?" Tangan Arsena menahan pundaknya.


"Aku akan pergi, aku nggak mau jadi pengganggu kalian." ujar Andini dengan gugup, oleh sentuhan tangan Sena. Netranya tak berani menatap pria kasar itu.


"Baguslah, pergi sana." Kata Arsena dengan kesal.


Andini mengambil tas kecil dari kamarnya, lalu pergi meninggalkan rumah mewah itu. ia ingin mencari angin segar, walaupun sekedar menikmati indahnya malam di alun-alun kota.


Andini hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai dengan naik becak, alun alun dimalam Minggu nampak ramai dengan banyak ibu-ibu dan balitanya mencari hiburan malam. Mereka nampak begitu menikmati hidupnya.


Andini memilih agak menjauh dari keramaian, ia duduk sendiri di tepi air mancur, tak terasa ia sudah hanyut dalam lamunan. Memikirkan nasibnya.


Tiba tiba ponsel di sakunya bergetar. Andini kaget, ada nomor tak di kenal telah menghubunginya


X: "Hai ... Girl lagi ngapa? "


Andini: "Lagi ... "


X: "Ngelamun aku ya... Mau aku temenin?"


Andini: " tidak, terima kasih. GR amat, kamu sebenarnya siapa sih?"


X: "nggak usah tau siapa aku, asalkan aku tau siapa kamu. Kamu pasti lagi sedih ya?"


Andini: "kamu kok tau?"


X: "nggak usah heran, aku tau semua yang kamu lakukan, aku juga tau kamu sedih dengan pernikahanmu. Kamu nggak bahagia kan Girl."


Andini: "Kamu memata-matai aku ya?


X: "Nggak, tapi aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


Andini: "Bohong banget sih ...."


X : "Aku ingin menjadi orang yang bisa menghibur kamu saja, biar nggak sedih, kamu berbalik sekarang, aku ada di belakangmu."


Andini berdiri lalu membalikkan tubuhnya, memutar bola matanya mengamati sekeliling namun tak ada siapa-siapa selain anak anak sedang berkejaran.


Andini: "Kamu dimana? Nggak ada siapa siapa?"


X: "Nggak sabar amat sih"


tiba-tiba bocah kecil berusia sekitar sembilan tahun datang kepadanya membawa kotak di tangannya.


"Ini hadiah dari om tampan itu, untuk kakak yang manis dan Bobby menanggis" kata bocah itu polos sambil menunjuk ke arah seorang pria yang memberinya bingkisan.


"Mana orangnya, dek?" Netra Andini mencari cari keberadaan pria itu.


"Tapi sayangnya dia sudah pergi, Diterima ya kak?" Bocah itu mengulurkan barang bawaannya dengan hati hati.


Andini kini mengambil duduk yang paling nyaman dan membuka isi kotak itu. Ternyata isinya sebuah cake berbentuk love dengan hiasan diatasnya menyerupai orang sedang tersenyum. Serta sebuah kartu ucapan.


(Buat Andini yang manis, dan hobbynya menangis)


Andini memandangi kedua benda itu dengan senyum-senyum sendiri, Siapapun pemberinya pasti orang itu suka sekali iseng. Andini lumayan terhibur.


Belum puas Andini mengamati barang pemberian orang asing itu, teleponnya kembali bergetar. Panggilan dari mister X muncul di layarnya.


X: "Andini, Aku ingin kamu memakannya. Kue itu aku pesan special untukmu."


Andini: "Kenapa kamu menyembunyikan dirimu. Siapa kamu!!"


Belum mendapat jawaban, telepon malah sudah dimatikan begitu saja.


Andini kini semakin kesal dengan si penelepon itu, kenapa tidak menampakkan wajahnya saja. "Siapa sih .... Kesal Andini."


Andini berinisiatif untuk mengirimkan pesan, biar dia langsung bisa baca, kalau Dia nggak suka dengan sifatnya yang seperti anak kecil.


{Tak perlu bermain petak umpet, apa tujuan dan maksud semua ini?}


"Gagal, cepat sekali dia mematikan teleponnya."


Kini Andini termenung sendiri memikirkan siapa pria yang selalu ada ketika ia sedang dilanda gundah gulana. Apakah pria yang sama yang mengantarnya ke kampus tadi pagi.


Andini mengangguk angguk sendiri. "Yeah ... Pasti orang yang sama," gumamnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2