Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part58. Love you forever.


__ADS_3

Miko heran dengan perubahan sikap Andini, ia khawatir Andini di bawah tekanan Arsena. Setahu Miko, Arsena tak pernah serius dengan Andini.


Miko berharap usahanya mengirim flashdisk itu, semoga saja membuat hubungan mereka membaik. Miko tau Andini hanya mencintai Arsena, dia tak pernah mencintai dirinya. Sebesar apapun cinta yang ia berikan untuk Andini, wanita itu selamanya hanya akan menganggap adik ipar.


Miko ingin pergi dan menjauh, hingga selamanya tak pernah bertemu lagi, namun menjauh dari Andini saat ini rasanya masih berat, kekhawatirannya terhadap wanita pujaannya masih terlampau besar.


Miko menaruh handphonenya di atas meja kerja. Beberapa hari ini ia mengurung diri, keluar apartement hanya untuk pergi ke club, ditempat itu ia bisa menenangkan segala gejolak di jiwanya.


Setelah resain dari kantor tak ada yang dilakukan lagi. Mencari kerja dengan hati kacau seperti sekarang ini rasanya juga tak mungkin.


Selesai menelepon Andini, Miko duduk di kursi yang ada di ruang kerja, kantor keduanya yang ada di apartement itupun sekarang berubah provesi menjadi meja untuk merenungi diri.


"Andini, andaikan kau adalah jodohku, aku adalah orang paling bahagia di dunia ini. Dan kau tak perlu menderita" Miko menyentuh wajah Andini di dalam foto yang ada di layar laptob nya. Foto yang sudah di zoom hingga ukurannya lebih besar dan jelas. Miko menatap lekat, mengelus elus pipi, hidung dan bibirnya


"Miko, apa kamu nggak makan, sayang?" kata Mita


"Miko nggak lapar, Ma." ujar Miko.


"Ya udah, kalau gitu sekarang kamu ke depan, sepertinya ada seseorang mencarimu."


Miko beranjak dari duduknya. Ia segera turun ke bawah menemui tamunya.


"Katakan kabar apa yang kau bawa sekarang?"


"Wanita itu sudah kembali pulang ke rumah besar, bersama suaminya, Tuan. Mereka terlihat sangat bahagia."


"Ini beberapa foto dan video mereka yang berhasil saya Ambil."


Pria itu menyerahkan benda ditangannya. Miko segera menerima. "Baiklah, sekarang pergilah."


Pria itu segera pergi lagi, meninggalkan Miko seorang diri di ruang tamu.


Miko melihat hasil rekaman yang dibawa pria itu, semua aktifitas Andini dan Arsena berhasil direkam kecuali aktifitas mereka saat di kamar.


Miko kemudian membuang rekaman itu, rekaman yang tak berguna untuknya, jika selalu dilihat, hanya akan membuat hatinya semakin teriris saja.


******


Mobil yang dinaiki Andini dan Arsena baru saja sampai di halaman rumah. Gerbang masuk sudah dibuka sangat lebar sejak satu jam yang lalu. Mereka semua menyambut dalam keadaan suka cita atas kembalinya Andini ke mansion. Jika memang ada yang kurang suka dengan Andini, tentu saja mereka harus tetap bersikap manis.


Bi Um dan Pak Karman segera mendekat. Siaga apabila Nona dan Tuannya membawa banyak barang.


"Nona, Bibi kangen." Bi Um memeluk Andini erat. Andini membalas pelukan Bibi.


"Sama, Andini juga, Bi." Andini tersenyum, memeluk Bibi seakan mengobati kerinduannya pada ibu Ana.


Arsena juga turun lewat pintu satunya. Segera menghampiri Andini yang sedang berpelukan dengan bibi. "Ndin kamu pasti capek, ayo kita langsung masuk aja." Mengeratkan tangannya di pinggang Andini, bergandengan masuk seakan mereka tak mau jauh satu sama lain.


"Bibi dan pak Karman Adem melihat hubungan majikannya sudah ada kemajuan pesat.


Di ruang tamu sudah ada Johan dan Rena yang menunggu. sejak tak lagi ngantor, Johan hanya ingin dekat dengan anak-anaknya, ia bisa tinggal di rumah manapun yang ia sukai


"Papa." Arsena segera menghampiri Johan. Melepaskan tangannya yang sejak tadi bertautan dengan Andini.

__ADS_1


"Putraku, Akhirnya kau membawa istrimu kembali ." Johan membalas pelukan Arsena. Menepuk punggungnya penuh cinta." Pria bodoh, apakah kau tak ingin mengucapkan terima kasih untuk Papa." Bisiknya ditelinga Arsena.


Arsena, memeluk semakin erat, rasa terimakasihnya ia ungkapan dengan tindakan daripada kata- kata.


"Pa, gimana kabar papa?" Andini mengecup punggung tangan mertuanya


" Seperti yang kau lihat papa sehat, Tuhan memberi papa anugrah kesehatan dan materi dalam hidup ini. Namun entah kenapa Tuhan belum memberi papa kepercayaan menimang seorang cucu."


"Papa, sabar ya, cucu papa masih dalam proses pembuatan." Jawab Arsena dengan cepat.


"Benarkah?" Johan kini senang. Arsena secara tak langsung telah memberitahu pada orang tuanya kalau telah melakukan hubungan suami istri itu. Andini yang malu ia mencubit pinggang Arsena membuat ia meringis kesakitan.


"Rena mendengarnya terlihat makin kecewa. Ars kenapa kamu terlalu buru- buru memutuskan." ujar Rena.


"Arsena, sudah memikirkan, semuanya, Ma. Dan Arsena yakin Andini adalah wanita terakhir yang akan berlabuh dihati Arsena.' ucap Arsena dengan sangat bangga. Mengeratkan tangannya di pinggang Andini, lalu mengecup puncak kepalanya.


Andini malu dengan sikap ekstrim Arsena di depan mertuanya. Ia segera mencium tangan Rena lalu pamit untuk ke kamar.


"Andini ke atas dulu, Ma, Pa."


"Silahkan, istirahatlah kalian, pasti sangat capek begadang tiap malam" Izin Johan. Pria itu makin tenang, perjodohan yang dilakukan pada putranya berjalan tak begitu buruk.


Koper milik Andini sudah ditaruh di kamar biasanya oleh pak Karman.


Andini segera menuju kamarnya yang ada di ujung. Arsena yang melihatnya segera mencegah Istrinya.


"Andini mau kemana?


"Ke kamar, Ars."


"Tidak Ars, aku akan mengambil bajuku, dan mandi.


Kau nanti pasti akan lama meninggalkan aku di kamar sendirian. Baiklah mandi dengan cepat, jangan lupa pakai gaun yang sudah disiapkan bibi di kamar lama." Arsena menyebut kamar Andini sebagai kamar lama. Karena setelah ini Andini hanya akan tidur di kamar yang sama dengan dirinya.


- Dua puluh menit berlalu.


Arsena mondar mandir di ruang kerja, menunggu Andini yang lumayan lama di kamarnya, akhirnya ia memilih untuk menyusulnya.


Andini masih mematut dirinya di depan cermin, gaun indah pemberian Arsena memang sangat elegan dengan rok panjang. Namun Andini tak yakin ia bisa memakai ketika di depan suaminya. Gaun putih itu memiliki belahan dada sangat rendah, dan belahan bawah dari ujung kaki hingga paha.


Ceklek!


"Ars ...." Andini terkejut.


Arsena senyum-senyum tak jelas, ia juga sudah ganti baju, membuat dirinya terlihat lebih tampan.


Tanpa banyak kata, Arsena segera membopong tubuh Andini dan membawanya ke kamar pribadinya. Kamar terindah, terluas, ternyaman, dimana Andini pernah terusir dari dalamnya.


Saat membuka kamar, Andini sudah di kejutkan oleh sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Lilin menyala sepanjang pintu masuk hingga menuju ranjang. Kelopak mawar bertebaran diatas seprei putih bersih. Lampu kecil dengan cahaya redup diatas meja, beserta dua gelas minuman berwarna merah tersaji di atas meja. Tirai dan kelambu berwarna senada dan hiasan di setiap sudut kamar terlihat begitu indah.


"Ars." Bibir Andini bergetar, ia tak mampu berkata kata lagi.


"Do you like my love? All I dedicate for you," ujar Arsena ketika berjalan pelan melewati lilin sepanjang langkah kakinya.

__ADS_1


Sebenarnya dua hari yang lalu Arsena sudah mempersiapkan semua ini. Ia ingin malam pertama di lakukan disini, tapi sayangnya rencana itu gagal, saat Arsena tak bisa mengendalikan dirinya, disaat meneguk obat yang dibubuhkan dalam minuman itu.


Arsena menurunkan Andini di kursi yang sudah dihias dengan kain warna putih, mejanya juga. Arsena menyalakan lagu, Sedalam Cintamu, yang dinyanyikan Indra Lesmana. Menambah kesan romantis dan hidup dalam ruangan itu.


Andini dan Arsena bersulang, ia meneguk minuman manis dengan alkohol sangat rendah yang sudah tersaji. Sedikit saja alkohol di dalam minuman itu, bisa membuat mereka berdua semakin terbakar api gairah.


Selesai meminum-minuman yang hanya di produksi di luar negeri itu, Arsena mengulurkan tangannya, Andini menyambut dengan jemarinya penuh kasih. Mereka berdansa mengikuti irama lagu romansa yang sedang berdendang. Sambil sesekali menyesap bibir manis Istrinya penuh cinta.


Senyum terus terukir, sepanjang mata Arsena menatap Andini. Mereka kini merasakan Indahnya cinta ternyata tak seindah ketika usai pernikahan.


"Kamu cantik sekali, malam ini aku hanya ingin memandangku saja, tak ingin yang lainnya." ujar Arsena ketika ia melepas pagutannya, mengusap bibir merah Andini dengan kelembutan jari jempolnya. lalu memeluk Andini sangat erat."


-


-


Malam semakin larut. Arsena melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul dua belas malam. Arsena membopong Andini penuh cinta, melepas dekapannya di atas ranjang empuk.


Kelopak mawar bertebaran menjadi saksi cinta mereka berdua. Satu tombol remote control menjatuhkan kelambu berbahan sutera. Gaun indah yang dikenakan Andini robek seketika hanya dengan kekuatan gigi taring Arsena. Sang pengantin baru mulai bermain dengan permainan barunya. Setiap malam mereka menemukan cara dan gaya terbaru d


Andini kembali hanyut dalam buaian cinta, menyesap, meneguk manisnya cinta yang tiada tara, begitu pula Arsena. Ia tiada pernah lelah mencurahi Andini dengan kelembutan, dan gelora cinta.


Lenguhan panjang dan erangan terus terdengar sepanjang malam, dinding-dinding bekerja keras meredam suara.


Arsena dan Andini tertidur ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari, mereka berpelukan dalam hangatnya kulit yang bersentuhan dalam satu selimut berdua.


--


--


Dini hari.


Suasana di ruang makan.


"Bi, tolong bangunkan mereka berdua, sudah waktunya sarapan. Andini harus bisa membiasakan diri tepat waktu. Bagaimana bisa ia membiarkan kami, mertuanya menunggu seperti ini," ucap Rena pada Bi Um


"Ma, biarkan saja mereka, justru ini bagus, artinya hubungan mereka semakin baik."


Rena diam tak berbicara lagi. Hatinya makin kesal karena suaminya terus membelanya terang-terangan.


"Seorang istri itu bangun pagi, Pa. Memenuhi kebutuhan suami, kita tak bisa membebankan semuanya pada pelayan. Ada batasan-batasan tertentu."


"Jika Nyonya berkenan, biar saya bangunkan, Nona Andini sekarang."


"Iya silahkan." Ujar Rena.


Bi Um segera menaiki tangga menuju kamar Arsena. Namun Johan segera menghampirinya dan berkata di dekat Bibi dengan suara lirih. "Bi jangan lakukan hal konyol itu. Biarkan saja Arsena dan Andini menikmati hari harinya menjadi pengantin baru. Jangan pernah usik jika mereka sedang berdua di ruang pribadinya.


" Baik tuan." Bi Um mengangguk patuh lalu pergi menuju dapur.


Johan tersenyum bahagia, ia senang putranya bahagia, urusan Rena tak suka dengan Andini lambat laun pasti akan luluh juga.


Happy reading.

__ADS_1


Maaf ceritanya gaje.


Tetep jangan lupa Like, komen, dan Vote.


__ADS_2