
"Bibi sudah siapkan makan siang."
"Jangan mengalihkan pembicaraan Dokter, aku dan anda sudah tak muda lagi. Apakah anda akan terus menyia-nyiakan seorang pria yang tulus mencintai anda?"
"Aku butuh waktu Ken, kau bisa memberi aku waktu dua hari, aku akan menjawab semuanya." Vanya berkata sambil memundurkan tubuhnya. Dia takut Ken akan menodainya seperti film yang beberapa hari dia lihat, kisahnya seorang pria yang ditolak cintanya dan akhirnya menodai sang kekasih demi bisa bersama.
Ken mendekati Vanya. Vanya mundur beberapa langkah. "Ken!" Pekik Vanya saat tubuh nya sudah kehilangan ruang gerak, menempel di box Rara, hingga mengguncang tubuh mungil yang ada di dalamnya.
"Aku ingin mencium putriku, aku ingin melihat rupa saat dia tidur."
"Dia sangat manis, mirip kau dan Lili." ujar Vanya yang dalam hati menahan malu luar biasa. Bisa bisanya hatinya berfikir kalau Ken akan bertindak serendah itu. Andaikan bisa Vanya ingin segera berlari dari hadapan pria yang membuat jantungnya berdegup kencang dan salah tingkah. Sayangnya kalau dia melakukan hal itu pasti akan lebih terlihat aneh.
" Aku tunggu di ruang makan." ujar Vanya sebelum pergi.
"Iya, aku akan segera menyusul," kata Ken sambil kedua tangannya bertumpu pada box bayi. Dia menoleh memandangi punggung Vanya sambil tersenyum. Firasatnya sebentar lagi dia pasti akan memenangkan hati wanita itu.
" Aku lihat ada cinta untukku di matamu Van," ujar Ken lirih.
Batin wanita itu juga bergejolak tak karuan, berdua di dalam rumah tak membuatnya tenang.
"Vanya, jika kau tak ada perasaan pada Ken, kenapa kau gugup seperti ini?" Vanya melipat bibirnya ke dalam dan menjepit dengan kedua rahangnya.
"Nona, bibi buatkan makanan yang sangat spesial buat dinner Nona dan Tuan tamvan biar makin berkesan." Bibi berkata dengan sedikit menggoda.
"Bi, tidak ada yang spesial. Ini bukan makan malam istimewa, ini makan malam biasa."
"Yah, tapi bibi terlanjur mengeluarkan jurus andalan bibi dalam meracik bumbu bumbu rahasia dalam melezatkan makanan."
Vanya tersenyum tipis. "Kenapa nggak sekalian aja, jurusnya dikeluarin setiap hari, biar memasaknya nggak keasinan, kata orang tua Bi, kalau masaknya keasinan itu tandanya pengen kawin." ujar Vanya sambil tertawa.
"Ih, Non. Becanda Deh. Bibi kan nggak punya gebetan, apalagi calon suami."
"Emangnya mau Vanya cari'in?" ujar Vanya kembali bercanda sambil menusuk buah potong dan memakannya.
"Bi, gimana kalau nikahnya sama aku?" ujar Ken sambil menjatuhkan lengannya di punggung Bibi.
__ADS_1
" Mau mau mau. Bibi mau Tuan." Bibi mengangguk dengan cepat. Membuat Vanya harus mengulum senyumnya.
"Baiklah Bi, menikahlah denganku." Ken menurunkan tangannya di punggung Bibi salu meraih jemarinya. Bibi tersenyum salah tingkah digoda oleh pria setampan Ken.
"Tuan, Hati bibi meleleh seperti es krim rasanya, adeeem." Bibi geregetan dengan kelakuan Ken yang menggoda wanita yang pantas menjadi kakaknya itu. Bibi tak mau dibuat GR oleh Vanya, dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil menu lainnya yang belum selesai di hidangkan di meja.
Ken menarik kursi sambil duduk didekat Vanya. Gadis pujaan Kan mendadak menjadi pendiam.
"Aku makan ya." Ken berbicara mengurangi kecanggungan diantara berdua. Dia mengambil piring yang tengkurap di depannya.
"Silahkan, makanlah yang banyak, kau baru saja sembuh." Vanya mengambilkan nasi, dan lauk rendang daging yang dibilang bibi spesial tadi.
"Gimana, Ken? Apa masakan bibi kurang pedas, kurang manis?" Vanya penasaran dengan ekspresi Ken yang terlihat lama sekali mengunyah makanannya.
"Kurang manis sedikit, tapi setelah makannya sambil lihatin kamu, manisnya jadi pas."
" Gombal banget, apa kamu belajar semua ini dari Arsena."
"Bisa iya bisa nggak. Arsena sangat romantis dengan istrinya, kalau bisa aku harus lebih romantis pada istriku nanti."
Panggilan dari ponsel Vanya berdering. Setelah dilihat ternyata Andini yang menghubunginya.
Andini! Tumben sore begini dia menghubungi aku,
"Hallo, Andini. tumben menghubungiku? Menjelang malam."
"Van apa kamu lupa hari ini ada acara do'a di rumah Arsena."
"Oh iya, aku akan datang kesana. Kok aku bisa lupa." Vanya terkekeh. "Ken tolong antarkan aku ke rumah Andini."
Andini terkejut. "Ken? Apa Ken masih ada bersamamu? Apakah ini pertanda, janur kuning akan segera melengkung?"
"Do'akan Nona." Suara Ken menyahut keras.
"Tentu Ken." Andini ikut senang.
__ADS_1
Vanya memelototi Ken sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya. Ken malah usil menggoda dengan merebut ponsel Vanya.
"Ken berhenti berulah, bagaimana kalau aku terjatuh."
"Tentu aku tak akan membiarkan sampai terjatuh." Ken menahan punggung Vanya yang oleng dari kursinya dan memeluknya erat. Alhasil mereka saling pandang dan berakhir dengan bibir keduanya membisu.
Vanya dan Ken hari ini terlihat lebih akrab. Sepertinya hubungan mereka satu langkah ke depan menuju pelaminan.
Andini yang tahu orang yang ditelepon sedang kasmaran, buru-buru dia menutupnya lagi.
Bibi dan pengasuh Rara diam-diam mengintip majikannya dari balik kelambu. Mereka ikut bahagia Vanya yang beberapa hari lalu sering menangis sendiri setiap pulang kerja, kini nampak bahagia.
Kalau sampai mereka menikah, aku orang pertama yang sangat bahagia, biar Dokter Vano itu menyesal menyia nyiakan cinta Nona.
"Iya, sama. Aku berharap mereka akan bersatu, biar Rara kembali memiliki keluarga yang utuh."
******
"Kita berangkat sekarang."
"Iya kita berangkat sekarang." ujar Vanya malu malu ditatap sedemikian rupa oleh Ken. Ken belum pernah melihat Vanya memakai gamis dan kerudung seperti hari ini.
"Kenapa? Apa aku aneh, aku harus memakai baju panjang, karena ada acara do'a di rumah Arsena." Vanya menelisik ulang penampilannya.
"Enggak, terlihat sangat cantik malahan. Aku suka." Ken mengutarakan isi hatinya sambil membukakan pintu mobil.
Tak ada kontak fisik diantara mereka, Ken sangat menjaga Vanya yang berhijab. Keyakinan Ken, cintanya pasti akan diterima oleh Vanya.
Ken yakin putri kecilnya adalah pemersatu hubungan mereka, Vanya sudah jatuh cinta dengan Rara, tak mungkin akan rela jika Ken mengambilnya.
Sampai di Mansion Ken dan Vanya turun hampir bersamaan. Arsena dan Andini kebetulan sudah menunggu di dekat pintu. Ken melempar senyum pada Arsena. Pria itu terlihat tak membalasnya. Ken sadar, dia belum berjuang apapun untuk meluluhkan hati tuannya.
"Masuklah Ken, Vanya di dalam ada Miko dan Dara juga." Andini mengantar dua tamunya masuk dan mempersilahkan duduk diatas permadani yang sudah digelar hampir memenuhi ruang tamu.
Arsena ikut masuk, karena Ken dan Vanya adalah tamu undangan terakhirnya.
__ADS_1
Andini duduk di dekat Vanya, Arsena di dekat Andini, Ken sengaja memilih duduk di sebelah Arsena. Ken yakin lambat laun hati pria sekeras batu itu akan luluh juga.