Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 143. Harus menikah.


__ADS_3

Zara menekan dadanya yang semakin terasa sesak. Oksigen yang ada di kamarnya pun seakan tak cukup untuk mengisi paru-paru nya.


Zara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia masih meringkuk di samping ranjang. Dengan tangisnya yang masih bertalu talu.


"Tuan Mert, apa yang kau lakukan padaku, aku benci, Tuan Mert aku benciiiii... hiks hiks hiks.


Zara mencoba bangkit, membawa tubuhnya dengan langkah bertatih-tatih ingin ke kamar mandi, Namun tubuhnya masih begitu lemah hingga ia harus berhenti dan bersandar kembali pada dinding.


Zara semakin panik ketika melihat di dinding, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, sudah waktunya menemui Nona Andini, untuk mempersiapkan segala kebutuhannya.


-------


Arsena membenarkan hemnya di depan cermin. Hari ini ia ingin tampil paling tampan di acara penyambutan kepulangan Miko. Dia sama sekali tak mau kalah dengan adiknya yang satu itu, Arsena tak rela kalau Andini memuji ketampanan Miko, walaupun hanya di hati saja.


"Sayang gimana apa aku udah keren."


"Emang mau ke mana? kita menyambut Dara dan Miko kan cuma di teras depan." Andini heran dengan tingkah suaminya yang melampaui batas.


"Iya. Aku tahu, tapi sebagai tuan rumah aku pengen tampil yang paling tampan," Arsena belum puas dengan tampilannya hari ini.


"Kalau udah tampan, emangnya mau cari istri lagi." ujar Andini bercanda.


"Sayang, ngomong apa sih, ucapan itu do'a. Satu aja udah bikin ..."


"Bikin apa? Lanjutkan aku pengen dengar?" Andini membulatkan matanya saat Arsena melakukan kesalahan dalam bicaranya atau entah memang benar.


Andini yang memasukkan baju kedalam lemari seketika langsung duduk di kursi dengan dongkol.


" Maksut aku satu daja udah bikin nggak bisa tidur, minta dipeluk aja ... Benar kan?"


"Nggak, pasti mau ngomong yang lain, bikin susah, bikin pusing, bikin bete ... Iya kan? Jujur aja!"


" Nggak sayang, aku nggak mungkin lah, punya pemikiran seperti itu sama kamu."


Arsena pagi-pagi sudah memancing mood bumil itu menjadi buruk, kalau tak segera mengalah, sudah pasti sampai sore Andini hanya akan menjadi ambek-ambekan.


"Sayang, hem aku yang terbaru mana ya?" Arsena mendekati Andini dan mencari hem terbaru miliknya, waktu itu ia mendapat hadiah dari kliennya, sebagai ungkapan terima kasih karena semenjak bekerja sama dengan Arsena usahanya makin maju.


"Biasanya kalau belum pernah dipakai, suka dicuci sama Zara, coba aja cari di ruang setrika, " terka Andini.


"Oh iya, tumben pagi ini kok belum kelihatan."


"Iya Ars, apa dia sakit ya." Andini tiba- tiba mengkhawatirkan kondisi Zara. Tak seperti biasanya gadis itu belum bangun.


Biasanya sehabis shubuh dia selalu menyiapkan kebutuhan Andini, dari mengisi bathup hingga menyiapkan segala makanan yang akan dikonsumsi oleh nona mudanya.


"Sudahlah sayang, biarkan dia istirahat, mungkin dia sedang lelah, dia pasti capai nggak pernah libur kerja."


"Benar, mungkin aku dan Zara butuh refreshing, sejak hamil aku sudah mirip ayam peliharaan." Andini memeluk tubuh suaminya dari belakang. Menancapkan dagunya di punggung Arsena.


Arsena membalikkan tubuhnya. " Ayam? Apa aku sejahat itu? Ini demi kebaikan anak-anak kita, Sayang."


Arsena mengecup kening Andini. Bibir hangat itu menempel bagai magnet disana.


Andini dan Arsena semakin mengeratkan pelukannya.


"Baju yang kupakai ini sebentar lagi sudah nggak muat," ujar Andini manja.


"Iya, besok kita akan beli yang banyak. Satu pick up kalau perlu," kelakar Arsena. Bagaimana istrinya bisa mengeluh soal baju padanya. Padahal tinggal lihat di ponsel saja dia sudah bisa membeli banyak baju.


"Ars, aku akan melihat kondisi Zara, firasatku kenapa jadi tak enak begini." Andini segera keluar kamar menuju lantai satu. Arsena yang tak tega melihat istrinya menapaki tangga sendirian. Dia pun ikut turun mengekor dibelakang. Begitu sampai di tangga Arsena memilih berjalan di depan Andini.


Andini semakin khawatir ketika melihat kamar Zara masih tertutup. Semakin mematik sebuah tanya di benak wanita muda itu.


"Zara!"


Tok tok tok!

__ADS_1


"Zara, apa kau sudah bangun?!"


"Zara, apa kau baik-baik saja?"


"Ars, tidak terkunci." Andini menoleh ke arah Arsena. Arsena mengangguk setuju. Andini dengan cepat membuka dengan jantung sudah was was.


"Zara!!" Andini melihat Zara dengan kondisi mengenaskan bersandar di dinding.


"Apa yang telah terjadi padamu, Zara?"


Andini segera menghampiri Zara yang linglung, kondisi masih sama seperti satu jam tadi. Hanya berbalut selimut dan terus menagis tergugu. Isakan tangisnya membuat pundaknya naik turun.


"Zara apa kamu sakit?" Andini segera memeluk Zara, mengecup rambutnya layaknya seorang kakak.


Bibir Zara hanya mampu bergetar, kepalanya menggeleng, air matanya keluar deras tak bisa di bendung lagi, ketika Andini memeluknya semakin erat. Zara seakan menemukan tempat untuk mengadukan semua yang dialaminya. Namun keberadaan Arsena membuat Zara menjadi memilih untuk diam.


"Sayang, sepertinya Zara?" Arsena menunjuk pada sebuah seprei yang terdapat noda merah.


Andini melepas pelukan Zara. "Zara benarkah yang aku lihat?"


Zara semakin tergugu, ia menutup wajahnya karena malu, ia malu majikannya telah mengetahui yang terjadi pada dirinya, bahkan menatap Andini pun dia tidak berani.


Zara menggelengkan kepalanya, ia tak mampu menjelaskan semuanya. Terlalu menyakitkan.


---------


"Tidakkkk!!" Andini histeris, dia menangis tergugu melihat kejadian na'as yang terjadi pada asistentnya. Banyak alasan yang membuat Andini demikian terpukul.


Apa yang harus di katakan pada orang tua Zara?


Siapa yang telah melakukannya?


Andini menatap Arsena dengan tatapan nyalang. "Kau!"


"Sayang, jangan menuduh aku, aku tak mungkin melakukannya, aku sudah menganggap Zara seperti adikku sendiri," Arsena sempat takut dengan tatapan nyalang dari Andini.


"Zara siapa yang berbuat keji ini?"


Zara menundukkan wajahnya, tangisnya belum juga berhenti.


Andini menarik dagu Zara. Membuat wajahnya mendongak ke atas.


Pria mana yang sudah melakukannya padamu? " Andini bertanya lagi, netra wanita hamil itupun ikut basah.


"Bu-bu-kan tu tu an. Nona." Andini memaksa mengeluarkan kata katanya untuk membela Arsena.


Arsena lega ia terbebas dari tuduhan. Ia juga heran dengan Andini yang sempat curiga, bukannya seharian ia selalu bersama, bahkan hari libur kemaren dia selalu nempel layaknya magnet dengan medannya. Berpisah pun hanya saat ke kamar mandi saat buang puff saja.


"Zara katakan siapa yang melakukannya?" Andini berusaha lebih tenang, dia menyeka air mata Zara dengan jari tangannya. " Apakah dia mengancammu."


"Ti-ti-dak Nona, hu hu hu." Zara kembali menangis dan memeluk Andini.


"Baiklah, sekarang mandi dulu, aku bantu kekamar mandi ya."


Andini mengulurkan tangannya. Zara menerima uluran tangan Andini dengan hati-hati.


"Sayang, aku panggilkan Arini, biar dia membantu."


Arsena pergi ke kamar Arini. Rasanya seorang pria tak pantas ikut membanyu jika kondisinya seperti itu, Arsena menjaga untuk tak menyentuh wanita lain selain istrinya.


Andini mengangguk setuju. " Iya, kalau bisa Arininya suruh agak cepat."


Andini dan Zara bergandengan menuju kamar mandi. Arini segera datang membantu, ia meraih lengan Zara yang satunya.


"Mbak Andini, Zara kenapa?"


" Zara sakit Arin, kamu bantu aja ya jangan banyak tanya."

__ADS_1


Arini hanya mengangguk. Dia sudah paham kalau Mbaknya berkata demikian artinya memang dia tidak perlu tahu.


Arsena yang sudah diliputi emosi segera mencari pria yang memiliki hem warna hitam motif kotak itu, Arsena yakin dia pelakunya. Jika tidak? Kemungkinan itu terlalu kecil. Mana mungkin hem itu berada di ranjang Zara.


Pasti tidak salah lagi, pria itu pelakunya, setelah melampiaskan hasratnya semalam dia hanya memakai t-shirt, hingga lupa mengenakan hemnya lagi.


Arsena menuju kamar Mert. Dia sudah tak sabar menemui pria itu, mencoba berbicara dengan kepala dingin kalau bisa, namun bersabar bukanlah sifat Arsena.


"Mert buka pintunya, cepaaat!!"


Mert sudah tau apa yang akan terjadi, Mert sudah terima apa yang akan dilakukan oleh saudara sepupunya. Kemarahannya tak pernah main-main. Dibunuh pun sudah siap.


Mert memiliki alasan yang kuat, Dia terlalu takut kehilangan Zara, wanita yang memikat hatinya sejak pertama bertemu. Hati Mert terlalu hancur mendengar Zara menerima cinta Davit.


Mert!!


Kak!! Mert tak memiliki kesempatan untuk menghindar.


Prakk ! Prakk!


Sebuah tinju keras mengenai rahang Mert kanan dan kiri.


Bug ! Bug !


Tendangan kaki Arsena tepat di perutnya.


Mert sama sekali tak melawan. Dia pasrah, dan kini tubuhnya sudah tersungkur di lantai. Punggungnya ia sandarkan pada dinding. Mert memegang perutnya yang terasa sakit hingga ulu hati.


Arsena menarik dagu Mert dengan cengkeraman tangan kokoh di rahangnya. Tangan yang satunya sudah meluncur namun tertahan di udara.


Arsena melihat tatapan Mert meredup, pria itu sepertinya sudah menyesal. Mert selesai menangis, matanya memerah dan membengkak sebesar bola pingpong.


"Dasar berengsek! Malu gue punya sepupu bedebah sepertimu." Arsena mendorongert yang kesekian kalinya.


" Aku akan bertanggung ...."


Prang satu hantaman tunggal lebih keras mangenai tulang pelipis Mert.


"Kau telah mempermalukan derajat kaum pria di dunia ini. Mendekamlah di penjara, jika Zara tak terima dengan semua ini.


Kata-kata Arsena terngiang di telinga Mert. Darah deras mengucur dari sela-sela bibir Mert. Luka lebam kebiruan dipipi kanan dan kirinya seakan sudah mati rasa.


Mert berusaha mengelap dengan telapaknya, di bunuhpun untuk saat ini dia pasti akan rela.


"Panggil penghulu sekarang, aku akan menikahi dia, Kak Arsen. Aku melakukan semuanya karena aku tak ingin kehilangan dia."


"Cihh, caramu tetap saja pengecut." Arsena berdecak lalu pergi.


Nafas Arsena terdengar ngos ngosan. Ia segera ingin mengambil air putih, berharap sejuknya minum air mampu menghilangkan dahaganya.


Arsena melirik ke kamar Zara rupanya keluarga besarnya sudah mengetahui semuanya. Zara terlihat sudah ganti baju, wanita itu sudah usai mandi. Wajahnya terus saja menunduk, dia masih tak berani menatap keluarga besar Arsena.


"Andini kita harus menikahkan Mert dengan Zara hari ini, kita tak bisa biarkan Mert tak bertanggung jawab." Oma terlihat sangat terluka, melihat cucunya begitu tak dewasa. Air mata membasahi pipi wanita baya itu.


"Iya Oma, Zara sudah ternoda, dan Mert harus menikahinya. Sepertinya dengan menikahi Zara Mert akan bahagia." ujar Andini, yang tahu kalau Mert beberapa hari ini berusaha merayu Zara.


"Zara, apakah kamu bersedia kami nikahkan dengan Mert? Andini mencoba bertanya pada Zara.


Zara kembali menitikkan bulir kristal, kali ini dia memikirkan Davit yang baru sehari menjadi kekasihnya. Pria itu pasti akan sangat membencinya. Tapi apa mungkin Davit mau jika dia sudah tak perawan lagi.


"Zara kamu tak punya pilihan, mungkin Mert sudah jodoh yang dikirim Tuhan untuk mu." Rena mencoba ikut berbicara.


"Baiklah, Zara bersedia pernikahan ini segera dilangsungkan, Zara takut kalau malam itu."


Zara menundukkan kepalanya. Dia takut kalau dia akan hamil. Karena malam itu ia bisa merasakan kalau Mert tak mengenakan pengaman saat melakukan dengannya.


Jika perutnya membesar sebelum pernikahan, pasti orang tuanya juga akan kecewa. Zara tak mau membuat orang tuanya malu.

__ADS_1


"


__ADS_2