
"Aaaaa." Andini terjatuh pinggangnya mencium lantai keramik yang mengkilat.
"Ya Tuhan kenapa bisa robek? Itu benar baju mahal kan?" Sayup sayup terdengar ejekan dari seorang karyawan yang iri terhadap nasib baik Andini.
"Sepertinya sih memang baju mahal, mana mungkin Dirut kita membelikan baju KW untuk istri tercintanya. Atau mungkin Dirut kita nggak benar benar menyukai istrinya itu, so gue denger dia dari keluarga miskin."
" Woooow beruntung sekali, kukira Cinderella tak ada di dunia nyata." ujar mereka para wanita yang lelah mengejar cinta Arsena, menatap Andini dengan sinis.
Arsena yang mendengar nyinyiran tersebut segera mencari tahu siapa yang sedang menjadi bahan bulying. Netranya menangkap sosok Andini di dekat tempat mengambil minum. Arsena yang baru kembali dari toilet segera tergopoh menghampiri Andini.
"Sayang apa yang terjadi? Kenapa gaunnya bisa robek? Siapa yang melakukannya? Siapa?!" Arsena segera membordir Andini yang baru saja bangun dari jatuhnya dengan pertanyaan. tangan Andini meremas gaun yang robek.
"Ars, sudah. jangan diperpanjang lagi, lagian Vanes tidak sengaja, tadi kita sama-sama ambil minum, dan ngobrol sebentar. Lagian gaun ini memang kepanjangan." Andini menatap Vanes, wanita itu juga sangat ketakutan. Andini yakin Vanes tidak sengaja.
"Tuan, saya memang menginjaknya, maafkan aku. Tapi benar yang dikatakan Nona Andini, Kalau saya tidak sengaja" Vanes menundukkan wajahnya. Suami Vanes yang melihat ada ketegangan dia juga mendekat.
"Ars." Andini memeluk Arsena. Menenangkan prianya yang sudah disulut oleh amarah. Ketegangan di dekat tempat minum sudah tak terelakkan lagi.
"Tuan, tolong maafkan kami, walau sesungguhnya kata maaf cukup untuk menebus kesalahan istri saya." Andrew menangkupkan tangannya meminta maaf.
Andini terus aja menempelkan kepala didada Arsena. " Ars, katakan sesuatu pada tuan Andrew," ujar Andini yang lebih mirip dengan sebuah permohonan.
"Baiklah, karena istriku ingin aku memaafkanmu, jadi sekarang tak ada masalah lagi." Arsena berkata tetap dengan aura yang dingin mendominasi mimik wajahnya.
" Nona, terima kasih anda sudah menyelamatkan istri saya, semoga kalian akan menjadi pasangan langgeng hingga Nenek dan kakek." ujar Andrew mewakili istrinya.
Vanes menggenggam jemari Andini sebentar, berterimakasih Andini telah menyelamatkan hidupnya, Vanes tahu sendiri Arsena tadi begitu murka.
Kini pandangan orang yang sempat berkata nyinyir kepada Andini pun berbeda, mereka telah salah memandang hubungan Dirut yang ia kagumi selama ini. Rupanya bukan wanita miskin yang mengemis cinta, tapi Sang Dirut yang sangat mencintai wanitanya.
Arsena mengamati Andini yang kini tak nyaman dengan gaunnya. Dia terus saja menggenggam bagian yang robek.
Arsena segera duduk dengan posisi setengah jongkok di depannya. Menjadikan satu kakinya untuk menumpu tubuhnya dengan lutut menempel dilantai..
"Ars, apa yang kau lakukan?"
Tanpa sepatah kata jawaban, Arsena memegang gaun yang dipakai Andini di bagian yang robek. Andini dan yang lain dibuat tercengang.
" Aku akan membuat ini lebih indah, sayang."
Andini masih bertahan dalam diam melihat apa yang dilakukan suaminya.
Semua mata tertuju pada Arsena sekarang. Penasaran apa yang akan dilakukan selanjutnya, tentu pandangan di depannya mampu membuat wanita baper sebapernya.
"Kreeeeek." Arsena merobek gaun itu hingga bagian sambungan sedikit di atas lutut kini benar-benar lepas. Baju itu walau tak panjang lagi. Tapi kini terlihat tetap menarik untuk dilihat. Melipat sobekan tadi dengan rapi dan melilitkan diperut Andini. Sobekan tadi berubah menjadi ikat pinggang yang sangat lucu.
Arsena lalu berdiri lagi. Dia memegang kedua bahu Andini. Senyum penuh cinta bertemu kembali. Arsena lalu mengecup kening Andini tepat disaksikan oleh semua khalayak yang hadir. Tepuk tangan tak terelakkan lagi.
"Kau bahkan sekarang terlihat lebih cantik. Apapun baju yang kau pakai, sesungguhnya tak akan berpengaruh pada kecantikan yang dianugerahkan Tuhan pada bidadari ku ini" Arsena lalu merapikan rambut Andini, tatapannya tetap fokus pada satu titik, yaitu bibir Andini yang kembali tersenyum.
__ADS_1
"Cium! cium! cium! cium!" ujar mereka serempak.
"Apa ! Cium!" Andini menundukkan wajahnya.
'Jangan Ars, jangan lakukan itu disini, apa kau tak malu dengan papa dan mama yang sejak tadi tak berkedip menatap kita. Lihatlah kedua putra kita juga melihat, apa yang akan dia pikirkan pada kedua orang tuanya ini.'
Andini melirik pada semua orang lalu keluarganya, disana sudah ada ibu Ana dan Pak Doni. Bahkan Arini dan Davit juga entah kapan dia datang. Ada yang aneh dengan Davit dan Arini. Kenapa dia datang menggunakan baju dengan warna yang sama. Mereka terlihat memakai baju couple.
Davit juga tak salah berprasangka lagi, bahkan dia kini mengagumi sosok dingin Arsena yang mengacuhkan setiap wanita yang menggodanya. Dan bisa demikian hangat untuk istrinya.
Andini mendongak, ingin menjelaskan pada Arsena kalau permintaan konyol ini tak bisa dituruti. "Ars Jang_"
"Umppphh." Arsena secepat kilat menyambar bibir Andini yang ranum, memaksa Andini agar membuka bibirnya yang terkatup rapat. Arsena menggigit kecil bibir Andini, isyarat supaya dia membuka bibirnya dan membiarkan lidahnya menjelajahi rongga hangat yang mengandung sebuah candu untuknya itu.
Andini sudah berusaha mendorong Arsena namun tubuh itu tiba tiba saja mendadak berat, Arsena tak melonggarkan ciumannya di bahkan lebih lincah menyerbu rongga hangat hingga Andini kehilangan keterampilannya berciuman.
"Ummphhh, Ars." Andini kehabisan nafas. Nafasnya terengah disertai tepuk tangan yang sangat meriah.
Andini sangat malu menatap mereka semua wajahnya memerah mirip kepiting rebus, ini karena tingkah konyol suaminya yang lagi lagi selalu ingin menunjukkan pada dunia bahwa Andini hanya miliknya.
" Sayang jangan malu, tegakkan pandanganmu didepan mereka," bisik Arsena.
Kamu sangat gila, setelah yang kamu lakukan aku sudah kehilangan keberanian ku melihat wajah mereka Ars.
Andini memberanikan diri mendongakkan kepala, dia tak lagi melihat sosok Vanes dan Andrew ada di tempat semula. Andini bahkan tak menyadari kapan mereka pergi, dia terlalu sibuk dengan ciumannya dengan Arsena tadi.
Dara dan Zara tak hentinya tersenyum dan tepuk tangan untuk kakaknya yang so sweet.
"Kak, lihatlah Tuan Arsena," ujar Dara manja.
"Ya, aku sudah melihat. bukannya aku setiap hari sudah memberimu kissing seperti itu."
"Iya tapi kak Arsena berbeda. Dia terlihat gimana gitu. tulus, hangat dan ...."
"Apa?" Miko terkejut dengan ucapan Dara.
"Maksut aku, Kak Arsena terlihat tulus dengan Kak Andini , kakak jangan marah kalau aku mengagumi kak Arsena ini juga karena bayi kita."
'apa yang dikatakan Dara, mengkambinghitamkan bayiku demi memuji iparnya.'
"Kak Miko jangan cemburu ya?"
"Enggak. kenapa harus cemburu. Katamu kan itu maunya bayi kita," ujar Miko sembari merangkul pundak Dara.
****
Terakhir adalah acara penutup yaitu foto dan doa bersama untuk kebaikan pemilik acara dan diri masing-masing.
Sekarang Arsena dan Andini bisa mencetak foto sebanyak mungkin dengan gaya suka suka mereka.
__ADS_1
Berbagai gaya dia praktikkan di depan pelaminan yang sudah disiapkan dekorator di salah satu sisi gedung. ada gaya berpelukan dan berciuman, bahkan ada pula gaya Andini digendong Arsena. Semua gaya yang dia lakukan memang sudah intruksi dari fotografer. tak lupa foto keluarga dan bersama para sahabat.
Arsena lega, Oma tak lagi menanyakan foto pernikahan lagi.
******
Tepat pukul dua belas malam acara selesai, Excel dan Cello sudah pulang lebih dulu, dengan Rena dan Johan. Ana dan Doni mendekati Andini sebelum pulang. Dia memeluk putrinya sebentar lalu mengucapkan selamat. Andini melihat perut ibunya sudah membuncit, kehamilan sang ibu ditebak Andini sekitar lima bulan, karena kehamilan Dara juga sekitar empat bulan. Rasanya lucu saja, ibu dan anak bisa hamil hampir bersamaan.
" Selamat Ndin, semoga bahagia selalu, ibu mendo'akan yang terbaik untukmu dan Dara"
"Makasi Bu," jawab Andini. Arsena juga menyalami mertua laki laki yang notabennya mantan sopirnya itu.
"Tuan, selamat bekerja keras, jangan kasih kendor istrinya." Salah seorang Dirut perusahaan menjabat tangannya. Tamu berangsur pulang dengan berpamitan terlebih dahulu. Tak sedikit mereka yang memberi hadiah, padahal Arsena sama sekali tak mengharapkan apa apa dari mereka, bahkan tadi saat memberi undangan sudah dikatakan kalau dilarang membawa hadiah apapun, takutnya akan menjadikan beban untuk karyawan. Kedatangan mereka saja sudah cukup membuat Arsena bahagia.
Souvenir cantik tak lupa dibagikan oleh pelayan saat di depan pintu gerbang keluar.
Acara universary hari ini benar benar mirip dengan pesta pernikahan. Walaupun dadakan dalam persiapannya. Namun benar kata orang dengan kekuatan uang, keinginan bisa tergapai dengan mudah.
"Tuan, hotel bintang lima khusus anda menginap beberapa malam kedepan sudah disiapkan." Davit berkata dengan sopan.
"Ya, terimakasih. Kau memang bisa diandalkan. Kau akan banyak mendapat bonus dariku diakhir bulan," ujar Arsena pada Davit. Davit hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.
'Tuan, apakah kau akan masih sebaik ini jika kau tahu aku sudah mencintai adik semata wayangmu.'
Davit segera keluar gedung, tugas terakhir malam ini adalah mengantar Tuan dan Nona menuju hotel Rosella, hotel termegah di kota ini, yang memiliki kamar VVIP terlengkap dan nyaman. Hotel berbintang ini juga sering dipesan oleh bangsawan asing untuk menghabiskan masa bulan madu mereka di negeri Indonesia tercinta ini.
*Happy reading.
*Sementara yang dapat hadiah kecil dari saya. segera Add akun Facebook saya bernama Ari sandi. Kirim massenger sesuai nama pena di Noveltoon dan nomor WA. karena hadiah berupa pulsa.
Rangking mingguan
GILANG.
PIPIT PUTRI
SUPRIYANTI
Rangking bulanan
AMI
SRIASIH
VERONIKA LIPAT
komentar Rajin dan panjang.
MULIAHATI ZILIWU.
__ADS_1
DESI DATU.
*yang lain jangan berkecil hati tetap dukung dengan kasih bunga, vote tiap minggunya dan komentar yang panjang nanti akan ada pengumuman hadiah lagi di akhir cerita.