Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 197. Konspirasi rahasia.


__ADS_3

Saat sedang santai di ruang tamu tiba tiba ponsel Arsena yang tergeletak di dekat kopi berdering. Arsena segera meraih ponselnya. Yang ia kira telepon itu dari Mama, karena dia sedang cuti bulan madu, tak mungkin orang kantor berani mengganggunya.


"Siapa?" Andini bertanya.


"Andrew, dia menghubungiku ada apa ya?" Dengan malas Arsena menempelkan ponselnya di telinga.


Arsena heran, kenapa rekan kerjanya itu tiba-tiba menghubunginya di hari saat dia sedang ingin menghabiskan waktu berdua saja.


"Besarkan volumenya, aku ingin dengar kalian mau ngobrol tentang apa?" ujar Andini menggeser tubuhnya mendekat dengan sang suami. Arsena pun meloudspeaker panggilannya.


"Tuan, apakah aku mengganggu anda?"


" Memangnya ada apa? Apa ada yang sangat penting," ujar Arsena tanpa basa basi.


" Maaf, jika saya mengganggu hari bahagia anda, cuma ingin beri tahu, apa malam nanti anda bisa datang di ballroom Hotel Rosella, disana nanti malam akan ada acara lelang peluncuran prodak terbaru oleh sebuah perusahaan saya. jika anda pemilik pertama prodak unggulan kami, pasti akan menjadi kebahagiaan tersendiri."


"Baiklah, nanti malam aku akan datang bersama istriku."


" Baguslah jika anda bersedia datang, sampai ketemu disana."


Arsena menutup panggilannya dengan Andrew lalu menyeruput kopi buatan istrinya. " Sayang, nikmat sekali kopinya."


"Makasi, bukankah kopi ini sama seperti yang kau minum setiap hari."


"Betulkah? Tapi aku merasa ini kopi ternikmat, apa mungkin karena kau yang membuatnya, dan karena kau pagi ini sangat seksi." Tersenyum nakal.


Arsena menyentuh pundak istrinya yang terekpose. Membelai rambutnya sesaat, Karena baju yang dipakai pagi ini kebetulan memiliki belahan dada yang rendah.


"Ini pasti sudah rencana mu." Andini mengerucutkan bibirnya.


Arsena tertawa, sungguh bahagia melihat ekspresi wajah Andini yang masih saja pemalu " ha ha ha, kenapa kau menuduhku, Bibi dan aku dan Mama yang siapkan baju untukmu hari ini."


" Bibi? Pasti hanya kau dan mama yang memiliki ide gila ini."


" Ya, benar. Aku salah mengkambing hitamkan bibi. Bibi hanya menata ke dalam koper saja."


" Bukankah aku tak memiliki koleksi baju kurang bahan seperti ini sebelumnya." Andini menjewer baju hitam, tipis, kontras dengan kulitnya itu, dengan panjang diatas lutut memiliki renda di bagian bawah. Andini sempat terkejut, kenapa baju yang ada di koper isinya lingeri baru semua. Salah satunya termasuk yang ia pakai sekarang.


"Mama membeli baju-baju itu di London, dia sudah lama menyimpannya, katanya suatu saat akan dihadiahkan untuk menantu kesayangannya. Dan menantu kesayangannya itu kamu, Sayang."


"Cerita itu nggak bohong kan, Ars?"


"Nggak sayang, buat apa bohong."

__ADS_1


" Kalau begitu aku harus memberi hadiah juga untuk mama."


" Sayang, nggak perlu." Arsena keberatan.


"Mama sekarang sudah berubah, Ars. dia memilih menjaga kedua bayi kita di hari tuanya, dia juga memberikan aku banyak hadiah. Aku harus membuatnya senang juga. Izinkan Aku untuk membelikan mama hadiah, dia pantas mendapatkannya."


Oke kalau kamu memaksa ingin membelikan hadiah untuk mama, kalau pulang dari sini saja ya, biar nanti Arini dan Davit yang antar kamu. Untuk sekarang ini aku nggak mau kemana mana, pengen di dalam kamar saja. Bermain dengan yang hangat hangat lebih asyik." Arsena mengangkat alisnya, Andini sungguh geli dengan ekspresinya yang memiliki tingkat ke mesuman tinggi itu.


"Kenapa harus Arini dan Davit? Aku maunya sama Kamu, kan kamu suamiku, bukan Davit."


"Kan aku kerja, Sayang. Kalau sama Arini dia akan tau kesukaan Mama. Kalau Davit dia akan melindungi kamu jika terjadi apa apa. Diam diam Davit itu beladiri nya jago banget."


Ditengah obrolan mereka, tiba tiba seorang waitres datang mengirim sebuah makanan dengan menu special. Arsena yang sudah menunggunya sejak tadi langsung meminta waiters untuk menatanya. Dengan lahap Arsena memakan daging yang sudah digeprek dan dipanggang itu untuk pengganti karbohidrat hanya disediakan kentang rwbus saja. Sedangkan minummya cukup sari jeruk peras.


Arsena terlihat sengaja memakan dengan lahap hingga belepotan, ada bumbu yang menempel dibibirnya. Membuat Andini ingin membantu menghilangkannya.


"Ars, tahan dulu, jangan bergerak."


Arsena menurut. Dia menghentikan kunyahannya. "Ada apa Sayang?"


Andini mengusap pipi Arsena yang terdapat makanan menempel disana. Arsena dengan sigap segera meraih jemari Andini lalu memasukkan ke mulutnya. Andini terkejut dengan perlakuan suaminya ia segera ingin menarik jemari itu. Namun, Arsena malah tersenyum lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Sungguh manis sekali, Andini sekali lagi merasa seperti terbang ke nirwana, mendapat perlakuan Arsena demikian mesra dan romantis.


" Mana mungkin, bukankah pepatah mengatakan tersenyumlah untuk semua orang, tapi hatimu hanya untuk seorang saja."


"Ya kalau begitu tersenyumlah pada orang orang baik saja, dan berikan hatimu untukku."


Sarapan romantis pagi sudah dia lalui, siangnya mereka pergi jalan jalan menuju taman indah di dekat hotel yang ia tinggali. Sepanjang perjalanan Andini dan Arsena terus bergandengan. Hanya tamu VIP saja yang diizinkan memasuki taman bunga dengan sejuta keindahan tersebut.


"Andini berjanjilah kita akan bersama seperti ini sayang?" Ujar Arsena yang tengah duduk di sebuah batu besar. Arsena menarik Andini ke dalam pangkuannya. Andini hanya bisa pasrah oleh perlakuan sikap manis Arsena yang terus dia berikan seharian ini. Benar benar sebuah perveck honeymoon.


"Anda juga disini?" Tiba tiba ada suara mengagetkan. Seseorang datang mengganggu keromantisan Arsena dan Andini.


"Vanes! Kau juga ada di hotel ini?"


"Iya, aku harus membantu suamiku untuk persiapkan semuanya untuk acara nanti malam."


"Wah kamu hebat ya, mengurus anak bisa sambil bekerja membantu suami," puji Andini.


"Ars, ijinkan aku kembali bekerja. Aku bisa kok membagi waktu, untuk kamu anak-anak dan pekerjaan?" Pinta Andini yang tak mendapat respons dari suaminya.


Mereka bertiga segera duduk di sebuah kursi panjang disebuah taman, semenjak kedatangan Vanes Arsena merasa terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk ngobrol ringan seputar keseharian mereka saja.

__ADS_1


"Nona Andini, ternyata hoby kita sama, kita akan sering bertemu setelah ini, kita bisa ketemu di tempat fitnes, sanggar senam, nggak nyangka bahkan disini juga bertemu."


"Iya Nona Vanes, apakah kita bisa berteman?"


" Andini mengulurkan tangannya, tanda mereka sekarang bersahabat. Seulas senyum tersungging dari bibir keduanya. Arsena hanya bisa melihat saja apapun yang membuat Andini bahagia dia tak akan pernah melarangnya."


Baru saja beberapa detik duduk di kursi taman yang memutari sebuah meja kecil. Arsena sudah berteriak.


"Andiniiiii!!" Arsena menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.


"Brakk! Pyarr! Sebuah botol kaca besar jatuh dari lantai tiga, tepat mengenai kursi yang diduduki Andini. Andini tak berani menatap apa yang terjadi, dia meringkuk dalam dekapan suaaminya, Degup jantung Arsena sudah tak terkontrol, amarah sudah mencapai puncak. Arsena tak pernah Semarah ini sebelumnya.


Vanes berlari paling jauh, otaknya lebih cepat membaca situasi yang terjadi.


"Sayang, siapapun pelaku dibalik semua ini, aku tak akan biarkan dia hidup bahagia di luaran sana, tangan Arsena mengepal keras. Rahangnya mengerat, dia merasakan ada sebuah konspirasi, dia tak bisa bekerja sendirian dalam hal ini.


"Nona, kau baik baik saja." Vanes menghampiri Andini yang masih memeluk suaminya. Mendengar Vanes menyapa Andini melepas dekapan suaminya, lalu membalikkan tubuh.


"Aku baik baik saja. Selama suamiku bersamaku, aku akan baik baik saja," ujar Andini dengan suara bergetar. Satu lengannya masih memeluk pinggang Arsena.


"Pengawal, security!!


"Iya Tuan." Security merunduk ketakutan.


Maaf kejadian ini diluar perkiraan. Botol itu jatuh karena seorang anak sedang bermain di koridor, dan tak sengaja menjatuhkannya. Ibunya akan datang untukeminta maaf."


"Bodoh, bodoh, kalian semua tidak berguna, lelucon apa yang kamu katakan!" Arsena sama sekali tak mempercayai ucapan pelayan yang menurutnya tak berguna. Mana ada anak kecil berkeliaran di hotel dengan membawa botol minuman keras.


Arsena segera meraih ponselnya. Dia meminta pada Ken dan kawan kawan agar segera datang dan mencari siapa musuh yang tengah mencoba melawannya. Penyisiran hotel dan penyitaan kartu identitas kembali dilakukan.


"Ars, ini berlebihan, security itu bilang ini ulah anak anak. Kita percaya saja." Andini berusaha menenangkan Arsena.


"Maaf Nona Andini, saya setuju dengan suami Anda, bagaimana kalau ternyata nyawa anda dalam bahaya? Tapi saya nggak nyangka, orang sebaik anda kenapa memiliki musuh, "ujar Vanes ikut campur. Wanita itu berhasil membuat Arsena besar hati, yakin akan keputusannya.


Andini masih berusaha menetralkan nafasnya yang dag dig dug tak beraturan. Vanes mengambilkan gelas minumnya di meja. Penjaga kebersihan segera merapikan serpihan kaca dengan alat canggih yang bisa menyedot butiran terkecil dari kaca sekalipun.


Kurang dari tiga puluh menit, tangan kanan itupun sudah datang bersama gondrong dan botak. Kedatangan pria bertubuh tinggi besar, berhasil membuat warga hotel gempar, mereka bertanya tanya dalam hati ada apa gerangan yang terjadi.


Arsena segera membawa Andini ke dalam kamar hotel, menyuruhnya agar segera beristirahat. Sedangkan dia sendiri ingin segera pergi bergabung dengan Ken dan teman teman beserta polisi handal yang bisa dibilang sanggup mencari jarum dalam tumpukan jerami.


"Ars, aku ingin kau lekas kembali, aku tidak mau sendirian." Andini menggenggam jemari Arsena.


"Hanya sebentar. Tetaplah di dalam kamar. Jangan mencoba keluar sebelum aku kembali," pesan Arsena di ikuti anggukan kepala Andini.

__ADS_1


__ADS_2