Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 86. Permohonan maaf Mama


__ADS_3

Hari mulai sore, senja mulai terlihat di ufuk barat. Jalan jalan mengelilingi taman dengan luas sekitar dua hektar di samping mansion itu dirasa sudah cukup bagi Arsena dan Andini.


"Sayang, waktunya mandi, aku sudah sangat berkeringat." Kata Arsena sambil mencium ketiaknya kanan dan kiri.


"Yah, aku juga mencium aromanya."


"Emang bener bau banget ya!" Arsena mengulangi mencium kaosnya bagian depan


"Enggak, aku bahkan suka aroma tubuhmu, Ars." Jawab Andini tersenyum manja.


"Baiklah, kita mandi bersama." Arsena menghentikan kursi roda yang dinaiki Andini tepat di depan pintu kamar, Pria itu kembali dengan kebiasaannya, mengangkat tubuh istrinya dengan enteng.


"Ars, jangan kau membuat aku manja seperti ini."


"Percuma tubuhku angkat barbel setiap hari jika tak bisa memanjakan bidadari ku."


Arsena mengangkat tubuh Andini dengan mudah, seakan tubuh istrinya ringan bagaikan kapas. Tangan kekar itu melingkar di tubuh Andini dengan sempurna.


Andini menyerah jika Arsena sudah berkata demikian. Dia yang takut terjatuh memilih mengambil jalan aman dengan melingkarkan lengannya di tengkuk suaminya.


Arsena sesekali mengecup bibir istrinya yang terasa lembut dan hangat, sambil kaki terus melangkah, bibir lembut dan hangat milik Andini sudah menjadi candu baginya.


Arsena merebahkan Andini di kasur empuk. Jika saja Zara tidak sedang ada disana membersihkan kamar dan menyiapkan baju mereka mungkin Arsena tak bisa menahan diri untuk kembali menyalurkan hasratnya yang sudah lama terpendam.


"Maaf Tuan, Air hangat untuk Nona Andini sudah siap, baju Tuan dan Nona yang akan dikenakan malam ini sudah saya ambilkan. Setelah semua ritual mandi dan lainnya selesai dimohon nyonya besar untuk makan malam bersama."


"Baiklah Zara, terimakasih."


Zara membungkuk kan tubuhnya pada Arsena sebelum pergi keluar ruangan. Gadis itu segera turun kelantai bawah dan memeriksa semua makanan yang sudah tersaji.


"Sayang sudah lama sekali kita tidak mandi bersama."


.


Arsena mulai membuka kancing baju Andini satu persatu, kembali melihat tubuh seputih susu dan leher jenjang itu jiwa laki lakinya kembali meronta.


Aku harus bisa menahan beberapa hari lagi, aku tak ingin istriku terpaksa melakukan kewajibannya karena aku terlalu menginginkan dirinya.


"Ars, kau kenapa memperlakukan aku seperti seorang pesakitan aku bisa melakukan semua." Andini tau suaminya sudah amat ingin, pria penggemar jeruk peras itu buah jakunnya naik turun beberapa kali menelan salivanya.


"Baiklah sekarang mandi aku tunggu disini." Arsena mengubah posisinya duduk ditengah ranjang sambil membuka laptopnya, hanya dengan mengalihkan ke pekerjaan, bayangan tubuh indah itu sedikit menguap dan kabur.


Sebelum Andini pergi ia kembali memberikan kecupan di kening dan ciuman bibirnya. "Aku sangat tergila gila dengan bibir indah ini."


"Bibirku pasti sekarang sudah berubah bentuk. Ars" Andini tersipu ia meraba bibirnya yang basah.


Tidak ada yang berubah, bibir istriku semakin kelihatan seksi dan menggoda.


Senyum dan kerlingan mata Arsena membuat perasaan Andini kembali melambung ke angkasa. Hanya bibir merah itu yang menjadi pelampiasan suaminya.


Berkali kali Arsena mengulangi hal yang sama, kembali mengecup dan merasakan hangatnya.

__ADS_1


Dimabuk cinta, yaah ... Pasangan itu sedang jatuh cinta dan lagi hangatnya hubungan mereka saat ini.


Andini mandi dengan air hangat yang sudah dibubuhi dengan aromatherapi blonsom. Tubuhnya kini terasa semakin fresh, bisa dibilang ia sudah sangat sehat.


Empat puluh menit Andini menghabiskan waktu di dalam bathtub. Memanjakan diri di dalamnya. Rasanya sudah hampir seminggu dia tak memanjakan tubuhnya seperti hari ini, walau hanya sekedar memakai sabun lulur dan cream.


Arsena yang masih sibuk memeriksa laporan dari Galang sesaat mengernyitkan dahinya. Penjualan menurun drastis, masukan perusahaan berkurang. Arsena tahu ini akan terjadi, setelah banyaknya masalah yang menimpa perusahaan karena ulah Devan beberapa bulan lalu. Tapi Andini masih lebih penting dari apapun. Arsena segera memerintahkan Galang selaku personalia segera mengadakan meting khusus dengan para manager bagian lewat alat canggih berbentuk persegi itu.


"Kenapa masalah semudah itu, kalian semua lambat bertindak. Apa selemah ini tim kerja kalian?" ujar Arsena membuka meeting.


"Maaf, tuan. Seperti ada pihak luar yang sengaja membuat citra perusahaan memburuk."


" Ambil tindakan, apakah dia dari pihak pesaing kita, atau musuh yang berkedok kawan?"


"Berita terbaru saya tunggu paling lambat dua hari."


"Siap, Boss." Galang dan Guntur segera menyatakan kesediaannya.


Meting dadakan tetap dipimpin oleh Arsena, walaupun hanya lewat laptop namun semua berjalan lancar. Arsena cenderung tegas dalam menjalankan kepemimpinannya, Ia merasa nasib keluarga dan karyawan adalah tanggung jawab besar yang ada di pundaknya.


 


Selesai mandi keramas, Andini keluar kamar mandi ia memakai bathdrope dengan rambutnya masih basah.


Andini apapun yang terjadi pada dirimu, aku tak akan pernah melepaskanmu, aku rela jika memang aku dan kamu ditakdirkan tak memiliki keturunan selamanya. tapi aku tak rela jika kau pergi.


Tanpa sadar, Arsena telah menatap istrinya tanpa berkedip.


"Oh, maaf aku hanya ...." Arsena segera menyadari kalau ia sedang memikirkan jantung hatinya.


Arsena turun dari ranjang, kembali melipat laptopnya dan menaruh di atas nakas.


Arsena memeluk Andini dari belakang menempelkan kepalanya di tengkuk Andini yang basah. "Ars ...." Andini merasa kumis yang lupa di cukur beberapa hari itu memberi sensasi di lehernya.


"Hm ...."


"Geli."


"Biarlah seperti ini sebentar saja, Sayang. Aku sedang menahan rindu."


"Kamu tersiksa ...."


"Tidak apa-apa. Aku akan sabar, semakin sabar rasanya akan semakin nikmat saat hari itu tiba."


Andini mematut dirinya di depan cermin. "Kalau begitu lepaskan aku, izinkan aku ganti baju. Ars."


"Mm baiklah, baju sudah disiapkan Zara."


Pria itu masih belum mau memindahkan tubuhnya pada tubuh istrinya, sesungguhnya posisi seperti itu hanya membuat junior kian tersiksa, tongkat panjang itu sudah seminggu lebih menganggur. Hanya bersentuhan sedikit saja sudah mampu membuatnya bangkit.


Andini merasakan ada yang terasa mengembang di balik celana sang suami ia semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Andini membalikkan tubuhnya dan memeluk Arsena erat. "Ars, maafkan aku, aku bersalah tak bisa melayanimu beberapa hari ini."


"Tuan, sekarang waktunya Nona minum obat dan makan malam." Zara membawakan nampan berisi segelas air dan obat untuk Andini. Obat itu sudah dibelikan Arsena dengan kualitas terbaik dan harga paling mahal yang ada di negara ini.


"Oh, terima kasih Zara." Andini dan Arsena lupa tak mengunci pintu, membuat Zara bisa masuk setelah memberi isyarat dengan mengetuk daun pintu beberapa kali.


Tuan sesuai anjuran tertulis, Nona Andini sebaiknya makan malam terlebih dahulu baru minum obat, semua makanan sudah melewati proses seleksi, dan sepertinya nyonya sudah berhenti berulah.


"Kerja bagus Zara."


"Terima kasih Tuan, permisi." Zara segera pergi menghilang di balik pintu.


Andini memakai baju yang dipilihkan Zara, sementara Arsena mandi kilat dan mengambil baju dengan warna senada.


Setelah tubuh berdua terasa bersih dan fresh mereka berdua segera turun. Di bawah sudah ada Mama yang lebih dulu ada di ruang makan duduk bersebelahan dengan Anita.


Andini hendak mengambil duduk di tempat biasanya. Namun, Arsena lebih dulu mengambil alih tempat duduk Andini. Mama dan Anita tahu mengapa Arsena bersikap demikian.


Yeah, Arsena belum percaya pada Mama kalau dia tak mengulangi melakukan hal buruk itu lagi.


Mama disini yang mulai berbicara, Anita hanya diam dengan wajah menunduk. Sahabat karib itu tak berani menatap sorot kebencian yang ditunjukkan oleh Arsena.


"Ars, Mama tahu, sulit untuk menaruh kepercayaan pada Mama lagi, dengan apa yang telah mama lakukan pada Andini. Tapi Mama ingin kamu percaya setidaknya mama sudah menyadari sebelum semua terlambat. Mama janji setelah ini akan menyayangi Andini layaknya menantu." ucap Mama dengan sungguh sungguh. Tangan Mama meraih jemari Andini dan menggenggamnya.


"Mama kenapa berkata demikian. Arsena sudah pasti memaafkan Mama."


"Andini, ayo makanlah, atau kalau merasa tak nyaman biarkan Zara atau bi Um menyiapkan makan kita di kamar saja."


"Ars, mama akan menebus kesalahan mama." Kata Mita masih bersikeras ingin Arsena kembali menjadi putranya dulu, putranya yang dekat dan penurut dengannya.


"Aku hanya akan memaafkan kalian berdua, jika aku sudah mendengar kabar kehamilan Andini, Andini menderita karena ulah kalian, jangan salahkan aku jika saat ini aku bersikap acuh pada kalian."


"Braaak!


Arsena menggebrak meja.


"ini tak ada apa-apanya dengan harga yang seharusnya kalian bayar untuk istriku" Arsena berdiri tanpa menyentuh makanannya.


"Andini, maafkan mama, Sayang."


Andini hanya diam, ia tak berani mengambil keputusan, takut yang dilakukan tak sesuai dengan keinginan Arsena.


"Andini kita kembali ke kamar!"


"Bi, siapkan makan yang baru buat Andini."


"Baik, Den."


Rena dengan sejuta penyesalan ia juga menghentikan makannya. Tak terasa bulir kristal membasahi pipi. Ia tak kuasa menerima kebencian dari putra yang begitu disayangi.


"Tante, sudahlah, Arsena pasti beberapa hari lagi akan luluh. mungkin dia bersikap seperti ini karena Andini. Tante harus tau Arsena telah tergila gila dengan wanitanya itu." Nita berkata lirih sambil mengelus punggung Rena usai kepergian Arsena.

__ADS_1


__ADS_2