Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 284. Menuju Nirwana.


__ADS_3

Ken mendatangi kamar Rara, dia melihat putri kecilnya bermain dengan boneka yang beberapa hari lalu sengaja dia belikan. 


"Rara,Sayang," panggil Ken kepada putri kecilnya.


"A-yah. A-yah." Bocah kecil itu tersenyum menunjukkan mainan ditangannya pada Ken. 


"Ba-gus A-yah."


"Makasi Sayang, Rara suka?"


"Tuan, biarkan Rara bermain dengan Saya. Ini hari pernikahan Tuan." Bibi berkata dengan lemah lembut pada Ken selaku majikan barunya. 


"Aku hanya ingin bersamanya sebentar Bi. Aku sangat rindu putriku."


Ken mendekati Rara, pria itu berjongkok lalu mengangkat putrinya tinggi-tinggi, membuat bocah kecil itu tertawa riang. 


Pengasuh Rara pun ikut bahagia. Dia memejamkan matanya berterima kasih pada Tuhan. Bocah kecil itu akhirnya mendapatkan keluarga yang utuh. 


"Nona Vanya sangat mencintai Rara melebihi putri kandungnya sendiri. Dia selalu meluangkan waktu setiap pagi untuk membuatkan susu sendiri, terkadang dia juga mengganti popok Rara sendiri. Setahu saya, kalau sudah ada baby sister ibu kandung pun malas melakukannya tuan," curhat Bibi.


"Apa Artinya Vanya ibu yang sangat sempurna untuk Rara?" Tanya Ken pada Bibi.


"Iya Tuan, ibu tiri yang sangat sempurna." Baby sister Rara menunjukkan jempolnya. Ken sangat bahagia. 


Rara turun dari pangkuan Ken, dia berlari ke arah bibi dan mengajaknya bermain di koridor yang sengaja di pasang lampu kerlab kerlib. Rara sangat suka melihat lampu yang berkerlip mirip bintang itu. 


Setelah Rara dan Bibi keluar, Ken melihat putri kecilnya melambaikan tangan dan melakukan cium jauh padanya, membuat Ken makin gemas. 'Pasti Vanya yang telah mengajarkan semuanya pada putriku, aku harus berterima kasih padanya. kasih sayang Vanya melebihi ibu kandungnya.'


Ken mandi di kamar Rara, berharap saat kembali ke kamar pengantin nanti, Vanya juga sudah selesai membersihkan diri.


Usai mandi Ken menautkan handuk kecil di pinggangnya. Dada kotak mirip roti sobek terekspos bebas tanpa penghalang. Ken segera kembali ke kamar dengan langkah hati-hati, nyaris tak menimbulkan suara hentakan kakinya. 


Ken membuka pintu dan melihat wanita cantik sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Ken tersenyum, ia mendekati wanita yang beberapa jam lalu menjadi istrinya dan berdiri di belakangnya. 


Ken, kau sudah selesai mandi juga rupanya? Wanita cantik itu melihat Ken dari cermin.

__ADS_1


 Vanya melihat roti sobek milik Ken. Tanpa sadar beberapa saat dia hanya dibuat terpaku. betapa kagumnya dia dengan pahatan indah milik kekasihnya itu.


Ken mendekati istrinya lalu membungkukkan badan, dan memeluk leher suaminya seakan tau apa yang sedang ada di pikiran Vanya. "Kau sudah boleh memilikinya, semua sudah menjadi milikmu." Ken memamerkan deretan gigi putihnya. Lalu mengecup puncak kepala sang istri yang sangat wangi. 


Vanya tertunduk malu. Tak ada kata kata yang keluar dari bibirnya. Perlakuan Ken yang seperti sekarang saja sudah mampu membuatnya melayang layang tak karuan. 


"Rupanya istriku sangat pemalu?" Tanpa aba aba Ken mengangkat tubuh Vanya yang terlihat kecil dalam gendongannya Ken. Pria itu membawanya ke atas ranjang. 


Vanya menatap Ken tanpa berkedip, tak menyangka hubungan mereka sampai di titik sekarang ini. Semua zentu tak luput dari peran Andini, sahabat karibnya itu.


Ken menjatuhkan tubuh istrinya di atas ranjang, sesaat hanya saling menatap dan saling mengagumi.


Ken mulai membuka bathrobe yang dikenakan Vanya. tapi Vanya menahannya.


"Kita do'a dulu." ujar Vanya. Dibalas anggukan kepala oleh Ken.


Sebelum memulai malam pertama Vanya mengajarkan pada Ken doa sebelum bercocok tanam yang sempat Andini kirimkan lewat pesan WA.


"Kok sudah hafal aja, do'anya?" Ken bertanya sambil mengecup kening sang istri.


"Saat aku menyisir rambut tadi, aku menghafalkan." Vanya tersenyum malu, pipinya terlihat merona. 


"Apa sebelum melakukan dengan Lili kau tak pernah berdo'a?" Vanya penasaran.


"Apa yang kau tanyakan? Aku tak tau kalau kita harus perlu do'a dulu."


"Pasti langsung terkam aja, karena nggak sabar dengan pesona wanita cantik seperti dia." 


"Sudah lupakan saja, biarkan dia beristirahat dengan tenang." Bisik Ken di telinga sang istri. Harapan Ken Vanya tak usah mengingat lagi kesalahan dirinya waktu itu. 


Ken dan Vanya mulai hanyut dalam pelabuhan cinta, mereka mulai menautkan bibir dan jemari. Jantung dua insan di mabuk cinta itu tenga berdegup lebih cepat dari biasanya, seakan memberi semangat untuk penyatuan yang sebentar lagi tak dapat terelakkan. 


Dengan mata terpejam Vanya mulai merasai sentuhan lembut jemari Ken yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya, sebagai pria yang sering bermain dengan gadis berpengalaman Ken tentu sudah ahlinya membuat pemula seperti Vanya melayang. 


Sayangnya selama ini dia selalu menjadi bukan yang pertama. Ken baru kali ini merasakan sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


"Hah ... hah ... terimakasih Beb." Nafas Ken mulai tak beraturan setelah miliknya menerobos lorong yang amat sempit. Sedangkan Vanya menitikkan air mata merasakan miliknya baru saja terkoyak. 


Ken tau Vanya sangat menderita di permainan pertama, dia melakukan permainan dengan selembut mungkin. Setelah Vanya mulai rileks Ken baru melakukannya dengan tempo yang sedikit lebih cepat. 


Dua jam mereka hanya bermain main diatas ranjang pengantin, tanpa ada tanda tanda berhenti. Butiran keringat berlomba keluar tanpa ia hiraukan, Ken terus saja membuat Vanya kelelahan. 


"Ken, bebaskan aku." Vanya akhirnya menyerah, secara tidak langsung dia mengakui kehebatan suaminya,tulang belulangnya serasa remuk kulitnya seperti telah dilolosi. Ken menurut tak lama tubuhnya telah ambruk di sebelah Vanya. Senyum terukir dari bibir keduanya. 


Setelah nafas mulai beraturan Vanya merasakan kerongkongannya kering. Dia hendak beranjak ingin mengambil air yang ada di atas nakas. 


"Katakan saja yang kau inginkan aku akan membantu." Ken seakan bisa membaca apa yang diinginkan Vanya.


"Aku ingin minum." Vanya keras kepala dia turun kelantai untuk mengambil minum. 


"Diamlah aku akan ambilkan." Ken yang kebetulan berada paling dekat dengan nakas segera beranjak turun, lalu mengambilkan Vanya segelas air.


Vanya merasakan area intinya begitu sakit dia berlahan bangkit dari tidurnya dan bersandar di sisi ranjang.


"Istirahatlah sebentar, jangan dipaksa bergerak dulu, jika ingin ke kamar mandi aku akan membantunya." Ken menyerahkan gelas pada Vanya setelahnya dia mengacak rambut istri dengan gemas. 


Vanya meneguk air pemberian Ken hingga semua tandas di perutnya. Setelah itu tangannya terulur untuk menaruh gelas kosong di atas meja dekat night lamp, tapi sayangnya gelas di tangan Vanya tak mendarat dengan sempurna dan jatuh kelantai. 


Pyarrrr! Suara gelas jatuh menyentuh lantai menggema. Ken yang baru saja mencari keberadaan ponselnya dia terkejut bukan main mendengar suara tersebut. 


"Ken!!" Pekik Vanya. Wanita itu sudah sering menjatuhkan gelas seperti hari ini. Tapi entah kenapa kali ini perasaannya berbeda, ada firasat lain yang ia rasakan .


"Ken semoga semua keluarga dan kerabat kita baik baik saja," ujar Vanya yang ketakutan.


"Jangan berfikir macam macam, itu hanya gelas saja yang jatuh."


"Tapi Ken, aku merasa ini seperti sebuah pertanda buruk." 


"Sudahlah tidur, tidak ada hal buruk yang terjadi. Keluarga kita dalam keadaan baik semua." Ken mengecup kening Istrinya yang terlihat gelisah. Ken bahkan bisa mendengar nafas Vanya yang ngos-ngosan. 


"Tapi Ken." Vanya masih gelisah.

__ADS_1


"Tidurlah, semua akan baik baik saja." Ken mematikan lampu utama dan menyalakan night lamp. Setelah itu dia menyelimuti tubuh Vanya yang masih polos. 


Mereka berdua tertidur dengan nyenyak. Baru bangun lagi ketika hari sudah menunjukkan jam satu dini hari.


__ADS_2