
Dara dan Zara sudah sama-sama pulang dari Hospital membawa putra dan putri mereka masing masing. Rumah Arsena mendadak menjadi ramai oleh kehadiran dua bayi lagi, setelah dua bayinya sendiri mulai memiliki seribu satu kepandaian setiap harinya.
Dalam satu mansion dihuni empat anak kecil yang tentunya semuanya jago menangis dan bikin heboh di setiap pagi. Namun rumah itu tetap penuh cinta dan sayang dari orang-orang yang ada di dalamnya.
Para Mama semua berbahagia, karena mendapat gelar Oma, saling membanggakan cucu mereka masing masing. Tuhan sangat baik pada mereka, memberinya cucu yang memiliki usia terpaut beberapa bulan saja.
Sore hari keluarga sedang berkumpul di ruang tengah untuk menikmati acara pesta khusus keluarga yang diadakan oleh Arsena. Semua keluarga dalam keadaan sehat dan bahagia, mereka duduk berdampingan dengan pasangan mereka masing-masing. l
Arini dan Davit sedang bermain dengan Excello di ruang bermain, Davit sangat suka dengan balita seusia mereka yang sedang lucu lucunya.
Sedangkan Miko dan Amert duduk di koridor, menyesap legitnya kopi latte buatan bi Um. Karena kedua istri mereka sedang libur segalanya. Libur memasak libur bermain kuda kuda'an.
"Amert sebenarnya aku sudah lama ingin berbicara hal ini kepada kamu, tapi karena kamu sedang bahagia, aku menundanya."
"Bicaralah, kelihatannya serius sekali aku jadi nggak sabar ingin mendengarnya." Amert terlihat menanggapi serius omongan Miko.
"Ini sedikit pribadi, sebenarnya aku tak ingin ikut campur, tapi aku nggak bisa terus diam sedangkan aku tahu sesuatu."
"Serius banget sih Mik, seperti aku ini orang lain saja," ujar Amert sambil mengetuk ketuk rokok, diatas asbak.
" jawab jujur, jangan ada dusta."
Mert mengangguk, dan tak lama Miko mulai berbicara.
"Apa kamu pernah menjalin hubungan serius dengan wanita lain selama di Indonesia?" Tanya Miko dengan mimik muka serius. Ia dekatkan tubuhnya ke arah Mert, sambil berkata lirih.
"Wanita? Mert terkejut. "Hanya dengan Zara, istriku." Amert makin heran dengan arah pembicaraan Miko.
"Ingat- ingat lagi, masa punya kekasih kok lupa? Bahkan kamu pernah mencetak anak dengannya. Gue juga nggak bilang kalau diri gue orang yang bersih di masa lalu, gue sering tidur dengan wanita malam di kelap, gue juga sering tidur dengan pacar-pacar gue. Tapi setelah putus, gue pastiin mereka nggak ada yang hamil.
"Andini?" Amert jadi balik bertanya, dia penasaran dengan kisah cinta pria yang duduk di depannya itu.
"Kalau sama Andini gue nggak pernah, gue emang sayang banget sama dia, tapi gue tau waktu itu dia bimbang, dia sangat menghargai pernikahannya."
" Kirain pernah ML sama dia." ujar Amert lagi.
"Nggak, dia berbeda dengan wanita wanita yang kukenal sebelumnya. Aku waktu itu ingin serius dengannya, aku sangat menjaganya."
"Jangan jangan masih ada rasa rasa nie. Terus buat dia kebakar cemburu, Lo nikahin adiknya."
"Sotoy banget sih. Gue sedang bertanya, tapi kok malah aku yang seperti di introgasi gini." Ujar Miko sambil merubah posisi duduknya.
Sore ini langit berwarna merah, sangat cocok untuk bersantai, sekalian melihat senja. Miko menyeruput kopi yang ada di depannya. Amert juga. Mereka memiliki nasib yang hampir sama, menikahi seorang wanita setelah patah hati tapi berujung bucin dengan sang istri.
Miko meletakkan kembali gelasnya, lalu memulai berbicara inti . "Aku bertemu Anita waktu masih di Hospital. Dia hamil besar, dan parahnya dia bilang anak itu adalah darah dagingmu, dan kau lepas tanggung jawab begitu saja."
__ADS_1
"Anita?"
Mert mencoba mengingat yang terjadi sembilan bulan lalu. Dia ingat waktu itu Arsena mengutusnya memenuhi undangan Anita, dan setelah itu dia telah melakukan perbuatan terlarang. Entah kejadian itu benar atau tidak, tapi Mert waktu itu tak ingat apapun, tubuh mereka berdua polos dan tergolek lemah diatas sofa, jika tak melakukan apapun, dia tak akan selelah itu.
"Mert sudah ingat?" Ledek Miko saat Amert diam tak bergeming.
"Iya aku ingat. Tapi aku dijebak. Dan setelah kejadian itu aku tak pernah bertemu dia lagi, karena kami memang beda divisi, tak akan bertemu kalau tidak ada undangan pertemuan.
"Waktu itu karena gue nggak sayang sama dia dan sebaliknya, andaikan jebakan itu ia tujukan padaku, pasti dia sudah menuntut tanggung jawab padaku.
"Aku sekarang tahu, dia tidak meminta pertanggung jawaban dariku karena kamu cuma seorang supervisor, ya Anita mengincar Arsena." Miko menganggukkan kepalanya berulang kali. Kini sudah terbaca dengan jelas rencana Anita untuk Arsena.
Andaikan Anita tahu kamu adalah anak tunggal dari Hana Atmaja dan Ahmed, dan tujuan ke Indonesia untuk memperdalam pengalaman, Anita tak akan pernah melepasmu. Aku sangat yakin dia akan meminta pertanggung jawaban atas kejadian waktu itu.
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu, itu salah dia, aku dijebak, aku tak wajib bertanggung jawab." Mert mulai lepas kendali, dia tak bisa menjaga kata katanya, untuk tetap lirih.
Zara yang ada di kamar penasaran dengan obrolan suaminya dan Miko. Zara membuka jendela sedikit dan mencuri dengar obrolan mereka.
"Yakin, kau tidak kasihan anak itu, dia darah daging kamu." ujar Miko lagi.
"Jika benar yang kau bilang Anita sedang hamil anakku, berarti malam itu yang kami lakukan menghasilkan anak. Dia benar benar anakku Mik." Amert terlihat gusar, takut wanita yang dicintainya akan tahu semuanya.
Tapi aku tak mau menduakan Zara, Zara wanita yang sangat aku cintai. Dia baru saja melahirkan putraku. Aku sudah cukup bahagia bertiga saja. Tak sedikitpun terbersit dibenakku untuk berpoligami.
Pyarrr!! gelas dalam genggaman Zara terlepas.
"Zara bukannya kau dan anak-anak tadi di ruang keluarga."
Zara tak menjawab, dia diam tak bergeming menatap foto pernikahannya yang berbingkai indah di dinding.
" Zara kenapa kau menangis." Tanya Amert.
" terus, jika aku tahu suamiku memiliki wanita lain, Ali harus senang, tertawa bahagia. Begitu?"
"Zara, orang sering kali akan salah faham jika hanya mendengar separuh dari pembicaraan saja, dan semua sisi dihatinya akan gelap, karena ada banyak prasangka buruk yang tak sesuai dengan kenyataan." Mert berbicara dengan penuh hati-hati. Mert tau Zahra bukan wanita yang mudah emosi tanpa suatu kejelasan. Mert juga tau istrinya pemilik hati yang lembut dan dingin bagaikan butiran salju.
"Aku mendengar sendiri ada wanita lain yang melahirkan anak darimu, apakah dia juga korban seperti aku, yang kau nodai dan hamil anakmu?" Air mata Zara semakin deras, saat bibirnya mengucapkan kata, Mert yakin apa yang ada dihatinya jauh lebih sakit dari yang diucapkan.
Mert mendekati Zara. Namun, Zara mengisyaratkan dengan tangannya. Agar Mert tak perlu mendekat.
"Satu tahun waktu yang cukup panjang untuk menceritakan semuanya Mas, tapi kau memilih merahasiakan semua ini dariku, aku percaya kamu melakukan semuanya waktu itu karena sayang sama aku tapi apa? Aku bukan satu satunya wanita yang kau cintai, aku bukan satu satunya wanita yang berhak memiliki dirimu."
Amert diam seperti patung dia bingung darimana menjelaskan semuanya. Kenapa juga Zara harus mendengar dari pria lain. Andaikan Amert tau jika masalalu dengan Anita itu menjadi bom waktu dan meledak di hari ini, tentu Amert sudah menjelaskan dari Awal, agar Zara tak meragukan ketulusannya seperti hari ini.
"Zara apa sebegitu tak percayanya dirimu padaku hingga kau tak ingin mendengarkan penjelasan dariku."
__ADS_1
Aku ingin percaya, Tuan Amert, tapi aku juga mengalami sendiri, kau pria tak merasakan betapa aku trauma dan ketakutan dengan kejadian itu, betapa kau waktu itu membuat aku merasa wanita yang tak pantas untuk siapapun.
"Bagaimana jika aku katakan aku di jebak waktu itu?"
Amert mulai menjelaskan semuanya dari awal dia kerja dikantor, dia tak pernah sekalipun bertemu apalagi berbicara dengan wanita itu, selain gedung dan divisi yang berbeda, dia juga tak pernah bertemu sekalipun.
Amert juga menjelaskan kalau dia melakukannya karena pengaruh obat.
Mengetahui semuanya justru Zara makin tergugu, dia sangat sedih mengingat Amert pernah menyentuh tubuh wanita selain dirinya.
"Zara maafkan aku, kamu boleh marah sesukamu, pukul aku atau maki aku, tapi aku mohon jangan minta berpisah denganku, aku tak ingin kehilangan dirimu, aku sayang sama kamu."
Amert dengan cepat berlari memeluk tubuh Zara tak perduli wanita itu menolaknya, yang penting doa bisa memeluk dan merasakan dekapan hangat tubuh istrinya.
"Lepaskan Mas, apa dengan kau melakukan seperti ini semua bisa kembali seperti semula? kau yang aku agungkan kesucian cintamu, ternyata kau sama saja seperti.
"Bisa, semua bisa seperti semula jika kau maafkan kesalahanku, karena aku tidak bersalah dalam hal ini, aku saat itu berada dalam pengaruh obat, berapa kali aku harus bilang kalau wanita itu menjebak diriku, dan aku korban!"
"Kenapa harus aku yang salah, harusnya aku yang marah Mas."
Karena aku melakukannya bukan karena nafsuku yang besar pada wanita itu, aku tak ingat bisa mgendalikan diriku sendiri, aku tak ingat apapun. jangan salahkan aku seperti ini, harusnya kau bisa membantuku menghadapi semua ini." Mert terlihat putus asa dengan rumitnya masalah yang datang disaat dia senang senangnya memiliki Furqon.
"Aku wanita Mas, jika aku hamil anak pria itu keputusan yang ku ambil adalah dia harus menikahi diriku, mungkin jika kau bertemu lagi wanita itu pasti dia akan melakukan hal yang
sama seperti uang aku pikirkan
"Apakah kau bersedia melupakan segala yang terjadi dan kita bahagia seperti dulu jika aku terbukti tidak bersalah."
Mert terlihat membuka hem dan celana mahalnya, kini dia Makai jeans, kaos longgar dan jaket yang sudah tak pernah dia pake lagi karena terkena luntur saat Zara keliru memasukkan ke dalam mesin cuci.
Zara bingung melihat kelakuan suaminya yang tak seperti biasanya.
"Kemana Mas?" Tanya Zara kemudian.
"Menemui wanita itu, akan aku cari kebenarannya jika anak itu darah daging aku atau bukan." Jawab Mert yang sudah dipenuhi dengan amarah.
"Aku berangkat."
"Hati-hati Mas."
Zara merestui kepergian Amert. Walau hatinya masih pedih membayangkan semuanya. tapi do'a tetap terucap untuknya.
Amert benar-benar mencari Anita. dia ingin melihat sendiri pengakuan dari Wanita yang diduga hamil anaknya itu.
Kawan di kantor ada banyak yang mengenal Anita, tak sulit bagi Amert mengetahui dimana dia tinggal.
__ADS_1
Setelah mendapat informasi Amert buru buru memacu mobilnya menuju apartement yang menjadi hunian Anita.
Amert dengan gayanya seperti pria miskin Datang menemui Anita. Amert melihat Anita sendiri membukakan pintu, tubuhnya pucat badannya terlihat tak semolek biasanya.