
Andini dan Arsena keluar dari rumah sakit dengan hati gembira. Arsena sendiri yang mendorong Andini dari ruang praktek Namira sampai parkiran.
Setelah Andini masuk mobil Arsena baru menyerahkan kursi roda kepada perawat.
Foto USG putranya ia kecup dan ia simpan di tas kerjanya. Arsena berjanji akan menyimpannya di tempat yang paling aman, di laci tempat kerjanya. Dia akan mencari foto itu dan menciumnya usai mengerjakan tugas-tugas kantor.
"Andini foto anak kita biar aku saja yang simpan ya."
" Iya simpan saja. Jangan sampai hilang ya."
" Pasti aman kalau ada padaku, tahu nggak aku udah nggak sabar pengen lihat dia lahir dan membuka matanya di dunia ini."
"Kita sama'an dong. Aku sudah nggak sabar pengen denger dia nangis, lihat senyumnya, pasti nantinya anak kita bakal lucu lucu deh."
" Ya jelas dong siapa dulu Papanya. Papanya kan ganteng, jadi anaknya pasti akan ganteng dan imut." Arsena mengelus perut Andini dari luar baju yang ia kenakan.
"Emang papanya ganteng banget ya? Sini biar aku lihat?" Andini mendekatkan wajahnya dan menarik dagu Arsena. Membuat wajah mereka saling dekat dan saling menatap lekat.
Andini dan Arsena saling tersenyum.Arsena melingkarkan lengan di pundak Andini dan mengeratkan pelukannya membuat kepala Andini jatuh di dadanya. "Setelah aku lihat biasa-biasa aja nggak ganteng ganteng banget. Gantengnya cuma sedikit"
Arsena mengecup rambut Andini dengan gemas. "Terserah aja deh, Istriku mau nyebutnya gimana, lagian kan aku udah laku, udah ada yang nggak bisa jauh-jauh dariku."
"Iya kan Zara."
"Eh, i-iya tuan,"
"Emangnya kamu denger apa Zara."
"Mmm aku dengar kalau Tuan udah laku."
" Rupanya kamu dengar semuanya." Arsena tersenyum.
"Depan dan belakang itu sangat dekat, telinga Zara juga masih bekerja dengan baik Tuan."
" Lama lama kamu cerewet juga ya? Kebiasaan majikan rupanya bisa juga diturunin ke asisten," ujar Arsena lirih.
"Ars, kita jadi jalan nggak nie?"
"Pulang dong. Ini juga udah mau jalan." Arsena menjalankan mobilnya keluar area parkir rumah sakit. Hari ini Arsena terlihat letih, wajahnya lesu, mungkin karena kecapekan. Tapi karena satu kabar bahagia, membuat dia abai dengan kondisi tubuhnya.
"Ndin kita pulang ke mansion aja ya?"
" Tapi aku masih pengen tinggal di kontrakan, ada banyak kenangan kita disana." ujar Andini
"Ars." Andini mengerucutkan bibirnya.
"Jangan bandel, jangan bilang ini maunya si kecil."
" Ndin kamu nggak ingat dengan yang baru saja terjadi? Kalau di rumah besar akan banyak security yang jaga disana. Lagian aku bisa istirahat nyenyak di ranjang empuk. Gara gara semalam kayaknya leherku ingin patah." Kata Arsena sambil meregangkan otot kepalanya.
"Maaf ya Ars. Gara gara aku lehernya jadi mau patah. Nanti kalau sampai rumah, aku pijitin deh, pelan-pelan."
__ADS_1
" Bener ya, "
"iya, iya, janji."
Arsena memilih jalan menuju rumah besar, kontrakan kecil itu bagi Arsen bukan tempat yang aman untuk Andini dan bayinya saat ini.
Mobil Arsena sudah memasuki pekarangan rumah besar, penjaga segera membukakan gerbang pintu. Seperti biasa, Bi Um segera menyongsong kehadiran Andini.
Kali ini andini pulang tak membawa apa-apa semua bajunya juga masih tertinggal di kontrakan.
"Selamat sore Den Arsena, Nona Andini." kata Bi Um.
"Bi siapa yang datang?"
"Tuan muda Oma sama Nona Andini sudah pulang kembali." Teriak Bibi dari arah luar dengan suara lantang dan hati senang.
"Wah rupanya Andini sudah datang, Oma sudah kangen sekali padahal kalian cuma semalam di sana." Mendengar Andini datang Oma langsung menyambut kehadiran cucunya. Menggandeng Andini masuk.
"Andini kenapa? Oma lihat jalan kamu seperti orang habis jatuh?" Tanya Oma dengan khawatir.
" Iya Oma, tadi di jalan ada orang sengaja ingin mencelakai Andini." Arsena membantu Andini duduk dan menjawab pertanyaan Oma.
"Lalu apa orang itu sudah kalian tangkap?" Oma terlihat panik.
"Belum Oma orangnya kabur. Karena saat itu aku harus tolong Andini lebih dulu," jawab Arsena.
Ini bahaya Ars, kenapa ada orang begitu tega sama Andini."
"Itu sebabnya aku mulai besok harus turun tangan sendiri, dan aku minta satu hal, Aku ingin seluruh keluarga bekerjasama, menjaga Andini."
" Emangnya kenapa kalau kita harus menjaga Andini, ada cucu kamu juga di dalam rahimnya." Oma terlihat gregetan dengan Rena yang tak pernah berubah, dan selalu sinis.
" Rena kan tanya Oma."
" Tapi kalau kalian keberatan untuk menjawab. Ya enggak apa-apa."
" Ars, sebaiknya kamu antarkan Andini istirahat, kamu juga pasti capek sekali baru pulang," perintah Oma saat Arsena berulang kali memutar kepalanya.
Arsena dan Andini akhirnya pamit ke kamar. Zara berlari ke atas lebih dulu, karena harus merapikan ranjang dan lainnya yang masih berantakan semenjak Andini pergi.
Arsena baru saja ingin menggendong Andini saat naik tangga. Namun, Andini mencegah gerakan tangan Arsena.
"Jangan Ars, aku bisa jalan sendiri, kamu cukup gandeng tangan aku saja."
"Baiklahlah kalau tak mau, padahal aku juga masih sanggup menggendong sampai ke langit tujuh sekalipun."
Andini tersenyum." Membual lagi, kalau nggak membual, pasti mesumnya kelewat batas."
"Terserahlah dibilang apapun aku mau, semua ini karena wujud cintaku padamu, Andini."
Mendengar si Tuan dingin membual membuat Andini tertawa tiada henti. Suara tawa mereka menggema hingga lantai satu.
Mama Rena yang ada di bawah menghembuskan nafas kasar, telinganya seakan sakit mendengar Andini bahagia.
__ADS_1
Mama Rena yang ingin menyatukan Arsena dan Anita sepertinya harus mengubur mimpinya.
Andini dan Arsena semakin hari semakin tak terpisahkan. Apalagi semenjak kehamilan Andini. Arsena seakan rela melakukan apapun yang diinginkan Andini tanpa sebuah syarat apapun.
Sampai di kamar, Arsena dan Andini segera mandi bergantian. Bi Um mengantarkan teh manis dan bakwan hangat buat cemilan.
Andini mencecap teh manis lalu melanjutkan membaca novel di atas ranjang. Arsena mendekati Andini ketika usai mandi dan tubuhnya sudah wangi.
"Ceklek!"
"Oma!" Arsena kaget.
Oma tiba tiba datang ke kamar. Disaat dia sedang membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memeluk tubuh Andini. Sedangkan Andini duduk bersandar di sisi ranjang, dengan tangannya membelai rambut Arsena.
Arsena mengangkat kepalanya dari pangkuan istri. "Masuk Oma."
"Oma ganggu nggak nie?"
" Nggak lah Oma, kita.malah senang Oma mau datang ke kamar kita." kata Arsena
"Iya nie, Oma kangen banget sama Andini, Oma khawatir saat Andini pergi, baliknya lama."
"Apa setiap hari masih mual terus? coba minum jus buatan Oma, jus segar ini siapa tau bisa mengurangi mual." Oma membawa segelas jus aneka buah untuk Andini.
Arsena segera turun dan mengambilkan kursi yang akan dibuat duduk oleh Oma.
"Oma, Andini berterimakasih pada Oma, sudah baik dan perhatian sama Andini." Andini berkata sambil menoleh ke arah Arsena. Arsena mengangguk.
"Tapi anehnya Andini seneng banget saat ada suami di dekat Andini. Kayak nyaman gitu Oma."
" itu bawa'an bayi, setiap kehamilan memang kadang berbeda Ndin, ada yang nggak mau dekat suami, bahkan ada yang suami merasakan ngidam. Tapi kalau minta ditemani suami terus, yang minta ini calon bayi apa calon bunda ya?" Oma menggoda Andini membuat suasana kamar makin hidup.
"Oma ... Memang benar kok ini memang maunya calon bayi. Dia baik baik-aja kalau di dekat calon papanya." Andini jadi malu, pipinya merona. Tak berani menatap Oma yang selalu berhasil membuatnya tersipu, Andini memilih mengelus perutnya. Oma yang ada didekatnya ikut menempelkan telapaknya di perut Andini.
"Cicit Oma, yang pinter ya? Papa dan Mama sangat bahagia kau sudah hadir." Kata Oma.
"Oh iya Andini soal foto pernikahan mana?"
"Gawat, kenapa Oma harus ingat soal foto pernikahan itu." Gumam Arsena.
"Em, Oma besok aja ya lihat fotonya." Arsena mencoba bernegosiasi.
"Oma maunya sekarang!" Oma terlihat memaksa.
Arsena dan Andini saling pandang, bingung mengatakan kalau foto pernikahan mereka ada yang janggal, Arsena tak ada dalam foto pernikahan itu. Hanya Andini sendiri yang duduk di pelaminan di temani keluarga.
"Oma, lihatnya besok aja ya, mending sekarang Arsena pijitin Oma. Oma pasti capek."
"Baiklah kalau begitu pijitin Oma sampe tidur ya, cucu pengertian, tumben hari ini baik. Tapi Oma mau lihat fotonya sekarang, titik!" Oma menekankan kalimatnya, kalau keinginan hari ini tak mau di ganggu gugat.
Arsena hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam.
__ADS_1
*happy reading
"