Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 106. Perjuangan cinta Doni.


__ADS_3

"Ars, kita jadi ya mampir ke ibu?" pinta Andini.


"Jadilah sayang, aku juga udah kengen sama masakan ibu," jawab Arsena sambil mengendalikan laju mobilnya.


"Oh, jadi cuma kangen masakannya, tapi nggak kangen sama ibu." Andini protes dengan ucapan Arsena yang maksudnya tak seperti itu.


" Ya kangen ibu, tapi masakan ibu enak, jadi kangen masakannya juga, Sayang.." Arsena mulai lebih sabar dalam menghadapi Andini yang bawel dan manja.


Arsena dan Andini sudah sampai di depan rumah makan ibu, Arsena bingung mencari lokasi parkir untuk mobilnya, sedangkan seluruh area parkir sudah dipadati oleh sepeda motor dan mobil yang sudah tertata dengan rapi.


"Wah, ibu makin keren aja, parkiran sampai nggak muat begini."


Arsena terpaksa memarkir mobilnya di parkiran paling belakang. Hingga mereka berjalan melewati sepeda dan mobil pengunjung lain untuk bisa masuk di rumah makan ibu.


Para asisten ibu sedang hilir mudik membawa makanan pesanan pelanggan dan mendekati pengunjung yang baru saja datang.


Kedatangan Andini dan Arsena langsung disambut hangat oleh ibu.


Setelah Andini mengucap salam, ibu segera mendekati putri pertamanya dan memeluk erat. Disusul Arsena mengecup punggung tangan ibu dengan takzim. Zara mendapat giliran paling belakang.


"Ndin ibu kangen, lama sekali kamu tak kesini nak."


"Iya Bu, maafkan Andini, akhir-akhir ini lagi sibuk." Andini tak menceritakan kalau dia pernah sakit.


"Makin rame ya, Bu." Arsena mengamati sekeliling pengunjung.


Semua ini karena kamu Nak. Kamu tak hentinya membantu kami berupa materi sangat banyak.


"Jadi !" Andini bingung.


"Siapa lagi Ndin kalau bukan suami kamu."


Andini terharu, ia langsung meraih jemari Arsena, menggenggamnya dengan erat. Andini menatap bola mata Arsena. Arsena membalasnya dia tau istrinya sedang mengucap terima kasih dengan bahasa isyarat.


"Ayo kalian masuk saja, nenek pasti senang kalian datang. Ibu mengajak Andini dan semuanya masuk ke dalam rumah." Mereka duduk di ruang tamu kecil namun nyaman yang ada di belakang rumah makan.


Andini melihat ibunya menyiapkan banyak sekali makanan serta minuman kesukaan Andini dan Arsena.


"Bu, jangan repot, duduklah bersama kami, sebenarnya Andini kesini mau memberitahu ibu kabar gembira."


"Kabar gembira apa Ndin? Ibu kok jadi deg deg'an"


" Sayang, biar aku aja yang kasih tau ibu," pinta Arsena.


"Silahkan Mas."


"Apa, kau panggil aku apa tadi?"

__ADS_1


"Silahkan Mas." Andini mengulangi kata-katanya lagi.


" Andini sekarang lagi hamil, Bu, dan calon bayi kami kembar."


"Wah ini bukan lagi kabar gembira, ini sangat menggembirakan Ndin, ibu akan jadi Nini." Ana langsung mendekati Andini dan duduk di sebelahnya.


Nenek yang ada di kamarnya langsung keluar, nenek masih sehat hanya saja dia sudah tidak ikut dalam hal masak memasak. Masalah rumah makan sudah di atasi asistent. Ibu Ana tinggal meracik bumbunya saja.


"Nenek ikut senang, dengar cucu nenek sudah hamil, biar hubungan kalian berdua makin anget, Andini tak lagi khawatir kehilangan pria yang disayangi." ujar Nenek terselip senyum di bibir tuanya.


" Amin, Nek. Arsena sudah berjanji akan menjadikan Andini satu satunya, walaupun ada anak atau tidak diantara kita." Arsena menelusup kan lengannya di punggung nenek dan merangkulnya. "Jangan khawatir itu, Nek."


Nenek tau kamu sangat sayang Andini, tapi kalian akan lebih bahagia dengan adanya anak, mungkin kamu bisa menerima Andini dalam kondisi apapun, tapi keluarga? Belum tentu."


Yang dikatakan nenek memang semua benar, Arsena bisa menerima Andini apa adanya, tapi tak mungkin keluarganya akan bicara hal yang sama. Mereka membutuhkan penerus untuk bisnis yang sudah merajai di kalangan pebisnis hebat.


"Sudah berapa bulan? " Tanya ibu.


" Batu berusia dua Minggu Bu, semoga dia nanti dua duanya akan sehat. Soalnya Dokter obgin bilang kandungan saya lemah," jelas Andini.


"Kok ada-ada aja sih, Ndin, Ndin. Ibu sudah sangat senang kamu hamil. Kalo denger kandungannya lemah gini ibu jadi khawatir lagi."


"Kita sudah diberi rezeki Bu, tergantung kita menjaga, semoga Andini bisa mempertahankan bayi ini sampai lahir nanti."


"Ibu do'akan semoga kamu dan suamimu bisa menjaga calon anak kalian dengan baik."


"Ya udah ini sudah sore, kalian pasti lapar, kalian berdua makan dulu, kalau tak suka menu yang itu bawa kesini, kalian bisa minta sendiri di depan."


"Ini aja Bu, ini sudah enak sekali." Kata Arsena mengambilkan Andini separuh dada ayam bakar dan secentong nasi.


"Nggak banyak gini juga donk, Mas."


"Kalau banyak gini aku jadi seperti kuda. Rakus." Andini memajukan bibirnya.


"Siapa bilang seperti kuda, ada dua anakku di dalam sana. Dia dua duanya minta nutrisi dari makanan yang masuk di dalam perutmu."


"Iya, tapi dia itu kecil, dia makannya juga belum sebanyak ini," protes Andini.


"Zara, ayo makan. Kamu mau aku ambilkan juga?"


"Tidak Tuan. Tuan ternyata suka bercanda." Zara tertunduk malu. Semua keluarga serempak tertawa bersama.


Arsena suka membuat Zara tersipu. Arsena juga baik dengan Zara si gadis pemalu. Dia terlihat sangat tulus menjaga istrinya. Semenjak ada Zara yang selalu menemani Andini. Mama Rena terlihat tak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi, dia memang sudah berubah menjadi mertua idaman.


Saat sedang asyik makan. Tiba-tiba diluar ada keributan.


"Ana, suara apa diluar coba kamu lihat?" Nenek memerintahkan Ana untuk melihat ke depan.

__ADS_1


Andini yang sedang mengunyah makanan pun segera menghentikan aktifitasnya. "Kok aku seperti kenal suara pria itu ya?"


Andini merasa familiar dengan suara pria diluar.


Andini segera mencuci tangannya di dalam wastafel dan ikut menyusul Ana yang sudah lebih dulu sampai depan.


"Jangan pernah lagi temui Ana, dia hanya akan menjadi istriku. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekatinya, termasuk kamu!!" Kata Antoni penuh ancaman.


Antoni meraih kerah pria yang menurutnya menjadi ancaman baginya , karena pria itu dia sulit untuk mendapat perhatian ana lagi.


"Hai Bung, aku datang untuk makan, kenapa kau suka sekali membuat masalah denganku." Doni menyingkirkan lengan Antoni hanya sekali hempas.


"Ingat, jika kau pernah pergi darinya saat dia terpuruk, sangat memalukan jika kau kembali ketika dia sukses." Doni berbicara dengan mengarahkan telunjuknya ke arah Antoni. Membuat pria itu semakin tersinggung lebih dalam lagi.


Antoni terdiam sejenak lalu dia meraih lengan Ana, wanita berkulit putih memakai hijab instan itu hanya terlihat ketakutan. Lengannya dalam genggaman mantan suaminya. Ana tak pernah melihat Antoni cemburu, baru kali ini dia melihat mantan suaminya menakutkan seperti ini.


"Ana dengarkan aku baik-baik. Jauhi pria ini. Karena aku akan menikahimu kembali."


Ana menggelengkan kepalanya kuat- kuat, "Tidak Mas, aku tak akan menikah lagi denganmu, aku sudah cukup bahagia hidup seperti sekarang, aku bahagia dengan melihat putriku bahagia.


"Hai Bung, aku rasa telinga kamu masih bekerja dengan baik, Neng Ana tak mau menikah lagi dengan Anda." Doni berkata dengan nada mengejek, membuat Antoni semakin terbakar


"Ana apa kau menyukai pria ini? Apa kau lupa kita dulu sudah berjanji akan sehidup semati."


Sehidup semati seperti apa, Mas? Aku sudahati sejak kau menikah lagi, aku sudah mati sejak aku sakit kau tak lagi memberikan nafkah untuk putrimu, dan aku sudah mati sejak istrimu menjual Andini kepada mucikari itu." Ana mmenangis dan berteriak membuat pengunjung rumah makan segera menyelesaikan makannya dan pergi.


Sementara Andini dan Arsena mendengarkan di balik kaca. Arsena ingin tahu dulu duduk permasalahan yang dihadapi Doni dan mertuanya.


Arsena juga yakin kalau Doni memang menyukai mertua perempuannya, karena Doni yang ia beri tugas mengantar Anita tak mungkin mampir ke rumah makan yang lumayan jauh dari jalan yang dilalui saat pulang pergi dari rumah Anita.


"Ndin apa kamu pernah bekerja pada mucikari?"


"Tidak Ars, aku cuma sehari disana, dan aku berhasil kabur." Andini lupa dengan panggilan sayangnya, Andini takut Arsena berfikir macam-macam.


"Aku percaya sayang, aku yang telah mengambil kegadisanku. Maksudku aku tak akan memaafkan orang yang telah membuat keluarga istriku sengsara."


Arsena keluar menemui Doni dan Antoni.


"Den, maaf aku tak tau Aden ada disini." Kata Doni


"Tidak apa-apa Pak, saya tadi rindu dengan ibu."


"Jadi sopir saja belagu," ejek Antoni.


" Papa jangan menghina orang, karena provesinya, saya yakin jika papa seperti ini, ibu tak akan mau kembali dengan Anda. Dan asal papa tau meskipun Doni seorang sopir, tapi gajinya jauh diatas penghasilan papa perbulan." Kata Arsena membalas hinaan Antoni.


"Siapapun yang menghina keluargaku, dia sama saja dengan menghinaku, siapapun yang menghinaku, dia adalah musuhku." Arsena menatap tajam pria yang tadinya arogant.

__ADS_1


Setelah menantunya ikut angkat bicara Antoni terlihat gusar, sepertinya dia telah melakukan kesalahan besar telah menghina sopir seorang pengusaha terkenal di kota ini.


__ADS_2