
Andini dan Vanya berjalan menghampiri kedua pria yang belum ada tanda tanda berdamai. Arsena memunggungi Ken, sedangkan Ken menatap punggung Arsena.
"Ken, ada yang harus kamu tahu. Lili mengidap HIV Aids kemungkinan bukan hanya itu." Andini menjelaskan apa yang ia tahu selama ini.
Ken terkejut bukan main, wajahnya langsung terlihat pias. "Apa penyakit itu juga sudah menyerang tubuhku kali ini?"
"Vanya apa hasil lab tentang diriku?"
"Ken apa kau sering berhubungan dengan Lili di hari-hari terakhir sebelum Lili masuk di sel?" Vanya mencoba bertanya sekali lagi, untuk mastikan tak ada kesalahan dalam pemeriksaan, tetapi sepertinya tidak hanya itu tujuan Vanya.
"Tidak Pernah." Ken menggelengkan kepala kuat-kuat.
Vanya mengangguk percaya. "Yakin?"
"Iya, yakin." Ken sungguh sungguh
Vanya dan Andini berbisik sebentar. Mengatakan kalau hasil tes yang ada di tangannya, kemungkinan sembilan puluh sembilan persen sudah benar. Hanya Vanya ingin tahu saja kalau Ken benar benar sudah melupakan Lili jauh hari sejak dia belum datang.
Pengalaman disakiti seorang pria membuat Vanya trauma, dia menjadi wanita yang tak gampang percaya dengan obral janji seorang pria, apalagi Ken seorang pria yang pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita sampai memiliki seorang yang putri.
"Emmm, Vanya, Ken. Aku pergi dulu ya, kasihan Arsena habis lembur dari kantor, tadi langsung ke sini, kita berdua belum mandi sore." Andini menciumi pundaknya yang masih wangi. Tapi pagi tadi setelah ritual di mobil, dia sudah menyempatkan diri mandi di kantor.
Dia sudah tak melihat Arsena lagi ada di dekatnya, rupanya pria itu sedang berbicara dengan seseorang di sebuah ruangan dengan anggota polisi kenalannya.
Arsena duduk di kursi sederhana, berhadapan dengan Briptu sambil memeriksa data, setelah menandatangani, Dia berbicara "Aku cabut tuntutan untuk Ken, tanpa sebuah syarat. Aku memaafkan kesalahan dia."
"Anda yakin." Tanya Briptu
"Apa aku terlihat seperti main-main?" Arsena balik tanya.
Briptu menerima berkas dari Arsena, dia setuju dengan keputusan Arsena untuk membebaskan Ken.
Andini sudah menunggu di luar ruangan sambil menelepon putra putranya yang sudah sampai di pulau Dewata. Besok pagi rencananya akan jalan jalan di pantai Bedugul.
"Andini, mama suruh kalian honeymoon bukan berkunjung ke tempat tempat yang nggak penting, manfaatkan waktu kalian saat anak anak bersama kami."
"Mama, Andini dan Arsena pasti akan capek, kalau kita bermesraan melulu, kita juga bukan pengantin baru." Andini mengerutkan keningnya Sambil tersenyum pada mertuanya.
"Mama tapi Andini sudah telat mens seminggu. Semoga saja akan ada adik Excel dan Cello bersama kami."
"Good news, mama senang sekali. Cepat periksakan dan Mama akan nggak sabar menunggu hasilnya."
" Siap Mama." Andini dan Mama kembali mengakhiri panggilannya begitu Arsena sudah datang.
"Kamu senang sayang?"
"Senang sekali, makasi hubby."
__ADS_1
Andini dan Arsena akhirnya sama-sama meninggalkan Rutan. Andini paling bahagia dalam hal ini. Dia terus saja menggandeng lengan suaminya, seakan ingin dunia tahu kalau hanya dirinyalah pemilik pria yang tengah berada di dekatnya.
"Sayang Mama bilang apa?"
"Katanya sudah nggak sabar nunggu hasilnya."
" Oke, kita akan kasih tau setelah ini."
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening Andini sebelum menyalakan mesinnya.
Mobil mewah milik Arsena segera meluncur setelah dia memberi sebungkus rokok warna merah dan dua lembar uang lima puluh ribu pada tukang parkir yang menjaga mobilnya.
Tukang parkir begitu senang menerima pemberian Arsena. Jarang jarang dia mendapat tips seperti ini. "Semoga hari Anda menyenangkan tuan."
Anggukan serta senyuman manis dari Arsena untuk tukang parkir seusia papanya, sebelum mobilnya benar-benar berjalan mengarungi jalanan yang begitu padat kendaraan.
Sampai di RS bersalin Andini dan Arsena segera menemui Dokter Namira. Karena dia dokter sekaligus sahabat Arsena.
"Hai, sempat kaget kalian tiba tiba minta jadwal dikosongkan di jam ini."
Namira menyambut hangat dua orang yang secara tidak langsung menjadi atasannya.
"Mira, kamu tahu, Andini beberapa hari ini telat datang bulan, satu minggu, karena menurutnya dia jarang sekali mengalami kejadian ini sebelumnya, aku berharap dia akan hamil lagi."
"Satu Minggu, masih baru sekali ya." Wanita itu menoleh.
"Iya, kenapa memangnya? Bukankah satu Minggu juga sudah bisa terbaca hasilnya?" Arsena berkata dengan sok tau.
Iya benar sekali, tapi aku berharap tak akan kecewa jika itu hanya siklus menstruasi yang tidak lancar.
Andini mengelus punggung suaminya. Dia mengangguk supaya sang suami tidak terlalu berharap. Bodohnya dia tak pergi ke apotik dulu untuk membeli tespeck.
Andini berjalan ke arah ranjang dan berbaring disana, Namira mulai melakukan pemeriksaan awal, memeriksa detak jantung, dan tensi darah dan semua dinyatakan normal. Lalu Namira memberi sebuah alat berbentuk panjang dan terbungkus rapi. Andini segera mengambilnya, lalu masuk kedalam kamar mandi. Ini bukan yang pertama kalinya, jadi dia sudah faham menggunakannya dengan benar.
Arsena terlihat tak sabar, sambil duduk dia menggosok gosokkan tangannya. Dia sangat berharap bayi yang dikandung berjenis kelamin perempuan, walaupun dia juga ingin sekali bayi laki laki. Menurut Arsena memiliki banyak putra laki laki dan perempuan akan menjadi kebahagiaan yang tiada tara.
Andini keluar kamar mandi diikuti oleh tatapan dua bola mata yang tak berkedip, wajah Andini tak menggambarkan bahagia atau sedih, membuat Arsena makin penasaran.
"Gimana hasilnya sayang?" Arsena berdiri dengan cepat hingga kursi yang diduduki terdorong ke belakang oleh kakinya.
Dan saat itu juga Namira mendekatinya, tak sabar membaca hasil test di tangan Andini.
Arsena merebut alat test kehamilan dari tangan Andini dan memperhatikan garis di sudut alat itu dan ternyata benda itu menunjukkan dua garis merah. Arsena segera memeluk Andini dengan bahagia dan mengecupi pipinya berulang kali tanpa tahu malu. Mendekap wanitanya dengan sangat erat dan berputar putar dengan tak tahu malu.
"Ars turunin, kamu lupa ada Namira, kenapa kamu bar bar sekali."
__ADS_1
"Aku bahagia sayang, kita akan beri Excel dan Cello adik." ujar Excel.
"Iya iya, kita akan kasih mereka Adik tapi turunkan aku,"
Arsena menuruti keinginan Andini, dia turunkan wanitanya tapi masih tetap memeluknya. Andini tersenyum malu pada Namira. "Maafkan aku Namira, jika kau tak nyaman dengan kelakuan suamiku, dia selalu saja berlebihan dalam segala hal."
Namira hanya mengangguk pelan, dia juga ikut bahagia melihat pria yang pernah dia cintai sudah bahagia, harapan Namira semoga Vano nanti juga akan menyayanginya seperti Arsen ke Andini.
Tapi Namira tau kalau Vano masih sulit melupakan Vanya. Bayangan Vanya masih menghalangi dirinya untuk masuk seutuhnya mengisi ruang hati kekasihnya.
"Van kenapa melamun? Apa aku boleh izin pulang?"
"Em i iya boleh. Aku siapkan dulu vitaminnya. Namira duduk di kursinya kembali mencatat beberapa resep. Lalu menyerahkan pada Arsena. "Ars tolong, usia kehamilannya masih sangat rentan keguguran, jangan berhubungan terlalu bersemangat dan cukup satu minggu dua kali."
Arsena mengangguk dengan berat hati, "Aku sudah tau."
"Dan Andini nggak boleh terlalu capek," Imbuh Namira lagi.
"Aku sudah tau Mira." Tukasnya lagi
Arsena segera mengambil vitamin di depannya dan menggandeng Andini keluar ruangan, tak menyangka hari bahagia itu tiba lagi.
Saat pulang dia tak lagi memikirkan tubuhnya yang letih, pria itu hanya ingin melihat Andini terus bahagia disisinya.
"Ars, aku ingin buah jeruk." Andini bahagia saat melihat jeruk berwarna kuning-kuning segar.
Arsena segera meminta kantong kresek pada penjual, dia memilih sendiri pumkin yang dalam kondisi segar.
"Kalau memilih sendiri, harganya menjadi dua kali lipat tuan?" Kata penjual.
"Oke, no problem," jawab Arsena sambil sibuk memilih buah jeruk yang ia yakini isinya akan manis.
Tiba di rumah Andini dan Arsena langsung ke kamar, tak ada tanda tanda Davit ada di rumah. Sudah dapat diduga Arini pasti pergi ke rumah suaminya menemani nenek.
Sampai di ruang tamu Arsena mengangkat tubuh Andini membuat wanita cantik itu memekik. "Ars !"
"Aku akan menggendongku sampai kamar."
"Turun aku tidak mau," tolak Andini.
"Tidak bisa menolak, aku ingin memanjakan dirimu, Sayang."
Sampai di ruang terindah yang ada di mansion itu, Arsena menurunkan Andini berlahan. Setelah memeluknya penuh haru, hingga menitikkan air mata, Arsena melepaskan pelukannya. "Aku bahagia, aku bahagia hidup bersamamu."
Andini pun ikut menangis. "Kebahagiaan yang besar kembali hadir mewarnai hubungan mereka."
*Jangan lupa like dan komen ya, kasih Vote juga.
__ADS_1