
Oma di yang bisa baca situasi yang terjadi di kamar Arini ikut bicara. " Arini Menikah itu memang tak semudah seperti yang dibayangkan, kuncinya kita harus percaya, jika percaya sudah tak ada kenapa harus menikah?"
Kata kata lemah lembut Oma seolah membuat Arini menyadari kesalahannya.
"Oma, Arini mau ikut Kak Davit jalan-jalan." Arini turun dari ranjang menata sepatu dan tas yang ia lempar sembarangan tadi, saat baru masuk ke kamar.
"Davit, kamu sepertinya harus sabar dengan gadis manja seperti Arini." Keluh Oma berbicara pelan.
"Oma tadi bilang apa?" Arini yang hanya mendengar gumam lirih Oma pun penasaran.
Oma bilang Davit harus sabar, Oma takut dia akan nggak tahan memiliki istri ngambekan seperti kamu.
"Oma ih jahat pisan." Arini ngedumel. dengan gegas ia melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi.
Arini segera mandi, kali ini dia mandi lebih cepat daripada biasanya, tetapi dia tetap tak melewatkan acara luluran dan serentetan ritual mandi lainnya.
Davit sudah rapi dengan kemeja putih bersih dengan motif garis-garis biru, dengan setelan celana oxford warna hitam yang disetrika dengan rapi, Arloji merk terkenal pemberian dari sang majikan menempel apik di lengannya. Tak lupa ia juga menyugar rambut hitamnya kebelakang.
Davit mengunci rumah dinasnya, lalu berjalan mendekat ke garasi, Davit sudah bertekat kalaupun Arini tak ikut dia akan datang sendiri menemani nenek.
Davit membuka mobil terbaru milik majikannya, mobil mewah itu yang akan ia pakai jalan jalan hari ini. Saat membuka pintu depan Davit sangat terkejut melihat Arini sudah stanby di dalamnya.
Davit membungkukkan tubuhnya. Tersenyum manis untuk pujaan hatinya." Sayang, akhirnya kau ikut juga."
" Kenapa? Nggak suka aku ikut? Takut gagal ketemu pacar gelap."
"Pacar gelap? Sejak kapan kekasih kecilku ini berfikir aku punya pacar gelap hm?" Devi turu menyalakan mesin mobilnya, dia menatap Arini dengan tatapan kelembutan.
"Sejak kapan? Apa ini yang membuat kamu berubah menjadi ketus?"
Davit hendak menyentuh dagu Arini. Namun tangan Davit segera ia tepis dengan kasar.
"Cepat jalan aja, kita temui pacar gelap Kakak yang kalau telepon membuat Kakak senang dan senyum-senyum itu."
Davit hanya bisa menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya kasar. "Nona kau ini cemburu tapi aku tak tau siapa yang sedang kau cemburui, pacar gelap siapa? haha."
"Davit menarik punggung Arini dan memeluknya. Dia sekarang malah menangis terisak di pelukan Davit."
"Kok malah nangis sih. Kakak nggak ngelakuin kesalahan dengan hubungan kita Arin," Davit mengecup puncak kepala Arini. Davit berusaha bersikap se dewasa mungkin untuk menyikapi tingkah kekanak kanakan Arini.
Arini melepaskan tubuhnya dari dekapan hangat Davit, sungguh menyentuh tubuh kekasihnya seperti saat ini, mampu membangkitkan hasrat panas di dalam dadanya.
Davit mengemudikan mobil dengan satu tangannya memutari air mancur sebelum keluar mansion. Ia membiarkan Arini yang tak mendapat kejelasan dari cemburunya.
"Kita kemana?"
__ADS_1
Arini bingung ketika Davit membelokkan setir mobilnya ke arah kawasan hotel.
"Kak Davit mau bawa Arini ke hotel?" Arini terlihat mulai gusar.
"Iya, kita biar kamu yakin kalau kakak sayang sama kamu."
"Kak, jangan macam macam ya, kita belum menikah."
" Kakak nggak macam macam, cuma minta satu macam dari kamu." Davit menggenggam pergelangan tangan Arini dengan kuat. Senyumnya yang manis membuat Arini takut. Bayangan wajah mantan kekasihnya yang berusaha menodainya kembali terlintas.
Kak Davit lepas, Arini berusaha memberontak. Ia makin ragu dengan ketulusan Davit.
"Kamu ingin ketemu dengan kekasih gelap ku kan? Makanya nurut, kita temui bersama sama."
"Baiklah, tapi lepaskan." Rengek Arini.
Davit melepaskan genggaman di lengan calon istrinya. Sampai di basement mereka segera turun, tanpa menunggu Davit membukakan pintu.
Arini terlihat makin murka dengan Davit yang berkata menyembunyikan kekasih gelapnya di hotel ini.
"Sejak kapan kakak menyembunyikan dia di hotel ini?" Kata Arini dengan lelehan air mata. "Seharusnya kakak terus terang jika sudah punya kekasih, biar aku tak merasakan sakit yang sedalam sekarang ini."
Davit sesungguhnya tak tega menyembunyikan tentang kedatangan neneknya ke kota ini, tapi demi melihat berapa besar cinta Arini padanya, Davit rasanya perlu menguji sedikit saja cinta wanitanya.
Mereka kini sudah di depan pintu kamar hotel, Arini dan Davit berhenti sejenak. Gadis itu sibuk menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Arini makin tergugu, " Kak Davit jahat, kenapa kakak tega menghancurkan Arini disaat Arini sedang sayang sayangnya, apa Kakak tahu Arini sudah menunggu pernikahan kita segera dilangsungkan, berharap kita akan bisa bersama kemanapun selamanya, aku ingin bahagia seperti Kak Arsen dengan Kak Andini. Tapi ... Kakak jahat."
Arini berlari dengan telapak tangan membungkam bibirnya, Arini tak jadi membuka pintu kamar. Keputusannya sudah bulat dia akan mengakhiri hidupnya saja jika tak menikah dengan Davit.
"Arini berhenti!" Davit menahan langkah Arini dengan menarik pergelangan tangannya.
"Buat apa kak? Buat apa Arini hidup lagi? Jika pria yang Arini sayang ternyata sudah berkhianat." Arini makin menjadi jadi.
Tiba tiba terdengar seseorang membuka pintu dari dalam.
"Nenek dengar ada keributan di luar? Rupanya kalian berdua?" Nenek melihat Davit yang menahan lengan Arini. Sedangkan Arini terdiam seribu bahasa mengabaikan airmata meleleh begitu saja.
"Vit, apa dia Arini? Calon istrimu? Kenapa dia menangis?" Nenek berjalan menghampiri Arini. Arini mengangguk cepat.
"Kamu sangat cantik, tapi kenapa menangis. Apa cucu nenek sudah kurang ajar?" Tanya Nenek saat Arini masih di pelukannya.
" Nggak Nek." Davit menggelengkan kepala membela diri
" Iya Nenek, cucu nenek telah membuat Arini menangis, dia tidak terus terang dengan keberadaan nenek di hotel ini."
__ADS_1
"Ya Tuhan Davit, kamu kenapa kok keterlaluan begini hah? Sepertinya kamu sudah lupa rasanya bagaimana nenek memukul bokongmu. Dulu. Nenek melotot ke arah Davit. Dia segera menghampiri Arini dan memeluknya.
"Nenek, Kak Davit telah jahat sama Arini. Nenek harus hukum dia." Arini menangis bahagia dipelukan nenek Davit.
"Kita masuk ya, malu dilihat orang-orang dikira kita bertengkar lagi. " Davit dengan bahagia menggandeng kedua orang tersayangnya di sisi kanan Nenek dan disisi kiri Arini.
"Kalian berdua adalah wanita yang paling spesial di hati ini, kalian adalah prioritas utamaku." Davit membimbing Nenek dan Arini duduk di sebuah sofa panjang. Davit memilih duduk di bawah di depan Meraka.
Arini ini Nenek aku, aku sangat sayang sama Nenek dan juga kamu, apakah kamu bisa menerima wanita tua ini, dan menyayanginya seperti keluarga yang lain?
Arini menoleh kearah nenek, nenek juga sebaliknya. Senyum mengembang dari bibir keduanya. Mereka kembali berpelukan. " Tentu akan menyayangi nenek seperti Kak David menyayanginya. Keluarga yang disayangi oleh calon suamiku sudah kewajiban ku juga untuk menyayangi nya."
" Arini tapi nenek heran, nenek nggak habis pikir bisa-bisanya kamu suka sama David yang jelek itu."
" Bagi Arini Davit ini sangat tampan, Nek. Tadi aja dia baru bilang kalau akan bunuh diri jika David menduakan nya."
" Kapan? Kak Davit salah dengar Nek, Arini nggak pernah bilang gitu." Arini mengelak.
" Ayo ngaku Arini, atau aku cium di depan Nenek." ujar Davit, sambil tertawa.
" Davit sudah sudah, kenapa kamu suka sekali menggoda calon istrimu ini?" Nenek ada di antara mereka berdua sedangkan Arini berlindung di belakang tubuh Nenek. " Cepat bikinkan minum yang enak buat calon istrimu dan nenek, karena kau seorang pria satu satunya disini.
" Apa hubungannya Nek?" Davit keberatan.
" Ya kalau kamu nggak mau bikin minum, apa kamu yakin sanggup lawan kita berdua, kami akan menggelitiki tubuhmu."
"Iya iya Nek, Davit akan buatkan minuman untuk kalian berdua."
Arini, jika Davit suka sekali menggoda dirimu, tinggal gelitiki saja perutnya, maka dia akan kalah."
" Benarkah nek? Kok Arini nggak tahu kalau ternyata kak Davit nggak tahan geli" Arini terlihat bersemangat.
"Nenek kenapa buka kartu As sih."
" Biar kamu nggak mengerjai istrimu terus."
Davit dengan malas melangkah ke ruang meja makan. Mengambil beberapa sendok gula dan membaginya ke dalam tiga gelas. Lalu menuangkan minuman yang ia ambil dari kulkas.
Tiba tiba Arini menyusul dari arah luar dan menyapa Davit yang sedang membuat minuman. " Kak Davit."
Davit menoleh dan tersenyum lalu kembali fokus mengaduk minuman hingga gulanya larut.
Tiba tiba lengan dengan kulit lembut itu sudah melingkar di perutnya. Davit bisa merasakan kepala Arini menempel ketat di punggung lebar milik Davit.
"Sayang, jangan pancing seperti ini, bisa bisa aku nggak mampu nahan sampai hari pernikahan kita." Davit menghentikan mengaduk minuman dan membalikkan tubuhnya. Ia lihat wajah bersalah Arini yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
*Happy reading.
* Jangan bosan kasih Like Komen vote. dan jangan lupa favoritkan ya, biar ada pemberitahuan saat update part terbaru.