Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 14. Siapa Dia? pangeran penolong?


__ADS_3

Tin! tin ! Seseorang pengendara motor dari belakang menyalakan klakson. Andini sangat kaget, hingga ia mengumpat kesal sambil menutup kedua telinganya.


Namun anehnya pengendara motor itu malah mengurangi kecepatan dan berhenti tepat di depan Andini, menghadang jalan gadis yang sudah buru-buru karena takut terlambat ke kampus.


"Maaf, Mas. Tolong jangan ganggu, aku sedang buru-buru."


"Hei girl galak amat sih?"


Andini seperti mengenali suara itu, namun sayangnya pemuda itu masih menyembunyikan wajahnya di balik helm teropong yang ia pakai. Serta separuh bibirnya ditutup oleh masker.


"Jangan gala,-galak, entar cepet tua loh"


"Apa'an sih lebay deh. Hey buka helmnya! siapa sih kamu?!" Perintah Andini yang semakin kesal karena pria itu kini malah menahan jalannya dengan memegangi tangannya. " Lepas aku, bisa terlambat," dengus Andini semakin kesal.


"Udah naik aja! Kalau nggak mau Lo makin terlambat." Lelaki itu melepaskan cekalan lengan Andini. Dan memajukan duduknya. Seakan ia memberi Andini ruang agar bisa leluasa naik di jok motor besarnya.


"Enggak mau. Aku nggak semudah itu percaya sama orang asing, bagaimana kalau niat kamu jahat? Tolak Andini, sambil menarik lengannya dari genggaman pria asing itu.


"Angkot berhenti." Tangan kanan Andini melambai angkot yang baru lewat.


"Yeahhhh .... " Mengerutkan kening sambil memonyongkan bibir, angkotnya ternyata penuh. Sudah tentu tak mau berhenti.


"Ha ... ha ... ha ... " Pria itu tertawa sumbang.


"Seneng banget sih, liat orang susah" melirik kearah pria itu dan hendak jalan kembali.


Pria itu akhirnya turun dari sepeda dan kini berkata dengan serius. "Kau akan terlambat, kalau nggak ikut aku, kalau kamu khawatir aku menyakitimu, kamu bisa menendang ku dari belakang dengan kakimu itu kan? bukannya kamu jago menendang?"


"Apa?" Mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum. "Sotoy banget. Ya aku tau sekarang, kamu pasti ...?"


"Udah, ayo buruan, dipikirnya entar aja." Pria itu tak memberi kesempatan Andini untuk berbicara lagi. Ia sudah naik sepedanya lagi dan tangannya memaksa Andini untuk mengikuti dirinya. Sekarang Andini sudah duduk di boncengan.


"Pegangan ya?" Perintah si pria.


"Nggak mau" tolak Andini. Ia lebih memilih memegangi besi di belakang.


"Nanti jatuh tanggung sendiri, gue nggak mau tanggung jawab"


"Enak aja kamu yang maksa?"


"Bukan maksa, tapi nolongin kamu biar nggak terlambat, bukannya suami lo tadi nurunin di pertigaan tadi. Suami macam apa ha ... ha ..."


"Jadi kamu tadi nguntit?" Tuduhnya.


"Kurang kerjaan, enggak aku tadi kebetulan saja ada di belakang mobil yang kamu naiki.


"Oh, kirain nguntit"


"Kurang kerjaan banget sih."

__ADS_1


Si pria itu akhirnya mengurangi kecepatan motor besarnya dan berhenti tepat di depan gerbang kampus.


Andini segera turun dan tak lupa menghadiahi sebuah senyuman" Makasi ya?"


Pria itu mengangguk ia pasti juga sedang tersenyum, namun Andini tak bisa melihatnya. "Tadi minta dipaksa, sekarang berterima kasih, kamu susah di mengerti ya?"


"Penting tau, waspada sama orang asing."


"Ia, jaga diri Lo yah, Mas cari uang dulu, buat modal nikah" ujar si pria sambil menyalakan motornya kembali dan jalan ngebut.


"Ihhh, Mas ... kayak aku istri kamu aja." Protes Andini, kemudian tak menghiraukan pria itu lagi, ia segera masuk sudah ada Vanya menunggunya sejak tadi, gadis pemilik gigi gingsul itu sudah melambaikan tangannya sejak masih dikejauhan.


"Dianter siapa?" Tanya Vanya.


"Nggak kenal, tadi cuma nebeng."


"Oh, kelihatannya akrab banget," imbuh Vanya.


"Masak sih? dia nyebelin tadi. Main paksa gitu aja." Jelas Andini.


"Nyebelin apa nyenengin?" Goda Vanya sambil menyenggol pundak Andini.


"Apa sih? Nggak kenal juga." Sanggah Andini sambil senyum-senyum.


"Oh, ya sudah. Ke kantin dulu yuk." Ajak Andini.


"Ok. Tumben biasanya sarapan di rumah, kok hari ini nggak? Oh iya kamu juga nggak jual gado-gado ke kampus lagi?"


Gado-gado yang sudah di kemas dengan bumbu terpisah. Teman-teman suka beli pada Andini, bumbu gado-gado racikan nenek Sumi memang enak dan sedap.


"Enggak, soalnya sekarang aku sudah nggak tinggal di rumah lagi."


"Lalu tinggal di mana?" Vanya sudah khawatir. Memasang wajah memelas.


"Aku sudah menikah, dan aku mulai kemaren tinggal di rumah suami ku." Jelas Andini.


"Apa menikah?" Vanya belum mengerti maksud Andini, ia pasti mengira Andini sedang bermain drama.


Vanya dan Andini kini sudah sampai di kantin, Vanya memilih duduk yang paling ujung, biar lebih santai saat ngobrol sedangkan Andini memesan makanan dan minuman.


"Nasi pecel dua yang satu nggak pake taoge, Mbak. Sama minumnya es teh manis."


"Andini yah? Tebak si Mbak pemilik kantin.


"Iya, Mbak."


"Mbak tau, soalnya yang nggak suka sama tauge pasti kamu." Si Mbak mulai mengelap piring dan meracik nasi pecel, sedangkan Andini kembali ke kursi.


"Ndin kamu kok bisa menikah, dan kamu nggak pernah bahas ini sebelumnya, ada apa ini? Kamu nggak anggap aku sahabat?" Vanya terlihat kecewa. Karena Andini menikah tanpa memberi tahu. Padahal persahabatan mereka selama ini lengket banget bagaikan permen karet.

__ADS_1


"Aku sendiri juga nggak menyangka bakal menikah cepat Vanya, mungkin ini jalan Tuhan. semua karena kebetulan, Aku menikah karena ... Ah kamu pasti tau sendiri aku selalu butuh uang, dan Papa mertua memilih aku untuk mendampingi putranya"


"Wah, intinya saling menguntungkan, Siapa suamimu?" Tanya Vanya semakin penasaran.


"Suamiku," Andini bingung menjelaskan siapa suaminya, kalau disebut nama saja pasti Vanya tidak akan tahu.


"Yang jelas dia seorang lelaki tampan." Andini berkelakar.


"Serius, Andini javarani. Jangan bercanda, ah ..." Vanya terlihat tak sabar matanya sudah menatap Andini tanpa berkedip.


"Suamiku, Arsena Atmaja" ucap Andini ragu, tak terasa bibirnya tersenyum. Akhirnya Andini memberitahu Vanya juga, awalnya tadi ia ingin semua ini jadi rahasia saja. Namun Vanya adalah sahabat, Andini tak ingin ada rahasia di antara mereka berdua.


"Apa??" Mendengar ucapan Andini Vanya malah tertawa. Membuat beberapa pengunjung kantin menoleh ke arahnya.


"Hey bangun kamu ini sedang mimpi ya? Jangan-jangan habis lihat dia di medsos, habis itu kebawa halu." Vanya masih terus tertawa sambil meledek Andini. Berulang kali menggerakkan tangannya di depan wajah andini


"Kamu emangnya tau siapa dia?" Tanya Andini polos.


"Ya Tuhan, Andini. Makanya jangan jualan gado- gado melulu yang kamu urusin, sekali kali lihat media sosial, ikuti berita terkini," jelas Vanya panjang lebar. "Jelas tau donk, Arsena selain keren, maco, coll apalagi ya? ganteng, semuanya deh yang cakep-cakep ada di dia, dia juga calon penerus perusahaan tunggal papanya. Pewaris tunggal Andini, bayangkan!"


"Dia kekasihnya Liliana Valerie. Seorang wanita cantik anak pengusaha sekaligus seorang model. Namun kabarnya Ayahnya Arsen tak menyukai gadis pilihan putranya itu."


Andini mencecap tehnya, dan mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti ucapan sahabatnya. " Kenapa nggak setuju ya!!" Pertanyaan Andini adalah pancingan buat Vanya supaya gadis itu cerita semuanya tentang Arsena.


"Ya aku kurang tau soal itu, sengaja dirahasiakan gitu."


Mereka berdua kemudian segera menyelesaikan sarapannya. Dan menegak habis teh yang ia pesan tadi.


"Kamu punya fotonya?" Tanya Andini lagi ketika mereka berjalan menuju ke kelas.


"Punyalah, secara kan gue suka banget sama dia, aura dingin di wajahnya itu lho bikin wanita makin gimana gitu."


Dingin, angkuh, sombong, anak konglomerat, Andini sudah tau setelah tadi pagi hinaan dan cacian yang keluar dari mulut pedas suaminya, semuanya telah ia telan begitu saja tanpa ada rasa sedih dan sakit hati, tapi soal punya kekasih Andini benar benar tak mengetahui.


Benar kata Vanya Andini terlalu sibuk dengan hidupnya yang rumit, pagi kuliah sore jualan malam di rumah sakit begitu seterusnya. Hampir tak ada waktu untuknya bisa berselancar di dunia maya. Hingga ia tak tahu kalau telah menikah dengan seorang berasal dari keluarga terpandang di kota ini.


Vanya mengeluarkan handphone dari tas slempangnya. Kemudian duduk di bawah pohon beringin yang teduh, Andini duduk di dekatnya ia sudah tak sabar melihat foto yang akan ditunjukkan oleh sahabatnya itu.


Vanya menyalakan handphone lalu mengutak Atik sebentar, tak lama foto seorang wanita cantik muncul di sebuah akun IG, Vanya segera menunjukkan foto tersebut kepada Andini.


"Nie lihat, dia cantik kan?"


Andini mengambil handphone dari tangan temannya, mengamati koleksi foto-foto dari akun IG yang bernama Liliana.


"Kamu yakin ini kekasihnya?"


"Hu'um yakin lah, serasi kan?"


"Eh malah ngelamun? Ndin, mereka serasi kan?"

__ADS_1


"Eh, iya iya serasi." Andini mengingat ingat kembali. Foto yang sama persis yang dilihatnya di kamar suaminya.


__ADS_2