
Arsena nyengir mendengar Vanya menyebut namanya dalam video itu.
"Vanya, beraninya dia menghina aku." Arsena mengerutkan keningnya.
Andini disebelahnya menahan senyum. "Vanya nggak mungkin berbohong, kamu nggak sadar kalau kadang suka begitu saat bersamaku di depannya."
"Nggak, nggak sama sekali." Arsena kekeuh tak mau dituduh Andini, dia menggelengkan kepalanya kuat.
"Usah jangan berisik, kita lihat lanjutannya."
"Malas, mending lihat istriku yang cantik ini." Arsena menoleh ke arah istrinya sambil mengangkat alisnya berulang kali.
"Ars, lihatin sini, ke kamera. Kita lihat Vanya sama Ken. Maaf ya Van aku harus lakukan ini demi cinta kalian bersatu. Tuan dingin ini nggak peka." Andini memaksa kepala Arsena untuk tetap melihat ke arah rekaman Andini, dengan kedua tangannya menahan.
"Yang, aku harus kerja, sebentar lagi Galang mau ambil dokumennya, aku nggak mau Galang berfikir ada kamu aku jadi lelet, padahal nggak ngapa ngapain juga, cuma lihat video apa'an nggak guna."
"Jangan bilang nggak guna, Ars. Kalau kamu menolak, aku juga bisa bertindak, you know?" Andini senang dia jadi punya kekuatan untuk mamaksa Arsena.
"Udah mulai cerdas sekarang?" Arsena kesal. Terpaksa mengikuti keinginan istri. Dia kembali fokus pada rekaman Andini.
Sambil sesekali menggoda Andini.
*****
Saat itu Ken sedang duduk di atas ranjang pasien, Vanya berdiri di dekatnya.
"Kamu udah makan?" Tanya Ken yang menerima nasi dari Vanya.
"Sudah tadi?"
" Bo'ong pasti."
"Kok tau sih." Vanya nyengir kuda.
"Tau Donk. Kamu paling susah sarapan, sejak dulu, aku sudah hafal itu." Ken mengatakan apa yang diingatnya.
"Kita sarapan bersama," Ken menarik Vanya yang sejak tadi berdiri di dekatnya. Vanya terpaksa duduk di brankar di samping Ken. Vanya melihat di tangan Ken ada selang infus. Pria itu sedang kesulitan untuk memulai makan.
"Sini aku bantu, kamu bersandar saja." Vanya mengambil alih sendok dari tangan Ken.
Ken diam, dia hanya mengamati wajah cantik yang begitu perhatian di depannya. Dia kembali jatuh cinta lagi pada wanita masalalunya setelah sekian lama tak bertemu.
"Vanya, kamu cantik, baik, tapi belum menikah, pasti Tuhan sengaja mempertemukan kita kembali karena suratan takdir."
" Bisa saja, karena cuma sebuah kebetulan, aja aku belum ingin menikah." Pipi Vanya merona melihat Ken yang terus memujinya. Padahal dia dulu tak seperti ini, kenapa Ken bisa membuat jantungnya berdegup kencang seperti hari ini.
Vanya menundukkan pandangannya, berusaha menutupi kegundahan yang ada pada dirinya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada Ken, yang sudah jelas masalalunya telah kelam.
"Ken buka mulutnya, aku akan menyuapi dirimu."
"Wah mimpi apa aku semalam, seorang bidadari datang membawa makanan kesukaanku, sekarang disuapi pula."
__ADS_1
"Jangan GR, aku nggak akan melakukan semua, kalau bukan karena kamu sakit." Vanya terlihat mengaduk nasi sebentar lalu menyendok dan mengarahkan ke arah mulut Ken.
Ken tak bisa menolak niat baik Vanya, dia hanya bisa menuruti kata Dokter di depannya. "Ken menerima suapan demi suapan dari Vanya.
"Terima kasih, sudah sangat baik. Tapi aku juga ingin kamu makan juga, ini cukup untuk berdua."
"Nggak usah, aku ..." Vanya menolak tapi Ken memaksa.
"Aku akan menyuapi kamu, tadi aku sudah kamu suapin. please."
"Oke, terima kasih. Satu kali saja ya?" Vanya akhirnya setuju dia mau menerima suapan dari Ken dari sendok yang sama.
Vanya nampak tersenyum sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. "Rasanya enak."
"Iya."
"Mau lagi?"
"Cukup, aku akan sarapan di RS saja bersama Andini. Sayang sekali, nanti bagianku akan mubazir kalau aku sarapan sekarang.
"Oh iya aku akan balik dulu, aku sudah meninggalkan tugasku sangat lama." Vanya terlihat panik. lalu dia segera memeriksa Ken dengan mengambil sample darahnya, Vanya sesungguhnya tak perlu melakukannya karena ada dokter khusus yang menangani, tapi dia akan melakukan sendiri pemeriksaan pada Ken. Ken ayah Rara sepertinya Vanya tak mau Rara akan kehilangan kasih sayangnya nanti.
"Baiklah, aku berterima kasih sudah sudi berkunjung." Ujar Ken menatap Vanya penuh Arti.
"Iya, Sama sama." Vanya menunduk
"Van, tapi sepertinya ada nasi di bibirmu,"
Vanya segera meraba bibirnya." Mana" Vanya meraba bibir dan sekitarnya, salah tingkah.
"Nggak ada Ken."
"Ada."
"Nggak ada."
"Dekatkan wajahmu, aku akan membantu mengambilnya."
"Vanya menurut, dia mendekatkan wajahnya. di dekat Ken.
Ken pura pura menyibak rambut Vanya dan secepat kilat dia mengecup pipi dokter muda itu.
"Ken !!" Pekik Vanya.
"Itu tadi sengaja. Apa kamu nggak suka Van?" Ken tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu sudah sakit, tapi masih kurang ajar Ken!"
"Nggak usah marah-marah, Vanya, itu ungkapan sayangku padamu, jika tidak terima kamu bisa kembalikan padaku, disini." Ken menunjuk pipinya, dengan telunjuk.
"Ken ternyata kelakuan kamu masih sama meyebalkannya seperti dulu." celetuk Vanya mengusap bekas bibir Ken.
__ADS_1
"Ya, aku kembali menyebalkan seperti dulu, Karena kamu Van." Ken senyum senyum tanpa dosa.
"Aku bersumpah tak akan menginjungimu lagi." Vanya kesal.
"Apa yang kamu katakan, aku akan merindukan Rara."Ken tak melepas tangannya yang sudah melingkar di pergelangan tangan Vanya uang beranjak.
Ken menggunakan tangan kiri untuk menahan lengan Vanya. satu lengan saja sudah berhasil membuat gadis bermata bulat dan suara empuk itu tak kabur darinya.
"Vanya aku mohon jangan lakukan itu." Ken menarik Vanya di pangkuannya.
Vanya terkejut dengan kelakuan Ken yang dinilai bar-bar. "Apa yang kau lakukan Ken?"
"Van, jangan pernah kamu lakukan itu, aku akan merindukan kamu dan Rara." Netra ken terlihat penuh permohonan.
"Lepaskan aku Ken, aku tak perduli." Vanya berusaha bangkit dari pangkuan Ken. karena Ken menahannya, Vanya kini justru saling menatap, wajah Ken dan Vanya hanya berjarak sekitar satu jengkal.
"Rasakan dada ini Van." Ken menempelkan telapak tangan Vanya tepat di dadanya. "Jantungku berdetak sangat keras bagai genderang karena apa?"
Vanya menggelengkan kepalanya pelan, dia tak mengerti arah bicara Ken. wanita itu terlalu naof untuk mau mengerti perasaan Ken. walau tak bisa ditampik kalau sebenarnya dia telah menyukai pria itu sejak pertama kali bertemu kembali.
"Aku menyukai kamu, aku sayang kamu," kata Ken yang terlihat serius.
Vanya hanya bisa diam seperti terhipnotis oleh pesona Ken yang tampan.
"Vanya?"
Banua terhenyak."Ken kamu pasti hanya sedang rindu belaian wanitamu saja makanya kau seperti ini."
Vanya berusaha menutupi kegugupan yang ia alami.
Ken mengisyaratkan supaya Vanya diam. Tapi posisi seperti ini sungguh tak enak bagi Ken yang notabene lelaki normal.
"Ken jika sudah selesai makannya, kita temui Rara." Vanya mengalihkan pembicaraan.
Ken berjalan keluar dari sel, seorang anggota polisi menemaninya. Ken terlihat begitu serasi dengan Vanya mereka berjalan beriringan. Tubuhnya yang tinggi besar bersanding dengan yang muda dan cantik.
Dan saat itu Andini mengakhiri pengambilan gambar mereka, Andini buru buru berlari keluar setelah mencium pipi Rara sebentar.
"Bu-na- Bu-na." Bocah kecil itu berceloteh kecewa dengan Andini yang tak menggendongnya.
Ra, kenapa kau memanggil Buna, dimana dia sekarang?" Vanya bertanya pada putri angkatnya yang baru belajar mengucap kalimat beberapa potong.
"Bu-na-!!" Anak itu menangis merasa dicuekin oleh Andini.
"Bi, Rara kenapa? Apa Andini tadi kesini?"
Bibi tak mungkin berbohong dengan Vanya. Bibi akhirnya mengangguk. "Iya Nona, tapi Dokter Andini kembali pulang lagi sebelum dia masuk."
"Ken, pasti Andini memergoki kita."
"Emang kenapa?" Jawab Ken enteng. "Nona Andini sudah dewasa, yang kita lakukan tadi tak akan bermasalah untuk dia," jawab Ken enteng.
__ADS_1
"Dasar." Gerutu Vanya. Dia tak benar benar kesal. Hanya saja dia malu akan sangat malu menunjukkan wajahnya didepan sahabatnya.
Andini tersenyum lalu segera menyimpan semua filenya dan pulang. Saat itu Andini berharap sekali Arsena akan memaafkan Ken dan menyatukan cinta mereka, dan rencana itu berhasil hingga rekaman itu Arsena telah melihatnya.