
*********Satu hari kemudian.**********
Andini sudah diizinkan pulang, melihat Arsena sudah tak se marah seperti kemaren, membuat istri tak dianggap itu semangat menyongsong hari-hari berikutnya.
Sedangkan kata kata pedasnya yang selalu keluar setiap saat, Andini sudah mulai bisa mengabaikan dan kebal akan hal itu.
Andini sudah sampai di kamarnya ia melipat selimutnya, dan menata bantal kemudian hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dua hari di rumah sakit membuat tubuhnya menjadi lengket
Tiba-tiba sosok manusia bertubuh besar dan pemilik dada lebar itu sudah berdiri di ambang pintu.
"Apa ada perubahan?" Tanya Arsena
Andini mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Apa?"
"Kondisi kamu, apa lagi?"
"Oh aku sudah baikan."
"Syukurlah, berarti kau bisa kembali kerja padaku."
"Kerja? Iya, sudah." Jawab Andini pendek.
Syukurlah dia tak mengungkit soal pulang pagi itu lagi.
Pria itu jelas tak marah karena Andini memang tak melakukan apa-apa di malam itu. Sedangkan Andini sendiri yang tengah mabuk berat masih tak menyadari apapun yang terjadi pada dirinya.
"Aku harus masak apa buat kamu?"Andini khawatir nanti masakannya tak sesuai selera.
"Masakin gurame pake sambal kayak kemaren, enak. Aku pengen makan itu lagi."
"Oh baiklah,apa cuma itu?"
"Bikin yang banyak, entar sekalian bungkusin dua buat ke kantor."
"Baik tapi apa aku boleh minta sesuatu?"
"Apa?" Asal jangan yang aneh-aneh. Kamu disini udah aku gaji. Dan ini gaji kamu." Arsena melemparkan ATM ke ranjang Andini.
"Apakah kamu mau menemani aku saat wisuda nanti?"
"Jangan gila Andini, permintaan kamu itu terlalu konyol untuk aku kabulkan. Aku tak mau ada orang tau tentang hubungan palsu ini, dan jika aku bersamamu. Semua orang pasti akan bertanya tanya tentangku. Aku juga tak mau Lili tau. Raut muka Arsena yang sudah dingin bak kulkas dua pintu kini terlihat semakin membeku. Lalu pergi meninggalkan Andini sendiri di kamarnya.
"Maafin aku Ars, permintaanku terlalu berat ya untuk kau kabulkan. Yeah, aku lupa diri siapa juga aku di matamu." Gerutu Andini ketika bayangan Arsena sudah raib.
Andini segera menyadarkan dirinya dari lamunan, wisuda masih satu minggu lagi, kalau Arsena menolak, nanti jika waktunya tiba ia bisa meminta tolong pada orang lain. Tukang kebun dan Bi Uma pasti beliau tak akan menolaknya.
Andini tak mau meminta papanya, karena pasti wanita sihir itu juga akan ikut. Moment spesial untuknya Andini tak ingin ditemani wanita yang sudah membuatnya berada dalam keadaan sulit seperti saat ini. Mama tiri yang tega memasukkan ke sarang pelacuran.
Andini segera menuruni tangga menuju dapur. Wajahnya tak lagi terlihat sedih, Andini segera meracik bahan untuk sambal dan mengambil gurami segar yang baru dibeli bibi usai subuh tadi.
Ternyata di dapur sudah ada bibi yang sedang sibuk mencuci piring dan membuat minuman hangat.
"Eh Nona, sudah sembuh rupanya?"
" Iya, Bi. Biar aku bantu masak ya."
Andini mengambil cobek dan uleg kan yang baru saja dibersihkan oleh bibi.
"Semangat banget, nona habis sakit kok sekarang mau memasak, apa Den Sena yang minta ya?" Andini mengangguk, ia senang suaminya ternyata mulai menyukai masakannya. Membayangkan Arsena akan makan masakannya wajah andini kini nampak sumringah.
"Non Andini cepat sekali sehatnya, dan habis sakit kok wajahnya malah cantik berseri seri." Canda Bibi lagi.
Andini mencebikkan bibirnya tak percaya."Emang kelihatan banget kalau aku lagi senang, ya, Bi?"
"Iya, jangan jangan karena habis di gendong Den Sena kemaren malam ya?"
"Apa... ! Digendong sama dia?" Andini terbelalak, ia semakin kaget ternyata saat pingsan Arsena yang menggendongnya. Andini tak memikirkan sejauh itu. Setahunya Sena hanya menyentuh jemarinya saat di rumah sakit saja.
"Iya, waktu Nona Andini pingsan dikamar mandi, Den Sena panik, dia gendong Non Andini ke ranjang." ujar Bibi.
__ADS_1
"Dia bisa panik Bi?"
" He'em, Non Andini jatuh cinta kan sama den Sena ayo ngaku?"
"Enggak, Bi mana berani saya jatuh cinta sama dia, dia kan sudah punya kekasih, anak pengusaha dan cantik lagi. Aku mah apa?" Andini menolak kata kata Bibi. Karena gadis itu jelas tak ingin mencintai Sena, ia takut semakin terluka di masa datang.
"Tapi kan yang jadi istrinya Non Andini. Non Andini juga cantik, malah kalau di bilang cantik masih cantikan Non Andini kemana mana, natural, alami. Dia cuma menang di makeup tebal aja."
"Hush ... Pagi kita udah ghibah aja." Andini segera mentolerir keadaan. Ia tak mau Arsena sampai mendengarnya.
-
"Ngobrolin aku ya?" Tiba tiba Arsena sudah berdiri di ambang pintu. yang Andini khawatirkan hampir saja terjadi.
"Kok diam?! Ditanya malah nggak ada yang jawab." Arsena mulai kesal, karena dua orang di dapur malah mengacuhkannya.
"Enggak tuan, lagi ngobrolin Non Andini setelah lulus kuliah mau cari kerja."Bibi membuka suara lebih dulu.
"Bagus donk biar nggak menyusahkan, cepetan masaknya, aku janji akan sarapan dengan Lili pagi ini."
"Lili lagi, Lili lagi, Aden, Aden , ada berlian di rumah malah cari yang lain, kapan dia mulai mencintai non Andini," batin Bibi.
Andini akhirnya menyiapkan sambal sudah dengan lauknya di dalam rantang. Ia menambahkan banyak sekali sambal karena Arsena yang memintanya.
Hubungan Andini dengan Arsena sudah mengalami kemajuan. Pria yang awalnya begitu membenci aroma masakannya kini sudah ketagihan dengan sambal terasi bikinan istrinya itu.
Setelah sarapan siap di meja, Arsena segera mengambil dan menaruhnya di dasbord mobil agar tak ketinggalan. Pria itu sudah bersemangat akan sarapan bersama dengan kekasihnya di kantor nanti.
Sampai tiba di kantor Arsena sudah di tunggu oleh Liliana gadis itu sudah standby di ruangannya. Karena pegawai dan security disana memang membebaskan wanita itu keluar masuk kantor tanpa izin. Dengan alasan dia kekasih anak bosnya dan kalau dilarang pasti semua karyawan bagian resepsionis akan habis dicaci kaki olehnya.
Melihat sosok kekasih datang, Liliana menghambur ke arah Arsena mengecup pipi kanan dan kiri sudah menjadi tradisi, Sekedar saling melepas rindu setelah beberapa hari ini tak bertemu.
"Selamat pagi sayang," ucapnya. Senyumnya merekah dari bibirnya yang merah terang bak bunga mawar itu.
"Pagi, duduklah! Aku bawakan sarapan untuk kita." Arsena meletakkan sarapannya diatas meja. Memang khusus untuk ruangan Arsena lumayan luas karena mereka anak bos, di dalamnya dilengkapi dengan sofa untuk menerima tamu dan ruang istirahat.
Arsena dan Liliana siap untuk sarapan bersama, menu special dari rumah membuat selera makannya menjadi lebih kuat dari biasanya.
"Ini pasti masakan ART kamu yang kamu bilang pinter masak itu kan?"
Liliana kaget mendengar kata kata Arsena, Masa menjadi Istri CEO masih harus turun sendiri ke dapur. Tapi Lili tak ambil pusing tok setelah jadi Istri Arsena nanti dia bisa memperkerjakan banyak pembantu yang jago masak tanpa ia turun tangan sendiri.
Memasak adalah hal paling dibenci Liliana, membayangkan ketika memegang kunyit tangannya yang cantik pasti akan kuning, belum lagi ketika memegang terasi.
**********
"Tok ... Tok ... Tok ...."
"Siapa ganggu pagi-pagi," gerutu Sena." Masuk!"
"Andini ... Ngapain kamu kesini?" Arsena kaget melihat Andini yang tiba-tiba datang ke tempat kerjanya.
"Maaf Tuan ... Tasnya ketinggalan, jadi aku antarkan sekalian berangkat ke kampus."kata Andini sambil menaruh tas kepada Arsena.
"Oh, makasih." Kata Sena pendek. Sambil melirik kearah Andini yang menaruh tasnya pada meja lain.
"Yang, pembantu kamu kok bisa keluar masuk kantor seenaknya sih?" Tanya Lili mulai curiga.
"Iya, itu karena papa yang beri dia Izin, sudahlah cuekin aja dia." kata Arsena sambil memberi Isyarat pada Andini agar cepat keluar.
" He ... he Mbak jangan khawatir, saya akan segera pergi Mbak, karena saya juga nggak mau lama lama lihat kalian berduaan seperti ini, bikin gerah aja." Kata Andini sambil mengibaskan rambutnya, mirip orang kepanasan. Padahal di dalam ruangan Arsena sejuk banget dengan AC yang tak pernah mati.
"Ngelawan dia, pembantu kamu berani banget, Yang." Lili merasa Andini kelewat berani di depan majikannya.
"Eh ...... Aaaaaaa"
Brukk .....
Suara tubuh Andini yang terjatuh di pangkuan Arsena. Andini pura-pura terpeleset saat melewati Arsena. ia lakukan semata hanya untuk mengerjai Lili yang cemburunya suka over
Saat terjatuh Andini segera mengalungkan lengannya di leher Arsena.
__ADS_1
"Auuuuu, Tuan sakit." Andini mengiba menatap Arsena dengan tatapan sayu seakan benar benar sedang kesakitan. Kali ini aktingnya sungguh luar biasa. Ia sekali lagi berhasil membuat Arsena percaya
"Kamu nggak apa-apa, Andini?" Tanya Arsena.
"Kakiku sakit, Tuan ." Suara Andini sengaja di buat se alay mungkin.
Lili yang melihat pemandangan itu menjadi geram, ia tak suka dengan kelakuan Andini yang kolokan menurutnya. Liliana juga melihat Andini pasti sengaja, mana bisa ia terpeleset dilantai yang bersih sedangkan di depannya juga tidak ada alat sebagai alasan ia tersandung.
Liliana bangkit dan menarik lengan Andini dengan paksa membuat keduanya hampir jatuh. Kemudian mereka saling menahan.
Liliana begitu cemburu melihat Andini duduk dipangkuan kekasihnya walaupun tak sengaja. "Andini, pembantu kampungan! Kau mau menggoda Arsenaku yah ...! Dasar pembantu kampungan!!"
Liliana mengangkat tangannya hendak melayangkan satu tamparan ke pipi Andini.
Andini menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghindari tamparan Liliana, namun sayangnya Arsena sudah menahan lengan itu.
"Beby, kenapa kau menodai tanganmu dengan memukul pembantu ini?"
"Tapi Ars, dia sudah sengaja menggodamu dengan pura pura jatuh tadi."
"Sudahlah kamu tenang ya, aku nggak mau sarapan kita hari ini terganggu." Arsena meraih lengan Liliana dan memeluknya dengan lembut.
Setelah itu mereka duduk kembali untuk memulai sarapan paginya yang tertunda.
Arsena membimbing Lili duduk kembali disofa dan mengabaikan keberadaan Andini.
Andini yang melihatnya hanya bisa berdecak kesal, Hatinya sudah terlanjur mencintai suaminya, ia merasakan nyeri di ulu hatinya dengan sikap Arsena yang begitu mesra dengan Liliana.
Andini pergi dari ruangan Arsena ia menyeka air matanya dengan lengannya. Sambil terus berlari menuju lift.
Andini yang sibuk menyeka air matanya dengan lengannya sambil berlari ia hampir terpental karena tiba-tiba menabrak tubuh seorang pria berbadan besar
Bruuuk!
"Hey girl, ini masih pagi, kenapa kamu menagis?"
"Miko, kamu!?" Andini terkejut, setelah berhasil mengatasi keterkejutannya ia balik bertanya pada Miko daripada membalas pertanyaan Miko.
"Iya girl, kamu baik-baik saja kan?" Miko memperhatikan sudut mata Andini yang memerah.
"Andini apa ada yang menyakitimu?" Miko menangkupkan tangannya pada dagu Andini membuat wajah Andini mendongak menghadapnya.
"Tidak Mik, aku baik-baik saja, permisi." Andini memiringkan tubuhnya agar tak menyentuh Miko. Gadis itu lalu pergi tanpa ingin menceritakan apapun pada pria yang selalu hadir di moment yang tepat itu.
Andini berlari menuju lift ia pergi kemana hatinya ingin pergi untuk menenangkan diri, Andini membenci dirinya yang telah menyimpan sedikit rasa, Andini mulai mengagumi Arsena mungkin karena pria itu memang selalu mengacuhkannya. Jadi ia makin tertantang ingin melunakkan sikap angkuh plus arogant itu.
Miko memperhatikan kepergian Andini, ia memandangi punggung Andini dengan sejuta tanya. Tak biasanya gadis itu muram seperti itu jika sedang tak terjadi apa-apa.
Bayangan Andini hilang di belokan menuju lift, Miko melanjutkan perjalanannya menuju ruang pribadinya dan menaruh tasnya.
Kebetulan ruang kerja Miko tak melewati ruang kerja Arsena. Pintu yang terbuka membuat ia dengan mudah mengamati aktifitas orang di dalamnya.
Miko melihat sepasang makluk sedang menikmati sarapan, sesekali saling menyuapi. Setelah selesai sarapan terlihat Liliana membuang bungkus dan botol minum lalu duduk mendekat kearah Arsena. Mereka bercengkerama, berpelukan, Miko tak ingin melihat lagi adegan mesra apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Miko tak memiliki hati se tegar batu karang untuk menyaksikan semuanya, ia memilih pergi ke balkon menikmati pemandangan sekitar.
Wanita yang pernah singgah di hati Miko itu berlahan terusir keluar, Miko menyesal pernah mencintai wanita tak setia itu setulus hati. Sayangnya Arsena tak pernah tau bagaimana kisah gadis yang dicintai bersama adiknya sebelumnya.
Andini berlari ke arah laut, yang hanya berjarak tiga ratus meter dari perusahaan. Disana ia berharap menemukan ketenangan.
Andini duduk dibawah bangku panjang yang kebetulan sedang kosong. Menikmati indahnya pemandangan laut di pagi hari.
Beberapa nelayan pulang dengan hati gembira membawa hasil tangkapannya, burung laut berterbangan tak mau kalah dalam mencari mangsa. Mereka semua bahagia. Tapi tidak dengan hati Andini.
Andini sedih, baru merasakan cinta pertama sudah patah hati.
"Kenapa rasanya sesakit ini, tau seperti ini gue nggak usah jatuh cinta.
"Heiiii ... denger gue nggak? Gue nggak mau pacaran .... gue nggak mau jatuh cinta!" Teriak Andini pada gulungan ombak yang menghampirinya.
"Lupakan sebelum terlanjur tumbuh subur sebagai parasit di diri kita." Kata Miko dari arah belakang.
__ADS_1
" Hidup ini akan terlalu sayang terlewatkan begitu saja hanya untuk memikirkan orang yang kita cintai tanpa memikirkan yang mencintai kita." Kata Miko sambil berjalan pelan- pelan ke arah Andini. Memandang kearah yang sama yaitu samudra Pasifik dengan ombaknya yang begitu damai.
"Miko! kamu ngapain kesini?"