
Davit tak bisa tenang dia mondar mandir di sekitar mobil, dia sadar sebagai sopir memang tugasnya menunggu. Tapi hari ini dia begitu khawatir dengan keselamatan Arini.
" Sial." Berulang kali Davit memukulkan tangannya pada pintu mobil pandangannya lurus pada gerbang yang sekarang malah ditutup rapat.
"Apa harus mencari cara."
Pyar!!
sebuah batu berukuran besar sengaja dilemparkan pada kaca depan mobil. Davit sontak langsung menoleh ke arah suara.
"Hei ... Berhenti brengs*ek."
Seseorang yang melempar batu tadi, berlari cepat menuju kawannya yang menunggu diatas motor.
Mereka segera menancap gas dengan cepat membuat Davit geram.
Davit segera masuk mobil, mengejar para cecunguk tadi, mereka tertawa mengejek dari atas motor. Sungguh membuat hati Davit mengepul panas.
Mereka semakin senang sementara ini sudah bisa mengalihkan konsentrasi Davit pada Arini.
Motor itu belok pada sebuah rumah berpagar, yang terlihat kumuh dan kotor. Benar dugaan Davit rumah itu sudah lama kosong. Disana ada tiga lagi pria berandal yang sudah menunggu. Penampilannya semua terlihat sangar dan urakan.
"Mau apa kalian?" Davit mengamati mereka satu persatu. Jumlah mereka sudah lengkap lima orang.
"Apa masalahmu denganku?!" Davit bertanya sekali lagi.
"Hahahaha, kau memang tak punya masalah, tapi kami senang cari masalah sama sopir bodoh seperti kamu. Kau sudah lupa beberapa hari yang lalu telah menghajar bos kami." Seorang pria berambut gimbal dan tindik berjejer di telinganya berkata dengan percaya Diri.
Davit sebisa mungkin berusaha tak gentar, dia melipat hemnya hingga sebatas siku. Dia yakin dengan ilmu beladiri yang dimiliki berapapun pria yang menghadangnya asal sama-sama tangan kosong masih mampu mengatasi, kecuali jika diantara mereka ada yang curang.
"Jangan pikir, karena jumlah kalian lebih banyak, aku akan takut." Davit tetap berdiri dengan gaya tegap. Hem putih bersih dan celana hitam yang dikenakan menambah aura tampannya semakin menonjol.
"Hahaha, pria bertangan halus sepertimu, jangan pikir bisa mengalahkan kami. Peluru saja sudah tak mampu menembus kulit kami." Pria hitam berotot itu terlihat paling seram dia berbicara dengan penuh percaya diri dan kesombongan.
"Jika kalian pria sejati, aku mau satu lawan satu, main keroyokan hanyalah pengecut!! Cih" Davit meludah sebagai penghinaan untuk seorang pengecut.
"Gimana bos? Satu lawan satu. Apa kita nanti bisa menang?" Bisik salah seorang preman dengan pria disebelahnya.
"Tenang, bos besar sudah ada disini, kalaupun kita kalah, bos pasti akan menang." Salah seorang menimpali.
"Maju kalian satu persatu, kita terima permintaan terakhir sopir tampan ini sebelum malaikat maut menjemput." Pria yang dipanggil bos itu mengisyaratkan pada salah satu temannya agar menyerang lebih dulu.
Pria berambut gimbal menyetujui perintah bos berkepala plontos itu. Pria itu menyerang Davit dengan membabi buta. Davit mulai memasang kuda kuda, siap menghalau tendangan lawan.
__ADS_1
Srett! Davit memiringkan tubuhnya ketika tendangan terarah tepat didadanya. Alhasil pukulan pertama meleset. Dengan sigap, Davit meraih tangan yang masih mengepal itu dan memelintirnya hingga lawan mengerang kesakitan. Davit menendang perutnya hingga dia tersungkur dan muntah darah.
"Haaahhh!" satu orang maju lagi, diliputi amarah yang berkobar karena melihat kawannya dikalahkan dengan waktu kurang dari dua menit.
Mereka rupanya memiliki gerakan yang tak jauh berbeda. Davit yakin kalau mereka belajar beladiri dengan satu perguruan.
Davit sudah berhasil melumpuhkan keempat lawannya. Mereka semua tergeletak di lantai dengan berguling guling menahan sakit. Tinggal satu bosnya yang berbadan kekar bak Binaraga. Davit yakin ilmu beladirinya pasti lebih tinggi dari ke empat anak buahnya.
Benar dugaan Davit, Davit terlihat kuwalahan, baru kali ini di bertemu lawan yang jauh lebih kuat darinya. Tubuhnya hitam mengkilat. Selain itu juga sangat keras. Pukulan dan tendangan Davit tak mempu merobohkannya. Selain itu Davit juga lelah, tubuhnya kehilangan banyak energi setelah menghadapi empat pria cecunguk tadi.
Davit mudur beberapa langkah, pertahanannya mulai goyah, dia kembali membara setelah ingat Arini dalam bahaya. Meminta bantuan dalam kondisi seperti ini jelas tak mungkin. Tak ada kesempatan sama sekali.
Berlari seperti pengecut mungkin pilihan terbaik sebelum dia mati. Asalkan bisa meyelamatkan wanita pujaan hatinya dan membuka tabir kejahatan yang sesungguhnya.
" Kau mau berlari!? Haha ... jangan mimpi. Malaikat maut sebentar lagi akan menjemput nyawamu mending kau menyerah dan membusuk disini." ujarnya dengan pongah.
Davit mulai kehabisan tenaga, pukulannya mulai melemah. Saat Davit terkena banyak pukulan di wajah, perut dan punggung dia benar telah kalah Davit jatuh tersungkur di rerumputan. Darah segar mulai menetes berlahan dari bibirnya.
Pria bertubuh besar kembali menghujani Davit dengan tendangan sesukanya dengan bringas. "Mati kau!"
Davit yang sudah tak berdaya, ditarik kembali kerah bajunya. Pukulan bertubi mengenai wajahnya. Davit hanya bisa memejamkan mata, dia menangis karena tak mampu menolong Arini. Namun, di dalam hatinya masih memiliki keyakinan. Jika berada di jalan yang benar Tuhan pasti akan mengirim sebuah pertolongan.
'Nona, selamatkan dirimu, maafkan aku.'
Senyum kemenangan menghiasi wajah pria sangar, jelmaan binatang itu. Sebelum pergi dia memberi tendangan terakhir di dada Davit tepat mengenai tulang rusuknya.
Setelah kondisi sepi Davit mulai merayap menuju mobil, mencoba menghubungi Arini agar segera pergi dari pesta laknat itu. Namun panggilan untuk arini tak kunjung mendapat balas.
Willy tersenyum setelah tau yang menelepon adalah Davit. Willy menggeser tombol hijau dan menempelkan di kupingnya.
"Nona !"
"Nona ..."
"Cepat keluar dari sana. Kita dalam bahaya."
"Aku akan mati Nona, selamatkan diri mu."
Genggaman tangan Davit melemah, Davit menjatuhkan ponselnya. Namun masih terjatuh di sekitar kemudi. Davit memiliki firasat yang mengangkat panggilannya bukanlah Arini.
"Kenapa Nona Arini tak bicara? Jangan jangan dia sudah dalam bahaya. tidaaaak!!! pria itu tak boleh melakukannya" Davit membenturkan kepalanya pada tulang mobil. Dia amat frustasi.
Davit kembali merembet masuk mobil, menyeret kakinya yang serasa lumpuh. Sekujur tubuhnya terasa mati rasa. Darah menetes hingga baju putih itu berubah warna menjadi gelap, noda darah melebar kemana mana.
__ADS_1
"Akhhhh." Davit akhirnya berhasil duduk di depan kemudi. Dibuat dudukpun tubuhnya sangat sakit, pandangannya pun mulai meredup, Davit masih berharap tak mati dulu sebelum berhasil menyelamatkan Arini.
Davit meneguk air mineral yang ada di mobil. Dahaganya sedikit terobati, Dia mulai meraba ponselnya yang jatuh tadi, sangat yakin masih di sekitar kursi. Akhirnya telunjuknya berhasil menyentuh benda pipih itu di sebelah kakinya.
Ponsel kembali berada digenggaman tangan. Davit segera menghubungi Arsena. Supaya memberi bantuan secepatnya. Tak lupa juga menghubungi pihak kepolisian. Davit berharap mereka bisa datang dengan cepat sebelum semua terlambat.
Usai meminta bantuan, Davit segera menyalakan mobilnya. Dia tak mau pria laknat itu memiliki kesempatan menyakiti Arini lebih lama lagi.
Usai mendapat kabar buruk dari Davit Arsena bergegas keluar rumah, segera menghubungi Ken dan kawan-kawan. Mereka akan bertemu di lokasi yang diinfokan Davit secepatnya. Semakin cepat akan semakin baik. Namun tetap saja mereka hanya manusia, yang tak bisa menghilang hingga sampai tempat tujuan hanya hitungan detik.
Nasip Arini sangat mengenaskan. Willy sudah memberinya suntikan untuk racun tulang yang membuat tubuhnya lemas namun masih bisa melihat kejadian di sekitarnya.
Racun itu dia dapatkan dari sepupunya Devan dan Lili. Hanya pria itu yang masih menyimpan cairan jahanam itu. Racun yang sama, yang pernah diberikan pada Andini dulu.
Arini kini bisa melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau pacarnya tak lain adalah pria seiko yang menghalalkan segala cara dengan mengatasnamakan cinta.
"Sayang kita pergi dari sini, Sopir sialan itu pasti tak akan menyerah begitu saja." ucap Willy sambil menggendong Arini. Ke dalam mobil. Dua temannya ikut membantu ada yang membuka pintu mobil dan ada yang membawa handbag dan highells Arini.
'Willy apa yang telah kau lakukan ini? Kenapa kau tega menyuntikkan racun ini padaku? Kenapa kau tega.'
Lidah Arini kelu. Ingin sekali berbicara dan melawan Willy namun apa daya, Arini hanya bisa meneteskan air matanya.
"Kemudikan mobil ke markas. Dis sana aku dan Arini akan aman. Sopir si*lan itu tak lagi bisa menemukan kami sampai mampus sekalipun," congkaknya.
"Benar Bos, kau memang sangat cerdik."
Securiti membukakan gerbang. Konspirasi mereka berjalan dengan lancar. Dua menit setelah mobil Willy keluar, mobil Davit baru datang.
Davit segera turun dari mobil tetapi Security yang juga seorang bajingan itu menghadang Davit.
"Hey bung! mau apa kesini?! Bukannya kau sudah mati, oleh Bos preman tadi? Panjang umur juga hidup Lo," ucap penjaga itu dengan angkuh.
"Baj*ngan! biadap!!" Davit menyerang penjaga dengan membabi buta. Tubuh penjaga seketika roboh. Davit segera naik diatas perutnya dan memukul wajahnya bertubi tubi.
"Ampun Bung, Ampun."
Bukan menghentikan pukulannya, justru Davit malah mencekik leher sekurity itu hingga nafasnya tersengal, suaranya menjadi serak.
" Bung! Ampun Bung !
" Ja -jangan bunuh saya."
"Manusia binatang seperti kamu tak pantas diberi ampun, kau harus mati aku akan membunuhmu sekarang juga" ujar Davit dengan kilatan kemarahan yang amat besar. Davit mencekik kuat-kuat lehernya hingga, lidahnya menjulur.
__ADS_1
"