Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 129. Suami pencemburu.


__ADS_3

"Sayang, makannya yang banyak, kalau kurang nambah lagi, si kembar harus sehat." Arsena terus menyuapi Andini hingga perutnya terasa kelebihan isi.


"Makasih ya, udah suapin saya. Sekarang giliran Andini yang suapin Tuan. Tuan muda makannya juga harus banyak, biar tambah kuat." Andini merebut piring di depan Arsena. dia ingin membalas suaminya dengan menyuapi banyak.


"Emang aku, kurang kuat, Ya?" Arsena tersenyum nakal.


"Tuan, ngomongnya apa nyambungnya kemana? bukan kuat yang itu, tapi kuat bekerja."


Arsena tersenyum sambil membuka mulutnya menerima suapan dari Andini yang banyak "Aku bukan tuan muda lagi, sayang."


"Aku Arsena seorang rakyat jelata." Kata Arsena lagi dengan mulutnya berisi penuh.


"Mau rakyat jelata atau tuan muda kalau sudah cinta mau apa? Aku akan tetap bersamamu." Andini menempelkan kepalanya di lengan Arsena. Walaupun jarak mereka sebenarnya agak jauh Andini terlihat memaksa ingin menyandarkan kepalanya.


Arsena membalas mengeratkan lengannya.


" Aku mencintaimu Andini."


" Berapa persen,cinta itu kalau aku boleh tahu," tanya Andini lugas.


"Seribu persen." Kata Arsena.


"Mana ada seribu persen." Andini menelusupkan tangannya dan menggelitiki dada Arsena. Dia menemukan bulu dada halus. Andini senang sekali mengelusnya.


" Seribu untuk istriku yang cantik, dua ribu untuk anak anakku, jadi semua menjadi tiga ribu persen."


" Kalau boleh tau, berapa cinta istriku untukku?" Arsena bertanya balik.


"Aku tak bisa menggambarkan berapa persen, yang jelas, aku hanya ingin bersamamu hingga nanti rambut ini memutih."


Arsena tersenyum. " Rupanya sudah pandai merayu sekarang."


" Aku kan belajar dari pakarnya." Andini menyentuhkan bibirnya di pipi Arsena.


"Hoammm ! habis dicium istri kenapa jadi mengantuk." Arsena mulai membeo.


"Sayang, aku ngantuk!" Kata Arsena usai sarapan, mengelus perutnya sendiri yang kenyang. Sudah pasti dia ngantuk semalam tak tidur sama sekali mengembara di samudra.


"Tidurlah, aku akan membereskan semuanya," ujar Andini.


Andini membersihkan piring kotor, ia mencuci di dapur. Sedangkan Arsena berjalan menuju kamar dan merebahkan diri di ranjang.


Usai mencuci piring, Andini menyusul Arsena. Dia tak mau melewatkan momen bersama suaminya walaupun sesaat.


"Biar aku pijitin, tubuh suamiku pasti pegal-pegal" Andini menawarkan jasa memijit pada suaminya.


"Duduklah saja disini, aku nggak mau kamu lelah."Arsena menepuk kasur yang ada di dekatnya.


"Enggak lelah, justru aku senang," jawab Andini lugas.


Andini duduk di sebelah Arsena memijit pelan tubuhnya sebentar. Arsena tak ingin membuat tubuh istrinya lelah, dia menarik tangan kecil Andini yang memiliki jemari lembut itu dan mengecupnya.


Arsena merebahkan Andini dan mengungkung tubuhnya. "Sayang semalam aku tak berhenti memikirkan dirimu."


"Kita sama, aku bahkan terus berusaha menelepon, walau aku tahu di sana tidak ada sinyal aku hanya berharap ada sebuah keajaiban," kata Andini jujur apa adanya


Arsena tersenyum dengan sebuah sorot mata yang sudah sayu, berlahan tangannya membuka setiap kancing baju atasan Andini. Arsena melihat bukit kembar istrinya semakin kencang dan menggoda.

__ADS_1


"Kau terlihat semakin menggoda ketika sedang hamil, aku terus ingin memakanmu." Arsena berkata dengan nafasnya mulai memburu, menghangat menerpa pipi dan leher Andini. " Aku sangat rindu saat seperti ini, kalau boleh tau apa kau juga merindukan sentuhan ku? Apa yang paling kau rindukan dariku?


"Aku tidak tau, aku tidak tau, Ars. aku rindu semua yang ada dirimu"


"Panggil aku, dengan panggilan sayang." Kata Arsena sambil ******* ***** bukit yang semakin mengeras dan sesekali menyentuhkan bibirnya.


Andini menggelinjang geli, ketika kumis pendeknya sehabis di cukur mulai tumbuh dan menyentuh tubuhnya yang sensitif. Seperti ada sensasi tersendiri yang berhasil diciptakan.


" Aku tidak tau, Ars." Nafas Andini terengah engah. Dadanya naik turun.


"Jangan bandel, aku akan menggigitmu, Sayang. Panggil aku dengan panggilan yang romantis."


"Aku malu aku suka memanggil nama itu." Andini menolak.


"Aaaauh." Lenguhan keluar dari bibir Andini ketika Arsena benar-benar membuktikan kata katanya.


Arsena mulai menggigit lembut bagian sensitif Andini, membuat Andini tak bisa lagi bergerak menolak. Tanda merah sudah membekas di sekitar dada. Menjadi pemandangan mengagumkan buat Arsena.


Mereka mulai menyatukan cinta mereka dalam untaian ritual yang memabukkan. Arsena dan Andini sama-sama merindukan sentuhan satu sama lain membuat permainan mereka sangat panas di siang hari.


Kamar panas nan sempit tanpa sebuah AC membuat keringat mengucur deras. Arsena tak perduli demi tetesnya yang menjatuhi Andini ,ia begitu antusias ingin menyenangkan istrinya dan menafkahi batinnya.


Jika nafkah materi saat ini, sedang menurun. Setidaknya nafkah batinnya tidak pernah surut.


Tiga puluh menit berlalu, Arsena dan Andini terkapar kelelahan. Berlahan lahan mulai menetralkan nafasnya, tangannya memeluk perut istrinya yang mulai membuncit dan sesekali mengelusnya.


Tak berapa lama mereka pun tidur pulas di bawah satu selimut. Sesungguhnya semalam mereka berdua tak ada yang tidur. Mereka saling mengkhawatirkan.


 


Sedangkan dibelahan bumi lain, seseorang sedang menikmati tidur nyenyak karena hari sedang tengah malam. Selisih waktu yang panjang membuat mereka merasakan hari yang berbeda. Ketika Indonesia sudah pagi hari, di Istanbul semua orang masih tertidur nyenyak karena hari masih tengah malam.


Miko tersentak dari tidurnya ketika sebuah mimpi buruk mengganggu.


" Kak Miko ... Apakah kak Miko sedang bermimpi."


"Minum Dara! Ambilkan aku minum" Miko meminta Dara mengambilkan air minum yang ada di atas nakas. Sedangkan dirinya sendiri berusaha menetralkan nafasnya.


Andini, apa yang terjadi denganmu. Kenapa memimpikan dirimu."


"Ini kak, minumnya."


"Kak Miko, mimpi bertemu Kak Andini ya"


" Iya, aku bermimpi Andini sedang bersedih." Miko mengusap wajahnya kasar.


"Itu pasti karena kak Miko sedang jauh dengan kak Andini. Kak Miko kangen?"


"Tidak Dara, berhenti memiliki prasangka buruk" Miko menghentikan kata-katanya


"Minum saja dulu."Dara memberikan segelas air pada Miko.


"Terima kasih." Miko meraih gelas dari tangan Dara.


Setelah mengambilkan minum air dingin di dispenser, Dara kembali merebahkan diri di sebelah Miko, dengan posisi membelakangi


Hati dara terasa dongkol mencokol hati, ada dan tidaknya Andini di depan mata, kenapa masih saja disebut oleh suaminya.

__ADS_1


Miko tak bisa tidur lagi, berulang kali dia menoleh ke arah Dara.


"Sampai kapan kau terus cemburu dengan kakak kandungmu sendiri, Andini itu tak pernah mencintai aku." Miko mengusap kening Dara.


Miko tak bisa tidur lagi, dia pergi keluar kamar dan menyulut sebatang rokok. Duduk di koridor mencari angin segar.


Miko mengotak Atik ponselnya mencari nama Andini, Miko tak menemukan nama Andini di daftar kontak. Sambil menghisap rokoknya Miko mengingat ingat, ternyata dia memberi nama "girl"pada kontak Andini.


"Girl," lirih Miko. Dengan semangat Miko segera mencari kontak yang bernama girl,


Panggilan dari Miko segera melesat di ponsel Andini, yang masih pulas di dekapan suami.


"Andini! halo Andini! apakah keadaanmu baik-baik saja aku bermimpi tentangmu Andini, aku ...."


" Miko berhenti menghawatirkan istri orang, Andini tentu akan baik-baik saja berada di sampingku."


"Arsena, maaf kukira ...."


"Pantaskah seorang adik menghubungi istri kakaknya dengan diam-diam, setelah kakaknya yang menerima panggilan itu dia menjadi gugup? Miko aku tak tahu masa lalu kalian seperti apa, tapi harus ada yang kamu ingat, Andini sudah menjadi milikku, dan selamanya dia akan menjadi milikku, kuharap ini telepon terakhirmu pada ponselnya."


"Aku bermimpi, Andini mu sedang bersedih, sebagai adik aku hanya khawatir itu pertanda buruk."


"Tidak terjadi apa-apa dengan dia, dia sedang tidur di pelukanku. dia akan aman bersamaku."


" Syukurlah, terima kasih sudah menerima panggilan ku."


"Ya."


Tut.


Tut


Tut


Arsena menutup ponselnya.


"Hallo, Hallo. Sitt" Miko mengumpat setelah tau Arsena menutup teleponnya.


Alasan, pasti kamu sedang ingin mengganggu Andini.


Arsena menaruh ponsel Andini ke tempat semula, Iya kembali tidur dan memeluk Andini dengan erat.


Sayang, kau sangat cantik wajahmu teduh bagai sinar rembulan, pantas saja Miko tak mudah melupakanmu.


"Sayang, I Love you." Arsena mengecup kening Andini. Merasakan keningnya basah oleh bibir Arsena, Andini mengerjapkan matanya. Membuka matanya perlahan.


Arsena dengan sigap memejamkan matanya kembali.


Membuat andini gemas dengan tingkahnya. Dan membalas mengecup pipi suaminya.


Andini turun terlebih dulu ranjang dan keluar kamar, ia hendak menyiapkan makan siang untuk Arsena. Zara juga sudah selesai tidur dia ikut membantu Andini memasak.


Arsena segera bangun, mengambil duduk disisi ranjang, Arsena kembali mengotak atik ponsel Andini.


Makhluk pencemburu itu memblokir semua nomor bernama pria yang ada di ponsel Andini.


" Mampus kalian semua, Jangan mimpi bisa menghubungi Istriku lagi apa lagi mengganggunya." Arsena tersenyum smirk setelah aksinya berhasil.

__ADS_1


*happy reading


__ADS_2