Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 248. Kado untuk Arini dan Davit.


__ADS_3

Arini menatap Davit dengan sorot mata sayu, embusan nafasnya terengah-engah ketika penyatuan bibir mereka terlepas.


Arini membuka dasi warna krem milik. Davit. Setelah berhasil, Arini membuka kancing Hem davit satu persatu.


"Davit menahan lengan Arini ketika mendengar derap langkah kaki seseorang mendekat. Davit segera bangkit dan mengusap wajahnya kasar.


Davit mengatur nafasnya, begitu juga Arini. Arini terlihat malu, dia segera merapikan rambutnya dan Davit mengancingkan kembali kemeja dan membetulkan dasinya.


'Hampir saja, aku tak bisa menahan hasrat ini.'


Arini menundukkan wajahnya, sangat malu, sebagai wanita tak seharusnya dia seberani ini. " Jangan berburuk sangka Kak, aku belum pernah melakukan kejadian seperti tadi, aku hanya terpengaruh oleh tontonan yang beberapa hari lalu salsa dan teman-teman tunjukkan padaku." Derai airmatanya turun hingga pipi. Ada sebagian yang menyentuh bibirnya.


Davit menarik dagu Arini yang kebetulan duduk di kursi di dekatnya, sedangkan pria itu duduk di tepian ranjang.


"Bukan hanya kamu yang salah tapi kita berdua." Pria itu merasa bersalah karena tak bisa menjaga wanitanya, dia hampir saja merenggut kegadisan Arini yang telah berusaha ia jaga selama ini.


Tok! Tok!


Ceklek! Pintu terbuka, sosok wanita cantik berjilbab, memakai jas putih khas seorang dokter dan kerudung persegi berwarna putih tulang terlihat di ambang pintu.


Davit terlihat canggung dilihat dengan sorot mata tajam oleh wanita cantik bermata indah itu.


"Davit, apa bisa tinggalkan kami berdua," ucapnya dengan nada tak bersahabat.


"Iya, aku sekalian pamit akan pulang. Nenek sendiri di rumah pasti sedang menunggu." Davit sangat gugup


Davit menangkupkan tangannya sebagai rasa hormat pada Andini. Andini membalasnya.


Pria itu dengan rasa malu yang menggunung berjalan melewati Andini. Andini menghentikan langkah Davit dengan kata katanya.


"Maaf Davit, pernikahan akan dilangsungkan beberapa hari lagi, sebaiknya kamu dan Arini tidak perlu bertemu."


"Saya mengerti. Maafkan kesalahanku untuk sekali lagi."


"Ingat, hari ini pertemuan kalian yang terakhir." Andini menegaskan sekali lagi.


" Saya mengerti. Semoga Nona tidak salah paham dengan kami, tadi Arini tertidur dan saya menggendongnya ke kamar. Aku tak tega membangunkannya." Davit membela diri.


Andini mengangguk tanda mengakhiri cukup sampai disini pembicaraan tak penting ini. Wanita sudah berpengalaman tak mungkin bisa dibohongi. Ada noda lipstik di dada dan bibir Davit itu sudah cukup membuktikan Davit tak sekedar mengantar Arini ke kamar. Apalagi sikap Davit yan terlihat gugup. Pencuri tidak akan pernah tenang.


Davit keluar kamar Mama masih bermain dengan Excel dan Cello yang sudah belajar berjalan.


" Hai Excel Cello apa kabar!" Davit menyapa dua bocah lucu itu yang sedang diasuh Ratna dan Ratih. Namun tak lepas dari pengawasan Rena.


" Putra mahkota kecil itu memamerkan dua giginya yang baru tumbuh."


"Langsung pulang aja Vit?" Sapa calon mertuanya.


" Iya Nyonya." Davit mengangguk ramah.

__ADS_1


" Kok masih panggil Nyonya.Bisa panggil mama nggak?" Mama Rena menurunkan kakinya dan melipat majalah bacaannya.


Davit mendekat dia mencium tangan Rena untuk yang pertama kalinya sebagai tanda hormat sekaligus izin pulang.


"Vit gimana kerjanya di kantor? Selamat ya kamu lulus seleksi."


"Iya, Ma. Semoga Davit akan mampu mengelola keuangan dengan baik di perusahaan baru itu."


" Ya, selain sebuah rezeki, itu juga tantangan buat kamu Davit. Kamu tahu sendiri kan, Arsena bagaimana,"ujar Mama Rena.


" Iya Ma."


"Ma, Davit pamit ya. Kasian Nenek sendirian." Davit kini mencium tangan Rena yang kedua kalinya.


Rena mengantarkan Davit hingga depan Mansion. Sedangkan Arini berlari dari dalam kamar memeluk mama dari belakang sedang satu tangannya ia lambaikan untuk Davit.


"Kak Davit hati hati ...


Davit membalas lambaian tangan Arini. Namun tidak melakukan terlalu berlebihan karena ada mertua di depan calon istrinya.


"Rin kalian tadi ngapain dikamar kok lama banget?"


"Nggak ngapa ngapain Ma."


"Bohong kamu, ingat, jangan lakukan yang satu itu sebelum menikah."


Arini mendapat Dua keberuntungan, Andini rupanya sudah menggendong kedua bayinya ke kamar melepas kerinduannya pada putranya setelah sehari bekerja di rumah sakit, kembali berkutat dengan pasien yang butuh penanganan


Ya Tuhan, apa yang aku lakukan baru saja. Kak Davit, kenapa aku tak bisa mengendalikan diri saat dekat denganmu, apa yang akan kak Davit pikirkan ." Teriak Arini saat sendiri di kamarnya. Rasa malunya tak bisa hilang begitu saja. Apalagi tatapan Andini baru saja membuatnya takut akan mengadukan pada kakaknya.


_____


Davit benar benar menuruti ucapan Andini. Dia tak lagi menemui Arini sebelum pernikahannya. Rasa rindu kedua insan itu sudah menggebu. Menunggu hari pernikahan yang sudah disetujui kedua pihak.


Kebahagiaan di keluarga Atmaja tak terelakkan lagi, putri satu satunya sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Davit handaru pria yang terlihat nyata kesopanan serta kejujurannya. Perbedaan status sosial yang tinggi tak menjadi masalah lagi.


Arsena dan Andini ingin mengajak jalan jalan Excel dan Cello membeli kado buat adik mereka, kedua anak itu tumbuh menjadi anak yang cerdas, dia sudah bisa berbicara beberapa kata.


Sayang kita belanja ya. "Oce dad." ujar Excel yang terlihat bahagia saat dipakaikan baju baru. Mereka menolak memanggil papah seperti yang diajarkan selama ini. Karena Rena yang mengajarkan memanggil Mommy dan Daddy.


Cello kamu ikut nggak."Itut Mom." Cello meletakan mainan ditangannya. Ikut pula Antri ganti baju di depan Andini.


"Sayang, lihatlah dua anak kita telah tumbuh menjadi anak yang sehat dan menggemaskan. Dia juga cerdas seperti diriku." Arsena membanggakan diri.


"Ya semua yang baik seperti dirimu, apa kamu ingin katakan aku orang yang bodoh." Andini mendelik, bibirnya mengerucut membuat Arsena gemas.


Arsena memeluk Andini dari belakang. "Tidak tapi peranku yang paling besar hingga dia mirip foto kopi ku dimasa kecil. Gen ku yang lebih kuat."


" Ya, aku akui dia mirip dirimu, tapi aku nggak mau dia tubuh menjadi sombong seperti dirimu daddy."

__ADS_1


" Apa jadi selama ini kau selalu menilaiku sombong?"


"Benar sekali Tuan Sombong. Bahkan kau baru saja menyombongkan dirimu." Andini meledek Arsen, hingga membuat pria itu gemas. Ia membalik tubuh Andini dan Melu*mat bibirnya dengan rakus.


"Ars dilihat anak anak." Andini meronta, memukul lengan Arsena yang gila.


"Mam no mam, no daddy." Kedua anaknya melerai kedua orang tuanya yang dikira sedang bertengkar


"Aaaaaaa, Dad jahat." Cello menangis dengan nyaring dan menggigit lengan Arsena.


"Sayang, kenapa kalian menangis. Mamah dan Daddy tidak bertengkar. Justru Daddy sedang membuat mommy senang."


"Kamu yang paling senang. Kenapa harus aku." Andini memukul dada bidang Arsena. Rona malu masih saja terlihat, terkadang dia masih terlihat layaknya pengantin baru.


Arsena dan Andini sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan besar, Sang Daddy menggendong Excel di dadanya sedangkan Andini menggendong Cello di perut hingga mirip tempurung kura-kura.


"Daddy kado apa ya yang kita kira pas untuk Davit dan Arini?"


"Entahlah Mom. Kita lihat lihat aja dulu. Kira kira mereka mau kado apa ya? Biar nggak bingung kita tanya aja sama Arini mau hadiah apa?"


" Daddy kalau kita tanya bukan surprize donk"


"Sabar ya Excel Daddy kadang suka lemot." Andini mencubit pipi putranya membuat Excel tertawa lucu hingga terlihat pipinya yang gembul dan dua giginya.


" Mommy mo ini!" Cello menunjuk sebuah boneka beruang besar."


"Cowok masa main boneka?"


"Obing obing." Excel minta mobil menunjuk pada mobil mobilan besar dan paling mahal.


"Masih kecil sudah pada pinter milih ni anak," gerutu Andini.


Tiba tiba netra Andini menangkap sosok bayangan yang tak asing lagi. Dia melihat Davit di sebuah toko perhiasan bersama seorang wanita.


"Hubby apakah itu Davit?"


"Ya, dia Davit. Tapi siapa yang bersamanya?" Arsena sudah geram melihat Davit dengan seorang wanita. Tiba tiba wanita disebelah Davit mual mual seperti ingin muntah. Davit dengan sabar membawanya ke kamar mandi dan menunggunya di depan toilet.


"Hubby, aku lihat wanita itu seperti hamil muda."


Ya, aku juga berfikir begitu, sampai dia berani mengkhianati Arini, aku akan pastikan dia tak akan bisa melihat matahari esok lagi."


Jangan gegabah Hubby, bisa saja dia saudaranya atau temannya, apa yang kita lihat tak selalu sesuai dengan yang kita pikirkan.


"Ya, kamu benar sayang." Arsena berusaha meredam emosinya yang sempat membuncah.


*selamat pagi semua.


*yuk mumpung hari Senin kasih vote ya, biar makin rajin update.

__ADS_1


__ADS_2