
Sungguh pagi ini adalah pagi paling indah untuk Mert. Semalam dia sudah tak bisa tidur, sibuk menghafal ucapan ijab qobul yang akan dilaksanakan pada pukul sepuluh pagi nanti.
Orang tua Mert berhalangan untuk hadir di acara ijab qobul putranya, Abi sedang kurang enak badan, mereka berjanji akan datang saat diadakan pesta dan itu jika kondisinya memungkinkan.
Awalnya keluarga Mert tak setuju kalau Mert menikah dengan Zara, tapi setelah Oma menjelaskan semuanya, justru ia sangat malu dengan anaknya yang sudah bertindak tak bermoral.
Semalam Mert sudah mengirim make'up artist, sekaligus gaun untuk Zara, yang akan dipakai saat ijab nanti.
Acara ijab sengaja dilakukan di rumah mempelai wanita, selain agar mereka lebih mengenal keluarga Zara, juga bertujuan untuk perwujudan minta maaf dari keluarga pria.
"Benarkah majikanmu itu yang akan menikahi kamu Zara?" Ibu bertanya saat sedang memasak rendang untuk para tamu di dapur usai subuh.
"Iya, Bu," jawab Zara singkat.
"Bagaimana bisa Zara, kita orang miskin menikah dengan orang kaya seperti mereka? Bukannya ibu nggak setuju tapi kamu anak Ibu satu-satunya Zara, ibu takut nanti kamu akan dicampakkan. Menikah yang setara dengan kita, hidup sederhana itu lebih baik, Ibu senang punya menantu sederhana saja, dia tak akan mengungkit kekurangan kita.
Mendengar penuturan Ibu, Zara terdiam, menundukkan wajahnya, tak terasa bulir kristal menetes di pipinya yang terlihat tirus.
Zara ingin jujur kepada Ibu kalau pernikahan ini bukan keinginannya, melainkan berawal dari kesalahan Mert. Tapi rasanya tak tega, Zara khawatir reaksi ibunya akan berlebihan.
"Tuan Mert mencintai Zara, Bu. Zara yakin Tuan Mert akan menerima Zara dalam keadaan bagaimanapun. Tuan Mert berasal dari keluarga kaya yang terhormat."
"Semua ini kamu yang menjalani, kamu yang merasakan bagaimana Mert mencintaimu. Ibu pasrahkan semua sama kamu, Zara. Sebagai ibu wajar saja kalau ibu khawatir."
" Sudah, Bu, do'akan yang terbaik, Zara tak mungkin salah memilih." Anak gadisnya ibu Mariam itu akhirnya membuat ibunya tenang.
Zara dan ibu hari ini sengaja memasak banyak, walaupun acara pernikahan hanya dihadiri keluarga, dan tetangga dekat saja. Namun, mereka orang kaya, banyak menu mewah yang harus disiapkan. Ibu Mariam menggunakan tabungan Zara untuk pernikahannya sendiri di hari ini.
Selesai membantu ibu memasak, Zara merapikan kamar tidurnya. Kamar yang akan menjadi tempat tidur dengan suaminya nanti malam, karena rumah Zara hanya ada dua ruang yang dijadikan kamar. Kamar Zara sempit hanya sebesar kamar mandi di rumah Arsena. Semoga saja Mert betah di kamar tanpa AC itu.
Keluarga Arsena sedang sibuk Membantu Mert mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke rumah Zara nanti.
Karena acara ijab dilakukan di keluarga mempelai wanita, Mert terpaksa harus mengikuti tradisi yang ada disana.
"Arini, apa aku sudah tampan?" Tanya Mert yang sedang mencoba tukedo hitam dan hem putihnya di depan cermin. Mert sudah puas dengan bajunya, biar lebih yakin ia menanyakan pada sepupunya.
"Menghadaplah padaku biar aku lihat Mert?" Arini mengernyitkan dahinya.
Menurut Arini inilah saat yang tepat untuk mengerjai Mert. "Mert, baju apa yang kau pakai? Bahkan kau terlihat sangat jelek. Kau akan pantas memakai baju yang lain saja." kata Arini dengan ekspresi yang dibuat seyakin mungkin.
__ADS_1
" Arini kau bercanda ya? ini baju sudah dirancang oleh tante Mita sendiri."
" Benarkah?" Arini seketika membungkam mulutnya.
"Tante!" Mert memanggil Mitha yang kebetulan sedang menghias kue dan buah-buahan di ruang keluarga.
"Mert. Memanggilku?"
" Tante, Arini bilang baju ini sangat jelek, bahkan dia bilang aku tak layak makainya"
"Arini, kamu jangan main main ya, sudah tak ada waktu lagi." Mita menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Arini.
" Maaf Tante aku cuma mengerjai Mert. Biar dia kapok, siapa suruh jahat sama Zara. Sebagai wanita aku ikut terluka Tante."
"Sudah, sudah, sekarang Mert, mau bertanggung jawab. Jadi kamu dukung dia ya."
Mita menggandeng Arini keluar. Arini beberapa kali menoleh ke arah Mert dan menjulurkan lidahnya. "Jelek!" Ledeknya lagi.
Mita hanya tersenyum melihat tingkah kekanak Kanakan anak tirinya. Mungkin Arini memang terbiasa bercanda dengan teman teman nya di asrama. hingga kadang suka berlebihan dan gestek.
"Sayang, sudahlah berhenti mengerjai Mert, dia sedang tegang, sebentar lagi akan akad." Kata Mita sambil menggelengkan kepala. Menarik Arini ke kamarnya dan mendandani dengan dandanan natural sesuai usianya.
"Sayang, ada yang ingin aku bilang?" Arsena mendekati Andini.
" Biasanya juga nggak minta izin ...." Andini menjawab asal, karena ia sedang memakai make'up tipis-tipis di wajahnya.
" Aku ingin kita merayakan pernikahan kita. Kita undang semua orang yang kita kenal, teman kamu, teman aku, aku ingin mengenalkan pada dunia kalau istriku sangat hebat dan cantik." Arsena mulai merapatkan tubuhnya pada Andini.
" Tapi Ars, perutku pasti kelihatan gendut kalau memakai gaun, nanti dikira hamil diluar nikah lagi."
" Ya nggak lah sayang, aku akan jelasin kalau sebenarnya acara ini tujuh bulanan bayi yang ada di kandungan kamu, sekalian buat universary pernikahan kita.
Andini berfikir sejenak, lalu tersenyum. "Kita pikirkan nanti, yang penting hari ini Mert menikah."
Arsena memanyunkan bibirnya. Idenya tak mendapat tanggapan serius dari Andini.
" Cup." Bibir merah Andini mendarat di bibirnya. "Kita berangkat sekarang."
Andini mengingatkan kalau waktu tak berjalan mundur, mereka harus siap siap berangkat.
Mobil sudah ditata rapi oleh Davit menghadap ke arah gerbang.
__ADS_1
Mert selaku mempelai laki-laki ia duduk di jok paling depan. Mert diam tanpa bicara dengan Davit saat duduk bersebelahan. Ia sibuk menghafal ucapan ijab di dalam hatinya, Mert takut kalau pas waktunya ia lupa atau malah belum hafal.
Hingga akhirnya Davit menyapa Mert terlebih dulu, sambil mengulurkan tangannya.
" Selamat, Tuan. Akhirnya kau yang dipilih oleh Zara." Lirih Davit dengan wajahnya sendu.
" Terima kasih Davit. Jodohmu bukan dia, aku yakin sang permaisuri juga sudah menunggu pangerannya menjemput," hibur Mert, sebisa mungkin berusaha bersikap tenang di depan Davit.
Davit, maafkan aku, aku mencintai Zara, aku tak bisa membiarkan kalian bersama. Zara milikku, dan mulai hari ini dia akan menjadi milikku.
Sedangkan Andini dan Arsena berada di belakang Mert. Miko Dara, oma dan Mita naik di mobil kedua yang dikemudikan oleh Johan. Rena dan Bi Um terpaksa harus tinggal di rumah sendiri karena kondisinya belum pulih betul.
Sedangkan mobil ketiga yang di kemudi oleh pak Doni khusus untuk mengangkut hantaran dan seserahan untuk Zara, ibu Ana tak bisa ikut dia sedang kurang enak badan dan beberapa hari ini tak mau makan.
"Arini, mana?"
Oh iya? Jangan ditinggal dia, nanti bakal minta acaranya di ulang, bisa gawat," cetus Arsena.
Kalian gimana sih, Arini masih mencari high hells yang sesuai dengan baju yang Arini pakai udah mau di tinggal saja." ujar Arini dengan ketus.
Arini akhirnya minta duduk disebelah Mert, Arini sangat cantik dengan gaun warna putih tulang dengan panjang selutut. Belahan dada tak terlalu rendah dilengkapi dengan liontin mahal di lehernya. Biar sedikit gestek, Arini sudah memiliki tambatan hati juga, Anak seorang pengusaha yang menjadi teman sekolahnya.
Rombongan mempelai laki-laki meninggalkan mansion tepat pada pukul delapan.
Dua jam kemudian
Mempelai perempuan sudah selesai dimake up, Zara terlihat sangat cantik dengan gaun panjang dan hijab serba putih yang dikenakan. Hanya saja aura sedih di wajahnya tetap saja nampak jelas.
Rombongan mempelai pria sudah sampai, Zara sudah menunggu di ujung jalan dengan ditemani dua kembang mayang. Sedangkan Mert berjalan pelan pelan menyesuaikan irama musiknya diapit oleh Arini dan Davit.
Davit terlihat begitu tegar, walau sesungguhnya hatinya remuk. Ia tak ingin ada seorangpun yang menikmati kehancurannya.
Rombongan laki laki terus saja berjalan maju, sedangkan rombongan pengantin wanita menjemput calon suaminya. Setelah mereka bertemu, pranata cara memberikan arah arahan untuk hal yang akan dilakukan pengantin selanjutnya.
Mert dan Zara berjalan berdampingan. Mereka segera menempati tempat duduk yang sudah disiapkan untuk ijab.
Mert dengan jantung berdentum kencang karena nervous segera menempati kursi duduknya. Sedangkan Zara sudah sejak tadi sekuat tenaga menahan mendung dipelupuk matanya agar tak jatuh.
Davit terlihat begitu tegar, bahkan sorot mata kebencian yang terlihat saat tatapan matanya bertemu dengan Zara. ia berdiri di belakang keluarga pengantin dengan melipat tangannya. Tapi justru hal itu membuat Zara semakin sedih. Zara ingin sekali menjelaskan pada Davit kalau dia cinta, dia tak memilih harta.
__ADS_1