
"Kakak ....!"
Lepaskan kakakku, anda tak punya hak membawanya seperti ini. Lili terus saja mengejar Dev dibelakangnya.
"Security!!"
"Panggil saja, Nona. jika dia punya nyali melawan kami." Ancam Bodiguard bayaran itu dengan seringai menakutkan.
Bodiguard itu membawa Devan dengan paksa lewat lift. Ia mengancam siapapun dengan pistol di kepala Devan. Dan satu Bodiguard lagi, tak segan menembak siapapun yang mendekat.
Tak ada yang berani menolong Devan. Bahkan untuk maju selangkah saja mereka berfikir seribu kali untuk melakukan.
"Lepaskan saya, kamu pasti salah orang. memperlakukan aku seperti ini."
"Kami bukan anak kecil Tuan Dev, hingga kami harus salah orang. Kau harusnya menyesali perbuatan mu itu, dari pada kau terus berdalih tak berguna seperti ini.
Kurang ajar Arsena. Berani dia melawanku, karena perusahaanku berada di bawah kekuasaannya, dia bisa semena-mena seperti ini.
"Tuan, aku sudah membawa Tuan Dev."
"Bawa kemari, aku sudah menunggunya."
Bodyguard membawa Dev ke gedung kosong. Sebenarnya gedung itu dimanfaatkan untuk karyawan kantor untuk olahraga futsal, badminton dan tenis di hari Minggu. Berhubung ini hari Senin gedung itu kosong.
Arsena sudah menunggu di dalam gedung itu bersama Doni. Ia sudah punya tak sabar ingin menghajar pria yang sudah berani berencana menodai istrinya. Pantas saja, Andini memiliki banyak luka ditubuhnya.
Arsena menyesal telah mengabaikan luka lukanya waktu itu, karena cemburunya yang melampui batas menutup matanya untuk memedulikan wanita yang lambat laun sudah mengisi hatinya.
"Tuan Ars, apakah pria ini kita habisi saja!" Kata bodyguard.
"Jangan, aku hanya ingin memberi dia pelajaran saja, lepaskan dia."
Bodiguard panggilan itu dengan sadis mendorong tubuh Devan ke hadapan Arsena. Membuat pria itu hampir hilang keseimbangan dan tersungkur. Untung saja dia tak banyak melawan tadi hingga tenaganya masih utuh. Jadi ia masih baik baik saja di hadapan Arsena.
"Benar kecurigaan ku selama ini, wanita itu dia adalah wanitamu. Kau selingkuh dari adikku yang sudah lama menunggu untuk kau nikahi. Kau keji dengan adikku Ars, kau memperlakukan dia dengan tak adil." Kata Devan penuh kebencian. Berulang kali menudingkan tangannya ke arah Arsena. Seakan Arsena adalah penyebab semua kejahatannya.
Arsena terdiam, sepertinya Devan berbuat demikian karena ia memang ingin melindungi Lili, ditambah lagi hasratnya gilanya yang sejak pertama kali bertemu Andini memang sudah hadir didirinya.
"Itu pasti alasan kamu saja, sejak awal kau memang sudah begitu bernafsu melihat istriku."
"Apa oh, rupanya dia istrimu? Akhirnya kau jujur juga."
"Iya, aku sudah menikah, Dan Andini adalah istriku. Maafkan aku jika diantara kita harus ada yang pergi. Karena aku mulai menyukai istriku. Aku melihat ketulusan dia dalam melayaniku selama ini."
"Lalu bagaimana dengan Lili adikku?" Devan mendekat pada Arsena. Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal saja. Mengetahui Arsena sudah menikahi Andini yang diam diam ia sukai. Membuat hatinya sakit. Ia juga tak membayangkan bagaimana reaksi Lili jika tau kekasihnya sudah menikah.
"Bagaimana dengan adikku? Jika dia tau kamu mengkhianatinya!?" suara Devan meninggi dua oktaf.
"Terpaksa aku harus mengakhiri hubungan ini." Kata Arsena memelankan suaranya. Tapi masih mampu di dengar oleh Devan.
"Semudah itu? Adikku mencintaimu dengan tulus, dan dia setia disampingmu dua tahun. Tapi apa yang dia dapatkan.Kau malah akan meninggalkan demi wanita yang baru sebulan ini disampingmu." Devan ikut tak rela jika sampai itu terjadi sebisa mungkin ia akan mencegahnya.
"Lalu apa yang bisa ku perbuat? Aku tak punya cita-cita memiliki dua istri. Dan aku tak mungkin menikahi wanita yang pernah tidur bersama adikku sendiri."
"Kau menuduh adikku sudah tak perawan, apa kau punya buktinya? Jika sampai kau berbohong aku akan membunuhmu, Ars."
__ADS_1
"Tidak!" Itu bohong!" Bantah Lili, yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
Lili yang mendengar semuanya dia tak terima dengan tuduhan Arsena. "Aku tak mungkin melakukan dengan Miko, aku hanya mencintaimu Ars. Itu pasti orang yang tak suka dengan hubungan kita, dia iri. Dia ingin kita putus." Lili mendekati Arsena dan segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arsena. Ia menjatuhkan kepalanya pada dada bidang dan lebar milik Arsena.
Arsena awalnya juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hanya saja bukti itu terlalu akurat untuk di tampik kebenaranya.
Saat ia berangkat ke kantor tadi pagi, tiba-tiba seorang pengendara motor besar melemparkan sebuah flashdisk dengan sengaja. Arsena penasaran dengan isinya. Tak mungkin orang bermotor besar itu melakukan pekerjaan, jika tak ada maksud yang tersembunyi dibaliknya.
Sampai di kantor Arsena segera melihat isi dari flashdisk itu. Dan isinya sungguh mengejutkan. Lili bersama Miko menghadiri sebuah acara ulang tahun temannya yang diadakan di sebuah hotel bintang lima. setelah malam semakin larut, mereka berdua bergandengan tangan dengan sangat bahagia, membuka sebuah Room hotel yang telah ia pesan.
Sampai di dalam Miko tak sungkan lagi mencium Lili dengan mesra dan ganas layaknya anak muda yang sedang kasmaran. dan setelah itu mereka berdua saling memadu kasih layaknya pasangan suami istri. hanya saja saat adegan panas mereka banyak yang di cut. Sedangkan tampilan terakhir menunjukkan Lili dan Miko sudah berada di ranjang dan selimut yang sama. Mereka sama-sama tidur dan berpelukan. Miko terlihat tak memakai baju seperti tadi saat baru masuk room.
Sesaat Arsena ingin marah dan menghabisi mereka berdua, ia marah melihat Miko yang lagi lagi telah mengambil wanita yang dicintai. Namun tanggal yang tertera di bungkus benda kecil itu menunjukkan kejadian itu sudah lama sebelum ia mengenal Lili.
"Arsena tersadar kalau Lili lebih dulu bersama Miko daripada dirinya. Tapi Anehnya kenapa Miko tak ingin merebutnya sedikitpun dari tangannya jika dia memang saling mencintai.
Arsena meredam amarah yang sempat meletup, sebisa mungkin ia tak marah, Dia sadar, sudah memiliki wanita secantik bidadari yang setia bersamanya.
Arsena memutar ulang flashdisk itu di gedung. disaksikan oleh semua orang yang ada termasuk Lili dan Devan.
Lili segera mematikan, ketika rekaman itu baru menunjukkan gambar awalnya saja
Lili menghancurkan benda kecil itu dengan highellnya.
Devan makin berang. Dia tak terima mendengar Devan mengucap kata putus untuk adiknya. Dia masih menyangkal kalau semua gambar yang tersimpan di dalam benda kecil itu adalah sebuah hasil rekayasa.
Jika kau sampai meninggalkan adikku maka kau harus mati. Devan menodongkan pistol yang ia selipkan di perutnya. Devan juga bukan pria bodoh yang tak bisa mengantisipasi jika ada bahaya sewaktu waktu.
"Minggir kau ....!" Devan menarik punggung Lili agar menjauh.
"Jangan kakak, jangan tembak, Dia kekasihku," mohon Lili pada Kakaknya.
Diam kau, Dia harus mati karena dia sudah menikahi Andini dan memilih meninggalkanmu. Kalau kau tak menjadi istrinya, maka biarkan aku membunuhnya
"Door, Door."
Dari Arah samping Doni segera melesatkan dua pelurunya hingga tepat mengenai lengan Devan. Pistol Devan terjatuh ke lantai. Dengan sigap Arsena mengambilnya.
Doni datang tepat waktu, ia menembak Devan ketika pria itu hampir saja menarik tuas pistolnya tepat di kepala Arsena
"Kakak! ... Kakak !"
Lili yang melihat Devan terluka ia segera memeluk kakaknya sambil menangis histeris.
"Darah! Kakak kau tak boleh mati, kita harus selalu bersama." Lili segera menelepon nomor rumah sakit agar segera mengirimkan mobil beserta perawatnya.
Lili merobek ujung Roknya dan mengikatnya di lengan Devan ia tak bisa terus membiarkan darah kakaknya terus menetes.
Kakak, kau harus kuat kakak,
Dua perawat tergopoh gopoh menghampiri Lili. Melihat darah yang keluar dari lengan Devan makin banyak ia segera mengangkat tubuh tinggi besar itu.
Devan terus saja mengerang kesakitan. Rencananya membunuh Arsena malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Devan dilarikan di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.
__ADS_1
******
miuw! miuw! miuw! Sirine ambulance berbunyi dengan nyaring.
"Dokter, ada pasien yang terkena luka tembak, kita harus segera melakukan tindakan operasi." Peringatan Vano untuk Andini. Membuat Andini yang tadinya sibuk memeriksa data perkembangan pasien usai operasi harus terhenti.
"Iya, Dok." Tanpa mengulur waktu. Andini segera mengekor Dokter Vano di belakang menuju UGD. Selesai mengenakan semua atribut dokter di ruang ganti tadi.
Mereka berdua segera menindak lanjuti pasien yang dikatakan terkena luka tembak itu.
"Bawa segera di ruang operasi." titah Dokter Vano.
Andini terkejut, begitu tau yang terluka adalah Devan. Laki laki yang mencoba ingin menodainya tempo hari.
Andini ketakutan, ia mundur beberapa langkah, memastikan penutup wajahnya sudah benar. hingga yang terlihat hanya mata saja. Kini penyamaran Andini sempurna hingga tak ada yang mengenali.
Dokter Vano yang melihat tingkah aneh Andini ia segera angkat bicara.
"Dokter Muda, apa yang anda lakukan? Pasien sudah cukup banyak kehilangan darah, kita harus siapkan alat operasinya sekarang."
"Baik, Dok."
"Arggg ...." Devan terus saja mengerang kesakitan diatas brankar pasien.
Andini dengan cekatan segera meraih alat operasi satu persatu yang sudah disiapkan oleh perawat. Ia melakukan praktek operasi untuk yang kedua kalinya.
Karena fokus dengan sakitnya. Devan tak menyadari dokter muda yang di maksud adalah wanita yang pernah ingin ia hancurkan percaya dirinya.
"Aarggg sakit, Dok"
Devan kesakitan ia menggenggam lengan Andini kuat-kuat.
Andini segera menyuntikkan cairan pereda nyeri agar sakitnya segera berkurang. Dan ia mulai mengambil dua peluru yang menembus lengannya dan menjahit dengan hati-hati.
Devan sejak tadi memandangi Andini yang merawatnya dengan telaten. Melihat mata indahnya ia jadi yakin yang menjadi dokter itu adalah Andini.
"Sudah selesai tuan Dev. Anda bisa beristirahat," kata Andini ketika opersasi sudah selesai Andini yang melakukan semuanya ditemani oleh dokter Vano. Setelah semua selesai Dokter Vano keluar lebih dulu. Dan Andini memeriksa selang infus dan lain- lain.
"Tunggu, Dokter."
"Anda memanggil saya, Tuan?"
"Aku seperti mengenalmu, Baby? Devan menahan lengan Andini dengan satu lengannya.
"Ti- tidak mungkin anda mengenal saya, saya berasal dari jauh Tuan, saya baru hari ini bekerja disini."
Kata Andini dengan suaranya terbata. Ia tak bisa memungkiri kalau ia sangat takut dengan pria di depannya. Malam kelam itu masih sangat segar terlintas di bayangannya.
Happy Reading
Jangan lupa
like
komen
__ADS_1
vote